
Langit yang cerah berwarna biru terang menghiasi Kota kerajaan Awang Awang Vampire yang indah Namun kini keindahan nya ternodai dengan adanya sekelompok orang dari kerajaan asing yang datang menyerang dengan tiba-tiba.
Di sisi lain tampak dua orang sedang berjalan menuju pintu gerbang, kedua orang itu terlihat sangat akrab dan santai.
"Apa kau yakin kerajaanmu itu akan menyerang, kerajaan awang-awang Vampir secepatnya."
"Info yang aku trima seperti nya begitu , paman patih apa kau tidak merasa curiga hari ini."
"Curiga, kenapa?"
"Hari ini kerajaan terasa legang dan sepi, aku tidak melihat para prajurit kerajaan berlalu lalang dari tadi."
"Kau benar, aku juga merasakan begitu tapi sudahlah ayo kita keluar kita harus menbahas rencana kita selanjutnya."
Bergegas kedua orang itu berjalan keluar, tapi setelah berada di luar kedua orang itu tersentak kaget, kedua mata mereka di buat tercengang tak percaya.
"Hai, ada apa ini kenapa semua terlihat kacau dan itu.....!"
Patih Ramboka menunjuk pada salah satu tiang yang mana sudah bersadar orang dengan pakaian tahanan terikat disana.
"Siapa orang itu, mengapa dia di ikat disana."
Prajurit muda junxiang menggikuti arah telunjuk dari Patih Ramboka, sontak saja kedua matanya langsung membulat ketika melihat orang yang terikat di sana.
"Senopati Ajudan..!" desis laki-laki muda junxian.
"Apa kau menggenalnya?"
"Tentu saja aku sangat menggenalnya dia itu Senopati di kerajaan kami, mengapa dia ada disini jangan .... jangan....!"
"Ada apa? kau benar-benar membuat ku binggung."
"Jangan-jangan kerajaan Ambarwata sudah menyerang kerajaan ini,"
"Benarkah?"
"Aku yakin itu..! Patih Ramboka bagaimana ini apa yang akan kita lakukan sekarang dan tunggu aku akan membebaskan Senopati Ajudan."
Tanpa menunggu jawaban dari Patih Ramboka, laki-laki muda bernama Junxian segera berlari menghampiri Senopati Ajudan yang kini tubuhnya telah terikat dengan menggunakan baju tahanan dari kerajaan Awang Awang Vampire.
"Berhenti kau..!"
teriak salah satu prajurit yang di tugaskan menjaga laki-laki itu agar tidak kabur."
Sementara Senopati Ajudan yang melihat kedatangan dari laki-laki muda junxian yang sangat di kenalnya dia berteriak dengan lantang.
"Prajurit Junxian cepat tolong lepaskan aku,"
"Baik, Senopati!"
"Tunggu..!kau mau apa pergi kau dari sini dan jangan coba coba menyentuh tawanan kami."
"Aku tidak butuh ijin darimu, aku akan segera melepaskan tawanan ini jika kau tidak mengijinkan secara baik-baik maka Aku akan melepaskan dengan caraku sendiri."
Terdengar suara tawa yang lantang dari para prajurit kerajaan Awang Awang Vampire yang kala itu di tugaskan untuk menjaga tawanan
"Hahaha.... jangan bermimpi anak muda, aku tidak akan membiarkan dirimu menyentuh tawanan ini."
"Baik, ayo kita buktikan apakah kau bisa mempertahankan tawanan mu Atau kah tidak."
"Baik, aku trima tantanganmu."
"hoooop.,....hiaaaaaa!"
kedua prajurit pun bertarung dengan menggunakan tangan kosong.
Di tengah tengah jalannya pertandingan tiba-tiba seorang laki-laki berteriak dengan lantang membuat jalannya pertandingan menjadi berhenti mendadak .
"Cukup...! hentikan semua nya."
"Paman Patih Ramboka."seru prajurit kerajaan Awang Awang Vampire.
"Bebaskan tawanan itu,"
"Apa? bebaskan tidak mungkin Ratu pasti akan sangat murka patih."
"Aku yang akan bertanggungjawab untuk semua nya, cepat buka ikatannya dan bebaskan dia."
pengawal kerajaan Awang-awang Vampire akhirnya membuka gembok besi yang di gunakan untuk menggikat sang tawanan.
Tidak lama kemudian tawaran pun sudah bebas.
"Pergilah kalian dari sini cepat..!"
Tanpa membantah para prajurit kerajaan pun berlalu pergi.
"Prajurit muda junxiang trimakasih kau datang membebaskan ku dan trimakasih Ki sanak kau telah menyelamatkanku."
"Sama-sama Senopati, ngomong ngomong kenapa kau ada disini dan ditawan mereka."
"Aku di tugaskan pangeran Yasza menyerang bagian Barat pintu gerbang ini dan sayangnya aku justru dibuat babak belur oleh dua orang wanita."
"Hahaha... wanita..?" ada ada saja mana mungkin seorang wanita bisa membuat mu kalah begini."
"Entahlah wanita itu hebat hebat."
"Pasti itu kerjaan Ratu Shima."
"Patih Ramboka, siapa itu Ratu Shima dan bagaimana apa sekarang rencana kita."
"Jika kerajaan mu sudah menyerang kita harus bergabung sekarang juga ayo....kita cepat ke perbatasan alun alun pasti disana sudah ada pertarungan, tapi tunggu sebentar aku akan memakai cadar agar tidak ada yang menggenaliku."
*******
Di pintu gerbang bagian utara Ratu Shima dan Ratu Derbah sudah sampai tapi mereka berdua tidak menemukan Raja yang mereka cari, kedua Wanita itu saling berpandangan untuk sesaat.
"Tidak ada!
"Benar, tapi para prajurit di sini juga lagi menghadapi serangan musuh ayo, kita bantu dulu agar semuanya bisa beres."
"Ayo, tanganku juga sudah gatal ingin menghajar musuh musuh kita, berani sekali mereka menyerang kerajaan ini."
"Betul, kita buat mereka seperti perkedel biar tak ada lagi yang berani menggusik kerajaan kita."
Ratu Derbah mengagguk dan kedua Wanita itupun langsung masuk menghambur ke tengah tengah pertarungan.
Para prajurit kerajaan Awang Awang Vampire tidak pernah menyangka jika kedua Ratu mereka juga akan bersedia ikut membantu melumpuhkan serangan musuh, hal itu membuat para prajurit kerajaan lebih bersemangat dan tidak menunggu waktu lama , Ratu Derbah dan Ratu Shima mampu menguasai jalannya pertandingan sehingga banyak prajurit dari kerajaan musuh yang gugur di Medan pertempuran.
"Ayo, maju kalian...!
Teriak Ratu Derbah sanbil membabatkan pedangnya.
Sementara Ratu Shima mengambil anak panah dan membidikkan nya pada musuh yang mana dalam keahlian nya sekali bidik sepuluh orang gugur secara bersamaan.
Pergerakan yang sangat lincah dan sempurna hal itu membuat para prajurit kerajaan awang-awang Vampir semakin bangga pada Ratu mereka dan yang lebih membuat mereka terkesima adalah kekompakan kedua Ratu yang selama ini tidak pernah akur dan selalu membuat keonaran yang mana selalu membuat sang Raja pusing kesal dan marah.
Melihat para prajurit kerajaan Ambarwata teman-teman nya banyak yang gugur nyali mereka pun mulai menciut dan mulai ada beberapa di antaranya yang kabur.
Ratu Shima berteriak dengan sangat lantang dan berwibawa.
"Pergi dan laporkan kepada atasan kalian jika kalian gagal melakukan penyerangan dari pintu gerbang utara, cepat sebelum panahku ini membunuh kalian semua di sini."
Merasa tidak mungkin bisa menang para prajurit kerajaan Ambarwata akhirnya memilih kabur.
"Kita berhasil membuat mereka mundur sekarang apa yang akan kita lakukan."
"Kita harus mencari Raja kita harus memastikan beliau aman."
"Baiklah, kemana sekarang kita?" semua tempat sudah kita cari tapi Raja tidak ada di mana beliau."
"Hanya ada satu tempat yang belum kita datangi."
"Di mana itu ?"seperti nya kita sudah berkeliling dan menggelilingi semua."
"Di perbatasan kota alun alun, di sanalah tempat yang belum kita kunjungi aku merasa Raja pasti ada di sana."
"Kau benar, tapi jika pergi ke alun-alun kita bisa mendapatkan murka Raja, beliau tidak suka kita ke perbatasan bagaimana kita mau kesana pasti Raja akan sangat murka."
"Kau benar tapi demi menyelamatkan kerajaan dari tangan musuh kita tidak punya pilihan lain kita harus membantu Raja agar kerajaan Awang Awang Vampire bersih dari incaran musuh, kita buat musuh musuh itu mundur dari kerajaan ini agar mereka harus berfikir dua kali jika mau menyerang lagi ."
"baiklah ayo kita pergi."
Ratu Derbah dan Ratu Shima terbang melesat kearah perbatasan kota Alun alun kerajaan Awang Awang Vampire.