
Di dasar hati yang paling dalam sesungguhnya Ayah Tania sangat berat melepaskan putri kesayangannya untuk Pemuda yang ada di depannya, Karena dia tau Putri nya tidak mencintai pemuda ini, akan tetapi setiap manusia harus bisa membalas Budi di mana Karena bantuan dan pertolongan Pemuda inilah Nyawa Tania bisa di selamatkan, mau tidak mau Tania juga harus belajar ihklas tidak boleh egois hanya mementingkan kebahagiaan nya sendiri, karena cinta yang tulus tidak harus saling memiliki.
Ayah Tania menepuk bahu Devan dengan lembut.
"Ini sudah malam lebih baik Nak Devan menginap saja di sini, ada kamar tamu yang kosong yang bisa Nak Devan tempati, apa Nak Devan mau?"
"Tentu saja mau sangat mau sekali,"
"Baiklah pergilah ke kamar mu dan beristirahat lah, pasti Nak Devan juga sangat lelah."
Tanpa membantah Devan mengaggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju kamar tamu, hatinya begitu berbunga bunga sampai sampai di dalam kamar Devan melakukan gerakan seperti orang yang sedang meninju, kedua tangan nya mengepal kuat kemudian secara bergantian di arahkan ke atas langit langit kamar.
"Yes.....! aku mendapat kan lampu hijau dari bapak calon mertua." Seru Devan girang yang mana kemudian Devan menjatuhkan tubuhnya di atas Ranjang yang tidak begitu luas juga tidak begitu sempit tapi sangat bagus dan nyaman menurut Devan.
Sementara sang Ayah masuk ke dalam kamar Tania, duduk di tepi Ranjang menunggu Tania bangun dari tidurnya. Bibir nya Tersenyum bahagia dia benar-benar merasa bagaikan mimpi jika Putri kesayangan nya ternyata masih hidup.
"Pasti Tatius akan senang jika tau Tania masih hidup dan pastinya Tatius akan kecewa dengan keputusan ku tapi semua harus dia terima bukankah cinta yang tulus itu butuh pengorbanan dan Tatius harus bisa belajar melupakan Tania begitu juga dengan Tania dia juga harus belajar berkorban demi cinta, Ayah sangat bangga padamu Nak, pasti lah kau akan bisa dengan ihklas menjalani semuanya, kau harus belajar mencintai orang yang telah rela berkorban demi keselamatan mu Nak," lirih sang Ayah sambil membelai lembut rambut Putri kesayangan nya hingga tak terasa Sang Ayah pun ikut tertidur di kursi di dekat Ranjang Tania.
Malam semakin larut udara dingin semakin berkibar kibar menggikuti arah angin, perlahan lahan Tania membuka matanya dia terjaga dari tidur setelah sekian jam tertidur dari sore hari, Tania terjaga karena bunyi perutnya yang keroncongan.
"Hoaaaamm.....! masih ngantuk tapi aku sangat lapar apa Ayah sudah pulang," lirih Tania yang berusaha membuka lebar kedua matanya dan ketika semua terlihat sangat jelas, Tania mengeryitkan dahinya.
"Ayah ...!" kenapa tidur di kursi dan aku kenapa pula aku bisa berada di dalam kamarku apa Ayah yang membawaku atau Devan, lebih baik aku bangunkan Ayah, tidak-tidak Ayah sangat lelah kasian kalau aku bangunkan lebih baik aku biarkan saja Ayah tidur, aku lapar aku mau ke dapur untuk makan."
Bergegas Tania keluar dari kamar tapi sebelum itu Tania memberikan selimut pada sang Ayah.
Suasana gelap dan sepi hal itu terjadi karena hari sudah malam dan semua lampu di matikan, Ayah nya seorang laki-laki sangat hemat di mana jika tidak di perlukan semua lampu pasti di matikan.
Setelah menyalahkan lampu untuk ruang tamu dan lampu dapur Tania segera membuka tempat makanan karena perutnya sangat lapar, di sisi lain Devan yang harus juga sedang keluar kamar menuju dapur, ketika pandangan matanya melihat Tania di dapur Devan segera menghampiri gadis yang sebentar lagi pasti akan menjadi istri nya, Devan sangat yakin jika Ayahnya Tania sudah memberikan ijin sudah bisa di pastikan Tania pasti akan menggikuti dia tidak akan pernah menolaknya.
Diam-diam Devan meneguk ludahnya bayangan kebahagiaan sedang menari nari di depan matanya.
"Tania sedang apa kau?"
Tania yang tadinya seorang diri menjadi tersentak kaget mana kala Devan sudah berdiri di samping nya.
"Kau..hei.. kenapa kau belum pulang ini kan sudah malam."
Devan Tersenyum nyengir mendengar perkataan dari Tania.
"Ayahmu yang meminta agar aku bermalam disini,"
"Wah.... tumben Ayah mengijinkan mu, kamu kasih suap ya?" tuduh Tania pada Devan.
Sampai beberapa menit Devan menunggu tidak ada reaksi apapun dari Tania bahkan terlihat gadis itu sedang sibuk mengunyah makanan di dapur.
"Kenapa diam saja, kira-kira Tania mau tidak,a menjadi istriku, duh jadi tidak sabar menunggu hari esok.
****
Di tempat lain, di mana malam juga mulai merangkak Naik tampak di dalam kamar Pangeran Tatius dan paman patih lembu ireng sedang bicara serius.
"Paman sekarang waktunya, aku akan pergi dari ragaku, apa paman sudah siap."
"Iya, pangeran! aku siap, Pangeran harus berhati-hati karena aku khawatir jika benar Nenek pangeran tidak suka maka dia akan selalu mengawasi Pangeran."
"Tenang saja paman aku akan berhati-hati," ucap Pangeran Tatius seraya duduk bersila untuk bersiap siap keluar dari Raganya.
Paman patih lembu ireng mengamati setiap gerak gerik dari pangeran Tatius hingga beberapa saat kemudian keluar lah cahaya kuning dari tubuh Pangeran Tatius yang kemudian melesat terbang keluar melalui atap langit kamar.
Tidak menunggu lama cahaya kuning sudah sampai di belakang Rumah di mana terdapat bangunan Rumah yang tidak memiliki pintu, cahaya kuning itu terus Naik ke atas melalui celah yang ada.
Sampai di dalam Ruangan pangeran Tatius melihat ada dua buah kamar dengan satu ruang tamu.
" Aromanya lebih kuat di sini kalau begitu aku akan melihat ke dalam kamar yang ini."Roh pangeran Tatius masuk ke dalam kamar yang di rasa memiliki Aroma kuat tentang keberadaan Kekasih nya.
Pandangan pangeran Tatius tidak berkedip melihat Ranjang di mana ada satu helai Rambut panjang yang tertinggal di sebelah bantal.
"Ini Rambut Tania aku harus mengambilnya tapi bagaimana caranya bukankah aku datang kemari tanpa raga otomatis aku tidak akan bisa menyentuh apapun, tidak apa-apa besok aku akan kesini untuk mengambilnya, aku yakin ini Rambut Tania mana mungkin Nenek berambut panjang dan hitam, Rambut Nenek pasti dah banyak yang putih."gumam pangeran Tatius dalam hati.
"Sekarang aku yakin Tania benar-benar masih hidup lalu mengapa dia bisa berada di dalam Rumah Nenek, tunggu aku ingat sekarang ketika aku pertama kali Datang Nenek membuka pintu dengan menyebut nama Devan apakah kehadiran Tania di Rumah ini karena di bawa Devan."Ketika pangeran Tatius sibuk bermonolog sendiri tiba-tiba pintu kamar di buka dari luar.
"Ada yang datang aku harus bersembunyi, hei untuk apa juga aku bersembunyi kan aku tidak menggunakan Raga, lebih baik aku diam dan lihat siapa yang datang dan mau apa dia masuk ke dalam kamar ini."desis Pangeran Tatius..
Tak menunggu lama pintu pun terbuka munculah sosok wanita tua sedang berjalan mendekati Ranjang Tania, sementara pangeran Tatius memperhatikan apa yang dilakukan Neneknya dengan seksama.
Tiba-tiba Sosok wanita tua yang ternyata adalah sang Nenek diam tak bergerak wajahnya menatap nanar pada cahaya kuning yang ada di sampingnya kirinya
"Astaga, Nenek menatap kearah ku apakah Nenek menggenaliku, tidak tidak itu tidak mungkin, mungkin hanya kebetulan saja," hibur pangeran Tatius dalam hati.
Sedangkan sang Nenek diam terpaku menatap cahaya kuning yang ada.
"Cahaya apa itu, mengapa ada di sini dan bagaimana mungkin di kamar ini tiba-tiba ada cahaya, ini sangat mencurigakan, " lirih sang Nenek dalam hati.
"Aku akan mengawasi cahaya itu dari jauh sekarang aku akan balik ke kamarku, biar cahaya itu mengira aku kembali dan tidak mencurigai nya