The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.164. MENERIMA



Tidak ada Ayah yang tega menyakiti hati anaknya dan jika hal itu di lakukan pastilah semata mata demi kebahagiaan sang anak.


"Ayah tidak akan membiarkan mahluk itu masuk dalam kehidupan putriku dan tak kan ku berikan kesempatan untuk nya bisa berdua duaan lagi dengan Putri ku, cukup sekali dan tak kan terulang untuk kedua kali aku benar-benar tidak habis pikir Putriku juga menyukai mahkluk aneh itu Hhhhuuh...dosa apa yang kau lakukan di dunia ini dulu itu Zhara kenapa putri mu harus jatuh cinta pada mahkluk yang bukan manusia." untuk beberapa saat Arman yang tak lain Ayah Tania mendudukkan bokongnya di kursi yang terbuat dari rotan yang ada di teras halaman, sementara Tania dan Pak Guru Wili yang masih berada di dalam kamar masih saling berpelukan, ada rasa bahagia yang tak bisa di ucapkan dengan kata kata oleh pak guru Wili, Tania yang dingin, Tania yang ketus dan selalu bersikap sinis kini sangat manis bahkan membiarkan dirinya bisa memeluk nya Serasa mimpi yang terindah, meskipun awalnya pak guru Wili bergetar karena detak jantung nya yang tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat ketika Tania menenggelamkan wajahnya pada dada bidang nya dengan sedikit keberanian di belai dengan lembut rambut indah milik Tania dan di kecupnya, serasa mimpi bisa melakukan semua ini pada gadis yang sangat di cintai nya.


Tania merenggangkan pelukannya.


"Apa aku boleh minta ijin kepada Bapak!" tanya Tania sambil menengadahkan wajahnya sehingga pandangan mata mereka bertemu dan hal itu lagi lagi membuat jantung pak guru Wili serasa mau meloncat, sangat dekat dan aroma wangi yang keluar dari dalam tubuh Tania sangat mengoda, pak guru Wili menelan ludahnya dengan kasar, melihat mata lentik dengan bulu mata indah, hidung mancung bibir yang berada sangat dekat membuat gejolak kelakian nya meronta ronta dengan cepat pak guru Wili membuang muka, tak sanggup jika harus bertatapan terus.


"Katakan mau minta ijin apa?'tanya pak guru Wili.


Tania melepaskan pelukannya dan memilih berdiri di depan jendela, bagaikan orang yang takut kehilangan pak guru Wili menggikuti langkah Tania dan berdiri di belakang nya dan lagi-lagi pak guru Wili mencuri kecupan meskipun yang di curi hanya mencium rambut panjang milik Tania dari belakang.


"Aku ingin menemui Devan, apakah Bapak mengijinkan."


"Tentu.. akan mengijinkan mau aku antar atau sendiri.'


"Apa boleh jika aku ingin sendiri."


"Tentu saja Boleh."


"Aku ingin hari ini juga bertemu dengan nya ."


"Baiklah, akan aku pesankan taksi."


"Trimakasih,"


"Tania...!"


"Ya..!"


"Bisakah mulai sekarang kamu tidak memanggil ku Bapak, aku ingin kau memanggilku mas begitu biar lebih enak di dengar."


"Baiklah, Mas Wili ,sekarang pesankan taksi untuk ku."


"Ok, sayang!" jawab pak guru Wili bersemangat.


"Pak....!maaf , maksdku Mas!" tolong jangan panggil aku dengan kalimat itu aku merasa ngak nyaman saja, apa boleh aku minta mas panggil aku Tania saja."


"Tentu saja , boleh!" sebentar aku pesankan taksi ya,'


Pak guru Wili segera menghubungi no taksi online dan meminta nya untuk datang ke sini.


"Sudah, sebentar lagi pasti taksinya datang, ayo kita tunggu di luar."


Tania mengagguk kemudian menggikuti pak guru Wili yang berjalan keluar lebih dulu. Tidak menunggu lama taksi pun sudah datang dan Tania segera pamit kepada Ayah dan calon suaminya. Sesuai permintaan Tania taksi pun melaju dengan kecepatan sedang, di dalam taksi Tania mendengus dengan kesal meluapkan segala hal yang mengganjal dalam pikiran nya.


"Kalau bukan demi Ayah, aku tidak mau!" sangat menyiksa sekali berusaha menerima orang yang tidak kita cintai, andai Tatius bukan setan hantu, ralat...bukan hantu Ding ..tapi apa? mahkluk apa ya, jika sejenis Vampire itu, pasti Ayah akan ijinin sayangnya Tatius bukan manusia, heran juga kok ada ya Vampire cakep kayak gitu andai dia juga manusia sepertiku oupss...kok ngelantur gini sih, kenapa pula selalu mengingat ingat dia sekarang saja pasti nya Tatius lagi bersenang-senang dengan banyak cewek di sana, bilang cinta tapi gombal, mana ada orang cina di datengin belum tentu satu Minggu sekali, mana datengnya juga sembuyi sembuyi ah... menjengkelkan, mungkin ini jalan yang terbaik buat aku, Nikah sama pak guru Wili ngak mau menghayal.. Tatius lagi bikin sakit hati saja berpacaran sama dia bagaikan ngak pacaran saja mending lupakan." Gumam Tania dalam hati.


Taksi yang membawa Tania pun sudah memasuki halaman rumah yang tidak terlalu lalu megah juga tidak terlalu sederhana di situlah Devan tinggal.


"Non, sudah sampai saya tunggu di sini apa saya tinggal Non."


"Bapak, tunggu di sini aku cuma sebentar kok."


"Baik, Non!"


Tania membuka pintu mobil taksi dan berjalan mendekati pintu rumah Devan.


"Ting tong...Ting Tong...!" tidak menunggu lama terdengar suara pintu di buka dari dalam.


"Tania...hei tumben datang ke sini sama siapa, apa kamu di antar supir Dodi, mana si idiot itu tumben gak ngikutin kamu masuk."


"Aku, ke sini naik taksi.


"Ha ..Taksi?'


Tania mengagguk .


"Tuh...!"taksi nya.


"Busyet serius kamu naik taksi ke sini, kenapa di bela belain ke sini sampai Naik taksi kangen ya..?"


"Apaan, sih!" aku ngak di suruh masuk nih harus berdiri terus di depan pintu."


Devan terkekeh.


"Ngak usah aku ngak lama kok."


"Idiiih... serius amat ada apa sih,!"


"Van...aku..


"Lho kenapa berhenti, lanjutkan ada apa?"tanya DeVan penasaran tatapan matanya memandang Tania dengan senyum nakal.


"Van, jangan menatap ku begitu, aku serius nih,"keluh Tania jengah.


"Sekarang katakan,"


"Aku dan Pak guru Wili akan segera menikah."


"Apa ...? Ha ..ha...ha kamu bercanda kan."


"Aku serius Van dan kamu jangan lagi menggangunya."


"Apa...kau melarang ku mengganggunya, Tania...apa kamu sudah gila menerima psk guru Wili yang kita benci itu."


"Dia pilihan Ayahku dan aku menyayangi Ayahku, sudah ya ..aku pamit pulang Taksi ku sudah menunggu di depan."


"Tania ....!"


"Tania.. tunggu?"


"Van, semua sudah ku jelaskan aku pulang dulu."


Devan melongo dengan apa yang di ucapkan gadis nya.


"Tania menerima pak guru Wili?" tidak ini tidak benar, tidaaaaak.....!"


"Praaaang.....klontang.... bruuuuugggh... pyaaaaarrrr."


Dengan emosi DeVan menjatuhkan semua barang yang ada di dalam rumah hingga keadaan ruang tamu bagaikan kapal pecah, semua berhamburan ke lantai. Tak lama kemudian Devan keluar rumah dengan menaiki motornya menuju sebuah Bar yang sudah sangat penuh sesak dengan pengunjung, Devan melampiaskan kekesalan dan kekecewaan nya dengan minum minuman di sebuah Bar.


Di sisi lain pak guru Wili yang sudah sampai di halaman rumah nya pun di buat tertegun dengan sosok gadis di depan pintu sedang bersandar dengan kedua tangan di depan dada.


"Clara....!" sejak kapan kau ada di sini?"


"Aku sudah dari tadi menunggu mas Wili pulang, mas Wili dari mana sih kok lama amat."


"Oh, dari rumah teman."


"Oh....!" jalan jalan yuk" ajak Clara yang langsung menggandeng tangan pak guru Wili dan bergelayut manja. Dengan perlahan lahan pak guru Wili menepis tangan Clara.


"maaf Clara, aku tidak bisa aku ada janji dengan calon istri ku.'


"Apa?"mas Wili bilang apa?'


"Aku ada janji dengan calon istri ku, kami sebentar lagi akan menikah kamu datang ya di pesta pernikahan kami Nanti."


Bagaikan petir yang menyambar di siang hari tiba-tiba tubuh Clara serasa lemas tak bertenaga.


"Mas Wili sudah memiliki calon istri?'


"iya, " jawab pak guru Wili penuh semangat.


Dengan senyum sedikit terpaksa Clara menggulurkan tangannya.


"Selamat ya mas, smoga bahagia." ucapnya getir.


"Trimakasih, Clara, aku doakan kamu pun cepat mendapatkan jodoh yang lebih baik dari ku."ucap pak hitu wili yang di sambut anggukkan dan senyum kecut oleh clara.


"Baiklah, Mas ! saya permisi dulu." ucap Clara kemudian.


"Clara...!' aku antar pulang."tawar psk guru Wili.


"Tidak, usah mas!' trimakasih.'


Clara segera berlari ke jalan dan menyetop satu mobil taksi. Di dalam taksi Clara menumpahkan segala kesedihan nya.