
Setelah memalui beberapa pemikiran yang
matang, Pangeran Yervan segera berangkat
ke kerajaan Sangkala, untuk menemui
pangeran Tatius.
Tujuannya hanya satu ingin membuat
pangeran Tatius mengundurkan diri dari
lomba sayembara yang diadakan Raja Vampire
Barat Daya.
Kerajaan Awang Awang Vampire dan kerajaan
Sangkala tidak terlalu jauh, sehingga waktu
satu hari, cukup untuk menempuh perjalanan
ke sana.
Kerajaan Sangkala sangat unik hiasan dinding
untuk pintu gerbang masuk dan segala yang
ada di dalam nya memiliki jiwa seni yang
luar biasa keunikan indahnya, Pangeran Yervan
yang baru pertama kali singgah dan datang sendiri, di buat tercengang melihat keindahan
istana Sangkala.
Ketika Pangeran Yervan hendak memasuki
halaman tiba tiba beberapa pengawal istana
Sangkala menghadang langkah nya.
"Anak muda, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku ingin bertemu, dengan pangeran Tatius."
"kamu siapa, ingin bertemu dengan pangeran Tatius,"
"Aku, kakaknya,"
Beberapa pengawal itu saling berpandangan
kemudian beberapa pengawal itu tertawa
bersama sama.
"Ha...ha..ha...ha...!"
"Jangan coba coba, membohongi kami, anak muda, Ratu permaisuri Shima, hanya memiliki
satu putra, hanya pangeran Tatius saja putranya
Sekarang kau bicara kau adalah kakaknya,
Pergilah, sebelum Raja Sangkala melihatmu pasti kau akan di usir dengan kejam."
"Pengawal, tolong, katakan saja kepada pangeran Tatius, kakak nya pangeran Yervan
ada disini, aku mohon..!"
Ucap Pangeran Yervan menyakinkan para pengawal istana.
"Bagaimana ini, dia memaksa Ingin bertemu
dengan pangeran Tatius,"Ucap pengawal itu
kepada kedua temannya.
"Kau, panggilkan saja, biar aku yang jaga dia
disini,"
"Jangan...!"Ucap pengawal istana yang lain.
"Pangeran Tatius, sedang dalam, fase, memperdalam ilmunya, yang langsung dilatih
Raja Sangkala, kalau kau kesana, itu akan
menggaggu, dan Raja Sangkala bisa marah
dan menghukum mu,"
"Lalu, kita harus bagaimana?"
"Hei...anak muda, kau pulang saja jangan
menggagggu pangeran Tatius karena saat ini
pangeran Tatius sedang dalam pelatihan
ekstra dari Raja Sangkala."
"Apakah pelatihan itu, satu hari penuh tanpa
istirahat."
"Apa maksud dari ucapanmu itu, anak muda,"
"Aku akan menunggu, jam dan waktu istirahat
pangeran Tatius, agar pelatihan nya tidak
terganggu,"
Ketiga pengawal itu berpandangan sebelum
akhirnya memberikan keputusan.
"Baiklah, kamu tunggu, disana ,tuh kamu boleh
duduk disana, tapi ingat jangan macam macam,"Ancam pengawal itu.
" Baiklah, trimakasih,"Ucap pangeran Yervan.
"Hey...!sudah, sana pergi, dan tunggu di sana, kenapa masih bengong dan berdiri disini."
"Bagaimana pangeran Tatius bisa tau, kalau
ada yang menunggu nya, jika kalian tidak
memberi taunya."
"Hey, apa maksud mu! kau ingin memerintah
kami hah...!"Ucap pengawal satunya geram.
"Maafkan aku, tapi coba pikirkan, bagaimana
mungkin pangeran Tatius bisa tau ada yang
menunggunya jika kalian tidak melapor dan
memberitaunya."
"Haiya...!baiklah, aku akan kasih tau pangeran Tatius, sekarang kamu tunggu disana,"
"Trimakasih,"Ucap pangeran Yervan seraya
melangkah pergi menuju tempat yang di
tunjukkan para pengawal itu.
Dari kejauhan pengawal itupun tertegun
untuk beberapa saat, pasalnya, dia takut untuk
mengaggu kegiatan pangeran Tatius.
Raja Sangkala yang melihat kehadiran
penggawal nya segera menghampiri.
"Ada apa ?"
Dengan gugup dan bergetar sang pengawal
pun bicara dengan terbata bata.
"Anu .Raja, anu....itu...anu...Raja."
"Hey, kenapa bicara mu aneh begini, anu ...!anu..!anu.. ,apa ? bicara yang jelas."
Bentak Raja Sangkala, kepada pengawal nya.
Penggawal yang di bentak pun semakin
bergetar tubuhnya menggigil, keringat dingin
mulai bermunculan di pelipis wajah nya.
Pangeran Tatius, yang mendengar bentakan
kakeknya kepada penggawal segera menghentikan latihan nya dan mendekati
sang kakek dan pengawal.
"Ada, apa Kek?"
"Tidak tau, pengawal ini mengaggu saja"
Dengan senyum ramah dan menyejukkan
pangeran Tatius mendekati sang pengawal
yang berdiri ketakutan dengan wajah menunduk.
"Katakan lah, ada perlu apa kau datang kemari?"
"Ampun, pangeran Tatius, saya tidak bermaksud ingin menggaggu tapi...!"Pengawal
itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Iya, lanjutkan,"Ucap Pangeran Tatius ramah.
"Anu, pangeran, itu..!Anu..ada...
Belum juga pengawal itu selesai bicara Raja
Sangkakala yang geram sudah lebih dulu
membentaknya.
"Bicara yang jelas,"Ucap sang Raja Sangkala dengan nada tinggi.
Membuat pengawal itu semakin ketakutan.
dan bicara dengan galak begitu, dia akan
takut.
"Ya, sudah, urus pengawal menjengkelkan itu,"
Setelah mengucapkan kalimat itu sang Kakek
pergi.
Pangeran Tatius hanya mengelengkan kepalanya melihat sang kakek yang selalu
bersikap kasar dan keras kepada semua
pengawalnya.
"Ayo, sekarang bicaralah, jangan takut."
"Pangeran Tatius, engkau sungguh sangat
bijak dan lembut, bahkan aku merasa
pangeran Tatius bukan keturunan dari Raja
Sangkakala, pangeran sangat lembut."
"Ha.ha...ha...! berhenti lah memuji ku pengawal
kamu belum tau saja kalau aku lagi marah,
coba sekarang katakan, ada apa kau kesini,"
"Pangeran diluar sana ada seorang pemuda
yang menggaku sebagai kakak pangeran,
namanya kalau tidak salah Yervan."
"Oh, ya benar, dia kakakku dimana dia sekarang?"
"Saya,suruh menunggu di puri halanan istana pangeran."
"Baiklah, aku akan kesana, sekarang kau
boleh pergi."
Setelah memberi hormat pengawal itupun
pergi meninggalkan pangeran Tatius.
****
Di tempat yang berbeda, Devan dan sang
Nenek berjalan ke ruang tamu, dimana disana
ada Tania yang sedang menunggu.
"Tania..! kenalkan ini Nenek ku !"
Dengan senyum ramah dan penuh kesopanan
Tania memberikan ucapan salam kepada sang
Nenek.
"Selamat siang Nek,"Ucap Tania ramah.
"Selamat siang, namamu siapa ?"
"Tania, Nek..!"
"Kamu, temannya Devan?"
"Iya, Nek !
"Masih pakai seragam sekolah, apa kalian tadi
bolos dari sekolah?"
Dengan malu malu, Tania menjawab.
"Iya, Nek !
"Bukankah itu perbuatan tidak baik, kenapa
kalian lakukan."
"Ah, Nenek, bolos cuma sekali saja gak
masalah kan,"Ucap Devan membela diri.
Sang Nenek hanya mengelengkan kepalanya.
"Pulang, sekolah pasti lapar, kan?ayo ikut
Nenek kita makan siang bersama."
"Ngak usah repot-repot Nek, Tania belum
lapar koh,"
"Sudah, ayo makan, jangan menolak, masakan
Nenek ku itu, enak lho," Ucap Devan promosi
makanan Nenek nya.
"Benar, apa yang di katakan Devan, ayo Tania
coba cicipi masakan Nenek ya, biar
tau masakan Nenek rasanya bagaimana?Timpal Nenek kepada Tania.
Akhirnya Tania tidak bisa menolak, dan dia
menerima ajakan sang Nenek.
Ketiganya berjalan keruang makan.
"Tunggu disini, Nenek siapkan dulu makanannya."
"Tania, bantu ya Nek !"Ucap Tania menawarkan
diri.
"Boleh, ayo ikut aku ke dapur,"
Tania menggikuti sang Nenek, semua yang
ada di dapur, di siapkan ke meja makan.
"Tania..!"
"Iya, Nek !
"Tinggal sendok dan piringnya, kamu siapkan
sendiri ya, Nenek mau ke belakang dulu
angkat jemuran, sepertinya mau turun hujan."
"Baik, Nek,"
Bergegas Tania menggambil piring dan sendok
Namun karena kurang hati hati piring yang
di pegang Tania jatuh dan pecah.
"Py aaaarrr..",
Suara bunyi piring yang jatuh, berbegas Tania
ke belakang dan berteriak.
"Nek...! piringnya jatuh dan pecah, bagaimana ini ?"
"Tidak apa apa , Tania, kamu ambil lagi piring
baru, yang ada di ruang samping dapur, disana
banyak piring dan sendok."
Teriak Sang Nenek dari belakang rumah yang
lagi mengaggkat jemuran.
"Baik, Nek..!"
Bergegas Tania mencari tempat piring dan sendok yang di simpan Nenek di samping
dapur.
Ketika tangannya meraih piring dan hendak
pergi ke ruang meja makan matanya
Nanar melihat, sebuah bingkai foto yang
tergeletak di lantai, seolah foto itu baru di
turunkan dari dinding.
Wajah muka nya tidak terlihat, karena cat blok
warna hitam menutupi nya, yang terlihat
hanya ukuran tinggi badan beserta baju yang
di kenakan nya.
"Kenapa gambar foto ini tidak memperlihatkan
wajahnya, lebih tepatnya kenapa wajahnya di
blok tinta hitam, bajunya sangat bagus
seperti baju orang kerajaan, penuh
dengan gemerlap ke emasan, mungkin ini
foto Kakeknya, Devan, ya sudahlah aku
harus cepat pergi pasti mereka sudah menunggu di ruang makan",Gumam Tania
dalam hati.
Namun ketika hendak melangkah pergi tiba
tiba mata indahnya melihat..