The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.145.TERTANGKAP



Kejenuhan dan kegusaran yang di alami pangeran Tatius membuat dirinya memilih melepas sedikit lelahnya dengan masuk wilayah perkampungan, sudah hampir Lima tempat dan lima lautan luas yang pangeran Tatius jelajahi namun tak sekalipun ada tanda-tanda menemukan keberadaan mutiara hijau.


"Apa pangeran sudah mulai putus asa, karena kita, tak menemukan mutiara hijau itu."


"Tidak Bibi, aku masih bersemangat cuma kali ini tidak ada salahnya kita melihat lihat kehidupan para manusia."


"Pangeran terlihat seperti tertarik sekali dengan kehidupan manusia."


Pangeran Tatius Tersenyum tanpa memberikan jawaban.


"Bibi, kita tidak bisa masuk ke perkampungan ini jika dengan baju seperti ini, Bibi Derbah tunggu di sini ya, aku akan mencari baju yang cocok untuk kita. Tanpa menunggu jawaban dari Bibi Derbah pangeran Tatius segera terbang melesat ketengah tengah area perkampungan, sedangkan Bibi Derbah memilih menunggu pangeran Tatius di bawah pohon rindang.


Bibi Derbah duduk di atas pasir tanpa merasa takut kotor, tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya dengan satu anak kecil di samping nya.


"Sudah le, kita duduk di sini dulu beristirahat, Nenek capek, kalau harus terus berjalan otot otot Nenek sudah tegang semua."


"Baik, Nek..!"tapi di situ ada orang nya Nek."


"Ngak papa, ini kan tempat umum jadi kita juga boleh berteduh di sana, ayo le...Nenek ingin segera selonjoran."


Anak kecil itu mengagguk sambil menuntun Neneknya menuju pohon rindang.


"Maaf, bolehkah kami juga menumpang istirahat di sini."


Wanita itu hanya mengagguk, tanpa menoleh dan menatap orang yang menyapanya.


"Nek..!" tadi kita kan beli minuman teh kotak ya?"


"Iya, le..!"ini teh kotakmu, apa kamu haus, kalau haus minum saja."


"Tentu saja haus kan kita pulang jalan kaki, Nenek sih tidak mau di ajak pulang dengan naik ojek, capek jadinya."sungut si anak laki-laki kecil dengan bibir di kerucutkan, membuat sang Nenek gemas.


"owala..le, kamu masih muda kok ngeluh, dulu itu Nenek kemana mana selalu jalan kaki, ngak ngeluh malah senang jalan kaki itu sehat le, cuma sekarang saja karena Nenek sudah tua jadinya sering capek."


"Nek..!" Kak itu mungkin juga haus, teh kotak nya masih ada kan?"


"Ada, le !"kan Nenek beli empat."


"Boleh ngak Nek, teh kotak nya aku berikan pada mbak itu, kasian dari tadi diam melulu, mungkin dia juga haus Nek."


"Boleh, berikan saja.'


"Kak....hei..kak!"si anak kecil itu menggoyang goyangkan tangan dari wanita yang duduk membelakangi di sampingnya.


Melihat wanita disampingnya tidak bergeming, kembali si anak kecil laki-laki itu menggoyang kan tangan wanita di samping nya kali ini lebih keras, membuat sang wanita menoleh dengan terpaksa.


"Kakak, aku punya teh kotak, ini untuk mu?"


Tanpa Bicara wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Dari tadi Kakak diam saja apa Kakak ini bisu?"tanya si anak kecil penasaran, karena mendapati gadis di sampingnya hanya diam tanpa bicara.


Lagi-lagi wanita didampinginya diam, anak kecil yang usianya sekitar sepuluh tahun itupun memutar otaknya berfikir keras bagaimana agar wanita di sampingnya bisa bicara sedangkan sang Nenek yang duduk berselonjor kaki mulai memejamkan matanya, perjalanan dari pasar menuju rumah cukup mengguras tenaganya yang sudah mulai tua.


Diam diam anak kecil itu merencanakan sesuatu di liriknya wanita berbaju hitam panjang kemudian dengan sangat cepat anak kecil itu berteriak.


"Kakak.. awas!" ada ular di sebelahmu"


Sontak saja Teriak kan sang anak kecil membuat sang wanita itu terkejut dan langsung bangkit berdiri.


"Mana...! mana ularnya."dengan cepat wanita itu berdiri dan bersiap mencari ular yang di tunjukkan si anak kecil dengan mata celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari cari keberadaan sang ular


"itu, jawab si anak kecil, menggarahkan jari telunjuk nya pada rumput yang sedikit rimbun, tanpa banyak bicara lagi wanita itu langsung mengobrak abrik tempat itu.


"Ngak ada Dek!"


"H..ha....ha..!" terdengar tawa renyah dari si anak kecil.


Si anak kecil yang tadinya tertawa tiba-tiba terdiam dan melangkah mundur.


"Va-vampir.... Vampire...!' teriak sang anak ketakutan."


Membuat sang Nenek yang ketika itu memejamkan mata terbagun dengan tiba-tiba.


"Le, kamu kenapa ada apa le?'


"Vampire, Nek..!"ada Vampire ayo lari...Tolong....tolong tolong ada Vampire disini.


Teriakan sang anak kecil membuat beberapa orang berlari mendekati, sementara Bibi Derbah kebinggungan.


"Sssssttt... Dek, jangan berteriak teriak, aku tidak akan menyakiti."


"Tolong... Tolong..... Tolong....!"ada Vampire."


Si anak kecil tetap berteriak teriak dia tak mendengar perkataan dari Bibi Derbah, membuat Bibi Derbah kini panik dan kebinggungan, pasalnya beberapa orang sudah berlarian ke arah mereka dengan serta merta Bibi Derbah pun terbang melesat menghindari kejaran sang penduduk yang berbondong bondong berlarian mengejarnya.


"Woi...Dia terbang bagaimana ini?"


"kejar...terus jangan sampai lepas!"


Teriak salah satu warga bertubuh tegap dan besar.


Mereka terus berlari mengejar Bibi Derbah yang terbang melesat di atas nya para warga kampung semakin banyak berdatangan, membuat Bibi Derbah ketakutan, mereka mengejar tiada henti ada yang membawa rotan panjang ada yang membawa batu dan melempari tubuh Bibi Derbah yang terbang ada juga yang membawa alat senapan yang biasa di gunakan untuk menembak dan menangkap burung.


"Ada apa ini pak, kenapa warga berlarian begitu?"tanya salah seorang warga yang baru saja pulang dari menangkap ikan dengan membawa jala.


"Ada, Vampire, mereka lagi berusaha menangkap nya, akan sangat berbahaya jika kita tidak dapat menangkap, Vampire itu bisa membunuh banyak warga sini Nanti."


"Vampire?"


"Iya, Vampire!"


"Yang, benar, siang bolong begini ada Vampire keluyuran."


"Nah, itu dia, ini pasti Vampire yang sangat kelaparan tadi mau memangsa Nek Siti dan cucunya, beruntung anak itu tadi berteriak minta tolong warga jadi langsung bergerak, sudah pak saya juga mau membantu menangkap Vampire, pokoknya Vampire itu harus bisa kita tangkap, hari ini."


"Kalau begitu, ayo aku juga mau membantu menangkapnya."


Bergegas kedua orang itu berlari ke arah di mana Warga sedang mengejar sang Vampire.


"Ayo, lempari dengan batu yang banyak agar Vampire itu tidak bisa terbang tinggi."seru salah satu warga kampung.


"Tenang...! biarkan aku berkonsentrasi aku akan membidikkan senapanku, ayo minggir kalian."


"Dooor ..!"satu kali tembakan melesat dengan cepat tapi meleset tak menggenai sasaran.


"Dooor..! Dooor...!" lagi-lagi beberapa kali tembakan meleset tak melukai Bibi Derbah, salah satu warga menyalakan api pada bambu yang sudah di potong sepanjang satu meter dengan di dalam nya yang sudah terisi dengan minyak tanah dan di ujungnya tersumpal serabut kelapa, dengan cepat di nyalakan lah api pada bambu itu kemudian..


"Sruuuuuuut...... dengan cepat potongan bambu yang sudah menyala apinya di lempar kan tinggi... tinggi oleh salah satu warga yang mana akibat nya jubah Panjang Bibi Derbah ujungnya yang terkena lemparan terbakar.


Bibi Derbah sangat panik, saking paniknya dia tak lagi terbang dan kesempatan itu di gunakan sang nelayan yang membawa jala, melempar kan jalanya pada tubuh Bibi Derbah dan tak aya lagi tubuh Bibi Derbah pun terjerat jala.


Sorak Sorai warga mengema di keheningan siang mereka sangat riang dan gembira karena telah berhasil menangkap Vampire.


"Bagaimana, akan kita apakan Vampire ini?"tanya salah satu warga.


"Untuk sementara kita giring Vampire ini ke balai desa, kita buatkan krangkeng besi di sana agar dia tidak bisa kabur."


"Bagaimana..?" tanya salah seorang warga meminta pendapat warga yang lain.


"Stuju....!"mari saudara saudara kita bawa Vampire ini ramai ramai.