The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 140.KESAL



Setelah kepergian Tania pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar.


"Memang harus sedikit keras menghadapi gadis seperti Tania ini, kenapa juga masih selalu dekat dengan anak itu, apa dia ngak tau aku cemburu, rasanya ingin menampar itu bocah berani beraninya pegang pegang tangan Tania segala dan Tania kenapa pula tak menolak apakah benar di antara mereka ada hubungan Araaaaaagggghhhh.... perduli setan semua itu, yang penting Tania akan jadi milikku tidak ada yang boleh mendekati nya begitu juga mahkluk si bau busuk itu berani sekali mau menjadikan Tania miliknya, hufff...aku harus selalu berada di dekat Tania tak kan kuberikan kesempatan pada siapapun untuk bisa mendekati nya." Gumam pak guru Wili dalam hati.


Sesuai permintaan pak guru Wili ketiika jam pelajaran berakhir dan sudah pulang Tania berdiri di depan pintu gerbang sekolah menunggu pak guru Wili, rasanya sangat malu ketika beberapa temannya menatap nya dengan pandangan yang sangat aneh seolah olah sedang mengejeknya di saat mobil pak guru Wili berhenti tepat dihadapan nya.


"Hei..lihat tuh cewek bar...bar..lagi nunggu mangsa baru."cletuk salah satu di antara ketiga gadis berseragam abu abu yang lagi jalan bersama.


"Iya dia kok ngak malu ya.... kemarin ngrayu Devan sekarang guru nya pun di embat juga."


"Iya, dia gadis murahan pasti sering jadi pemuas Om..Om...! kan maklum saja dia anak yang tidak dididik ibu, jadinya kacau tuh anak."


"Benar benar Tania gadis yang tak punya harga diri."


"Betul betul tuh anak....eh aku ada rencana bagus nih."


'Apa?"


"Sssssttt... jangan disini, ayo kita bicara di sana muak aku melihat Tania yang melotot ke sini."


Segera gadis berbaju abu abu mengajak kedua temannya menjauh dari tempat itu.


Pak guru Wili yang melihat Tania masih berdiri dan tatapan matanya yang lurus ke depan mulai gusar.


"Tania...!" ayo, cepat masuk."seru pak guru Wili ketika Tania hanya bengong saja dan tidak segera naik ke dalam mobilnya yang mana pak guru Wili melihat Tania menatap ketiga gadis di depannya yang sedang bergosip.


Ketika pak guru Wili memanggil nya barulah Tania tersadar dan tersentak kaget dia baru menyadari jika dirinya masih saja berdiri terpaku di depan, dengan sangat malas Tania membuka pintu dan duduk di samping pak guru.


Wajah cantik Tania yang terlihat kusut dengan raut wajah yang sangat masam membuat pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan lahan.


"Apa yang kamu pikirkan."Tanya pak guru Wili yang mulai ikut gelisah dengan perubahan raut wajah Tania yang begitu kusut, rasanya tak tega melihat gadis nya murung.


Tania menoleh ke arah pak guru Wili tapi tak berniat menjawab pertanyaan nya, Tania justru menatap lurus kedepan dengan bibir mengkrucut.


"Ayolah, bicara jangan mayun begitu."ucap pak guru Wili dengan senyum tersungging di bibir berharap Tania mau terbuka.


"Apa pak guru Wili tidak lihat anak anak tadi, mereka itu menggosipkan aku bagai mereka aku gadis murahan tau!"Sungut Tania kesal wajahnya tak lagi memperlihatkan keceriaan yang ada hanya kekesalan dan anarah. Lagi-lagi pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan dengan hati-hati pak guru Wili meminggirkan mobilnya yang saat itu sedang berjalan, dengan sangat lembut di raihnya tangan Tania, membuat Tania sedikit terkejut dan dengan gerakan refleks Tania menarik tangan nya.


"Jangan pegang pegang..!" seru Tania kesal.


Melihat sikap Tania lagi-lagi pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar ada rasa sedih ketika Tania menarik paksa tangan yang ada dalam genggaman nya.


"Jangan pikirkan mereka, lagi pula kamu itu calon istriku siapa yang akan berani bicara macam macam biar ku bungkam mulutnya dan kamu Tolong jangan berfikiran negatif belum tentu kok mereka menggosipkan mu."


"Oh, ya!"pak guru Wili sih enak, ngak bakalan dapat gosip apa apa, tapi aku ..aku pasti di tuduh wanita murahan." teriak Tania kesal.


"Ok, ok...slow, jangan emosi begitu baiklah begini saja agar tidak ada yang berani menggosipkan mu bagaimana kalau kita cepat cepat menikah saja."ucap pak guru Wili memberikan saran membuat Tania mendelik seketika.


"Apa?" menikah!"Pak...Bapak ini sadar tidak sih aku itu masih sekolah, SMA saja belum lulus sudah mau di ajak nikah aku masih punya cita cita yang tinggi dan aku masih Ingin melanjutkan kuliah, aku tidak mau menikah muda dan kehilangan masa remaja ku hanya karena menikah." teriak Tania geram dia benar benar tak habis pikir orang seumuran Ayah nya masih saja nenggejar ngejar gadis belia seperti nya bukankah seharusnya Gurunya itu cocoknya dengan Bu Ida, Bu Rini semua guru wanita yang masih jomblo, bukan malah ngejar ngejar muridnya hufff, dasar guru Tua tua keladi semakin tua smakin tak sadar diri." Desis Tania dalam hati.


"Terserah.!"orang sudah tahu sudah lihat kok sekarang baru ngajak ketemu sembuyi sembuyi ngak ngefek tauk."


"Yaaah, salah lagi." keluh pak guru Wili bingung.


"Drrt....Drrt...Drrt..!"


Melihat ponsel hp nya bergetar Tania segera meraih dan hendak mrngaggkat nya tapi dengan cepat ponsel hp dalam tangan Tania sudah berpindah ke tangan pak guru Wili.


"Berikan, itu ponselku."teriak Tania.


"Ini..!" pak guru Wili memberikan ponsel hp Tania setelah mematikan panggilan telpon dan mematikan hp Tania.


Tania sangat geram melihat perilaku pak guru Wili yang sudah mulai keterlaluan berani dan lancang mematikan ponsel nya tanpa ijin.


"Kenapa kau Matikan?'


"Biar, tak ada yang telpon dan ganggu lagi." ucap pak guru Wili enteng, Tania mengeram kesal.


"Cepat, kemudikan aku mau pulang." teriak Tania.


"Iya, sabar Nona! jangan marah marah saja cepat tua lho." ledek psk guru Wili sambil tersenyum.Tania tak menggubris semua ucapan guru yang ada di sampingnya.


Hanya menempuh perjalanan satu jam Tania dan pak guru Wili sudah sampai di halaman pintu rumah Tania, dengan cepat Tania keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan pak guru Wili yang masih ada di belakang nya dan menggikuti nya dengan langkah santai.


Sampai di pintu terlihat lah sang Ayah sedang tersenyum pada pak guru Wili yang berjalan dengan santai kearahnya dan senyum nya langsung tersungging ketika melihat calon mertua di depannya.


"Selamat siang pak?"


"Selamat siang juga pak guru Wili mari masuk."Ajak Ayah Tania sopan.


"Apa Tania sikapnya masih belum berubah pak?"


Dengan senyum malu malu pak guru Wili mengagguk.


"Iya, pak!" Tania masih belum bisa menerima.'


"Apa pak guru Wili bisa sabar menghadapi nya, Tania anaknya sangat keras kepala dan pastilah ini sangat menjadi beban untuk Pak Wili."


"Tidak apa-apa, pak!aku sangat mencintai Tania jadi apapun sikapnya saya akan sabar dan bisa menerima."ucap pak guru Wili mantap dengan di sertai senyuman di bibir nya.


"Trimakasih, pak guru Wili bersedia menjaga dan mau melindungi Tania, karena hanya dengan cepat menikah kan Tania maka mahkluk yang selalu menggikuti nya akan pergi, aku tidak tau kenapa hidup putriku sangat menyedihkan, bahkan aku sangat takut apa yang terjadi pada ibu nya akan terjadi pula padanya." Keluh Ayah Tania yang Tatapan matanya mulai menerawang jauh ada guratan luka yang terpancar di wajahnya.


"Jika Bapak tidak keberatan dan mau berbagi cerita saya siap mendengar kan siapa tau dengan bercerita beban hati Bapak bisa sedikit berkurang.


"Pak guru Wili benar, mari kita bicara di teras luar, aku tidak mau Tania mendengar dan mengetahui kisah penderitaan Ibu nya."


Pak guru Wili dan Ayah Tania segera melangkah keluar di mana di teras itu ada kursi yang terbuat dari kayu.