
Dalam kekalutan dan kekecewaan hatinya yang dalam pangeran Tatius, menyerang dengan gencar.
Kepada para prajurit istana yang di perintahkan
Raja.
Karena kemampuan dan kemahiran nya dalam
bela diri.
Pangeran Tatius mudah melumpuhkan semua
prajurit Istana.
Para prajurit suruhan Raja yang terdesak, segara kabur melarikan diri.
Tinggalah pangeran Tatius sendiri di dekat hutan Bukit mawa.
Matanya Nanar menatap ke sekeliling tempat itu, seolah olah sedang mencari sesuatu.
Pangeran Tatius sedang mencari keberadaan
Raja, karena tidak melihat tanda tanda ada nya
Raja, maka pangeran Tatius memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan, meskipun dia tidak tau
ke mana dia harus berjalan.
Belum pernah pangeran Tatius berjalan atau melewati jalan yang ada di belakang penjara, untuk itu pangeran Tatius tidak tau, ke arah mana dia harus berjalan.
Di sepanjang perjalanan pangeran Tatius tidak habis pikir, mengapa dan kenapa Raja yang juga Ayahnya tega melakukan penyerangan kepadanya, apa benar Raja ingin membunuhnya.
Jika benar untuk apa harus jauh jauh di luar
istana.
"Apa kabarmu, pangeran Tatius...!"
Sebuah suara sapaan yang sangat menggejutkan, tiba tiba ada dan muncul
refleks, pangeran Tatius menoleh ke sumber suara.
Dahinya mengernyit, melihat siapa yang ada di
balik pohon rindang sedang tersenyum menatapnya.
Bola mata pangeran Tatius berbinar melihat sosok yang berdiri di bawah pohon rindang di sana.
"Kakek....!"
Pangeran Tatius berlari mendekat,
Senyuman nya mrngembang.
"Apa kabarmu pangeran Tatius...?"
"Baik ,kek."
Kenapa kakek tiba tiba ada disini?"
"Aku sudah menunggumu dari tadi, Ayahmu bilang akan menggajakmu kemari.
"Tapi kek, Ayah mau membunuhku!
Dia menyuruh prajurit nya untuk menyerangku, beruntung aku bisa mengatasi nya, karena kalau tidak aku sudah mati.
mereka menyerangku tanpa ampun kek."
Sang kakek terkekeh, mendengar curhatan cucunya.
"Ayahmu mau membunuhmu ?"
pangeran.... pangeran, kamu sudah dewasa tapi juga masih lugu.
Bagaimana mungkin seorang Ayah tega akan membunuh putranya sendiri.
"Apa yang Ayahmu lakukan, hanyalah ingin menguji kemampuan pangeran".
"Lalu kenapa Ayah tidak memberi tauku?"
"Karena kalau Raja sampai memberi tau pangeran, maka pangeran tidak akan serius
menghadapinya.
Ayo....! Sekarang kita temui Ayah pangeran, beliau ada di balik bukit itu menunggu kedatangan pangeran.
Pangeran dan sang Kakek pun berjalan menuju ke balik bukit di mana Raja telah, menunggu
kedatangan mereka.
"Salam, Raja ..!"
"Ayah mertua, salam juga sejak kapan Ayah
mertua ada di sini!"
"Sudah cukup lama Raja,
Sekarang apa boleh saya membawa pangeran Tatius ke istana Sangkala ?"
"Tentu saja, Ayah,
Silahkan membawa pangeran Tatius, didik dia
Ayah, agar nanti dia tidak mengecewakan ku!"
"Baik, Raja."
"Apa maksudnya, Ayah ?"
kenapa, aku akan menggecewakan mu?"
"Pangeran Tatius sudah dewasa, sudah seharusnya cepat memiliki pendamping,
Raja Vampire Barat Daya, memiliki seorang
putri cantik dan beliau mengadakan sayembara
aku mau pangeran Tatius yang jadi pemenang nya, jadi belajarlah yang rajin asah kemampuan
pangeran.
Aku sangat menggandalkan pangeran, Karena
pangeran Yervan tidak mungkin bisa diandalkan kemampuan nya sangat jauh dari kata bagus.
"Tapi Ayah, aku tidak mau menikah secepat ini, dan aku tidak tertarik dengan sayembara itu Ayah."
"Kau putra Ayah, jadi ikuti semua perintah Ayah,
percayalah Putri dari Raja Vampire Barat Daya sangat cantik, kau belum melihat nya jika kau
sudah melihatnya pasti kau akan berterima kasih pada Ayah putraku.
Sang kakek tertawa melihat perdebatan antara Ayah dan anak.
"Sudah... sudah..!"
Ayo, pangeran kita pergi.
"Raja..!"Aku permisi dulu,
Setelah mengucapkan itu sang kakek segera
pergi, hanya dengan sekejap mata bayangannya sudah menghilang dari pandangan mata.
"Ayah, aku pergi dulu."
Ucap pangeran Tatius yang kemudian menggikuti sang kakek menghilang dari pandangan mata.
****
Di tempat lain
Devan yang penasaran dengan sang Nenek yang tidak juga menjawab pertanyaan nya
terus menggikuti langkah kaki Nenek.
"Nek, ayo jawablah, kenapa Nenek justru pergi begini !"
Sang Nenek menghentikan langkah kakinya.
"Devan, cucuku, pertanyaan mu sungguh aneh, jadi Nenek tidak bisa menjawab nya."
"Nenek, bohong..!"
Aku yakin, Nenek sangat mengerti, ayolah Nek, please, tolong jawab pertanyaan ku, apa ada mahkluk selain manusia bisa suka dan mencintai anak manusia ?"
Sang Nenek menghentikan langkah nya,
"Mengapa kau ingin tau itu !"bukan kah itu pertanyaan yang tidak penting untuk di jawab."
"Nek..."Jika itu tidak penting tentunya aku tidak akan bertanya pada Nenek.
"Baiklah, ayo ikut aku, kita bicara di halaman belakang.
Devan menggikuti langkah Nenek menuju halaman belakang.
"Duduklah, sekarang katakan pada Nenek, apa alasan mu bertanya tentang itu.
"Aku punya teman cewek dan teman cewek ku itu tangannya terluka, lukanya ada sejak dia masih kecil, luka itu selalu di balut dengan perban
dan tidak pernah di buka, bahkan Ayahnya melarang membuka di alam terbuka terlebih
saat bulan purnama.
Apa itu tidak aneh Nek..." kira kira apa yang
membuat luka itu tidak boleh di buka ya Nek?"
Apakah itu perbuatan mahkluk yang berbahaya
atau tidak.
Sang Nenek tersenyum mendengar cerita cucunya.
"Ini sudah zaman modern, dan maju tidak ada
ceritanya mahkluk menyukai anak manusia,
kecuali....
Sang Nenek menghentikan ucapannya membuat Devan, menjadi penasaran.
"Kecuali apa Nek..?"
"Kecuali....."di kehidupan sebelumnya mereka
adalah satu, maka di kehidupan sekarang
meskipun berbeda mereka akan tetap menjadi
satu, diantara mereka, akan mencari satu sama lain.
Tapi itu tidak mungkin terjadi dan tidak mungkin ada dan mungkin saja luka di tangan
temanmu itu cuma luka biasa jadi kamu jangan
terlalu khawatir.
"Tapi Nek..., Seandainya itu benar bagaimana cara menghindari nya."
"Maksudmu bagaimana?"
"Bagaimana caranya, agar mahkluk itu tidak
mencari dan menemuinya, lagi Nek ?"
"Ada satu cara yang bisa membuat ikatan takdir itu lepas, tapi cara ini sangat buruk dan tidak
bisa dilakukan dengan mudah.
Mata Devan Berbinar Senang.
"Katakan Nek, bagaimana caranya ?"
Tanya Devan Sntusias.
Sang Nenek menatap lekat lekat wajah cucu di hadapan nya.
"Cucu, kenapa kamu begitu berambisi ingin tau? apakah kau jatuh cinta pada gadis itu?"
Wajah Devan berubah merah dadu, ada segurat
rasa malu kalau harus jujur kepada sang Nenek.
"Ah Nenek, ada ada saja, tentu tidak lah Nek!
Devan cuma ingin tau saja.
Sang Nenek mangut mangut dia tau kalau
cucunya lagi berkata bohong.
"Kalau cuma ingin tau, jawabannya lain kali saja ya ?"
Ucap Nenek seraya tersenyum mengoda.
"Yaaa..."Nenek, kok gitu sih !"
Lalu kapan jawabannya?"
"Bawa dulu gadis itu kemari, biar ku lihat, apakah lukanya Luka biasa atau tidak.
"Ya, gagal deh, jawaban Nenek bikin sebel."
Ucap Devan lesu.