The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.252.KELEPASAN



Pangeran Tatius yang berada di dalam kamar merasa aneh, karena Tania keluarnya sangat lama hingga membuat Pangeran Tatius merasa resah dan khawatir.


"Kenapa lama sekali, jangan jangan Tania di ganggu putri Lin Ying, bukankah putri Lin Ying tidak suka dengan Tania bisa jadi tanpa sepengetahuan nya Tania di celakai putri Lin Ying, gawat aku harus cepat keluar awas saja jika berani melukai Tania sdikit saja, aku tidak akan memaafkan mu." desis Pangeran Tatius dalam hati yang mana dengan sikap buru-buru langsung turun dari Ranjang dan keluar kamar.


Sampai di ruang tamu yang lampu nya di buat remang remang, Pangeran Tatius tidak menemukan siapa pun, perasaan nya semakin gelisah.


"Tania ada di mana?" kenapa di sini terlihat sepi."


Pangeran Tatius berjalan keluar masuk semua kamar yang ada di dalam bangunan rumah itu.


Sementara di sisi lain di bawa indahnya lampu rembulan yang sedang bersinar terang Pak guru Wili bersama Tania duduk berselonjor kaki di rerumputan hijau sambil menatap bulan.


"Malam ini sangat indah ya!"bulannya bersinar terang."


"Iya, tadi Bapak memanggil ku ada apa dan mengapa menggajak ku kesini."


"Duduklah, Tania! aku cuma ingin bertanya apakah kau benar benar mencintai Vampire itu."


Tania tidak langsung menjawab pertanyaan dari Pak Guru Willi, Tania menatap ke langit yang mana rembulan sedang bersinar dengan terang, sampai bibir tipis nya bergerak mengucapkan suatu kata.


"Apakah, suatu dosa dan kesalahan jika kita mencintai orang yang berbeda dimana bangsa dan kehidupan kita sangat lah berbeda."suatu pertanyaan yang seolah olah untuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, tidak! tidak ada yang salah dalam cinta yang ada siapkah diri kita dengan cinta yang berbeda, semua akan menjadi hal baru dan kehidupan yang baru dimana kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, apa kau sudah siap seandainya kau harus menetap di tempat seperti ini."


Tania tidak pernah melihat sikap yang lembut dan bijak dalam diri pak guru Wili selama dirinya menjadi murid nya, tapi kali ini Pak guru Wili berbicara bagaikan seorang teman yang memberi pandangan pada temannya, bagaikan seorang Ayah yang menjelaskan keadaan dan resiko dari apa yang akan kita ambil anak nya.


Tania menatap dalam dalam manik hitam yang ada di depannya, sedangkan Pak guru Wili yang di tatap tiba-tiba menjadi salah tingkah akibat tatapan mata indah Tania, beberapa kali menelan ludahnya, sebelum kemudian mengalihkan pandangan matanya kearah lain.


"Kenapa menatapku seperti itu."


Tania Tertawa renyah melihat pak guru Wili yang terlihat gugup dan salah tingkah.


"Bapak, sudah berubah."


"Berubah..! ulang Pak Guru Willi seraya menoleh ke arah Tania di mana lagi-lagi pandangan mata mereka bertemu.


Tania mengagguk kan kepala nya.


"Maksud nya, bagaimana?" tanya pak guru Wili penasaran, karena belum pernah Tania bicara dengan baik dan lembut padanya selama ini selain sikapnya yang dingin dan kasar.


"Sudah, tidak galak lagi." jawab Tania dengan tersenyum lebar, yang mana ucapan dari Tania membuat Pak guru Wili ikut tertawa.


"Memangnya selama ini aku galak.'


"Iya, sangat galak," seru Tania sambil tertawa.


Suara Tawa riang dari Pak Guru Willi dan Tania yang sangat renyah dimana sangat memperlihatkan dua insan yang sedang berbahagia, membuat sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan nya, mengeram marah dengan wajah merah padam dan dengan kedua tangan nya mengepal kuat, bahkan memperlihatkan urat leher nya yang menegang akibat menahan marah.


"Jadi, ini, alasannya mengapa aku tidak boleh ikut keluar?" mau berduaan, tertawa dan bersenang senang dengan menyuruhku tetap berada di dalam kamar menunggu, Baik kita lihat hukuman apa yang akan ku berikan padamu."dengus laki-laki yang tak lain adalah Pangeran Tatius.


Dengan perasaan kesal dan marah Pangeran Tatius kembali masuk ke dalam kamar dan menarik selimut nya, Kembali berpura-pura tidur, tapi yang sesungguhnya terjadi Pangeran Tatius sedang menahan emosi dan amarah nya yang tinggi.


Tidak menunggu lama kemudian terdengar suara pintu di buka dari luar.


"Rupanya dia sudah tidur," baguslah kalau begitu."lirih Tania melepas sandal yang dipakai nya sebelum ikut naik ke atas ranjang dan tidur di samping kekasihnya.


Untuk beberapa saat suasana terlihat hening, Tania mulai memejamkan matanya, baru juga sedetik mata itu terdengar suara berat yang penuh dengan penekanan.


"Sudah selesai bermesraan nya."


Sontak saja hal itu membuat Tania menoleh dan berbalik menghadap ke arah kekasih nya.


"Kau belum tidur?"


"Kenapa? berharap aku tidur, agar aku tidak tau apapun yang kamu lakukan diluar sana, begitu kan?"tanya Pangeran Tatius dengan nada suara yang dingin, wajah Tampan nya terlihat memerah dengan tatapan mata elangnya yang sangat tajam seolah olah ingin membidik mangsa yang ada di sampingnya. Posisi yang awalnya tidur kini langsung bangun duduk di atas ranjang dengan kedua tangan bersilang di dada, menatap tajam mata lentik ada di depannya. Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku."


Tania menelan ludahnya dengan kasar dan menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Pangeran Tatius kekasih nya yang terlihat sangat emosi.


"Memangnya aku melakukan apa? aku tidak melakukan apa-apa dan tuduhan mu bermesraan, bermesraan apa, kamu jangan aneh aneh deh." jawab Tania kesal karena di tuduh yang bukan bukan seraya membuang muka tidak sanggup jika harus beradu pandang dengan tatapan mata tajam yang seolah olah ingin memangsa nya.


"Bukankah kau habis menghabiskan malam dengan pak gurumu itu."cibir Pangeran Tatius sinis dan dingin.


"Tatius....! jaga ucapanmu, kamu pasti lagi halu sudahlah, diam dan tidur, ini sudah malam jangan brisik dan lebih baik aku tidur di kamar yang lain."ucap Tania seraya turun dari Ranjang.


"Aku tidak halu...! teriak Pangeran Tatius yang sedari tadi menahan emosi akhirnya terluap kan juga sambil melempar selimut yang menutupi tubunya, sambil menarik kasar tangan Tania hingga tubuhnya kembali jatuh ke atas Ranjang.


"Sakit, tauk..!" kau menyakiti ku." sungut Tania dengan tatapan mata yang tajam.


"Sakit...!"apa kau tau hatiku lebih sakit melihat semua, aku melihat sendiri kau bersamanya Sangat bahagia tertawa riang apa itu kalau tidak bermesraan."


"Plaaak...!"Tania mendarat kan tamparan pada wajah Tampan yang ada di sampingnya.


"Cukup ..! jangan bicara yang bukan bukan tidurlah dan Jangan berisik."ucap Tania Kembali berusaha turun dari Ranjang dan berniat akan pergi, tapi tangan kekar Pangeran Tatius lagi-lagi menahan dan menariknya kembali ke atas ranjang mendorong dengan kuat hingga jatuh terlentang dan dengan cepat Pangeran Tatius menindih dan mengunci pergerakan kekasihnya hingga Tania tak lagi bisa bergerak.


"Ta -tius...!"apa yang kau lakukan." tanya Tania panik.


"Tidak ada yang boleh menyentuh mu selain aku,"


"Ka-kau bicara apa tidak ada yang menyentuh ku, lepaskan aku, sadarlah jangan begini kau membuat ku takut."


"Tapi aku melihat ketika kau terjatuh guru itu mengambil kesempatan menolong mu, tapi bibirnya menyentuh ini." desis Pangeran Tatius yang langsung melu mat bibir ranum yang ada di depannya, membuat Tania mendelik seketika, yang mana dengan sangat kasar dan rakus Pangeran Tatius memainkannya.


"Ta-tatius.... jangan...!"rintih Tania ketika pangeran Tatius memberikan kesempatan Tania untuk menghirup oksigen sebelum kembali menerkam bibir yang menggiurkan, sambil menitikkan air mata karena takut Tania meminta Pangeran Tatius untuk melepaskan nya, Tania sangat takut apa yang di jaga selama ini akan hilang dengan cara yang tidak diinginkan, terlebih melihat cara Pangeran Tatius yang terlihat sangat di kuasai oleh gai rah yang tinggi.


Pangeran Tatius yang sangat marah dan emosi melihat, kekasih nya menangis hatinnya terenyuh, perlahan-lahan kemarahan nya berangsur angsur redah.


Permainan bibir yang tadinya sangat kasar dan buas kini berubah menjadi sangat lembut, Tania yang tadinya memberontak akhirnya jatuh terbuai juga dengan permainan sang kekasih hingga tanpa sadar Tania membalas pagutan dari Pangeran Tatius.


Merasa mendapat kan respon gair ah dari Pangeran Tatius semakin tinggi, kedua tangan nya pun mulai ikut aktif dalam menjelajahi beberapa area, perlahan namun pasti Pangeran Tatius mulai membuka dua kancing baju atas yang di kenakan Tania dan menyusup menyetuh benda benda kenyal dengan sangat lembut, membuat Tania tanpa sadar menggeluarkan suara indah mende saah yang mana semakin membuat Pangeran Tatius ingin menikmati lebih.


Tapi kesadaran nya yang sudah pulih dan amarahnya yang sudah redah membuat nya tidak tega melakukan.


Malam yang dingin tiba-tiba berubah menjadi malam yang panas, meskipun apa yang dilakukan Pangeran Tatius tidak sampai pada batasannya.


"Maaf, aku kelepasan." ucap Pangeran Tatius dengan suara serak dan berat yang mana masih di selimuti kabut gair aah.


Pangeran Tatius bangkit dari atas tubuh Tania yang sudah pasrah.


"Jangan membangkitkan amarah dan cemburu ku lagi, kali ini aku bisa, tapi lain kali aku tidak menjamin aku akan mampu menahannya, berhati-hati lah dalam bersikap karena aku bisa khilaf," ucap Pangeran Tatius serak karena sesungguhnya dia masih ingin melakukan yang lebih tapi sekuat tenaga di tahannya.


Sedangkan Tania tidak bicara apapun selain menangis dan menitikkan air mata.


"Berhenti lah menanggis, aku tidak melakukan nya kan dan aku tidak melewati batasan."


"Kau, keterlaluan, kau sudah melewati batasan karena kau berani menyetuh yang seharusnya tidak boleh."


Pangeran Tatius mengeryitkan dahinya kemudian tersenyum smrik.


"Oh, yang itu, enak sih bahkan kalau boleh jujur masih kurang, apalagi suara indah dari bibir mu itu bikin panas seluruh tubuh ku."


"Diam....! kau sangat keterlaluan..! plaaak," sebuah tamparan mendarat dengan sempurna pada pipi Pangeran Tatius yang menatapnya masih dengan kabut gai raah masih ada sisa hawa panas yang belum tersalurkan disana.


"Kau membuat ku malu dan terhina kau membuat ku menjadi wanita rendah yang tak lebih dari seorang pela....cur , hizk....hizk. teriak Tania yang tangisnya keras.


Pangeran Tatius terperangah dengan ucapan kekasih nya senyumnya memudar.


"Sayang...! jangan bicara begitu itu menyakiti ku, berhenti lah menanggis dan jangan menganggap dirimu rendah apalagi itu.....kau bukan seperti itu di mataku, aku sangat mencintai mu.


Tania yang tak perduli dengan ucapan Pangeran Tatius terus saja dia menanggis membuat Pangeran Tatius kembali tersulut emosi.


"Berhentilah, menangis...Baik !"jika kau tidak mau berhenti menanggis dan masih merasa dirimu rendah, malam ini juga kita menikah, agar kau tak lagi merasa aku rendahkan dan itu lebih baik karena aku bisa melakukan sesuka ku tanpa harus menahan diri lagi."


"Kau, bercanda mana bisa malam malam menikah dan bisa langsung sah, kau mau membohongi ku, agar aku bisa terhibur begitu, kau memang brengsek."


Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan menahan semua amarah yang kembali datang.


"Di kerajaan istana Awang Awang Vampire melakukan pernikahan cepat hanya membutuhkan waktu satu jam, karena kita hanya butuh dua orang saksi lalu tanda tangan sudah sah, nanti pihak kerajaan yang akan membawa dan membereskan semuanya kita tinggal trima beres dan sah menjadi Suami istri, itu pernikahan cepat, tapi jika dengan adanya pesta kita bisa melakukan selama tujuh hari tujuh malam, bukankah kau merasa aku rendahkan, ayo sekarang kita menikah agar kamu Cepat menjadi milikku dan aku cepat menjadi milikmu."


"Tidak...! aku tidak mau!aku tidak mau menikah cepat aku masih punya tugas sekolah dan aku juga belum siap aku tidak mau."


"Meskipun kamu sudah menjadi istri ku, kau masih boleh sekolah cuma jangan dekat dengan orang lain selain aku."


"Tidak... tidak aku belum siap menikah, pergilah jangan dekat dengan ku."


"Tidak bisa sayang, aku sudah memutuskan Besok aku akan membawa mu ke istana dan aku akan meminta ijin pada Raja, aku mau pesta pernikahan kita dilakukan dengan cepat tapi juga dengan sangat meriah, aku mencintaimu, berada dekat dengan mu sering membuat ku khilaf dan tidak tahan."


"Apaan, sih! pergi sana." Tania menarik tangan Pangeran Tatius keluar kamar kemudian menutup.dan menguncinya.