
Sepuluh menit saja bersama sang kekasih itu rasanya sangat istimewa dan hidup bagaikan memiliki makna, Tania sengaja membiarkan Pangeran Tatius tidur di samping nya dengan satu selimut berbagi berdua, entah karena rasa capek atau memang kurang tidur Pangeran dengan cepat sudah tertidur.
Tania memandang wajah sang kekasih dengan senyum tersungging di bibir, diam diam Tania menggagumi jika pacarnya sangat tampan dengan lembut dsn penuh kasih sayang Tania membelai lembut rambut sang kekasih, dengan perlahan lahan Tania pun merebahkan tubuhnya di atas dada bidang milik pangeran Tatius.
Sementara pak guru Wili dan Ayah Tania yang sudah berada di tempat sebuah warung toko makanan kecil yang terletak di pinggir jalan, mulai masuk dan duduk setelah memesan dua Nasi pecel dan teh hangat sebuah makanan selera orang kampung maklum lah pak Arman dulu berasal dari kampung kecil dan rumah tempat tinggal nya di dekat hutan, dan Nasi pecel adalah makanan kesukaan pak Arman.
"Pak guru Wili yakin, juga mau makan Nasi pecel seperti milik Bapak." tanya pak Arman ragu karena pak Arman yakin pak guru Wili yang berasal dari asli kota pastilah asing dan tidak mengenal Nasi pecel bisa jadi tidak suka karena tidak terbiasa dengan sebuah makanan berjenis sayur kulup dengan bumbu kacang di tambah dua gorengan tempe, bakwan dan satu ceplok telur di atasnya, harganya pun sangat murah tapi mampu membuat lidah dan perut bergoyang karena sensasi rasa nikmat nya yang berbeda dengan makanan makanan kota yang mana Nasi pecel membuat ketagihan Jika lama tak memakannya.
"Yakin, saya juga ingin merasakan seperti apa sensasi Nikmat nya Nasi pecel yang di sukai Bapak pasti Tania juga suka."ucap pak Guru Wili yang membayangkan makan Nasi pecel berdua dan yang mana Tania menyuapinya atau dia yang menyuapi Tania pasti akan sangat romantis.
"Tentu saja Nak, Tania sangat suka Nanti aku mau bungkus kan untuk nya siapa tau dia sudah sadar dan pasti nya perutnya lapar karena belum terisi makanan apapun."
Tak menunggu lama pesanan makanan pun datang, pak guru Wili mengeryitkan dahinya melihat model Nasi pecel yang ada di depannya.
"Ada apa Nak Wili, kaget ya melihat bentuk Nasi pecel nya, kalau tidak suka pak guru Wili minta menu makanan lain saja di sini juga ada soto, rawon, sate ayam panggang pokoknya lengkap.'
Dengan malu malu pak guru Wili menggeleng kan kepalanya.
"Tidak, Pak ! aku mencoba ini saja.
Awalnya Pak Guru Wili merasa bagaimana memakan Nasi pecel tapi kama kelamaan benar kata Bapak rasanya bikin Nagih dan para akhirnya pak guru Wili pun menikmati makanan pesanan nya.
Hampir satu jam lamanya mereka meninggalkan Tania sendiri di dalam kamar dan hampir satu jam pula mereka berdua menghabiskan Nasi pecel yang mereka.pesan dan kini tiba saatnya kembali melihat keadaan Tania yang tadinya masih terbaring pingsan.
Sementara di dalam kamar Pangeran Tatius yang sudah terbangun dan melihat gadis nya sedang tertidur dengan kepala disandarkan ke dada bidang nya, pangeran Tatius tersenyum smrik, jantung nya berdegup dengan kencang.
dibelainya dengan pelan Rambut panjang milik Tania.
"Aku bisa gila jika jauh darinya, tak pernah ku sangka seindah ini rasanya orang yang sedang jatuh cinta."pangeran Tatius menyunggingkan sebuah senyuman ketiika kenangan masa lalu di mana pertama kali bertemu Tania sudah mampu membuat dirinya nyaman dan tenang dulu sangat imut dengan pipi gembul nya sekarang setelah dewasa ternyata sangat cantik, tidak salah juga jika Guru nya pun ikut tergila gila padanya. Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan. deruan Nafas pangeran Tatius yang di hembuskan nya sudah di buat sangat pelan tapi ternyata masih mengaggu seorang gadis yang sedang tertidur pulas yang berbantal dada bidang nya karena angin dari nafas itu menyentuh kulit nya, perlahan lahan Tania membuka mata dan mengerjap ngerjapkan nya.
"Kamu sudah bangun,"
Pangeran Tatius mengagguk sedangkan Tania mulai menggakat kepala nya ada rasa malu karena diam diam dia tidur di atas dada bidang kekasih nya tanpa ijin.
"Maaf, aku ketiduran aku tidak menyangka jika tertidur di sini," ucap Tania gugup, membuat pangeran Tatius terkekeh.
"Wajahmu merah sekali kenapa? masak cuma tidur di sini, tunjuk pangeran Tatius pada dada bidang nya.kamu segitu malunya, aku kan pacar kamu kenapa malu."
"Ngomong apaan sih,"
"Sayang..!" apanya yang sakit kenapa tiba-tiba kamu bisa pingsan, tau gak bikin hati jantungan saja lain kali hati-hati biar tidak pingsan lagi."
Tania tersenyum seraya menyisir rambutnya dengan tangan Lina jari nya dan dengan santai menjawab.
"Kalau aku ngak pingsan, mungkin hari ini aku sudah jadi milik orang, memangnya kamu mau aku jadi milik orang?"
"Ya, ngak mau tapi pingsan mu bikin aku khawatir tau gak aku lari ke rumah sakit ini dengan kecepatan terbang yang tinggi hingga cuma lima menit aku sudah sampai di sini, tapi lihat ini hasilnya."
"Apa yang kau pikirkan?" apakah aku cukup tampan."
"Apaan, sih," sungut Tania berusaha mengalihkan pandangan matanya membuat pangeran Tatius terkekeh sangat menggemaskan melihat kekasihnya malu malu.
"Nanti kalau sudah jadi istri ku jangan malu malu lagi ya, terutama itu."
"Apaan, sih!" teriak Tania sambil melempar kan bantal ke arah pangeran Tatius yang dengan sigap. mampu menangkap bantal itu hanya dengan satu tangan bahkan tanpa melihat arah dari lemparan yang Tania lakukan.
"Busyet....pintar juga menghidar awas ya....!"
Tania berusaha turun dan hendak melepas infus yang ada di pergelangan tangan nya melihat itu cepat cepat pangeran Tatius mendekat.
"Sayang, jangan di lepas!" kamu masih sakit ,ini aku di sini pukul sepuasmu tapi jangan di lepas itu, ya."
"memang kamu tau ini fungsinya untuk apa? memang di negeri Vampire ada alat begini an."
"Tentu saja tidak ada cuma perasaan ku saja aku yakin ini sangat penting untuk kesehatan mu."
"Huuu, sok tau!"
"Jangan mayun begitu bibir nya bikin gemes."
"Emang kenapa, masalah begitu."
"Tentu saja bermasalah cantik, bikin hati ngak kuat."
"Ah, masak!" Ledek Tania sambil mendekatkan dirinya lebih dekat.
Membuat Pangeran Tatius mendelik.
"Kamu,Nekad..!" ucap pangeran Tatius dengan suara berat dan beberapa kali harus meneguk salivanya.
Tania merasa semakin senang bisa membuat laki-laki di depannya salting, Tania sangat yakin Tatius akan berusaha mati matian menahan hasrat, tidak seperti laki-laki lain pada umumnya yang langsung nyosor seperti bebek angsa, ketika Tania asik dengan mengoda pangeran Tatius tiba-tiba terdengar suara Handel pintu sedang di buka. sontak saja Pangeran Tatius dan Tania saling berpandangan dan kemudian Tania segera berseru.
"Ayah sudah kembali, cepat sembunyi."
"Tidak usah, aku mau memintamu langsung pada nya."
"Eh, jangan sekarang aku belum siap lain kali saja."
"Tapi kau bilang aku harus mendapatkan ijin orang tuamu,"
"iya, tapi bukan sekarang, ayo cepatlah pergi." renggek Tania dengan wajah sendunya, membuat pangeran Tatius tak tega dan akhirnya menggalah.