
Ketika Devan dan Tania sudah sampai di
depan kantor, mendadak Tania berhenti.
langkah kakinya tak lagi dia jalankan.
"Kenapa berhenti ?"Tanya Devan lembut.
"Jantung ku, berdebar debar aku takut
hukuman nya lebih parah dari biasanya,"
"Tenang, tarik nafas dalam dalam lalu hembuskan dengan perlahan lahan,"Titah Devan.
"Beginikah..!"Tania segera menarik nafas dalam
dalam dan menghembuskan nya dengan
perlahan lahan.
"Ya, begitu, lakukan tiga kali agar suasana
hati dan jantung mu netral lagi, aku juga
akan melakukan hal yang sama, jujur
guru galak itu bikin hidup ku di sini
sengsara,"Ucap Devan sambil terkekeh.
Tania yang tadinya tegangpun jadi ikut
Tertawa.
"Mungkin, dia punya masalah pribadi yang
rumit,"Ucap Tania.
"Iya, mungkin efek dari jomblo kelamaan,"
Timpal Devan sambil terkekeh.
"Kamu, benar kasian juga ya, kalau begitu,"
Ucap Tania prihatin.
Devan mengagguk sambil tetap terkekeh
Suara Devan yang terkekeh cukup keras
rupanya terdengar dari dalam.
Dengan cepat orang yang berada di dalam
yang tak lain adalah pak guru Wili berjalan
cepat keluar karena merasa terganggu
dengan suara tawa Devan.
"Tania .!"
"Devan...!" Sedang apa kalian berdiri disitu ?"
Teriak pak guru Wili tiba tiba.
Suara pak guru Wili, yang tiba tiba, membuat
jantung Tania serasa mau copot.
Tidak begitu keras tapi rasanya seperti
halilintar yang sedang mengelegar.
"Pak guru Wili...!" ngagetin orang saja, untung
saya tidak punya penyakit jantung, jadi
ngak terlalu kaget."Ucap Tania.
"Iya, nih, pak guru suka nya ngagetin orang
saja,"Timpal Devan.
"Sudah, jangan banyak bicara, cepat masuk,"
Titah pak guru Wili tegas.
Seperti seekor ayam Tania dan Devan
menggikuti pak guru Wili dari belakang.
"Duduk, kalian..!"perintah pak guru Wili tegas.
"Sekarang pilih, mau nilai kalian aku kurangi
atau trima hukuman dariku,"
"Wah, pak !" dua duanya sama sama tidak
mengguntungkan kita, iya kan Tania,"
Tania yang di tanya cuma mengagguk saja.
Sudah puyeng rasanya tiap hari dapat
hukuman dan marah dari pak guru Wili.
Dah pasrah pokoknya Tania cuma bisa
berdoa dalam hati, agar guru satu itu cepat
dapat jodho biar tidak marah marah saja bawaannya.
Melihat Tania diam, rupanya pak guru wili
tidak suka.
"Tania..!"Kamu mau di hukum apa nilai kamu di kurangin,"
Tania yang tadinya dalam mode melamun
tiba-tiba terperanjat kaget.
"Aduh, pak !" kalau bisa, dua duanya jangan
lah, perasaan saya tidak buat salah,"
Ucap Tania membela diri.
"Sudah, sekarang duduk, kau juga Devan
duduk di sebelah nya Tania, lalu kerjakan
tugas ini harus bisa selesai dalam tiga puluh
menit,"
"Ya, pak..!" mana bisa waktu segitu untuk
dua puluh soal, mana semua nya sulit,"
Keluh Devan.
"Kerjakan, aku tunggu kalian disini,"
"Hah..!" Di tungguin,"Seru Tania putus asa
pasalnya Tania sama sekali tidak bisa
alhasil semua Tania jawab dengan ngawur.
Masalah Nilai pikir belakangan yang penting
selesai,"Gumam Tania dalam hati, sambil
senyum senyum sendiri.
Melihat Tania senyum senyum sendiri, pak
guru Wili penasaran, di dekatinya gadis
itu.
"Kenapa senyum senyum begitu ?"Apa ada
yang lucu," Tanya pak guru Wili penasaran.
Tania sedikit terperanjat kaget ketika
menyadari bahwa dia mengerjakan sambil
tersenyum senyum sendiri.
"Ngak ada pak, cuma ini, kebetulan soalnya
mudah semua jadi aku bisa," Ucap Tania
bohong.
Mata pak guru Wili segera berbinar indah
kini tiba tiba berubah dalam 180 derajat
kalem dan ada, senyum manis yang lagi
tersungging disana.
"Wah, bagus itu Tania Bapak bangga padamu
tidak sia sia kamu ku bimbing pribadi,"
Ucap pak guru Wili bangga.
Sedangkan Tania cuma meringis, pasalnya
dia lagi berbohong. Sementara Devan yang
tidak percaya dengan ucapannya Tania
menatap Tania dengan Tatapan penuh
selidik, sedangkan Tania yang di
tatap Devan langsung mengedipkan
sebelah mata, melihat Tania justru
mengedipkan sebelah mata Devan justru
terkekeh pelan sambil membekap mulut
nya agar suara tawanya tidak di dengar
oleh pak guru Wili.
Tidak ada lima belas menit, Tania bangkit
dari tempat duduknya dan mendekati
pak guru Wili, sementara pak guru wili
yang melihat Tania berjalan kearahnya
mengkerutkan dahinya.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan,"Tanya
pak guru Wili.
"Ngak ada pak, Tania sudah selesai mengerjakan," Ucap Tania.
"Wah, bagus itu, mana berikan," Titah
pak guru Wili.
Dengan cepat Tania menyerahkan buku
tugasnya.
"Maaf, pak Tania kebelet pipis Tania permisi
dulu,"Tanpa menunggu jawaban Tania
langsung menghambur ke luar.
Ketika pak guru Wili membuka buku tugas
Tania matanya terperanjat tidak percaya.
Tidak ada satu jawaban pun yang benar
bahkan terdapat sebuah tulisan.
NB. disana.
maaf pak guru Tania tidak bisa jadi harap
maklum.
Tanpa sadar pak guru Wili mengepalkan
kedua tangan nya.
Tania....!!!
Devan yang mendengar desis ucapan dari
pak guru Wili segera bertanya.
"Ada apa pak?"
"Tidak ada apa apa kerjakan tugasmu dengan benar.
Devan yang sebenarnya sudah mengerti
cuma senyum senyum dalam hati.
"Rasain tuh pak, puyeng mikirkan kami, kami
saja puyeng di hukum terus,"Gumam Devan
dalam hati.
****
Sementara di belahan bumi lain tampak
pangeran Tatius dengan patih lembu ireng
berjalan menyusuri hutan mereka memilih
jalan sedikit memutar untuk sampai di
Kerajaan Barat Daya.
"Pangeran..!" kenapa memilih jalan ini,
bukankah ini justru jalan yang lebih jauh
dari jalan sebelumnya,"Tanya patih lembu
Irene kepada pangeran Tatius.
"Benar paman, kita memang melewati jalan
yang sedikit lebih jauh dari jalan Sebelumnya
paman tidak keberatan kan?" Tanya pangeran Tatius.
"Tidak pangeran, sama sekali saya tidak
keberatan," Ucap Patih lembu ireng.
Meskipun patih lembu Ireng tidak keberatan
Namun tidak di pungkiri bahwa dia juga
memiliki rasa penasaran, mengapa pangeran
Tatius justru memilih jalan muemutar.
Apa yang sebenarnya pangeran Tatius cari.
Ketika alam pikiran Patih lembu ireng
berputar putar ingin mencari tau, justru
Pangeran Tatius mengembangkan
sayapnya dan dalam sekejap tubuh
pangeran Tatius menghilang dari
pandangan mata. Patih yang hendak
bertanya sesuatu kepada pangeran
Tatius terperanjat kaget, ketiika dia baru
menyadari bahwa pangeran Tatius tidak
lagi ada di sampingnya.
"Pangeran Tatius..!
"pangeran Tatius.!".kau ada di mana?"
Berkali kali patih lembu Ireng memanggil
manggil nama Pangeran Tatius Namun
tak ada jawaban.
Patih lembu Ireng mulai panik dia mulai
berkelebat terbang kesana kemari mencari
pangeran Tatius.