The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.78.BERTEMU VAMPIRE



Dengan tangan dan kaki bergetar Dodi mendekati lukisan maut yang melenyapkan kedua temannya, rasa takut dan rasa ngeri yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya dia buang jauh jauh.


"Demi cintaku aku akan selalu melindungi mu Tania, kau adalah pacarku tidak akan aku biarkan kau kenapa napa di sana, lukisan seram?"ini aku datang." ucap Dodi konyol.


Dodi adalah seorang anak yang terlahir Normal dan pintar bahkan ketika duduk di sekolah dasar dia selalu mendapat kan peringkat satu tapi semua menjadi sirna ketika peristiwa mengenaskan terjadi padanya di mana sang anak bermain di sebuah desa kecil ketika sang Ayah dan bundanya berkunjung ke rumah salah satu famili keluarga dan membiarkan sang anak bermain dengan anak anak di desa lainnya, ketika itu Dodi bermain di dekat sebuah sungai entah apa yang di lakukan dengan anak sebayanya, Dodi di kabarkan jatuh tengelam sang anak yang masih polos takut dan tidak langsung mengatakan mereka baru bicara dua jam kemudian sudah dapat di pastikan Dodi telah mati karena tubuhnya sudah terapung di atas, tangis penyesalan, kecewa, sedih dan marah tak pernah orang tua nya lampiaskan mereka bersabar dan memaafkan anak anak sebayanya.


Saat itu juga jenazah Dodi akan di kebumikan


setelah di mandikan dan hendak di ganti dengan kain kafan tiba-tiba Dodi bergerak gerak sontak saja hal itu membuat semua para pelayat taziah kaget dan ketiika itu kata kata dan kalimat pertama yang keluar dan di ucapkan adalah Tania hari demi hari terlewati tapi Dodi yang sekarang dan dulu telah berbeda, Dodi yang sekarang adalah Dodi yang sangat Bodoh dalam segala hal hingga beberapa temannya menganggap Dodi anak idiot


Sangat menyakitkan melihat perubahan Dodi yang dulu menjadi yang sekarang kini menjadi Dodi yang Idiot akan tetapi semua itu patut lah di syukuri karena Dodi bisa ada dan hidup lagi itu adalah suatu keajaiban dari sang pencipta untuk itu kedua orang tua Dodi tak pernah berhenti untuk bersyukur dan membiarkan apapun yang Dodi suka begitu juga dengan Tania yang sudah mengenal Dodi sejak masa sekolah Dasar jadi Tania tak pernah keberatan jika Dodi menggangap nya sebagai pacar.


Dengan bergetar Dodi meletakkan tangannya di dekat lukisan dan mulai menyentuh pintu bernuansa hijau dan kuning dalam beberapa detik kemudian lukisan pun mulai bergerak dan terlempar lah Dodi masuk ke dalam lukisan itu


"Aaaaaaaaaaa...!


Buuuuugh...!"Tubuh Dodi terjatuh sempurna ke tanah hingga membuat nya meringis menahan sakit di pan tatnya.


Tak jauh dari tempat Dodi jatuh tampak Tania dan Devan sedang menengok ke kiri dan ke kanan seolah sedang mencari sesuatu.


"Kita ada di mana?"


"Entahlah, aku juga tidak tau Tania."


"Tempat nya begitu aneh ya?"


"Iya, baru kali ini aku melihat tempat seperti ini."


"Tania....!" tunggu aku."


Teriakan suara Dodi membuat Devan dan Tania menoleh.


"Dodi...!" Ngapain loe ada di sini juga."


"Aku, akan melindungi Tania." ucap Dodi menyakinkan membuat Devan tergeletak menahan tawa.


"Sudah..!" kenapa harus di tertawakan ayo kita cari jalan pulang aku tidak mau ada di tempat seperti ini."


"Ayo..! aku juga tidak mau di sini."


"Stop...!" apa aku tidak salah lihat, bukankah itu kerajaan yang kita lihat di dalam lukisan tadi."


"iya, kau benar Tania, itu kerajaan yang kita lihat di dalam lukisan tadi."


"Wah...apa aku bermimpi, itu kerajaan bagus sekali, ini mimpi bukan sih."tanya Tania yang kemudian mencubit lengan Devan.


"Owwwh...sakit Tania!"


"Masak, sih! coba cubit aku."


Devan pun menuruti permintaan Tania di cubit nya juga tangan gadis itu.


"Auwh..!sakit."


"Coba sekali lagi," ucap Devan yang merasa dapat kesempatan boleh pegang Devan pun menaruh tangannya di pipi Tania, meskipun dengan sedikit gemetar khawatir Tania marah tapi Devan tak bisa membendung keinginan nya untuk bisa menyentuh pipi halus Tania sudah lama dia memendam rasa pada gadis di depannya itu, tapi ketika tangan Devan tinggal lima sentimeter dari wajah Tania tiba-tiba....


"Plaaaaakk..! sebuah Tamparan keras mendarat di pipi Devan yang. seketika membuat Devan meringis menahan sakit.


"Auuuwwh..!"Lirih Devan sambil memegang pipinya yang terasa panas.


"Awas...! jangan berani berani kau sentuh pacarku." ucap Dodi tegas membuat Devan melongo sementara Tania tertawa.


"Dasar, bocah idiot, kenapa loe tampar gue sakit tauk."


"Kamu keterlaluan, kenapa juga mau menyentuh pacar ku?"


"Kau.....


"Sudah... sudah cukup, berantemnya, ayo kita cari jalan pulang cubitan kamu sakit itu artinya kita tidak sedang bermimpi."


"Iya, kamu betul, trus kita harus bagaimana?"


"Eh.. Dodi! tunggu kamu mau kemana?"


"Melihat kerajaan itu dari dekat."seru Dodi sambil terus melangkah.


Tania dan Devan berpandangan sejenak sebelum kemudian mereka berlari mengejar Dodi. Tania menatap tak berkedip setelah mereka bertiga melihat dari dekat.


"ini, seperti dongeng kita bisa melihat kerajaan dari dekat sangat indah sekali."ucap Tania kagum.


"Kau benar Tania, kita seolah olah hidup di jaman dulu di mana dulu banyak kerajaan."


"Ayo, Tania kita lihat lebih dalam lagi pasti di dalam sana lebih bagus lagi."


Tania mengagguk.


"Ayo...!"


"Tunggu aku ikut," Teriak Dodi yang merasa di abaikan."


"Ayo cepat"


Tania, Devan dan Dodi melangkah masuk ke dalam, mereka bertiga semakin di buat kagum dan terkesima dengan segala arsitektur yang hampir keseluruhan terbuat dari kuningan.


"Oh, ternyata kita ini berada di istana belakang ."


"lihat di depan sana, lebih indah dan seperti nya ada penjaganya."


"Kau, benar itu artinya kita tadi melihat kerajaan yang dari belakang ayo kita tanya orang itu di mana jalan raya nya agar kita bisa pulang."


"Yuk...!"


"Tunggu...!"


"Aduh, Dodi..!" apalagi?'


"Aku, takut hatiku berdebar debar."


Devan dan Tania saling berpandangan yang kemudian Tertawa.


"Kalau takut kamu tunggu di sini, biar aku dan Devan yang kesana."


"Tania, kamu jangan pergi!"Dodi memegang erat erat tangan Tania dia berusaha menghalagi agar Tania tidak pergi."Wajahnya yang sebenarnya cukup tampan meskipun ada satu lensa kacamata yang menghalangi.


"Dodi...!" lepaskan Tania kamu seperti anak kecil saja kalau takut, diam kau disini, ayo Tania."Devan melepaskan genggaman tangan Tania dari Dodi yang kemudian melangkah maju ke depan dan meninggalkan Dodi yang terpaku ketakutan.


Semakin lama langkah Devan dan Tania semakin jauh dan semakin dekat dengan beberapa prnjaga istana yang membelakangi mereka. Tania menghentikan langkah tiba-tiba.


"Kenapa Tania..?"


"Entahlah, tiba-tiba jantung ku berdebar hebat."


"Ha...ha..ha..apa kamu juga takut seperti Dodi ?"


"Entahlah, tiba-tiba perasaan ku tidak enak."


"Jadi gimana?"apa aku yang bertanya sendiri dan kamu tunggu di sini?" tanya Devan meminta penjelasan.


"Tidak.." aku akan ikut dengan mu, ini hanya perasaan ku saja."ucap Tania menyakinkan Devan.


"Baiklah, ayo!"


Kembali Tania dan Devan berjalan mendekati sang penjaga yang berdiri membelakangi mereka.


"maaf, Pak! boleh kah kami bertanya di mana arah jalan menuju jalan raya kami sedang tersesat di sini."


Orang yang tadinya membelakangi membalikkan badan ketiika ada sebuah suara yang mengajak nya bicara dan ketiika orang itu membalikkan badan Tania langsung berteiak ketiika mata merah berbaju hitam dengan taring yang runcing.


"Aaaaaaaaa......itu...Vampire......!!!"