The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 308.KESAL



Siang yang belum terik dengan hembusan angin sepoi-sepoi tampak dua orang penungang kuda sedang berpacu dengan sang waktu menghentakkan kuda kuda mereka dengan sangat cepat seolah olah mereka berdua sedang di kejar preman.


"Cepat sedikit Paman...!"


"Baik, Pangeran..!"


kedua penunggang kuda itu pun memacu kudanya dengan sangat cepat menembus triknya panas mentari di tengah-tengah hutan belantara.


"Pangeran Apakah engkau yakin kita hanya akan berdua saja menyerang kerajaan ambawarta,"


"Kenapa Paman bertanya begitu, Apakah Paman merasa takut, jika Paman merasa takut Paman boleh kembali lagi ke kerajaan awang-awang Vampir, biarlah aku sendiri yang akan menghadapi mereka."


"Tidak pangeran, saya tidak merasa takut akan tetapi saya khawatir dengan keselamatan pangeran, kekuatan kita tidak akan sebanding dengan mereka, di sana pasti sangat banyak para prajurit dengan senjata lengkap sedangkan kita hanya berdua."


"Tenanglah paman kita akan melakukannya dengan sangat baik dan rapi Jangan khawatir semua akan baik-baik saja, Paman ikuti saja semua yang Aku perintahkan jangan memakai cara atau pun melakukan sesuatu tanpa perintahku apa Paman mengerti..!"


"Siap, Pangeran! saya mengerti."


"Bagus, percepat laju kudamu Paman, agar kita sampai di kerajaan ambarwartar tidak sampai sore."


"Siap, Pangeran!


Kedua orang dari Kerajaan Awang Awang Vampire Pangeran Tatius dan salah satu pengawal nya mempercepat laju kuda mereka, ringkikan kuda dengan derap yang sangat cepat menembus hutan belantara, debu debu berterbangan mengiringi perjalanan mereka.


***************


Sementara itu sosok misterius yang membawa pergi salah satu tawanan dari pangeran Yasza sudah sampai di sebuah tempat yang sangat jauh dari Kerajaan Ambarwata.


"Kita sudah sampai..! Masuklah kau akan Aman di sini."


Setelah mengucapkan itu sosok misterius itu pun pergi meninggalkan salah satu tawanan Pangeran Yasza di depan pintu gerbang Kerajaan nya.


"Tunggu, Ayah...!"


Mendengar seruan dari salah satu Tawanan yang tidak lain adalah Ratu Shima, sosok misterius itupun menghentikan langkah kakinya tanpa sedikitpun menoleh pada Ratu Shima.


"Ada apa lagi?"


"Kenapa Ayah hanya menyelamatkan ku, Di-disana ada Raja dan Kekasih nya Pangeran Tatius mengapa Ayah tidak menolong nya juga."


Mendengar perkataan dari Ratu Shima sosok misterius yang tak lain adalah Raja Sangkala Ayah dari Ratu Shima mulai membalikkan badannya menatap tajam pada Ratu Shima.


"Mereka bukan tanggung jawabku jadi itu bukan urusanku." ucap Raja Sangkala dengan sikap yang dingin.


"Ayah..! kenapa kau tidak mengerti Raja adalah Suamiku dan itu artinya mereka keluarga ku."


"Cukup, Shiima..! aku tidak mau berdebat tentang hal ini, masuk dan beristirahat lah dan ingat aku tidak mengijinkan kamu keluar dari tempat ini, jadi jangan coba coba pergi apalagi berusaha membantu Suami mu."


"Tapi, Ayah..!


"Masuk....!"dan jangan membicarakan tentang hal ini lagi."


Dengan Wajah masam Ratu Shima masuk ke dalam kerajaan Sangkalah pergi ke Puri istana kepribadian nya. Hatinya sangat sedih dan resah memikirkan Nasib Raja dan Gadis yang di Tawan Kerajaan Ambarwata, tapi untuk melawan dari larangan sang Ayah Ratu Shima jelas tidak akan berani, Ratu Shima tidak tau harus dengan cara apa dan bagaimana Ayah nya bisa menerima Raja Awang Awang Vampire sebagai menantunya dan menghilangkan rasa benci yang bertahun-tahun bertahta di dalam hatinya.


Di kediaman Kerajaan Ambarwata, Pangeran Yasza berjalan mondar mandir di dalam Puri istana kepribadian nya. Sesekali Wajah nya melongok keluar jendela dan menatap langit yang cerah masih belum begitu menampakkan tanda-tanda sore akan datang menggantikan waktu siang.


"Lama sekali waktu berjalan aku sudah tidak sabar menunggu petang tiba, apa lebih baik aku datangi sekarang juga, benar-benar gadis itu membuat ku gila rasanya tidak sabar Ingin segera memilikinya, lebih baik aku temui dia sekarang dari pada aku menunggu disini bisa gila aku dan aku tidak perlu memberikan pilihan dan waktu padanya jadi tidak perlu menunggu sampai petang."


Pangeran Yasza keluar dari Puri Istana kepribadian nya, ketika sampai di depan pintu Pangeran Yasza di kejutkan dengan kehadiran seorang Wanita cantik yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Putri Fan yin..! ada apa, mengapa Kau ada di sini."


"Aku ingin bicara dengan Pangeran setelah Pangeran pergi dari kerajaan kita belum bicara apapun."


Pangeran Yasza menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan mencoba menahan rasa kesal yang tiba-tiba hadir menyeruak ke dalam kalbu nya.


"Baiklah, silahkan masuk kita bicara di dalam."


Putri Fan yin Tersenyum senang.


"Duduklah dan katakan apa yang ingin putri bicarakan, seperti nya itu sangat penting."


"Pangeran tutup pintu nya."


Pangeran Yasza mengeryitkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang di inginkan Gadis di depannya.


"A-,apa itu harus putri!"


Putri Fan yin mengagguk kan kepalanya dengan pasti, meskipun sangat tidak suka tapi demi menghormati Gadis yang ada di depannya Pangeran Yasza melakukan apa yang di minta putri Fan yin.


"Sudah, Sekarang bicaralah putri."


Puteri Fan yin bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Pangeran Yasza tanpa di duga Pangeran Yasza Putri fan yin langsung memeluk tubuh kekar Pangeran Yasza membuat kedua bola mata Pangeran Yasza membulat seketika.


"Putri, apa yang kau lakukan," Dengan halus dan penuh hati-hati Pangeran Yasza melepaskan pelukan Putri Fan yin.


"Kenapa, kau tidak suka Pangeran."


"Bu-bukan, begitu aku cuma sedikit kaget saja," ucap Pangeran Yasza sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis agar gadis di depannya tidak merasa kecewa.


"Aku mau memberikan ucapan selamat, kau hebat kau membuat Nama kerajaan Ambarwata menjadi berjaya, aku bangga padamu Pangeran dan aku ingin....


"Ingin..... ingin apa putri kenapa tidak kau lanjutkan ucapanmu."


"Aku ingin, kau menikahiku kita menikah."bisik Putri fan yin sambil bergelayut Manja pada Pangeran Yasza yang mana ucapan dari putri Fan yin langsung membuat Pangeran Yasza langsung terbatuk-batuk.


"Uhuk...


"Maaf putri aku ada pekerjaan yang harus aku lakukan, aku pergi dulu," ucap pangeran Yasza buru-buru sanbil melangkah keluar setelah melepaskan pelukan manja dari Putri fan yin.


"Pangeran, kau belum menjawab pertanyaan ku, kau.....yaaaaa dia sudah pergi gimana sih dia bener benar cowok yang sangat berbeda, mungkin Pangeran Yasza malu aku harus memberinya Waktu.


******


Di dalam kamar Tania masih tidak mau menyentuh makanannya, tatapan matanya kosong, hatinya sakit dan sedih.


"Tatius kamu di mana? apakah kamu tidak mengingatku, lihatlah aku takut berada di sini dan lihat Raja kini di tahan, mengapa kau pergi tanpa memberitahuku, jika tau begini, jika tau kau hanya mempermainkan lebih baik aku tidak mau ikut denganmu, aku benci kamu....aku benciiii.....!" teriak Tania sambil melempar Bantal yang tanpa sengaja bantal yang di lempar Tania mengenai kepala Pangeran Yasza yang kala itu berada di depan pintu kamarnya.


"Apa yang kau lakukan?"mengapa melempar bantal sembarangan, hah."


"Kau..!"


sejak kapan manusia jahat itu ada di sini."


"Hei, aku bertanya padamu mengapa tidak kau jawab atau sebenarnya kau sengaja melempar bantal ke arah ku."


"Kalau, iya kau mau apa." jawab Tania dengan sikap yang sangat dingin dan kasar.


"Kau ..!


Wajah Pangeran Yasza langsung memerah dan dengan kasar pula melempar bantal Kembali ke arah Tania, beruntung Tania melihat pergerakan dari laki-laki yang ada di depannya sehingga bantal itupun bisa di tangkap dengan sempurna.


"Kenapa makanan nya belum kau setuh, apakah kau ingin aku yang menyuapimu."


Mendengar perkataan dari pangeran Yasza Tania Tersenyum miring.


"Ciih...Aku tidak sudih..!


"Kau bisa kelaparan jika tidak makan."


"Itu bukan urusan mu, lepaskan aku dan Raja biarkan kami kembali ke krajaan kami."


Pangeran Yasza tertawa lebar mendengar perkataan Tania.


"Siapa namamu..?"


"Pertanyaan yang tidak penting untuk aku jawab," sinis Tania dingin.


Pangeran Yasza menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan menekan emosi yang sedang bergemuruh di dalam hatinya menghadapi gadis yang sangat kasar dan super dingin padanya.


"Baiklah, apa jawaban mu tentang tawaranku, kau sudah siap dan pasti menerima bukan."


Tania Tersenyum miring


"Jangan terlalu percaya diri siapa juga yang sudih menerima kamu."


"Kau....!


Pangeran Yasza maju melangkah mendekati di mana Tania sedang berdiri, melihat Pangeran Yasza melangkah mendekati tempat nya berdiri dengan gerakan refleks Tania mundur, semakin Pangeran Yasza semakin maju maka Tania semakin mundur hingga tidak ada ruang lagi di belakang nya selain dinding.


"Berhenti di situ Jangan mendekat."teriak Tania lantang.


Pangeran Yasza Tersenyum tipis dia tidak memperdulikan teriakan Tania, bahkan kini tubuhnya yang sudah sangat dekat dengan Tania menatap tajam pada gadis yang ada di depannya.


Tania membuang muka merasa risih dan tak sudih melihat laki-laki yang ada di depannya. Merasa tidak di hargai Pangeran Yasza langsung menangkup wajah cantik Tania hingga pandangan mata mereka bertemu.


"Aku tidak suka ada penolakan jadi bersiaplah malam Nanti kita akan menikah."


Bagaikan petir yang menyambar di siang hari Tania mendengar ucapan dari laki-laki yang ada di depannya.


"Cuiih, aku tidak sudih," seru Tania sambil mendorong tubuh kekar yang ada di depannya dan ketika berhasil dengan cepat Tania berusaha lari akan tetapi tangan kekar Pangeran Yasza sudah lebih dulu menangkap tangan nya dan hanya dengan sekali tarik tubuh Tania langsung masuk ke dalam dekapan nya.


"Lepaskan, aku!


"Sudah ku bilang aku tidak suka penolakan."gertak pangeran Yasza dengan menggenggam erat tangan Tania." jadi bagaimana kau menerima bukan."


"Sampai kapanpun jawaban ku akan tetap sama aku tidak mau."


"Kau... jangan keras kepala karena aku bisa memaksamu."


Tania tertawa lepas


"O,ya aku tidak takut. karena jawabanku akan tetap sama aku tidak mau."


"Kau.....!


Wajah Pangeran Yasza mendadak merah padam karena kesal dan merasa tidak di hargai Pangeran Yasza mulai melakukan gerakan memaksa menci um bibir gadis yang ada di depannya. Merasa laki-laki du depannya akan berbuat kurang ajar dengan cepat Tania melayangkan satu buah Tamparan yang cukup keras pada pada pangeran Yasza di seratai dengan injakan kaki sehingga gengaman tangan dari pangeran Yasza lepas.


"Plaaaaakk....!"


Pangeran Yasza mengusap wajahnya yang baru saja mendapatkan tamparan.


"Dasar kau ....! pengawal...!"


"Siap, Pangeran!


"Bawa ke sini Tawanan Raja Awang-awang Vampire ikat dia di bawa sana dan tunggu perintah ku."


"Baik, Pangeran!


"Kau lihat saja apakah kau masih bisa menolakku setelah ini gadis keras kepala."sungut Pangeran Yasza seraya keluar dari kamar di mana Tania berada. Kepergian Pangeran Yasza membuat Tania bernapas lega dan segera mengunci pintu kamar nya.