The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bsb.214.BENCANA.



Setelah menunggu beberapa saat kedatangan dari Caolin dan Tania yang belum juga kembali membuat Pangeran tatius sedikit resah, perasaannya mulai tidak enak ada rasa tidak sabar yang tiba-tiba masuk ke dalam relung hatinya terlebih melihat tatapan Sein Zee yang begitu aneh kepadanya.


di sisi lain Tania dan Caolin yang melihat-lihat keadaan Istana sudah berada di alam taman indah yang mana banyak terdapat bunga bunga indah dengan warna lampu yang berwarna warni.


"Tania..! apa boleh aku bertanya?"


"Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan, tidak usah minta ijin segala,"ucap Tania dengan hati riang gembira, dimana dia sangat menyukai satu bunga yang ternyata bunga itu juga ada di alam manusia, tanpa bicara dan tanpa meminta izin pada Caolin, Tania langsung berlari kearah bunga itu. bunganya sedikit mencurah ke arah bawah dimana, di bawah terdapat aliran sungai yang cukup deras, Caolin tidak menyadari jika Tania berlari ke arah dimana bunga itu berada. Ternyata bunga itu bernama bunga teratai yang mana memang sangat indah dan disukai banyak manusia pada umumnya karena keindahannya.


Caolin yang merasa ragu dan sedikit tidak enak untuk membicarakan sesuatu menunduk dalam-dalam ketiika berbicara, sehingga Caolin tidak bertatapan mata langsung dengan Tania.


"Aku ingin bertanya padamu Sejak kapan kau mengenal pangeran Tatius dan Sejak kapan di Antara kalian ada hubungan." tanya Caolin dengan hati-hati. Tanya yang mendengar itu tertawa kecil.


"Ha...ha..ha kepo saja kamu, pertanyaan itu tidak perlu ku jawab kan?"ucap Tania membuat Caolin juga tersenyum kecut.


"Baiklah kalau begitu aku bertanya yang lain saja."


"Silahkan,"ucap Tania dan di kala Caolin sedang berfikir akan bertanya apa lagi pada Tania yang di sangka masih berjalan di belakang nya,Tania sudah berjalan menjauh dari tempat itu mendekati bunga teratai yang menjulang ke bibir sungai.


"Tania..! apakah kau ...benar benar mencintai Pangeran Tatius?"tanya Caolin dengan hati-hati.


Merasa tidak ada jawaban setelah menunggu sekian detik, Caolin menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang dan alangkah terkejutnya Caolin ketiika di belakang nya Tania sudah tidak ada.


Dengan perasaan takut dan bergetar Caolin segera mencari Tania.


"Tania....!


"Tania....dimana kau, jangan main main di sini sedikit rawan, kau berada dimana?" Tania jawab aku ....!"seru Caolin berkali kali.


Caolin terbang kesana kemari mencari Tania namun sampai duapuluh menit lamanya Tania tak juga di temukan, keringat dingin mulai nmembasahi pelipis Caolin, meskipun tidak di ungkapkan dengan kata-kata, ketika Caolin meminta ijin membawa Tania jalan jalan, pandangan Pangeran Tatius yang bisa di baca dengan mata hati, pangeran Tatius sebenarnya tidak mengijinkan, akan tetapi karena rengekan gadis itu, pangeran Tatius pun luluh dan mengijinkan nya, Caolin bisa merasakan betapa besar Cinta Pangeran Tatius pada gadis itu.


"Tania...dimana kamu, ayolah jangan main main jangan membuat ku takut." seru Caolin dengan suara keras agar Tania bisa mendengar nya.


"Aku di sini..!" seru Tania yang membuat hati Caolin bernafas dengan lega dan terlihatlah Tania memang ada di dekat beberapa bunga, tapi mata Caolin tiba-tiba terbelalak ketika menyadari jika Tania berdiri di antara banyaknya bunga yang menjulang ke bibir sungai.


"Tania, berhenti.... stop di situ jangan bergerak lagi berbahaya....!"Seru Caolin yang rupanya tidak di dengarkan Tania yang sudah jatuh hati dengan bunga teratai tidak memperdulikan teriakan Caolin, Tania terus saja berusaha meraih bunga teratai.


"Gawat....ini berbahaya dengan cepat Caolin terbang mendekati Tania dan berusaha menyambar tubuh Tania akan tetapi Tubuh Tania sudah lebih dulu jatuh menggikuti Arus yang deras.


"Aaaaaaa..... Caolin....!" teriak Tania ketiika tubuhnya sudah terjatuh.


"Taniaaaaaa....! teriak histeris dari Caolin yang kecepatan nya sedetik lebih cepat dari jatuhnya tubuh Tania.


"Pyaaaaarrrr.....!" sebuah gelas berisi angur yang ada di depan Pangeran Tatius tiba-tiba jatuh tak sengaja.


"Pangeran Tatius...kau tidak apa-apa?" kenapa bisa sampai jatuh pegang gelasnya.


"A-aku tidak tau, perasaanku tiba-tiba tidak enak,aku harus mencari Caolin dan Tania aku khawatir ada apa apa dengan mereka?" ucap pangeran Tatius dengan gugup dan tubuh sedikit bergetar.


Sein Zee tersenyum masam.


"Pangeran Tatius terlalu berlebihan, itu bukan perasaan takut dari Pangeran Tatius tapi perasaan kangen saja ingin selalu dekat,"jawab Sein Zee dengan senyum tertahan di mana bibirnya tersenyum memuji dengan menggatakan Kalau pangeran Tatius lagi kangen saja akan tetapi hatinya mengumpat dalam hati yang mana Sein Zee merasa muak setiap kali Pangeran Tatius menyebut nama gadis itu.


"Mungkin kau benar, Sein Zee mungkin aku terlalu berlebihan, bagaimana tidak berlebihan aku sangat sayang padanya bisa bisa dunia ku berakhir jika terjadi sesuatu padanya," ucap Pangeran Tatius sambil tertawa.


Di mana Sein Zee, terpaksa juga ikut tertawa, meskipun hatinya sangat sangat sakit melihat orang yang sangat dia cintai mencintai gadis lain.


Di tengah-tengah kedua nya antara Sein Zee dan Pangeran Tatius lagi Tertawa, datang lah Caolin dengan berteriak teriak dari jauh.


"Pangeran Tatius.....!"


"Pangeran....!"Seru Caolin dengan suara keras yang mana langsung membuat tawa pangeran Tatius terhenti begitu juga dengan Sein Zee.


"Apa? ada apa, Kenapa kau berteriak teriak dan Ma-mana.... Tania, di mana dia tanya pangeran Tatius dengan hati yang mulai gusar dan resah.Melihat wajah Caolin yang datang dengan menunduk membuat Pangeran Tatius bangkit dari duduknya dan mengguncang nguncang kan bahu Caolin.


"Katakan..? Dimana Tania...!"bentak Pangeran Tatius yang masih dengan menguncang guncang kan bahu Caolin membuat tubuh Caolin semakin bergetar dan Sein Zee tersentak kaget, seorang Pangeran yang selalu bersikap ramah dan lembut kini terlihat sangat galak dan menakutkan wajahnya merah padam dan terlihat jelas jika dia sedang marah.


"Ta-tania...


"Iya, Jawab cepat! dimana Tania....?"


"Ta-tania....


"Pangeran jangan kasar pada Caolin dua sudah gugup begitu," ucap Sein Zee mencoba meredam amarah dari pangeran Tatius.


"Diam kau....! jangan ikut campur dan kau Caolin cepat jawab...!!!


Suara pangeran Tatius yang keras dan menggelegar bagaikan Guntur dapat di dengar dengan jarak dua puluh meter.


Sudah bisa di bayangkan betapa keras nya suara dari pangeran Tatius, bahkan beberapa warga Vampire yang ikut mendengar pun tercengang tak percaya dengan sikap pangeran Tatius kali ini.


Seorang Pangeran yang ramah dan lembut ternyata mampu dan bisa juga bersikap sangat galak kasar dan menakutkan dan semua itu karena seorang gadis dari bangsa manusia.


Tubuh Caolin semakin menggigil dia tidak pernah membayangkan akan di Bentak bentak Pangeran yang ramah dan tampan dengan seribu pesona nya.


Teriakan amarah dari pangeran Tatius yang menggelegar sampai juga di telinga Devan dan Clara yang ketika itu sedang menikmati jamuan makan. Mendengar hal itu Devan langsung melempar piring yang ada di depannya dan meloncat mendekati tempat dimana pangeran Tatius sedang marah marah yang kemudian di ikuti Clara di belakangnya.


"Jawaaab...! teriak Pangeran Tatius untuk yang kesekian kali.


melihat ke murkaan Pangeran Tatius Sein Zee berkali kali harus menelan ludahnya dengan kasar, bahkan nafas yang tadinya teratur seakan ikut macet mendadak menahan nafas.


"Tak pernah ku bayangkan sebesar ini kemarahan dari Pangeran Tatius, itu artinya Pangeran Tatius sangat mencintai gadis itu," Gumam Sein Zee dalam hati yang untuk kesekian kalinya menelan ludahnya dengan kasar dengan nafas sedikit tertahan.


Air mata mulai mengalir deras di pipi gadis cantik bernama Caolin, dia benar benar sangat ketakutan hari ini melihat kemarahan dari Pangeran Tatius andai bisa mungkin lebih dan lebih baik Caolin memilih untuk pingsan saja, agar tidak melihat Amarah yang menakutkan dari pangeran Tatius.


"Tania....terbawa Arus sungai Pangeran, aku tidak sempat menyambar tubuhnya aku....


Belum selesai Caolin bicara pangeran Tatius sudah mendorong tubuh Caolin hingga jatuh kemudian dengan cepat melesat terbang ke arah sungai di mana Tania terbawa arus.