The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.330.SEDIH



Ketulusan cinta itulah yang sedang terjadi pada diri Devan, dia bisa melakukan apa saja demi keselamatan dan kebahagiaan orang yang dicintainya.


Ada rasa khawatir, takut dan panik ketika melihat orang yang dia cintai terluka dan menderita bahkan Devan siap akan melakukan apapun demi bisa membuatnya bahagia.Devan Tersenyum bahagia ketika melihat tangan Tania mulai bergerak meskipun sangat samar, di dasar hatinya yang paling dalam Devan merasa lega.


Pintu terbuka sang Nenek mengeryitkan dahinya ketika melihat cucunya Tersenyum sendiri.


"Van, kenapa kamu senyum senyum sendiri begitu di sini tidak ada orang lho hati-hati kamu kesambet mahkluk halus."


"Hahaha, Nenek..! trimakasih sudah mau menolong Tania," seru Devan sambil memeluk tubuh tua sang Nenek.


Sang Nenek Tersenyum dan menepuk nepuk bahu Devan.


"Masuklah, mungkin tiga sampai empat jam Tania akan sadar."


"Trimakasih, Nek,"


Dengan cepat Devan berlari masuk ke dalam ruangan kamar, dia berdiri terpaku sambil bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Kenapa masih berdiri, cepat angkat Tania Naik ke atas Ranjang, tadi Nenek. menurunkan nya ke lantai agar lebih mudah, cepatlah aku khawatir dia akan kedinginan."


"Baik, Nek!


Dengan penuh hati-hati Devan mengaggkat tubuh Tania Naik ke atas Ranjang."


"Sekarang kita tunggu di luar ada yang ingin Nenek tanyakan padamu."


Devan menggikuti langkah kaki Nenek menuju Ruang Tamu yang ada di rumah bagian depan sedangkan Tania di tinggalkan sendiri di dalam bangunan rumah belakang.


Devan menarik satu kursi dan duduk di hadapan sang Nenek, yang mana Nenek juga menyiapkan singkong goreng di atas meja, Aroma yang khas membuat perut Devan bernyayi setelah hampir tiga hari tidak makan, meskipun sang Nenek kerap menyediakan makanan di dekatnya kala dia berlutut di bawah terik matahari Devan mogok untuk makan jika sang Nenek tidak mau menolong nya.


"Kalau tidak tahan ambil dan makan saja dulu pasti kamu lapar."


"Trimakasih, Nek."


"Baiklah sekarang cerita kan pada Nenek apa yang terjadi pada Tania sehingga kau membawanya dalam keadaan seperti ini."


Devan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, setelah mengunyah dua potong singkong goreng dan satu gelas air minum. Devan mulai menceritakan kejadian yang terjadi ketika itu.


Flash Back on


Berawal dari kekecewaan Tania ketika melihat Pangeran tatius memeluk Putri lin Ying dan meminta pada Patih lembu Ireng Untuk mengantarkan dirinya ke dunia manusia, karena merasa bosan selalu berada di rumah dan diam Tania pergi ke rumah Dodi dia bermaksud hanya untuk bermain dan melepaskan lelah serta kekesalan hatinya, Dodi yang melihat kehadiran Tania datang ke rumahnya sangat senang dan bahagia karena sudah sejak lama dia tidak melihat Tania keduanya berbincang-bincang dengan sangat antusias saling melepaskan kerinduan di mana setelah sekian lama mereka berpisah.


ketika asik berbincang-bincang dan bercanda serta bersenda gurau dengan Tania ponsel hp Dodi berbunyi. dengan sedikit malas Dodi mengangkat telepon, yang ternyata dia mendapatkan undangan ke pesta ulang tahun temannya yang bernama Maya, undangan itu langsung diterima Dodi manakala dia melihat Tania, Dodi yakin Tania pasti tidak akan menolak jika di ajak pergi ke pesta dengan nya.


Akhirnya Dodi dan Tania sepakat pergi bersama, Dodi yang berasal dari keluarga kaya yang mana kemanapun dia pergi selalu ada pengawal yang mengawasi dan mengantarkan kemanapun Dodi pergi, untuk itu mereka pergi menggunakan mobil pribadi Dodi.


Awal mula keadaan pesta di sebuah hotel berbintang lima yang di sewa Maya untuk merayakan ulang tahun nya berlangsung sangat meriah dan megah.


Semua larut dalam suka cita bahagia, tapi tiba-tiba pintu di dobrak dari luar dan masuklah beberapa orang bertopeng dengan bersenjata api yang mana langsung menembak kan senjata apinya ke atas ruangan membuat para tamu undangan yang ada di dalam pesta itu panik dan berlarian,


ada yang bersembunyi di kolom meja ada yang berusaha keluar dan ada beberapa yang tertangkap.


Seperti keadaan Dodi yang tidak beruntung, pemuda idiot itu langsung masuk dalam cengkeraman para laki-laki bertopeng yang ternyata mereka adalah para perampok yang habis merampok sebuah Bank yang ada di sekitar tempat itu dan sial nya perampok kan mereka bisa di gagalkan.


Karena takut dan khawatir akan tertangkap para perampok bertopeng itu pun segera berlari masuk ke hotel tempat orang berpesta, di sinilah mereka menyandra para tamu undangan termasuk Dodi.


Dodi sangat ketakutan dan menangis membuat Tania yang kala itu di tarik temannya untuk bersembunyi akhirnya keluar demi untuk menyelamatkan Dodi.


Sementara Devan yang mendengar Tania sudah berada di Dunia manusia segera datang ke Rumah Tania, untuk sekedar ngobrol meskipun di sudut hatinya yang paling dalam ada rasa rindu dan bukan hanya sekedar ingin ngobrol tapi tepat nya ingin bertemu untuk melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.


Devan harus menelan kekecewaan mana kala Ayah Tania mengatakan jika Tania pergi bersama Dodi, tanpa menunggu lama Devan segera pergi ke Rumah Dodi, lagi-lagi kekecewaan yang Devan alami, ketika penjaga pintu mengatakan jika Tuan muda Dodi sedang pergi ke sebuah pesta.


Semakin kesal dan marah, Devan pada Dodi yang dengan sengaja membawa Tania pergi, setelah meminta alamat pesta yang Dodi dan Tania hadiri Devan segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi ke alamat yang sudah di berikan penjaga padanya.


Sambil mengumpat dan marah-marah Devan sepanjang jalan menyumpahi Dodi yang telah lancang dan berani membawa Tania pergi.


"Bisa apa laki-laki bodoh itu membawa Tania ke pesta, kalau ada yang kurang ajar dan berniat jahat pada Tania siapa yang bisa menolong, Dodi yang lemot dan idiot tidak akan bisa di andalkan,"Sungut Devan yang mana pikiran Devan sudah berfikir yang buruk di mana akan ada seorang pemuda yang mengaggu Tania atau memaksa Tania minum bahkan jika orang itu memiliki niat ingin menikmati Tania, bisa jadi minuman Tania di kasih obat perangsang, otak Devan di buat pusing memikirkan nya.


Dengan kecepatan tinggi Devan mencapai alamat yang di tuju dengan cepat, Devan bernafas dengan lega karena sudah sampai dan pada saat Pintu hendak di buka pada saat yang bersamaan pintu itupun di buka dari dalam sehingga Devan yang hendak masuk harus merasakan tersungkur jatuh akibat kerasnya dorongan pintu dari dalam yang dilakukan oleh orang yang keluar dari tempat itu.


Sambil mengibaskan bajunya yang kotor akibat jatuh Devan mengumpat kelakuan orang yang telah mendorong nya.


"Tidak punya mata apa, main dorong pintu depan dengan keras beruntung aku cowok kalau cewek kan sakit jika jatuh,"Devan bersungut-sungut ketika para pemuda itu kabur


dan Devan baru menyadari jika mereka para perampok yang telah menembak salah satu undangan di pesta ulang tahun ketika beberapa orang di sana berteriak histeris karena ada yang terkena luka tembak, Devan segera masuk ke dalam khawatir dan was-was serta ingin tau keadaan Tania di dalam sana apakah Dodi dan Tania baik-baik saja.


Tubuh Devan bergertar hebat Ketika Melihat Dodi menangis dan meraung Raung di dalam kerumunan banyak orang, perasaan tidak enak dan takut tiba-tiba muncul dalam diri Devan dengan cepat Devan menyibak orang orang yang sedang berkerumun, jantung nya seakan berhenti berdetak Ketika mengetahui siapa yang terkena luka tembak.


"Ta-tania, Minggir... semua...! Teriak Devan pada orang orang yang berkerumun, tanpa bicara Devan segera menggangkat tubuh Tania yang bersimbah darah.


"Devan, Tania..! seru Dodi sambil menangis."


"Cepat siapakan mobilnya," Perintah Devan pada Dodi, tanpa membantah dengan cepat Dodi menyiapkan mobil untuk Tania.


Baju Devan pun ikut penuh dengan darah, di sepanjang jalan Devan tak henti hentinya mengguatkan Tania yang kala itu tidak bisa bicara hanya airmata dan wajah kesakitan yang Devan lihat.


Tatapan mata sayu bibir meringis menahan sakit akhirnya Tania memejamkan mata karena pingsan.


"Tania....! Tania....!


Devan menepuk nepuk pipi putih gadis yang ada di depannya dengan perlahan.


"Cepat, lebih cepat lagi..!" Tania sudah pingsan," teriak Devan pada pengawal pribadi Dodi yang mengemudikan mobil.


Kecepatan mobil di tambah lebih kencang lagi dan tidak berapa lama mereka sampai di Rumah sakit terdekat, Tania langsung di masukkan ke dalam ruang UGD.


Dengan Resah Devan menunggu hasil dari pemeriksaan selama beberapa jam, di mana mereka melakukan operasi untuk pengambilan peluru yang bersarang di perut Tania.


Mondar-mandir bagaikan orang gila Devan menunggu hasil pemeriksaan.Akhirnya yang di tunggu tunggu tiba mereka menggatakan hasil operasi berhasil, Devan bernafas dengan lega dan pasien akan di pindahkan ke kamar perawatan.


Merasa lega Devan meminta ijin pada penjaga untuk menjaga Tania, Devan ijin pulang untuk mengganti bajunya yang penuh dengan darah, Devan juga meminta pada Dodi untuk memberi tau Ayah Tania jika Tania menggalami kecelakaan luka tembak.


Dodi menggikuti semua perintah Devan pada hari itu juga Dodi dan Ayah Tania datang, senyum kebahagiaan tersungging di sana meskipun Tania masih belum bisa bicara akan tetapi Tania sudah bisa tersenyum pada Dodi dan Ayahnya.


Sang Ayah membelai lembut rambut putrinya tiga jam sudah Dodi dan Ayah Tania menemani Tania kemudian mereka berniat untuk menunggu di luar dan membiarkan Tania beristirahat tapi tiba-tiba tubuh Tania dingin, sang Ayah sangat panik dengan cepat mereka langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Tania.


Para Dokter mulai berdatangan mereka melakukan pertolongan dengan memompa nafas Tania dengan alat, berkali-kali mereka mencoba sampai akhirnya.


"Tiiiiiiitttttttt.......!


Tanda nafas Tania sudah berhenti, syok sedih semua berbaur menjadi satu bahkan sang Ayah menitikkan air mata tak percaya dengan apa yang terjadi baru beberapa jam yang lalu putri nya Tersenyum kini dia sudah Tiada.


Pihak Rumah sakit meminta ijin untuk memandikan dan melakukan segala prosesnya sampai selesai.


Setelah mendapat kan ijin semua di lakukan pihak Rumah sakit, dengan wajah sendu dan lesu Ayah Tania pulang ke rumah dengan di antara pengawal pribadi sopir Dodi. Mereka menunggu kedatangan jenazah Tania Rumah.


Sementara Devan yang sudah mengganti baju segera pergi ke Rumah sakit dengan motornya, ketika Devan hendak masuk sang perawat penjaga memberitahu Devan jika Pasien yang di bawah nya sudah Tiada.


Bagaikan petir yang menyambar di siang hari tubuh Devan limbung dan terhuyung hendak jatuh, wajah tampan nya yang juga putih bersih memucat seketika, bahkan Devan merasa semua otot persendian nya terasa lemas.


"Tidak....! tidak mungkin Tania mati, suster bercanda kan?" seru Devan panik sambil berlari sekuat tenaga masuk ke dalam ruang di mana Tania dirawat, jarak pintu dan ruang kamar tempat Tania berbaring tidak lah jauh tapi serasa sangat jauh sehingga napas Devan pun terlihat ngos ngosan naik turun tak beraturan.


Dengan tubuh dan tangan bergetar Devan menatap nanar dan memegang tangan Tania, dengan mata berkaca-kaca Bahkan buliran bening yang sudah ditahan nya dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh akhirnya jatuh juga.


"Tania...! lirih Devan dengan suara parau." Ka-kau bercanda kan, kau mau ninggalin aku, hei... dimana perasaan mu, aku sudah bersusah payah membawamu ke sini dan tadi bukan kah kau tersenyum padaku lalu kenapa sekarang kau meninggalkanku, bangun Tania kau belum bayar hutang padaku apa kau lupa, kau berjanji akan mentraktir ku jika nilai ku lebih bagus darimu, ayo lihat nilaiku lebih bagus darimu, ayo bangun Tania," Devan terus menggoyang ngoya kan Tubuh Tania.


"Maaf, Mas! jangan begitu Mas harus ihklas mbak nya sudah tiada."ucap seorang perawat muda yang ada di kamar itu.


Devan menatap Tajam pada suster muda yang ada di depannya, tatapan Devan yang seperti orang ingin membunuh membuat Suster muda itupun takut.


"Keluar....!


"Keluar, aku bilang.....!


"Ba-baik," Bergegas suster perawat itupun keluar kamar.


Sampai di luar Devan segera menutup pintu dengan keras.


"Deeeekk...!


Suara kerasnya pintu yang di tutup membuat suster muda mengelus dada, Astaghfirullah hal Adhim.


"Ada apa Sus...!" tanya seorang perawat yang juga kebetulan melewati tempat itu."


"Pasien kamar no 67 meninggal dan pacarnya ngamuk dia marah dan menangis bahkan membentak ku menyuruh ku Keluar dengan kasar."


"Wajarlah Sus dia masih dalam keadaan berduka, ayo kita pergi saja biarkan pacarnya meluapkan segala kesedihan nya."


"Baiklah, ayo!"


Sementara di dalam kamar Devan tak henti hentinya menanggis dan berteriak.


"Bangun, Tania..! bagun aku bilang apa kau tidak mendengar ku, kau belum bayar hutang mu kamu tidak boleh mati tidaaaaaaaakkk.....!'


"Praaaang,"


gelas kaca yang ada di tempat itu menjadi sasaran kemarahan tangan Devan.


"Tidak....kau tidak boleh mati pasti masih bisa."Dengan cepat Devan meraih alat untuk menetralkan napas Tania yang mana tadi sudah terhenti.


Berkali-kali Devan menaruh alat itu di atas dada Tania dan Melihat ke arah monitor komputer masih belum ada perubahan, Devan tidak menyerah berkali-kali alat bantu itu di taruh di dada Tania, hingga Devan putus asa dan jatuh terduduk di tepi Ranjang tempat Tania berbaring, kini wajah tampan Devan sudah tak lagi ceria Devan menundukkan kepalanya dalam dalam sambil menangis, tapi tiba-tiba Devan merasa Tangan Tania bergerak dan di dalam komputer terlihat detak jantung ada setelah beberapa jam yang lalu terhenti.


Devan bangkit dan hendak pergi untuk memberitahu Dokter, tapi dia urungkan niatnya.


"Tidak , jika dokter itu tau belum tentu juga Tania selamat, lebih baik aku bawa pergi saja Tania dari tempat ini, tapi aku harus membawa satu mayat wanita agar tidak ada yang mencari Tania.


Dengan cekatan Devan mengendap endap ke kamar mayat dan menggambil satu mayat wanita kemudian meletakkan di atas Ranjang Tania, dengan kecepatan tinggi Devan membawa Tania pergi ke tempat Neneknya yang jauh dari keramaian perkotaan."