
"Dasar keras kepala,"Gumam sang kakek
dalam hati.
Namun, di dalam relung hatinya yang dalam sang kakek tersenyum melihat keberanian
cucu satu satunya sangat mirip dengannya.
"Bukankah dulu ketika dia masih muda juga
keras kepala begitu.
Tiba tiba angan sang kakek menggembara
ke masa silam di mana dulu dia juga sangat
keras kepala dan selalu membuat marah
Ayah bundanya, tapi apa yang terjadi pada
dirinya dan pada pangeran Tatius itu sangat
berbeda, orang tua nya masih bisa di ajak
berdiskusi dan memahami hatinya,
Tapi Ayahnya Pangeran Tatius, Raja Awang
Awang Vampire yang sangat terkenal
bersikap tegas tanpa memperdulikan sebuah
hubungan ini akan sangat membahayakan
pangeran Tatius, Raja Awang Awang
Vampire sangat buruk perangainya dia
tidak bisa menerima ataupun berusaha
memahami.
Ketika sang kakek sibuk dengan angan
dan pikiran nya datanglah patih lembu
ireng.
"Maaf, pangeran Tatius! saya datang
terlambat."Ucap sang patih sopan.
"Tidak apa apa paman Patih,"Ucap
pangeran Tatius.
"Patih lembu Ireng, kamu jaga baik baik
pangeran Tatius ya?"Titah Raja Sangkala.
"Baik,Raja !"saya akan siap menjaga
pangeran Tatius.
"Pangeran Tatius..!"jaga diri pangeran
baik baik dan ingat harus selalu waspada
di manapun pangeran berada,"
"Baik, kakek, jangan khawatir aku akan
selalu berhati-hati."Ucap Pangeran Tatius
menyakinkan.
"Pangeran, kakek tidak bisa menani
pangeran, di luar sana akan banyak sekali
kejadian yang mungkin tidak pernah
pangeran Tatius bayangkan, untuk itu
bawalah keris ini, gunakan disaat pangeran
benar benar membutuhkan nya.'
"Baik, kakek, aku akan mematuhi semua
saran kakek,"
"Baiklah, sekarang kalian boleh pergi,
smoga pangeran selalu dalam lindungan
sang pencipta.
"Trimakasih, kakek, kami pergi dulu," Setelah
mencium tangan sang kakek pangeran Tatius
melangkah pergi.
"Raja..!Hamba pergi dulu,"
"Silahkan patih lembu ireng jaga baik baik
pangeran Tatius."
"Baik, Raja."
Pangeran Tatius dan patih lembu ireng
berjalan keluar istana.
Sang kakek menatap kepergian cucunya
dengan tatapan mata sayu.
Hatinya yang biasanya tenang tiba tiba
menjadi gunda gulana keresahan yang
tiba tiba hadir membuat nya berfikir keras
Apa yang di ucapkan pangeran Tatius tidak
boleh dianggap main main, sang kakek
tau betul apa yang akan terjadi pada cucu
tersayangnya jika sampai Raja Awang
Awang Vampire tau, jika putra dari mereka
penerus kerajaan menjalin ikatan hati
dengan anak manusia.
"pengawal...!!!"Seru Raja Sangkala keras.
"Hamba, Raja, ada apa Raja berteriak teriak
memanggil kami,"Tanya pengawal.
"Siapkan beberapa pengawal, untuk
menjemput Ratu Shima."Titah Raja.
"Baik, Raja !" kapan Putri Ratu Shima
kami jemput."
"Pagi ini juga ! pastikan malam ini Ratu
Shima sudah ada di kerajaan Sangkala.
"pagi ini juga?Raja bagaimana jika Raja
Awang Awang Vampire tidak mengijinkan
Ratu Shima pergi."
"Paksa ..! katakan, Raja Sangkala ada
keperluan penting dengan Ratu Shima.
"Baik, Raja,"
"Cepatlah, sekarang juga kalian berangkat."
"Baik, Raja ! Perintah siap di laksanakan."
"Bagus, bawa lima orang bersanamu,"
"Siap, Raja, kalau begitu kami permisi
dulu."
Dengan langkah mundur beberapa langkah
kemudian berbalik pengawal itu pergi.
Diajaknya ke empat temannya untuk pergi
untuk menjemput Ratu Shima.
****
Sementara di belahan dunia lain tampak
seorang pemuda bercelana abu abu
bersandar di dinding tembok kelas
lengkap dengan sekantong plastik berisi
makanan ringan.
"Wah, Dodi !"banyak sekali makanan
ringan kamu, bagi dong,"Pinta seorang
cewek berkuncir satu.
"Enak saja, minta, beli sendiri,"Ucap Dodi
sambil membenarkan kaca matanya.
"Ih, pelit amat jadi orang, kalau pelit
pelit aku doain jomblo tau rasa lho,'
"yee, aku sudah punya cewek kok
kamu tuh yang jomblo ngak punya
cowok,"Timpal Dodi membalas
ledekan si gadis berkuncir satu.
Di saat mereka berdua sedang berdebat
keras, mata Dodi segera menangkap
bayangan hadir nya Tania yang hendak
masuk ke dalam kelas.
"Tania ?'Stop..! jangan masuk dulu." Seru
Dodi.
Tania yang tadinya mau melangkah
masuk ke dalam kelas menghentikan
langkah kakinya.
"Ada, apa?"
Dodi segera menghampiri Tania dan
menggengam Tangan Tania serta dia
menarik nya ke dekat gadis berkuncir
satu. Tania yang tidak memahami
maksud dari Dodi cuma bisa mengger
yitkan dahinya.
"Lihat..!"Ini pacarku dan ini makanan
ringanku dengan nya,"Ucap Dodi
sambil melahap kacang Garuda nya.
"Sombong loe, mana mau Tania pacaran
denganmu,"Sunggut gadis berkuncir.
"Dia, mau kok, iya kan Tania ?"Tanya
Dodi.
"Apa?"
"Jadi pacarku,"Ucap Dodi bersemangat.
"Sekolah, ngak boleh pacaran, dan kalau
punya banyak makanan begini, harus nya
kamu berbagi,"Ceramah Tania sambil
tangannya merogoh kantong plastik yang
berisi makanan dan menggambil dua
bungkus makanan ringan yang kemudian
di kasihkan pada gadis berkuncir satu dan
untuk dirinya sendiri satu.
"Ini ! untuk kamu dan yang ini untuk aku, dan kamu Dodi nanti kamu akan dapat pahala
trus kamu bisa masuk surga." Ucap Tania
mantap sambil ngeloyor pergi masuk ke
dalam kelas nya.
Tanpa Tania sadari apa yang dia lakukan
Tak lepas dari pengawasan sepasang mata beralis tebal dengan kulit kuning Langsat.
Dia begitu memperhatikan dengan kagum
apa yang dilakukan Tania, sehingga tanpa
sadar seulas senyum mengembang di
sana.
"Pak, wili lagi tersenyum dengan siapa?"
Tanya seorang laki laki berseragam dan
bercelana abu abu.
Karena dalam mode melamun pak Wili
merasa terkejut juga dengan kehadiran
salah satu murid bandelnya yang tiba
tiba berdiri disampingnya, tidak ada
suara tiba tiba sudah berdiri di
samping nya.
"Eh, kamu Devan ! Datangmu seperti
setan saja, tiba tiba nongol,"
Devan terkekeh mendengar ucapan pak Guru
Wili nya.
"Pak..!" kenapa sih, sering memandangi
Tania? Bapak suka ya sama Tania," Tanya
Devan ceplas crplos.
Pak guru Wili yang tidak menyangka
muridnya bicara sangat tepat membuat
nya menelan ludah dengan kasar.
"Ngomong apa, kamu itu ?sudah sana
masuk cepat !"awas kalau kabur lagi
di jam mata pelajaran ku, aku akan
hukum kamu," Ancam pak guru Wili
kepada Devan.
"Yeah, Bapak main ancam ancam saja,"
Sunggut Devan sambil ngeloyor masuk
ke dalam kelas.
Sedangkan pak guru Wili mengelus dada
sambil beristighfar
"Alhamdulillah, hampir saja, ketahuan,
ini hati," Gunam pak guru Wili dalam hati.