
Nenek segera pergi meninggalkan kamar Pangeran Tatius ketiika melihat kemesraan dan kemanjaan Pangeran Tatius pada Raja sang kala sang Kakek.
Dengan merebahkan diri di pangkuan sang Kakek akhinya Pangeran Tatius terlelap juga.
Sementara di tempat lain di sebuah Rumah yang tidak begitu besar dan juga tidak begitu kecil tampak lampu masih menyala dengan terang, hiruk piuk beberapa orang di dalam Rumah itu masih ada.
"Kau belum tidur Nak?"
"Ayah, masih belum mengantuk Yah,"
"Ini sudah malam Tania, ayo cepat tidur, lihat tuh para tetangga yang membantu dan menginap di Rumah kita sudah pada tidur."
"Belum bisa tidur Ayah, Tania belum ngantuk."
"tapi ini sudah malam Nak, bukankah besok hari pernikahan mu, kamu harus cepat beristirahat agar besok bisa terlihat segar.
"Ayah tidak usah mengkhawatirkan Tania, sudah pasti Tania akan segar, lebih baik Ayah tidur saja , sebentar lagi Tania juga akan tidur,"
Sang Ayah tersenyum mendengar perkataan putrinya, sungguh sikap yang kuat biasa hebatnya di luar terlihat begitu tegar dan tabah akan tetapi di dalam dia begitu rapuh dan tersiksa.
"Baiklah," Ayah Tania melangkah meninggalkan kamar Tania dia tau Putri nya tidak bisa tidur mungkin besok adalah hari terindah bagi setiap insan yang akan menikah, bahkan menangis bahagia, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi dalam diri putri nya, karena esok adalah hari dimana duka nestapa hidupnya, karena dia akan mengabdikan hidupnya pada orang yang tidak sama sekali di cintai nya.
Di dalam kamar sendiri Tania menatap langit melalui jendela kamarnya yang terhalang dengan kaca
"Apakah Tatius sudah tidur, apakah dia bisa tidur, tidakkah dia ingin menemuiku atau memang sudah tidak sudih lagi bertemu dengan ku, kita para manusia hanya mampu berharap tapi selebihnya tetap takdir yang akan memutuskan nya. Kenapa Aku harus menyalahkan takdir bukankah semua ini terjadi karena Aku sendiri yang salah, semua tidak akan pernah terjadi jika saat itu Aku tidak egois dengan kecemburuan ku sehingga Aku kesal dan memilih pergi diam-diam, yang akhirnya justru aku memiliki nasib buruk dan beruntung Devan menolong ku, coba kalau tidak pasti Aku sudah tidak ada di bumi ini, dan jika ada yang patut disalahkan atas semua ini, itu adalah Aku dan jika Tatius mau marah seharusnya itu yang benar karena Aku menghancurkan Cinta yang sudah lama kami Bima, Aku lah yang bersalah, Akulah yang harus bertanggung jawab atas luka dan derita yang di rasakan Tatius, Aku mau minta maaf, Tatius datang lah, Aku menunggu mu, Aku tidak bisa hidup tenang sebelum Aku Meminta maaf padamu."seru Tania dalam Isak tangis nya, Air mata yang dia tahan agar tidak jatuh akhir nya jatuh juga.
"Praak..!" sebuah batu kecil menghantam jendela.
"Hei, siapa itu?"
"Tania... buka jendela nya.ini Aku "
Tania yang tadinya menanggis tiba-tiba diam, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Dia datang, Tatius datang," seru Tania girang dengan cepat di usapnya sisa sisa airmata nya dan dengan cepat membuka pintu jendela kamarnya.
"Turunkan tangga nya aku tidak bisa Naik ke atas tanpa kau turunkan tangga kesini." seru suara laki-laki dari luar.
"Hei, sejak kapan kau mau pakai tangga,"
"Ya Kalau gak pakai tangga mau pakai apa, terbang emangnya Aku punya sayap apa?" sunggut seorang pemuda berkacamata.
Tania membulat kan kedua bola matanya ketika mengetahui siapa yang datang.
"Dodi.!" ngapain Lo ada disini.
"Pertanyaan bodoh tentu saja untuk menemuimu."
"Aku tau kau mau menemuiku, tapi buat apa!,"
"Buat menemanimu untuk yang terakhir kali, Besok kamu sudah jadi istri Devan si jelek itu jadi Aku tidak bisa lagi bersamamu ini yang terakhir kali kita bisa bersama jadi Aku akan menemani kamu tidur."
"Busyet, Aku tidak maulah kamu temani, pergi sana kita bukan muhrim."
"Tania tega kau menggusirku, Aku yakin jika yang datang Tatius kamu tidak akan menggusirnya, kamu akan betah berlama-lama dengan nya, tapi dengan ku kenapa kau jahat sekali, Aku tidak melakukan apa-apa, Aku hanya mau kita menghabiskan malam dengan memandang mu, Apa kau tidak tau jika Aku sangat menyayangi mu, tapi Aku sadar hatimu mencintai Tatius dan Aku suka jika kamu bahagia lalu apakah Aku salah jika untuk malam ini biarkan Aku menatapmu sepuas ku, karena besok kamu sudah menjadi milik Devan." gram Dodi kesal.
Tania meneguk ludahnya Mendengar celoteh Dodi.
"Bukannya Begitu, masak kita tidur seranjang."
"Aku senang dan tidak masalah tapi jika Ayah tau bagaimana?"
"Aku akan bersembunyi,"
"Baiklah terserah kamu, tapi ingat jangan macam-macam."
"Aku tau Tania kamu jangan khawatir kalau bersama ku ya f seharusnya kamu khawatir kan jika Tatius ada disini menemanimu, dia bisa macam-macam padamu karena dia kekasih mu bisa jadi dia mau memiliki kamu sebelum kamu jadi milk Devan."
"Husst, ngomong apa kamu Tatius tidak akan begitu."
"Siapa yang bisa jamin, kau sudah melukainya dan Tatius juga orang normal bisa jd hatinya yang terluka trus kemudian membawa mu kabur dari sini dan untuk mencegah itu aku akan jadi penjaga mu."
"Ishh, bicara mu ngelantur, awas berani bicara lagi Aku pukul kamu."
"Hahaha, memang begitu dan bisa jadi akan begitu,"
"Dodi.... awas kau," karena kesal dengan ucapan Dodi Tania bermaksud memukul Dodi dan Dodi yang tidak mau mendapatkan pukulan segera berlari menghindar, maka terjadilah aksi kejar-kejaran.
"Tok..tok..tok..!"Tania, ada apa Nak? kenapa di dalam berisik sekali buka pintunya Nak Ayah mau masuk."
Tania dan Dodi yang sama sama Mendengar langsung berhenti dan saling pandang.
"Ayah, bagaimana ini?desis Tania gusar.
"Tunjukkan tempat Aman untuk Aku bersembunyi."
"Cepat-cepat masuk ke sana," teriak Tania, diam ya jangan berisik biar Ayah tidak tau.
"Ok, Aku bisa dipercaya kok," Ucap Dodi sambil tersenyum nyengir.
Merasa semua sudah Aman dan Dodi sudah bersembunyi, Tania buru-buru membuka pintu kamarnya.
"Ayah, ada apa?"
"Suara apa tadi itu, kenapa berisik sekali."
"Suara apa sih Yah, ngak ada apa-apa kok disini mungkin Ayah salah dengar barangkali."
"Masak iya, Ayah salah dengar, Tania apakah Tatius datang kesini,"
"Mana ada, Tatius ke sini Ayah, dia sudah sangat marah dan benci padaku jadi tidak mungkin Tatius kesini.
"Ayah khawatir Tatius kesini dan membawamu lari, untuk itu Ayah akan menjagamu dan tidur disini.
Mendengar perkataan dari sang Ayah Tania langsung membulat kan kedua bola matanya dan hal yang mengejutkan juga terjadi pada Dodi ketiika mendengar Ayah Tania juga mau tidur di kamar Tania akibatnya Karena terkejut Dodi pun keluar dari persembunyiannya dan komplin pada Ayah Tania.
"Om Kenapa harus tidur disini,"
Sontak saja Tania dan sang Ayah terkejut.
"Dodi...!"kau juga ada di sini?"tanya Ayah Tania terkejut sedangkan Tania menjetit jidatnya.
"Astaga Dodi kenapa Lo keluar, jadi ketauan dah lalu apa gunanya kamu tadi bersembunyi."seru Tania kesal bercampur dengan gemas tidak bisa di salahkan sih semua karena Dodi Pemuda yang keterbelakangan mental jadinya Ayah Tania dan Tania sendiri memaklumi, akhinya mereka tertawa bersama.
"Sudah Dodi kamu ikut Om, tidur di luar dan kamu Tania jangan pernah ikut Tatius jika dia datang jangan buat Ayah kecewa dengan sikapmu.
"Iya Ayah, Tania mengerti jangan khawatir Tatius tidak akan datang."Ucap Tania dengan hati sesak bagaimana tidak di dasar hatinnya yang paling dalam Tania mengharapkan agar Tatius datang meskipun hanya sekejap saja, setelah kepergian sang Ayah dan Dodi, Tania Kembali menatap keluar jendela berharap melihat sosok Pangeran Tatius yang sangat dicintainya tapi harapan tinggal harapan hingga menjelang hampir pagi yang ditunggu tidak juga datang hingga lelah dan akhirnya Tania tertidur di kursi dengan sisa sisa air mata menetes di pipi.