
Para pengawal segera mencari kembang tujuh rupa dan menaruhnya di baskom berserta lilin yang sudah di nyalakan, setelah semua siap para pengawal itupun melangkah pergi kembali berjaga di luar puri. Sementara Raja Sangkala segera duduk bersila dan melakukan ritualnya dengan mulut komat Kamit membaca mantra Raja Sangkala mulai melakukan pemanggilan sukma.
"Wahai jiwa pemilik raga pangeran Tatius yang tertidur, datang lah.... datang lah....aku memanggil mu,"
********
Jauh di sudut hutan belantara angin berhembus sangat kencang menusuk ke dalam tulang sumsum, pangeran Tatius yang asik beristirahat tiba-tiba mendengar suara panggilan yang membuat dia bingung mencari, sementara pangeran Yervan dan patih lembu ireng yang sudah tidur dan merebahkan dirinya masing masing, dengan segera pangeran Tatius melangkah sedikit menjauh dan duduk bersila, dengan sekejap mata bayangan warna keemasan keluar dari dalam raga pangeran Tatius, sementara Patih lembu ireng yang tak sepenuhnya tertidur tersentak kaget ketika dari dalam diri pangeran Tatius keluar cahaya kuning keemasan.
"Cahaya apa itu?" kenapa bisa keluar dari dalam tubuh pangeran Tatius,"
Patih lembu ireng yang penasaran segera mendekati dan dengan lirih memanggil nama pangeran Tatius.
"Pangeran..! pangeran!
Karena tidak ada jawaban dan pangeran Tatius masih dalam keadaan bersila tanpa bergerak, patih lembu Ireng baru menyadari jika sesungguhnya pangeran Tatius telah keluar dari dalam raganya.
"Hebat, masih muda tapi sudah memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi lalu siapakah guru dari pangeran Tatius itu,"
Patih lembu ireng yang penasaran sibuk bertanya dengan dirinya sendiri, sementara cahaya kuning keemasan itu melintas secepat kilat menuju ke dalam sebuah kerajaan yang keberadaannya sedikit cukup jauh dari hutan di mana raga pangeran Tatius tertinggal di sana.Cahaya kuning keemasan itu menembus tembok dan berputar putar di dekat sebuah baskom berwarna putih yang tiba-tiba airnya bergolak.
"Apa, kau sudah datang pangeran?"
"Iya, kakek, ada apa kakek memanggilku,"
"Kakek, membutuhkan bantuan mu pangeran, karena hanya engkaulah yang bisa nembantu kakek,"
"Bantuan apa yang kakek mau dari saya,"
"Ibunda pangeran Ratu Shima tidak ada di tempat, kami tidak bisa melacaknya tolong pangeran Tatius bantu kami menemukan nya dengan menggunakan ilmu Indra penciuman sajagat brantasa."
"Baiklah, kakek! aku akan mencari ibunda Ratu Shima sekarang juga,"
Dalam waktu sekejap bayangan dari cahaya kuning keemasan itupun, melesat pergi ke luar kamar.
******
Di tempat lain Ratu Derbah yang sangat bahagia karena telah mampu menahan Ratu Shima bernyanyi nyayi kecil memasuki Puri kediamannya. Lampu yang tidak menyala pertanda bahwa tidak ada seorang pun di dalam kamar itu, dengan segera Ratu Derbah membuka pintu dan menyalakan lampu, alangkah terkejutnya dia ketika lampu sudah menyala, Ratu Derbah mendapati sang Raja sudah duduk dengan melipat kedua tangannya.
"Ra-Raja! sejak kapan Raja ada di sini?"
" Baru saja Ratu dan Ratu sendiri dari mana? kenapa malam baru ada di Puri,"
"E...mm, saya ...!saya dari jalan jalan di sekitar sini Raja, di Puri bosan,"ucap Ratu Derbah bohong.
"Oh,begitu ya, apakah Ratu tidak tau jika Ratu Shima tidak ada di Puri istana nya,"
Mendengar perkataan Raja yang menyinggung Nama Ratu Shima tiba-tiba Ratu Derbah terbatuk-batuk.
"Uhuk..uhuk....!"
"Kau, kenapa, cepat minum,"
" Eh, iya tidak apa-apa Raja, aku hanya sedikit tidak enak badan saja,"
"Baiklah, aku akan biarkan kau beristirahat agar badanmu besok bisa lebih segar,"
"Trimakasih, Raja,"
"Tapi kamupun harus tau siapapun yang menyakiti Ratu Shima, dia akan berhadapan langsung dengan ku,"
Perkataan Raja Awang Awang Vampire benar benar membuat Ratu Derbah bergidik tatapan tajam dan seolah olah ingin membunuh membuat nya mengeluarkan keringat dingin.
"Ti-tidak, Raja aku hanya kecapekan saja,"
"Baiklah Ratu Derbah, kau boleh istirahat, ku harap kau tidak terlibat dengan hilangnya Ratu Shima, karena jika hal itu terjadi maka kau akan menerima hukuman nya,"
"Aku mengerti Raja,"
"Bagus, selamat tidur Ratu permaisuri ku,"
"Trimakasih, Raja,"
Setelah kepergian Raja Awang Awang Vampire dari dalam kamar Ratu Derbah menarik nafas lega.
"Hampir saja, bagaimana ini, kenapa Raja bisa tau secepat ini, jika Ratu shima tidak ada, gawat apa yang harus aku lakukan, kalau sampai Raja tau akulah dalangnya maka tamatlah riwayatku, sekarang aku harus bagaimana?
Ratu Derbah mondar mandir di dalam kamarnya dia sibuk berfikir, apa yang harus dia lakukan.
Sementara bayangan cahaya kuning keemasan sudah sampai dan mengitari sebuah bangunan tua yang sepertinya tidak pernah ada penghuninya, bayangan itu terus berputar putar sebelum melesat masuk ke dalam.
"Ibunda Ratu!"saya datang...Ibunda Ratu! lihatlah saya ada di sini," seru pangeran Tatius memanggil ibunya, akan tetapi sang ibu tak sedikitpun bergeming, pangeran Tatius baru menyadari jika dia menemui ibunya dengan pelepasan Sukma tanpa raga sehingga sudah barang tentu Ratu Shima tidak akan bisa mendengar maupun melihat. Menyadari hal itu dengan cepat cahaya kuning keemasan itu pun segera meninggalkan ruangan itu.
"ini sangat menjengkelkan sekali aku harus kembali mencari tempat yang lebih aman dan tidak boleh di sekitar istana ini, Ratu Shima kau benar benar merepotkan," dengus Ratu Derbah kesal.
Langkah kakinya yang cepat sudah sampai di dalam gedung bangunan tua.
"Pengawal cepat buka jeruji besi itu?"
"Baik Ratu,"
Bergegas para pengawal itu membuka jeruji besi di mana Ratu Shima di tahan.
"Pegang kuat kuat, aku harus memberikan dia minuman yang bagus untuk kesehatan nya."
"Baik, Ratu,"
"Buka, mulutmu, Ratu Shima ayo makan obat ini,"
"Cuihh....aku tidak sudih, kau benar benar wanita iblis Ratu Derbah,"
"Apa?"aku wanita iblis,"
Ha ..ha. .ha..ha ..!apa kau pikir saat ini kau bisa melawan ku, jangan bermimpi Ratu Shima, kedua tanganmu sudah teratai besi dengan gembok yg cukup sulit di buka lalu bagaimana caramu bisa menolak pemberian ku,"
"Dasar wanita licik, lepaskan aku , mari kita bertarung secara adil dan jantan,"
"Ha ..ha ..ha. ..ha ..ingin bertarung dengan mu, oh ...oh...oh...aku takut ha...ha..ha...ha .Aku tidak sudih bertarung dengan mu Ratu shima, ayo buka mulut mu cepat minum obat ini,"
"Tidak ..aku tidak mau, cuiuuuuh."
"Brengsek, kau berani meludahiku terimalah ini,"
"Plaaaaakkkk...plaak....plakk..!"
"Auuuuuh, sialan kau," teriak Ratu Shima.
"Pengawal pegangi cepat aku mau memasukkan obat ini sekarang juga."
"Baik, Ratu,"
Karena tangan terikat dengan rantai dan mulut pun di pegang kuat untuk terbuka maka dengan mudah Obat dari Ratu Derbah masuk ke dalam mulutnya dan tidak menunggu berapa lama hanya dalam hitungan detik tubuh Ratu Shima pun jatuh terkulai di tanah. Melihat Ratu Shima sudah terkulai tak berdaya dengan cepat Ratu Derbah mengangkat nya dengan di bantu para pengawal mencari tempat persembunyiannya yang lain untuk Ratu Shima.