
Pangeran Tatius terus menggamati dengan seksama apa yang dilakukan ketiga orang laki-laki yang berdiri mengelilingi makam kekasihnya, sesuatu yang aneh dan sesuatu hal yang janggal karena mereka datang ke pemakaman di saat hari akan menjelang malam.
Karena pada umumnya para manusia yang berziarah ke makam, mereka melakukan di pagi hari maupun siang dan sore bukan pada saat akan menjelang malam.
"Ini sangat aneh mengapa mereka baru datang ketika senja mulai akan tenggelam. Apa yang dilakukan Ayah Tania sungguh sangat mencurigakan," lirih pangeran Tatius yang terus mengamati dan Melihat dari atas dahan pohon, Wajah Tampan pangeran Tatius membulat seketika ketika kedua bola matanya melihat salah satu dari kedua laki-laki yang bersama dengan Ayah Tania dengan berani mencabut papan nama yang tertulis di batu Nisan.
"Kurang ajar, berani sekali dia mencabut papan nisan Kekasih ku, akan kubunuh kau," geram Pangeran Tatius yang tersulut emosi dan berniat hendak turun dan menyerang pada laki-laki yang dianggap nya telah bersikap kurang ajar.
Akan tetapi lagi-lagi Niatnya dia urungkan Ketika kedua telinganya mendengar perkataan dari Ayah Kekasih nya.
"Bagus..! sekarang ganti dengan yang masih baru dan kosong," seru Ayah Tania memerintahkan kepada kedua orang laki-laki yang bersama nya.
"Kita beri nama siapa Nisan ini tuan?"tanya salah satu laki-laki yang berdiri dengan memegang batu Nisan yang masih putih bersih belum tertera satu namapun.
Untuk sesaat Ayah Tania diam seolah sedang memikirkan sesuatu, Pangeran Tatius yang terus mengamati seakan tidak sabar ingin segera turun dan meminta penjelasan pada Ayah Tania, mengapa batu Nisan Kekasih nya harus dicabut dan di ganti, akan tetapi Niat itu dia urungkan menggingat Ayah Tania tidak suka dan jika melihat dirinya masih berada di tempat itu pastilah akan membuat Ayah Tania marah.
"Kita beri nama melati saja, karena aku tidak tau jasad siapa yang sudah kuburkan di sini."jawab Ayah Tania memberikan penjelasan kepada kedua orang yang mungkin mereka adalah orang bayaran yang di minta untuk membantu nya.
"Baik, Tuan! dengan gerakan sangat cekatan tangan dari salah satu laki-laki menuliskan Nama yang sudah di perintahkan Ayah Tania.
Ketika salah satu laki-laki itu sudah selesai menulis kan satu nama baru di batu nisan dengan di bantu salah satu temannya, laki-laki itu mulai menancapkan batu Nisan dengan nama baru yang mana hal itu membuat Pangeran Tatius semakin geram dan kesal.
Tangan mengepal kuat gigi mengatup rapat dan kedua kaki yang menginjak dahan tanpa sadar dihentakannya membuat dahan akar itupun bergertar dan akhirnya putus jatuh ketanah dan secara otomatis Pangeran Tatius pun ikut terjatuh hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
Suasana yang hampir gelap kemudian tiba-tiba terdengar suara keras dari arah samping jalan yang mana berjajar pohon-pohon rindang, membuat ketiga orang yang ada di tempat pemakaman merasa terkejut dan merinding.
"Bruuugh...!
"Suara apa itu?"seru kedua orang laki-laki yang bersama Ayah Tania secara serentak.
"Mana aku tau, arahnya dari sana ayo kita lihat,"
"Tidak mau, itu pasti hantu yang akan muncul, mungkin Tuan salah memberi Nama dan jasad yang ada di dalam tanah ini murka kemudian muncul dengan memberikan suara yang keras dan menyeramkan seperti itu."
"Husst, jangan sembarangan kau, ayo kita lihat."
"Aku tidak mau Tuan, biar tuan saja yang melihat aku tunggu di sini saja."tolak salah satu laki-laki yang ada di situ.
"Baiklah, Kalau begitu kau saja yang ikut aku untuk melihat ada apa disana."ajak Ayah Tania pada laki-laki satunya.
"Saya juga lebih baik menunggu disini saja Tuan, saya tidak berani."
"Maaf, Tuan! dari pada kami pingsan Nanti akan lebih merepotkan Tuan." ucap kedua laki-laki itu membela diri.
"Dasar penakut, baiklah biar aku lihat sendiri ada apa disana."tukas Ayah Tania yang kemudian bergegas melangkah menuju ke sumber suara di mana sangat berisik dan terdengar sangat aneh, karena di tempat pekuburan yang sunyi di kala hari menjelang gelap tiba-tiba ada bunyi yang tak biasanya.
"Gawat, Ayah kesini aku harus cepat pergi sebelum ketauan." lirih Pangeran Tatius yang melihat Ayah Tania berjalan ke arahnya.
Dengan perasaan berdebar debar dan khawatir ketahuan Pangeran Tatius segera bangkit dari terjatuhnya kemudian hendak terbang melesat menjauh dari tempat itu, akan tetapi langkah kakinya terhalang sebuah rantin Karena ternyata ujung jubah hitam nya terjepit nyangkut di pohon yang tumbang.
"Sial, menganggu saja,"meskipun dengan perasaan kesal Pangeran Tatius berusaha melepaskan jeratan jubah hitam nya yang terjepit dan ketika berhasil dan hendak pergi tiba-tiba satu suara yang sangat di kenalnya sudah berdiri di depan nya.
"Tatius...!apa yang kau lakukan di sini Nak?"wajah tampan sang Ayah Tania bagaikan monster yang tiba-tiba muncul membuat jantung pangeran Tatius hendak meloncat seketika.
"A-ayah...! aku hanya ...
"Katakan Apa dan mengapa kau ada di sini."desak Ayah Tania ingin tahu.
Entah mengapa lidah Pangeran Tatius tiba-tiba terasa susah untuk berbicara rasaanya dia sedang berhadapan dengan seorang hakim yang sedang mendakwah dirinya karena ketahuan berbuat salah.
'
Sementara Ayah Tania menatap tajam dengan wajah tidak suka, bukan apa-apa, Ayah Tania sudah memperingatkan pada Pangeran Tatius untuk tidak kembali datang ke dunia manusia terlebih ke pemakaman putri nya.
Merasa tidak menemukan satu jawaban apapun tiba-tiba Pangeran Tatius teringat akan kecurigaan dan rasa penasaran nya terhadap Ayah Tania yang datang ke pemakaman putrinya di kala hari menjelang petang.
"Ayah, sendiri sedang apa disini dan mengapa papan nama Tania di batu Nisan itu harus Ayah ganti." Tanya Pangeran Tatius kemudian.
"itu karena..? karena aku tidak mau teringat terus pada putriku jadi aku merubah namanya.' jawab ayah tanya asal karena dia sendiri tidak mungkin harus bicara jujur Jika yang ada di dalam pemakaman itu bukanlah putrinya, karena putrinya masih hidup dan tidak mungkin juga Ayah tanya Tania mengatakan dengan jujur Jika Tania masih hidup, jika pada kenyataannya Tania harus menikah dengan orang lain dan semua dia setujui sebagai bentuk balas budi karena pemuda itu telah berkorban demi keselamatan Putri semata wayangnya. "bagaimana kau sudah tahu alasannya bukan, jadi untuk saat ini aku juga meminta padamu lupakan Tania dan Kembali lah ke istana kerajaanmu, aku yakin lambat laun kau pasti bisa melupakan Putriku dan Ayah yakin kau juga bisa menemukan penganti yang lebih baik dari putriku dan kau bisa hidup bahagia di sama." tutur Ayah Tania memberikan penjelasan dan menasehati pangeran Tatius.
"Tapi Ayah aku tidak mungkin bisa kare aku...
"Cukup, Ayah tidak mau mendengar alasan apapun darimu, pergilah karena Ayah juga akan segera pergi dari tempat ini, dengan mengganti nama baru Ayah juga berharap tidak akan sedih dan teringat terus pada putri Ayah, jadi jangan bandel dan membatah pulanglah ke kerajaan istana mu."
Setelah mengucapkan itu dan menepuk bahu pangeran Tatius Ayah Tania melangkah pergi yang kemudian dia juga mengajak dua orang temannya untuk pergi dari tempat itu.
Pangeran Tatius merasa sangat sedih entah mengapa dadanya serasa sesak dan sakit, padahal apa yang dikatakan Ayah Tania ada benarnya.
Pangeran Tatius Tersenyum kecut menatap pusaran yang ada didepannya kini.
" Tania sayang, kau lihat Ayah menggusirku, Ayah tidak mengginginkan diriku berada disini di dekatmu, tapi kamu jangan khawatir aku akan selalu setia padamu tidak akan kubiarkan siapa pun mengantikan pidisimu di dalam hatiku aku sangat mencintai mu amat sangat, sayang aku akan pergi dari kotamu ini untuk sementara waktu, aku akan ikuti apa yang Ayahmu katakan tapi ijinkan aku membawa beberapa kenangan milikmu akan aku simpan dan akan selalu abadi di dekatku, aku akan kembali ke istana kerajaan Awang Awang Vampire, tapi sebelum itu aku akan pergi ke kamarmu, akan aku bawa beberapa kenangan untuk kubawa bersamaku aku akan datang malam ini di saat Ayahmu sudah terlelap tidur sehingga dia tidak akan tau aku datang ke kamar mu selamat tinggal dan selamat beristirahat sayang, cintaku untukmu." lirih pangeran Tatius seraya mencium batu Nisan Tania sebelum pergi dengan hati yang perih dan sedih.