The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.112.SENYUM BAHASA



Pangeran Tatius dan putri Lin Ying segera menoleh ke arah pintu dan terlihat lah oleh mereka pangeran Yervan sudah berdiri dengan wajah memerah dan gigi runcing nya mengeluarkan bunyi gemretak.


"Tatiuuuuuss...!" apa yang kau lakukan hah?"


Pangeran Yervan mencengkram kuat Krah leher pangeran Tatius dan tanpa menunggu jawaban dari pangeran Tatius pangeran Yervan segera memberikan pukulan pada pangeran Tatius. Beberapa kali wajah tampan pangeran Tatius mendapatkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari Pangeran Yervan dan tidak sekalipun pangeran Tatius membalasnya.


"Apa salahku, kenapa pangeran Yervan memukul ku,"tanya pangeran Tatius ingin tau.


"Masih juga berlagak tidak tau trima ini,"


Pangeran Yervan kembali memukul dan menendang pangeran Tatius.


"Hentikan!" apa apaan kau ini ,"


"Diam kau!" Putri Lin Ying semua gara gara kau sudah tau kau calon istri ku kenapa juga kau mau di rayu dia hah?"


"Aku...


"Sudahlah!" dan kau Tatius akan aku adukan semua ini pada Raja agar kau di hukum karena telah berani merayu calon kakak iparmu."


"Pangeran Yervan, salah paham apa yang terjadi tidak seperti yang pangeran Yervan bayangkan."


"Diam!" simpan saja pertanyaanmu untuk memberikan Jawaban kepada Raja nanti."


"Pangeran Yervan kau seperti anak kecil."seru Putri Lin Ying kesal.


"Terserah Raja menunggu kita untuk makan malam aku tunggu kau di sana."seru pangeran Yervan sebelum dia melesat pergi.


Patih lembu ireng yang mrmbawa Tania bersama dengan Nenek dan teman temannya telah sampai pada pintu Rahasia menuju alam manusia.


"Kalian ikuti lorong kecil ini Nanti kalian akan sampai pada alam dunia manusia."


"Trimakasih, paman?"


"Sama sama Nona!"


"Ayo, kita pulang?"seru Nenek pada ketiga cucunya.


Nenek, Devan , Dodi dan Tania menggikuti lorong kecil yang tak bercahaya lampu namun terang karena sinar Rembulan. Alangkah terkejutnya mereka ketika berjalan hampir sepuluh menit di depan mereka tidak lagi ada jalan yang ada hanya sebuah dinding berukir mutiara permata berwarna hijau.


"Nek! bagaimana ini jalan nya buntu dan patih tadi sudah tidak bersama kita lagi."seru Devan panik.


"Huaaa...huaaaaaa.... huaaa...hizk...hizk..aku tiy mau mati konyol di sini ayo kita kembali saja," Seru Dodi nangis sambil berteriak teriak histeris.


"Sudah, diam, biar Nenek pikirkan."


"Hizk ...hizk....aku tidak mau mati terkurung disini."


"Brisik, Nenek sudah menyuruh mu diam dodol, kenapa loe masih nangis saja diamlah dan ikut mikir, kita semua juga tidak mau mati di sini."seru Devan sambil menatap Tania yang juga ketakutan, dengan sigap Devan menggrngam erat tangan Tania.


"Jangan takut kita pasti bisa keluar dari sini, kamu yang rileks ya, aku akan selalu bersamamu."


Tanpa memberikan jawaban apapun Tania hanya mengangguk kan kepala.


"Bagaimana Nek?"


"Di samping kiri dan kanan semua dinding tertutup tidak ada jalan seperti nya ini ruangan tertutup."


"Kita kembali, kita tanya apa mau mereka mempermainkan kita."


"Baiklah, ayo semua berbalik kita kembali."


Ketika semua berbalik dan hendak melangkah untuk kembali lagi-lagi mereka harus di kejutkan dengan hal yang aneh.


"Nek.!" jalan yang kita lewati hilang semua berubah menjadi dinding, cuma dinding disini tidak ada ukiran bagaimana ini." seru Devan memberikan informasi.


"Kita tidak bisa kembali karena jalan sudah tertutup."


"Huaaaa....huaaaaaa...hizk ..hizk.. aku pokok nya tidak mau mati di sini," seru Dodi yang kembali menangis lagi.


"Kita coba buka siapa tau di balik ukiran itu ada pintu."


Ketika tangan sang Nenek menyentuh ukiran mutiara berwarna hijau tiba-tiba tubuh sang Nenek menghilang dari pandangan. Melihat hal itu Tania yang tangannya di gengam Devan segera berteriak seraya mengibaskan gengaman tangan Devan.


"Nenek..!"kau di mana?'Devan bagaimana ini kenapa Nenek menghilang."


"Aku tidak tau Tania," ucap Devan yang tiba-tiba merasa cemas."


"Kita cari Nenek, ayo kita pegang ukiran itu biar kita bisa cepat menemukan Nenek,"


"Ayo, Dodol cepat, kamu itu penakut jadi cepat kamu duluan biar aku yang urutan paling belakang."


Dodi kali ini menurut tanpa membantah meskipun sedikit rasa takut dan was was Dodi dengan tangan bergetar menyentuh ukiran mutiara berwarna hijau dan dalam sekejap pula tubuh Dodi menghilang dari pandangan, setelah Dodi Tania juga melakukan hal yang sama dan yang terakhir melakukan adalah Devan.


Bagaikan di putar putar tubuh sang Nenek Dodi Tania dan Devan terbawa arus kekuatan gaib yang sanga besar dan....


"Aaaaaaaaaaa... Bruuuuugggh...!"


Tubuh Nenek jatuh tersungkur di tanah dengan posisi kedua tangan menyentuh lantai, tak lama kemudian terdengar lagi suara benda keras jatuh yang ternyata Dodi dengan posisi kedua tangan lurus ke lantai bagaikan orang mau push up, yang selanjutnya diikuti suara keras dari Tubuh Tania dan Devan .


Bagaikan orang mabuk mereka berdiri sempoyongan dengan kepala terasa pening dan ketiika kesadaran dan rasa pening di kepala hilang, Sang Nenek, Devan, Dodi dan Tania terkesima kaget ketika mereka menyadari bahwa mereka kini sudah berada di dalam ruangan kamar yang di depannya terdapat lukisan kerajaan Sangkala.


"Horeeeeee...!" kita sudah kembali."Seru Dodi girang dia meluapkan rasa bahagia nya dengan berjingkrak jingkrak tak karuan sedangkan Tania dan Devan saling berpandangan yang kemudian Devan memberanikan diri memeluk tubuh Tania.


"Tania..kita sudah ada di alam manusia kita sudah pulang."serunya senang dan lebih senang lagi pelukan nya pada Tania tidak di tolak Tania juga merasa senang dan haru begitu juga dengan Sang Nenek beliau tersenyum bahagia.


"Kita sudah pulang, ayo semua keluar dari kamar ini jangan lagi kalian bermain dan masuk ke kamar ini mengerti?"


"Mengerti Nek!"


"Aku akan siapkan makan malam untuk kita,"


"Aku bantu Nek!'sahut Tania menawarkan diri untuk membantu Nenek Sang Nenek mengagguk tanda mengijinkan.


"Yaaa, pelukan nya lepas, padahal aku ingin merasakan hangatnya berpelukan dengan Tania lebih lama lagi ah Nenek bikin acara anak muda kacau saja ini kan kesempatan emasku karena tidak ada si Vampire jelek pengaggu itu anti deh gue kayaknya tuh Vampire jelek Tatius Naksir juga sama Tania huffp sekarang aku bisa bebas terutama Tania ngak bakalan di ganggu dan di goda Vampire jelek itu." grutu Devan dalam hati.


Setelah keluar dari kamar yang mencekam itu Dodi, Devan Tania dan Nenek pergi untuk membersihkan diri sebelum melakukan kegiatan masak untuk makan bersama. Sampai di luar mereka tertawa lebar.


"Nek..!" di sini ternyata belum malam bahkan masih pagi, jadi bukan menyiapkan untuk makan malam Nek, tapi menyiapkan sarapan pagi."seru Devan


"Ha. ha. ha iya, kau benar di sini pagi Nek," seru Dodi Tertawa gembira wajahnya tampak senang dan bahagia, sedangkan Tania hanya mengulum senyum ikut merasakan lega dan bahagia hatinya ikut berbunga-bunga pasalnya Sebentar lagi dia akan bisa bertemu dengan sang Ayah tercinta.