
Tania menelan ludahnya dengan kasar ketika mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu. Sementara Pangeran Tatius menatap dengan pandangan malas.
"Kenapa harus di bawa kesini sih, tuh orang ngaggu saja."desis pangeran Tatius dalam hati yang berpura-pura sibuk dengan makanannya dia merasa sangat malas dan terganggu dengan kehadiran sosok laki-laki yang ada di depan pintu.
"Pak guru Wili." desis Tania lirih yang mana Tania langsung berdiri dari duduknya.
Melihat kekasihnya yang bersikap santun dan ramah pada sosok laki-laki yang ada di depan pintu membuat Pangeran Tatius mendengus kesal.
"Tania...apa kau baik baik saja."tanya pak guru Wili dengan bibir tersenyum ketika netranya melihat gadis cantik yang juga murid nya sedang berdiri di hadapan nya.
Dengan senyum yang mengembang di bibir, Tania pun mengagguk.
"Wah ..! lagi makan ikan bakar nih."seru pak guru Wili yang langsung mendekati meja makan tempat Tania dan Pangeran Tatius duduk.
"Hei ..! rupanya kau sudah lebih dulu tiba disini, bagi dong makanannya aku juga lapar nih,"ucap Pak guru Wili yang langsung mengambil tempat duduk di samping Tania dan menyomot satu ekor ikan bakar dengan ukuran besar.
"Makan saja pak! ini masih banyak."
"Trimakasih, "
tak lama kemudian terdengar suara dari luar pintu yang juga melangkah masuk ke dalam.
"Rupanya kalian disini, wah ada ikan bakar juga nih, aku mau dong?"seru seorang gadis yang juga langsung mengambil tempat duduk di samping Pangeran Tatius.
"Pangeran....! tolong ambilkan aku ikan." ucap gadis itu dengan manja membuat Tania mengkrucutkan bibirnya.
"Oh, ini! silahkan." jawab Pangeran Tatius datar.
"Wah kau hebat juga bisa menyiapkan makan untuk kami, bagaimana caramu menangkap ikan ikan ini." Tanya gadis yang tak lain adalah putri Lin Ying pada Tania.
"Kau bertanya padaku?"
"Tentu saja aku bertanya padamu, mau bertanya pada siapa lagi, kami bertiga ini kan baru datang.'
"Apa? kalian bertiga...? jadi sebelumnya kalian juga bersama dengan....
"Benar, Tania! kami datang bertiga, cuma tuh pacar kamu berangkat lebih dulu, oh ya kamu menunggu disini selama ini."
"Aku...tidak aku juga baru hari ini di rumah ini!" jawab Tania binggung.
"Jika kamu selama ini tidak disini kamu berada dimana kemarin kemarin itu,"
"Aku ..di Tawan kakaknya Tatius."
Pangeran Tatius yang mendengar jawaban polos Tania tiba-tiba tersedak.
"Uhuk...uhuk ...!"
"Hei. ..sayang, kamu kenapa pelan pelan saja makannya, nih minum."Tania mengulurkan satu gelas air putih mineral kepada Pangeran Tatius, yang mana Pangeran Tatius langsung menerima dan meminumnya dengan cepat.
"Tania... kenapa kau bisa di Tawan dan bagaimana kamu bisa di Tawan "
"Pak guru Wili pertanyaan kamu sama tuh, aku di Tawan sejak aku pingsan ketika itu aku terbawa arus dan Pangeran Yervan yang menemukan ku dan dia juga yang kemudian menawanku karena dia meminta ku untuk menjadi istrinya dan aku menolaknya selama dua hari aku di ikat di kursi."
"Apa ...?" Pangeran Yervan menggikat mu! Tanya Pangeran Tatius terkejut.
"Ya."
"Tania...!lalu bagaimana kau bisa sampai disini dan kau Vampire jejek kenapa kau tau Tania ada disini?"
"A-aku...
Belum juga Pangeran Tatius selesai melanjutkan perkataannya tiba-tiba Pak guru Wili menyela pembicaraan.
"Apa...? apa sebetulnya kamu tau Tania dalam tawanan saudaramu, dengar Tatius aku seorang guru aku bisa mengambil kesimpulan jika sebelumnya sebenarnya kamu tau keberadaan Tania dan sebenarnya kau juga tau Tania akan berada di tempat ini, bukan kah ini artinya kamu tau semuanya, lalu kenapa kau justru berada di Rumah laki-laki paruh baya dan menyelamatkan Putri Lin Ying lebih dulu dari pada menyelamatkan Tania dan itu artinya Keselamatan putri Lin Ying lebih penting dari pada keselamatan Tania kekasihmu hal ini bisa dianbil kesimpulan kau lebih mengkhawatirkan putri Lin Ying dari pada Tania."
"Wili... ...!" jaga ucapanmu, apa yang kau katakan itu semua tidak benar."teriak Pangeran Tatius emosi.
Tania yang mendengar perkataan dari Pak Guru Wili menatap tajam ke arah Pangeran Tatius seolah olah sedang meminta penjelasan, Pangeran Tatius yang di tatap Tania dengan pandangan yang sangat berbeda, menelan ludahnya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Apakah yang dikatakan Pak guru Wili itu benar Pangeran Tatius."
"I-itu...Ka-kamu jangan dengarkan ucapan dari wili sayang pak guru Wili itu hanya....
"Apakah, kau ketika itu benar benar tau aku di Tawan Pangeran Yervan kakakmu."
"I-itu, aku..
"Jawab lah, apakah kau tau jika aku di Tawan Pangeran Yervan?"desak Tania ingin tau.
Pangeran Tatius menggagguk pelan, dengan kepala menunduk tak sanggup rasaanya jika harus menatap wajah cantik di depannya yang sedang emosi.
"Jadi benar jika sebelumnya kamu tau semua, Jawaaab ... Pangeran Tatius...?"teriak Tania dengan suara keras, dimana teriakan Tania membuat Pangeran Tatius menengadahkan kepalanya karena merasa terkejut dengan kemarahan kekasih nya. Pangeran Tatius menelan ludahnya bibirnya serasa tercekat dia belum pernah melihat kemarahan sebesar ini dari gadis yang dicintainya, dengan gugup Pangeran Tatius menjawab.
"I-iya ..!"
"Kau...! Tania menggangkat tangannya dan hendak menampar Pangeran Tatius yang tertunduk pasrah.
Namun tiba-tiba Tania menghentikan Niatnya dan memilih pergi dengan berlari menjauh, setelah mengucapkan satu kata yang sangat menyesakkan dada Pangeran Tatius.
"Kau, tega....!lirih Tania yang kemudian berlari pergi meninggalkan Pangeran Tatius yang diam terpaku, hati nya begitu remuk dan sakit.
Tak lama kemudian Pangeran Tatius pun berlari mengejar kepergian Tania.
"Sayang, Tunggu..! semua gara-gara kau Wili."
dengus Pangeran Tatius kesal yang kemudian berlari mengejar Tania, karena Tania berlari cukup kencang Pangeran Tatius dengan cepat terbang melesat dan menghadang langkah kaki kekasih nya.
"Tania, sayang! dengarkan penjelasan ku."
Menyadari Pangeran Tatius sudah berdiri di depan nya, Tania berbalik dan Kembali berlari ke arah yang berbeda.
Pangeran Tatius Kembali menelan ludahnya dan Kembali berlari mengejar, kali ini Pangeran Tatius tidak mau Tania berlari menjauh lagi, untuk itu pangeran Tatius melesat terbang dan langsung memeluk tubuh kekasihnya sehingga Tania tak mampu berlari lagi.
"Lepaskan, aku..! bentak Tania kasar.
Dari pada melihat kemarahan kekasih nya semakin besar dan menjadi jadi Pangeran Tatius mengalah dan menuruti permintaan kekasih nya, dengan perlahan lahan dilepaskan nya pelukannya.
"Baik, tapi jangan berlari lagi, aku mohon."
Tanpa menjawab apalagi menatap sosok laki-laki yang ada di depannya Tania mengagguk. Hati Pangeran Tatius berbunga dan lega untuk itu dengan perlahan lahan Pangeran Tatius melepaskan pelukannya.
Meskipun mereka berdua berdiri dengan jarak yang cukup dekat dan meskipun Pangeran Tatius menatap dengan tatapan mata sayu dan penuh cinta tapi berbeda dan lain halnya dengan sikap Tania yang dingin dan memilih membuang muka, Pangeran Tatius yang melihat ada buliiran buliran bening di pipi kekasih nya hatinnya merasa sesak dan sakit.
Dengan bibir bergetar Pangeran Tatius dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan meraih tangan Tania, hati Pangeran Tatius sangat sedih, dan takut was was jika Tania menolak gengaman tangannya, tapi ternyata Tania diam saja meskipun Pangeran Tatius masih dapat melihat buliran buliran bening yang jatuh di dipipi kekasihnya yang semakin deras, hal itu membuat hati Pangeran Tatius seperti di sayat sayat.
"Sayang, maafkan aku!"
Karena Tania diam saja dengan tangan bergetar dan takut Pangeran Tatius mencoba menangkup wajah cantik di depannya, dirinya sangat Takut jika tiba-tiba kekasih nya menolak dan berlari lagi.
Tapi ternyata dugaan nya salah Tania diam saja dirinya bagaikan patung hidup dumana tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.
"Sayang, aku mohon jangan diam begini, aku minta maaf aku bisa jelaskan semuanya."
Perlahan-lahan Tania melepaskan tangan Pangeran Tatius yang menangkup wajahnya.
"Apa kau benar benar Ingin aku memaafkan mu!
"Ya, tentu saja aku ingin sekali kau memaafkan ku."
"Baiklah, tapi aku memiliki syarat untuk itu."
"Apapun syaratnya aku akan lakukan."
"Apa kau berjanji akan menggabulkan semua apa yang akan aku minta"
Dengan sangat pasti Pangeran Tatius mengagguk.
"Pasti aku akan kabulkan semua yang akan kamu minta."
"Baiklah."
Tania mulai mau menatap wajah kekasihnya dan tersenyum. Melihat sang kekasih sudah mau tersenyum padanya hati Pangeran Tatius berbunga bunga, ada perasaan lega dan senang yang diam diam hadir di dalam relung hatinya.
"Tidak....! tidak...!kau Cu-cuma bercanda kan?"
ucap Pangeran Tatius dengan terbata-bata.
"Aku tidak bercanda Pangeran Tatius, aku mau kita putus "seru Tania dengan suara penuh penekanan.
"Tidak.. .aku tidak mau, aku tidak akan pernah memutuskan hubungan kita."
"Kenapa. .?sadarlah Pangeran Tatius yang tampan, kau tidak mencintai ku, hatimu bukan untuk ku jadi untuk apa hubungan ini kita bina kita akhiri saja semuanya."ledek Tania yang kini tak lagi meneteskan air mata.
"Apa kau bilang, Nona Tania...?" aku tidak mencintai mu, omong kosong apa yang sedang kau katakan padaku, aku sangat mencintai mu.'
"Oh, ya! benar Pangeran sangat mencintai ku sampai sampai Pangeran tak merasa khawatir dengan keselamatan ku, karena Pangeran Tatius sangat mencintai ku maka dengan sangat tenang Pangeran Tatius membiarkan ku, dan lebih mementingkan Tuan putri cantik itu dari pada aku."
"Taniaa.. ..!Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan hah, semua yang kau katakan tidak benar aku tidak seperti itu dan aku.. .
Belum juga Pangeran Tatius menyelesaikan ucapannya, Tania sudah melangkah pergi sambil mengucapkan satu kata yang membuat sesak dan sakit lebih sakit dari luka luka yang dialaminya.
"Cukup..!aku tidak mau mendengar apapun alasan mu pokoknya aku mau kita putus, titik."
"Tania, tunggu..!" sial dia ngambek aku harus bagaimana " geram Pangeran Tatius yang kemudian mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal. Sebelum kemudian berlari mengejar kekasihnya.
"Sayang, tunggu! jangan ngambek dong please, jangan bercanda lagi, bikin nyesek nih."rengek Pangeran Tatius yang langkah kakinya menjajari langkah kaki kekasih nya.
Tania tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam pada wajah Pangeran Tatius yang kusut dengan tatapan sayunya.
"Apa kau bilang?"Aku bercanda, aku serius Pangeran Tatius, kita putus."ucap Tania mantap dengan nada penuh penekanan.
"Tidak, aku tidak mau,"
"Aku, tidak perduli."
Kesabaran Pangeran Tatius pun mulai memudar kini dia tidak lagi berkata halus, keras kepala sang kekasih membuat nya kesal.
"Aku juga tidak perduli meskipun kau meminta putus, aku tetap tidak akan memutuskan mu terserah kau mau marah atau apapun, pokoknya tidak ada kata putus di antara kita titik."
Tania mengeryitkan dahinya dia cukup terkejut, mendengar perkataan Pangeran Tatius yang sangat lantang dan keras, seolah olah dialah yang berada di pihak yang tersakiti.
"Kok, begitu sih! kenapa jadi kamu yang marah marah."
"Aku bukan nya marah, cuma aku ngak mau kesalahan kecilku kamu hukum aku dengan sesuatu yang tidak adil."
"Apa? coba ulangi, Pangeran tadi bilang apa, kesalahan kecil, helloo.....ini bukan kesalahan kecil, ini kesalahan besar dan bukti yang besar dimana Pangeran lebih mementingkan orang lain dari pada pacar sendiri."
"Kalau ngomong jangan sembarangan Nona, aku mementingkan orang lain dari pada pacarku begitu?"
"Memang faktanya juga begitu kan!"
"Dengar, jika aku tidak memikirkan mu dan aku mengabaikan keselamatan mu untuk apa aku meminta Raksasa untuk melindungi mu, semua kulakukan karena aku mencintaimu."
"Bohong...!"
"Serius, Nona Tania aku mencintaimu, sumpah." ucap Pangeran Tatius dengan mimik wajah incconet nya, berharap sang kekasih hatinya luluh.
Tania mendenggus kesal dan mengayunkan langkah kakinya dengan cepat dan Pangeran Tatius tidak mau tinggal diam dia juga mengayunkan langkah kakinya menjajari setiap langkah dari sang kekasih.
"kenapa sih, masih menggikuti ku pergi jauh sana, pokoknya aku mau kita putus titik."
"Aku tidak mau."
"Perduli, itu urusan mu bukan urusan ku pokoknya putus."
Merasa geram dengan sikap sang kekasih Pangeran Tatius dengan kasar menarik lengan Tania hingga tubuh nya ikut berputar menjadi menghadapnya.
"kau mau kita putus kan ?"
"Iya,"
"Baik, kalau begitu kita menikah hari ini juga."
"Apa,? menikah, kau gila apa ya, bagaimana mau menikah aku maunya putus jadi jangan harap aku mau lagi menikah dengan mu, aku tidak mau."
"Katakan, sekali lagi,"
"Aku, tidak mau, gimana sudah jelas kan."
"Baik, bagaimana jika aku hari ini memper kosamu,"
Tania tertawa lebar mendengar perkataan dari kekasihnya.
"Kau ingin memperkosa ku lakukan saja jika kau berani," ucap Tania dengan tersenyum sinis. Tania sangat mengenal Pangeran, dia tidak akan berbuat hal yang hina dan rendah untuk mendapatkan sebuah cinta dan pengakuan untuk itu Tania berani menantang Pangeran Tatius.
Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan sebelum.
"Ayo...!"
Pangeran Tatius menarik tangan dari Tania dan membawa nya melesat terbang tinggi yang kemudian berhenti di sebuah taman di mana di taman itu juga terdapat satu bangunan kecil yang bisa di gunakan untuk beristirahat.
Tania sangat terkejut ketika pangeran Tatius membawanya terbang, Namun setelah melihat beberapa tanaman yang indah, bibir Tania menyunggingkan sebuah senyuman.
Pangeran Tatius mendaratkan langkah kakinya di antara beraneka ragam bunga bunga yang indah di taman itu.
"Ayo, masuk!
Tania terbelalak kaget ketika tangan Pangeran Tatius menarik paksa untuk masuk kedalam sebuah bangunan yang ada di tempat itu dan Tania lebih terkejut lagi ketika dirinya dan pangeran Tatius sudah sampai di dalam, Pangeran Tatius segera melepaskan baju atasannya dan terlihat lah tubuh indah dari Pangeran Tatius dengan dada bidang yang mana ada sedikit ditumbuhi rambut disana, Tania menelan ludahnya dan buru-buru memalingkan muka.
"A-apa yang kau lakukan, pakai bajumu."
Pangeran Tatius tertawa menyeringai.
"Kenapa masih bertanya bukankah kita kesini ingin menjadi satu, agar aku sepenuhnya milik mu dan kau sepenuhnya menjadi milikku." ucap Pangeran Tatius Santai.
Lagi-lagi Tania menelan ludahnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar dan tangannya berubah menjadi dingin. Pangeran Tatius tersenyum smrik melihat wajah ketakutan dan kecemasan dari kekasihnya.
"Bagaimana, kau sudah siap kan, ayo ...! Pangeran Tatius menarik tubuh Tania dan menjatuhkan nya di atas tikar panjang yang biasanya di pakai untuk duduk dan beristirahat.
Tania tersentak kaget dengan kenekatan Pangeran Tatius, kedua bola matanya membulat seketika tak kala Pangeran Tatius dengan perlahan menimpa nya dari atas, wajah Tania semakin menggigil ketakutan.
"Jangan Tatius ku mohon jangan lakukan hizk....hizk," rengek Tania yang disertai dengan Isak tangis.
Sementara Pangeran Tatius tersenyum menyeringai.
"rasain tuh, enak saja mau main putusin orang memangnya aku ngak ketakutan apa, tubuhku juga bergetar aku juga sangat ketakutan tapi kau tidak perduli kan hatiku kan jadi tidak ada cara lain untuk membuat mu jera selain dengan cara begini," Gumam Pangeran Tatius dalam hati yang mana hatinya Tersenyum senang karena rencananya pasti berhasil.
Pangeran Tatius menelan ludahnya dan menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.
"Baik...!Aku tidak akan melakukan nya, tapi dengan satu syarat, aku tidak mau hubungan kita berakhir aku tidak mau putus darimu bagaimana?"
"Iya."
"Iya, apa?iya penyatuan antara kita saat ini?"tanya Pangeran Tatius yang dalam hati cuma mengoda.
"Ti-tidak, bu-bukan begitu, iya kita tidak putus."
"Sungguh...!"
"Iya..!
"Ngak apalah kira putus dari pada Nanti kamu bohongin aku dengan bilang pada guru jelek itu kalau kita putus, tidak... tidak lebih baik kita melakukan penyatuan saja sekarang."ucap Pangeran Tatius dengan mengedipkan sebelah matanya.
Tania semakin menangis.
"Tidak, aku tidak mau aku janji aku mohon jangan lakukan itu pada ku, hizk .. hizk."rengek Tania meminta pada pangeran Tatius untuk tidak melakukan nya.
"Baiklah, aku turuti permintaan mu kali ini, jadi gimana kita tidak jadi putus kan?"ucap Pangeran Tatius sambil bangkit dari menimpa tubuh Tania yang ketakutan.
"Iya, kita tidak jadi putus," ucap Tania lirih seraya bangkit dari jatuhnya, dan pangeran Tatius tersenyum smrik dia sangat merasa gemas melihat kekasihnya yang terlihat sangat ketakutan.
"Siapa juga yang tega akan memperko samu, ini kan cuma mau mengertak mu, agar tidak seenaknya saja mutusin orang." Gumam Pangeran Tatius dalam hati yang mana sebenarnya tidak pernah tega melihat kekasihnya menangis.