
Setelah makanan Siap Devan, Dodi, Tania dan Nenek menikmati makan bersama.Melihat Dodi makan dengan terburu buru sang Nenek mengeryitkan dahinya.
"Dodi..,!" makannya pelan pelan Nanti tersedak."
"Hei..Dodol, Kayak orang kelaparan saja model makanmu?"ledek Devan sambil terkekeh.
"Aku mau cepat pulang sudah kangen sama bantal dan guling ku, Tania kamu pulang bareng aku saja ya?" tadi aku sudah telpon dan bentar lagi ada mobil yang akan menjemput kita."
"Boleh."
"Eh...enak saja ngajak Tania pulang, Tania nanti pulang bersama ku jadi kamu balik sendiri ngak usah ajak Tania."cegah Devan tak trima.
"Sudah sudah Kenapa pada brisik biar Tania yang pilih mau pulang bareng siapa."sahut Nenek cepat.
"Dodi..! aku pulang bareng Devan saja ya, kan aku pergi nya dengan Devan jadi aku akan pulang bareng Devan.
"Ya, sudah."jawab Dodi kecewa.
Ketika hari mulai sore Devan menggantar Tania pulang ke rumah nya dengan mengunakan motor sampai di halaman rumah Tania Devan dan Tania sedikit tercengang, melihat lampu rumah sudah menyala dengan pintu terbuka.
"Seperti nya di Rumah mu ada tamu, aku tidak usah masuk saja ya, aku binggung nanti harus menjawab apa jika Ayah mu bertanya."
"Ya, sudah trimakasih sudah mengantarku pulang."
Devan menggagguk sambil melambaikan tangan sebelum melajukan motornya.
Tania melangkah kan kaki masuk ke dalam dan ketika dia sampai di depan pintu terlihat lah sosok tubuh laki-laki yang tak asing baginya sedang duduk di ruang tamu bersama Ayahnya.
"Ayah..!"
Mendengar suara panggilan sang Ayah langsung menoleh ke arah pintu begitu juga laki-laki yang ada di sana.
"Tania..!"
Sang Ayah langsung berlari dan mendekati Putri nya di peluknya Tania dengan penuh kerinduan.
"Kamu dari mana saja Nak! kenapa baru pulang sekarang."
"Ayah, Tania....masih capek Nanti akan Tania jelaskan."
ucap Tania sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya tapi belum sampai kakinya melangkah lebih jauh sang Ayah sudah memanggil nya.
"Tania..!" kamu tidak mengucapkan salam pada Pak Guru Wili?'
"Oh, iya, selamat sore Pak!"ucap Tania memberikan salam.Pak Guru Wili hanya mengangguk sebagai tanda jawaban akan tetapi tatapan matanya begitu tajam menatap lekat lekat pada Tania membuat Tania sedikit jengah.
"Maaf, saya permisi dulu,"
"Tania, cepat mandi kemudian temani pak guru Wili dia sudah menunggu mu dari kemarin."
"Iya, Ayah!" menyebalkan sekali siapa juga yang suru menungguku," Sungut Tania kesal.
Tania sengaja mandi berlama lama agar pak guru Wili bosan dan segera pergi, tapi ternyata sampai Tania merasa kedinginan pak guru Wili masih juga belum pergi, akhirnya dengan berat hati Tania keluar dari kamar mandi kemudikan menganti baju kotor dengan baju bersih, dengan sedikit malas akhirnya Tania keluar dari kamarnya, melihat Tania keluar Pak Guru Wili segera menyambut nya dengan senyum.
Melihat senyum pak guru Wili Tania membuang muka.
"Menjengkelkan sekali sih ini orang."Grutu Tania dalam hati.
"Tania..!"duduk sini Nak, kamu temani pak guru Wili Ayah mau pergi ke rumah Bu Ida sebentar."
"Tapi , pak!"
"Bapak cuma sebentar, pak guru Wili titip Tania Sebentar ya pak.'
"Iya, pak!
Tania semakin kesal dan gusar entah mengapa Ayahnya begitu suka meninggalkan nya berdua dengan pak guru Wili dan hal itu bukan cuma sekali tapi sudah berkali-kali. Setelah kepergian Ayah Tania kini tinggallah Tania dan pak guru Wili.
"Kamu kemana saja, kenapa sampai satu Minggu tidak masuk sekolah, apa yang kamu lakukan dengan Devan?"
"Hei..! pertanyaan apa ini, bukankah itu urusan ku bukan urusan Bapak."ucap Tania sinis.
"Tentu saja urusan ku karena kamu anak didik ku dan nilai kamu sangat buruk."
"Di hutan mana?"
"Yang namanya di Hutan ya di Hutan bukan di hotel." sungut Tania kesal.
"Kenapa jutek amat sih, sama calon suami, kamu itu harus sopan ngak boleh begitu."
"Apa,?" calon suami!" ha..ha..ha..Bapak ini sore sore sudah ngigau ya." ledek Tania mencibir.
"Terserah, kamu mau ngatain aku ngigau atau apa tapi faktanya kamu itu calon istriku dan ya, nih..! tugas satu Minggu yang tidak kamu ikuti kerjakan dan besok kumpulkan."
"Pak...!" kok gitu sih, ini tugas kan banyak mana bisa satu malam selesai."
"Aku ada di sini jika ada yang kurang jelas bisa kamu tanyakan padaku."
"Tapi pak!"
"Kerjakan, aku tungguin."
Tania mendengus kesal terlebih melihat begitu banyak soal yang harus dia kerjakan.
"Pak..!"
"Hmmm."
"Di kumpulin Minggu depan saja ya?" aku capek, pusing , bahkan aku hampir mati ketika tersesat di hutan."keluh Tania berharap sosok pria di depannya bersimpati tidak memaksanya untuk mengerjakan soal soal rumit.
"Bagaimana kamu bisa mati jika mahkluk itu menjagamu."ucap Pak Guru Wili datar tanpa menatap wajah Tania yang terbelalak kaget, bagaimana mungkin Guru di depan nya tau jika Tania bertemu mahluk lain, masih dengan menatap koran yang dia baca kembali pak guru Wili bicara.
"Tidak usah melotot begitu, memang benar kan kamu di jaga mahkluk itu."
"Bapak ini ngomong apa sih aku ngak ngerti deh, masak iya kita tidak bertemu satu Minggu Bapak sudah jadi orang aneh, yang ngatain aku calon istri lah, trus katanya aku ketemu mahkluk lain lah ada ada saja, Bapak ini, ku rasa Bapak capek lebih baik Bapak pulang saja aku ngak papa kok di Rumah sendiri Ayah sebentar lagi pasti juga pulang."
"Kenapa mesti berbohong apa kamu pikir aku tidak tau?" dan ya soal aku bilang kamu calon istri ku jika tidak percaya kamu boleh bertanya pada Ayah mu."
"Apa maksud Bapak?"
"Tidak ada dan tidak usah di bahas aku cuma menggingatkan jangan pernah memberikan harapan pada mahkluk itu, karena jika dia tau kamu memberikan harapan padanya dia tidak akan pernah melepaskan mu, ingatlah kalian berbeda dunia."
"Bapak ngomong apa sih aku ngak ngerti deh, halu Bapak terlalu berlebihan."
"Smoga saja halu ku tidak benar."ucap Pak guru Wili sambil menutup koran yang dia pegang.
"Nah, itu!' Ayah mu sudah pulang aku pamit pulang ingat pesanku jangan memberikan harapan pada mahluk itu."
"Ya, aku tidak akan memberikan harapan."ucap Tania dan tentu saja tidak akan memberikan harapan padamu dasar guru gila masak iya aku di bilang calon istrinya benar benar dah konslet dia Gumam Tania dalam hati.
Sementara di kerajaan Awang Awang Vampire tepatnya di ruang makan suasana hening, pangeran Tatius dan Pangeran Yervan tidak saling bertegur sapa, tapi tatapan mata keduanya saling berbicara terlebih Tatapan mata dari pangeran Yervan yang sangat menunjukkan rasa permusuhan. Putri Lin Ying yang melihat itu tidak mau ambil pusing dia tidak perduli permusuhan diantara kedua kakak beradik itu, baginya bisa bersama dengan Pangeran Tatius itu sudah membuat nya bahagia.
Sang Raja yang melihat kedua putranya saling pandang dalam diam menatap penuh dengan curiga.
"Apakah kalian punya masalah?"tanya Raja pada kedua putranya, untuk sesaat kedua pangeran itu saling pandang yang kemudian keduanya menjawab secata serentak
"Tidak ada Raja..!"
"Bagus, selesaikan makan kalian setelah itu aku ingin bertanya tentang beberapa hal pada kalian."
"Baik, Raja."
"Dan kau putri Lin Ying, aku pun mau menanyakan beberapa hal kepada mu, ku harap kamu bisa memberikan jawaban dengan benar dan jujur."
"Siap, Raja!" duh apa yang akan Raja tanyakan padaku, jika soal pangeran Tatius dan pangeran Yervan aku sih bisa jawab, tapi kalau Raja bertanya tentang lepasnya Raksasa yang mengamuk kemarin aku harus menjawab apa?"apa aku harus jujur ataukah berbohong, Raja sangat keras dalam peraturan bukan tidak mungkin aku juga akan di hukum." keluh putri Lin Ying gelisah hingga tanpa terasa keringat dingin menetes di pelipis nya.
"Putri kamu sakit?" tanya pangeran Yervan lembut karena dia melihat wajah Putri Lin Ying tiba-tiba pucat dan berkeringat.
"Aku tidak apa-apa, cuma capek,"
"Kalau begitu ayo aku antar ke Puri istana kamar mu Nanti kita akan menghadap Raja setelah kamu baikan."
Tanpa membantah putri Lin Ying mengagguk setelah meminta ijin kepada Raja pangeran Yervan membawa putri Lin Ying untuk pergi tapi sebelum itu, pangeran Yervan menatap sinis pada pangeran Tatius, kekesalan nya masih belum hilang, sedangkan Pangeran Tatius hanya tersenyum simpul menanggapi tatapan pangeran Yervan yang seolah olah ingin mengajak nya berperang.