The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 376.BERPISAH



Pangeran Tatius yang terbaring lemah dengan wajah pucat membuat Tania betul-betul iba, dengan penuh kesabaran di tunggu dan dijaganya pangeran Tatius dari gigitan nyamuk Nakal. sesekali bibinya bergerak mengucapkan sesuatu.


"Kakek, Raja Sangkala datanglah, aku betul-betul mengharapkan bantuan mu, lihatlah cucumu yang terbaring tak berdaya, kakek cepat lah datang kembali, buat Tatius bisa sadar," lirih Tania dalam hati dengan penuh harap.


Paman Patih lembu ireng yang sudah meminta izin untuk pergi, membiarkan Tania menjaga pangeran Tatius sendiri, semua paman Patih Lembu Ireng lakukan bukan karena tanpa alasan, paman Patih lembu ireng sedikit lelah jika sebentar sebentar di tanya Tania kapan dan bagaimana Pangeran Tatius bisa sadar, untuk menghindari pertanyaan Tania yang terus sama dan berulang-ulang Paman Patih lembu ireng akhinya memilih pergi, kini tinggallah Tania dan pangeran Tatius seorang diri di dalam kamar.


"Apa iya, tidak bisa dibangunkan, Tatius bangun dong, apa kamu ngak ingin ketemu aku, jika kamu manusia sudah aku siram dengan minyak kayu putih agar bisa cepat sadar atau aku siram air satu ember, tapi sayangnya kamu itu mahkluk Vampire, aku juga tidak membawa ponsel biar bisa aku cari di google, cara membuat Vampire sadar dari mati suri, bukankah apa yang terjadi padamu itu termasuk mati suri, kalau pingsan sudah pasti bisa sadar dalam waktu satu dua jam, ini kamu sudah dari kemarin malam, itu artinya kamu mati suri kan, apa yang harus aku lakukan biar kamu bisa sadar dan bangun dari tidurmu." Tania terus mondar mandir dari duduk di tepi ranjang pangeran Tatius kemudian bangkit lagi sampai akhirnya dia menjanjikan jarinya sendiri ke udara.


"Yes, aku tau bukankah di dalam kisah dongeng ada seorang putri yang tertidur dan tidak bangun kemudian datanglah pangeran mencium nya kemudian putri itu langsung bisa bangun dari tidur panjang nya, apakah Tatius juga sama, jika aku mencium nya dia bisa sadar dan bangun dari tidurnya nya, tapi masak aku harus mencium lebih dulu sih itu kan memalukan apalagi kalau sampai ketahuan paman Patih bisa jatuh harga diriku,lalu aku harus bagaimana?"


Tania terus bermonolog sendiri, dengan langkah sedikit perlahan lahan Tania berjalan menuju pintu, Tania mencoba mencari keberadaan paman Patih lembu ireng di ruangan bawah, wajahnya yang celingukan dan tidak melihat apapun akhinya mengambil napas lega.


"Syukurlah Paman Patih lembu ireng tidak ada." lirih Tania yang dengan cepat langsung masuk ke Kembali ke dalam kamar, dengan sedikit ragu-ragu Tania mulai berjalan mendekati Ranjang Pangeran Tatius.


Tania menggigit Saliva nya Ketika memang wajah tampan dan tenang pangeran Tatius yang sedang tertidur pulas.


"Sebenarnya aku malu tapi demi dia bisa kembali bangun aku akan melakukan nya." lirih Tania menyakinkan hati.


Dengan sangat perlahan dan dengan jantung yang berdegup dengan kencang Tania mulai mendekati pangeran Tatius.


Perlahan lahan wajah Tania mulai menunduk dengan sedikit bergetar Tania mulai mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan pangeran Tatius selama dua detik.


Setelah melakukan ciuman dadakan kepada pangeran Tatius, dengan cepat Tania bangkit berdiri membelakangi, sungguh wajahnya berubah menjadi merah merona kala itu, andaikan bukan karena suatu keinginan demi sang kekasih sadar tentu tak kan pernah dia lakukan.


Tania yang berdiri membelakangi menjadi resah dan binggung.


"Kenapa tidak ada suara apa Tatius belum juga sadar aku kan sudah...


Tania tidak melanjutkan ucapannya dia langsung menoleh dan tidak ada perubahan apapun yang terjadi pada diri pangeran Tatius, wajahnya tetap pucat dan tertidur pulas.


"Kok bisa seperti ini apakah aku salah, sebenarnya yang benar itu mencium pipinya apa bibir nya, shiittt masa aku mencium bibirnya , gilaa dah kalau begini, tapi aku mau dia cepat sadar aku sudah tidak memiliki banyak waktu, sebentar lagi sore dan aku harus pulang, tapi sebelum itu aku juga harus ke Rumah Santi, Tatius bangun dong masa tega sih kau suruh aku mencium bibirmu, jangan lah kan aku malu," ucap Tania dengan wajah sedih yang mana tiba-tiba dari sudut matanya mulai mengalirkan buliran bening.


"Aku mohon bangun lah, apa kau tidak ingin bersama ku untuk yang terakhir kali, apa kau tau setelah ini kita tidak akan bertemu lagi dan aku juga tidak akan menemuimu, karena tiga hari lagi statusku akan menjadi istri orang, aku hanya punya waktu hari ini, ayo bangun dan tersenyum lah padaku apa kau tidak ingin mengucapkan selamat, katakan sesuatu untuk ku," lirih Tania yang mulai putus asa dan terisak airmata nya mulai berjatuhan membasahi pipi.


Paman Patih lembu ireng yang merasa sudah lama meninggalkan kamar pangeran Tatius akhinya berniat untuk kembali melihat keadaan pangeran Tatius di dalam kamar.


Sungguh tak sampai hati ketika pintu dibuka paman Patih lembu ireng melihat Tania sedang menangis, hatinya merasa iba akan tetapi apalah daya tidak ada sesuatu apapun yang bisa dia lakukan.


"Non, yang sabar kita hanya bisa menunggu Raja langit agar segera membebaskan Raja Sangkala agar beliau bisa segera membatu memulihkan tenaga Pangeran Tatius yang terkuras habis."


"Tapi Paman Aku tidak punya banyak waktu, Aku tidak bisa menunggu lama disini."


"Seandainya paman bisa pasti paman akan membantu dan membuat pangeran Tatius bisa kembali bangun dari tidurnya tapi paman sungguh tidak bisa maafkan Paman Non Tania."


Tania meneguk kasar ludahnya, Isak tangisnya mulai berhenti, pandangan matanya kini tertuju pada keris yang ada di atas Narkas. Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Tania menggambil keris. Tanpa ragu-ragu Tania membuka kerangka keris. Melihat Tania membuka keris milik pangeran Tatius paman Patih lembu ireng menjadi panik.


"Non, kau mau apa?'


"Gara-gara keris sialan ini Tatius jadi mati suri aku benci keris ini aku benci ...!"seru Tania yang mana langsung melempar keris yang sudah terbuka dari kerangka nya kepojok dinding.


Paman Patih lembu ireng yang mengetahui kekuatan keris itu jika terbuka berteriak histeris dan berusaha mencegah keinginan Tania untuk melemparkannya, akan tetapi semua sudah terlambat, tangan putih dan halus itu sudah lebih dulu melempar keris dengan sangat cepat.


"Praaaakk....!"bunyi benturan keris yang menabrak dinding yang tak lama kemudian disusul dengan suara Guntur dan goncangan yang kuat serta tiba-tiba datang sebuah angin yang sangat kencang membuat tubuh Tania yang tidak memahami kekuatan dari keris itupun harus ikut terseret angin, beruntung Paman Patih lembu ireng sigap dengan cepat langsung menahan tubuh Tania agar tidak ikut terseret dan di permainkan angin, telat sedikit saja sudah bisa dipastikan tubuh Tania pasti akan. seperti kertas yang sedang di terbang terbangkan dan sudah pasti akan menabrak dinding,meja dan kursi yang ada di dalam kamar itu.


Tania yang tidak menyangka jika kekuatan keris itu sangat dahsyat dan besar menggigil ketakutan, selama beberapa menit kejadian di dalam kamar menjadi kacau hingga akhirnya redah setelah tiga puluh menit berlalu.


Tania menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, tanda dirinya sudah merasa lega.


"Sangat menakutkan dan apakah akan seperti ini jika kiamat tiba ya?"lirih Tania.


"Non Tania, bicara apa?"tanya Paman patih lembu ireng dengan bingung.


"Non Tania serius mau menikah dengan teman Non itu,"


"Tentu saja Paman, lihat ruangan ini jadi kacau karena ulahku maafkan Aku Paman, Aku tidak tau jika akan jadi begini." cicit Tania merasa bersalah." Beruntung Tatius tidak terjatuh dan ikut terbang karena kekuatan keris sialan itu." gumam Tania dalam hati.


"Apa Non Tania akan pergi sekarang?"


"Iya, Paman, Aku pamit dulu,"Tania melangkah kan kakinya keluar pintu tapi sebelum itu Tania menyempatkan diri untuk melihat dan menatap kekasihnya sekali lagi, dengan senyum kesedihan Tania membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan hati yang sedih karena tidak bisa bicara maupun Mendengar suara kekasih nya.


Paman Patih lembu ireng mematap punggung Tania dengan tatapan iba hingga tak terasa Paman Patih lembu ireng membuang napas beratnya. Tania yang hampir menuruni anak tangga menghentikan langkah kakinya ketika sebuah suara yang sudah sangat familiar ditelinga nya memanggil namanya.


"Tania...!


Untuk sesaat Tania menghentikan langkah kakinya, akan tetapi suara itu tak lagi terdengar hingga membuat Tania berfikir jika dia sedang berhalusinasi, untuk itu Tania Kembali melangkah.


"Tania, tunggu, jangan pergi."


Untuk kali ini Tania langsung menoleh kebelakang dan terlihat lah sosok pemuda tampan sedang tersenyum padanya. Tania yang merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, dengan kasar menusap dan mengucek kedua bola matanya.


"Apa aku tidak salah lihat, atau jangan jangan aku sedang berhalusinasi."desis Tania dalam hati.


"Sini, kenapa masih beggong disitu kau tidak merindukan ku?"


"K-kau sudah sadar."


Pemuda itu tersenyum smrik sambil mengeringkan matanya.


"Ayo, sini!


Tania meneguk ludah dan menggigit saliva nya.


"Apa Aku tidak sedang bermimpi?"


Sementara Paman Patih lembu ireng juga menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Luar biasa, kenapa bisa sadar dari mati surinya, apa yang membuat Pangeran Tatius bisa sadar."Gumam Paman patih lembu ireng dalam hati.


Seolah memahami kebingungan dari kedua orang yang ada di depannya pangeran Tatius turun dari Ranjang dan mendekati kekasihnya.


"Sayang, kenapa masih berdiri disitu, duduklah sebentar, dan kau Paman kenapa tidak dari kemarin kau buka kerangka keris itu, biar kekuatan nya bisa menggalir ketubuhku beruntung Tania membukanya jika tidak, bisa satu purnama aku tidur,"sungut pangeran Tatius kesal.


Melihat sang kekasih masih berdiri tak bergeming Pangeran Tatius menghentikan jarinya.


"Hai Nona, kau tidak mau duduk."


"Tatius..!"lirih Tania bagaikan adegan dalam sinetron Tania langsung memeluk tubuh Pangeran Tatius Kekasih nya dengan derai air mata bahagia, dan dengan lembut pangeran Tatius menyambut dan membelai serta mencium lembut harum rambut Kekasih nya, Tania yang tersadar waktunya sudah sore segera melepaskan diri dari pelukan pangeran Tatius.


"Aku harus pergi,"


"Kemana, ini aku baru sadar baru juga dua menit bersama masa iya sudah mau kamu tinggal."


"Maafkan Aku, jika kau tidak marah dan tidak keberatan datanglah ke Acara pernikahan ku lusa, Aku pergi dulu trimakasih atas semua cintamu," ucap Tania yang kemudian berlari menuruni anak tangga.


Bagaikan terhipnotis Pangeran Tatius diam terpaku dengan segala ucapan dari kekasihnya, ada rasa sakit yang tiba-tiba menghimpit dadanya akan tetapi bibirnya berusaha tersenyum senyum kepahitan.


"Paman antar Non Tania ke tempat yang dia tuju."


"Baik, Pangeran."bergegas paman Patih lembu ireng terbang melesat menggikuti arah Tania pergi.


"Aku, akan datang tunggulah, Aku juga akan memberikan hadiah untuk pernikahan mu, smoga kau bahagia sayang." desis Pangeran Tatius dalam hati yang mana dari sudut matanya sudah mengenang buliran kristal air bening, sekuat apapun bertahan tak bisa dipungkiri jika kehilangan orang yang kita cintai itu sangatlah menyakitkan, orang hebat dan kuat pun pasti sama akan menangis dan sedih pada akhirnya.