
Selama beberapa menit Tania berdiam diri di dalam kamar mandi seolah olah dirinya enggan untuk keluar, rasanya bekas ciuman itu belum hilang hilang meskipun Tania sudah menggosok berkali-kali hingga berdarah, yang mana membuat Tania melotot jatuh ke lantai sambil terisak.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Tatius, tapi aku tidak berdaya aku tidak bisa bersikap egois andai boleh dan bisa ku pilih aku lebih baik mati dari pada harus berpisah dengan dirimu, Tatius aku mencintaimu jangan benci aku jangan jauh dariku, taukah engkau betapa bahagianya aku ketika bisa bersama dengan dirimu, apa kau tidak bisa merasakan itu, hatiku sakit ketika kau mengatakan aku wanita rendahan, kau tidak tau betapa aku tidak berdaya, apa kau pikir aku bahagia aku juga sakit aku juga terluka." lirih Tania sambil menunduk kan wajahnya kedalam kedua tumpuan kakinya.
Di luar Devan sudah meminta izin untuk pulang, setelah kepergian Devan sang Ayah langsung masuk kedalam kamar Tania karena tidak menemukan putrinya dan mendengar suara air shower masih menyala dan samar samar juga terdengar suara tangis dengan cepat Sang Ayah mengetuk pintu kamar mandi.
Satu dua kali tidak ada jawaban Sang Ayah mulai mengedor pintu kamar mandi dengan keras.
Tania yang masih tersedu-sedu terkejut ketika mendengar suara pintu kamar mandi di gedor dari luar.
Buru-buru Tania menyeka air matanya dan bergegas membuka pintu kamar mandi sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ayah, kenapa mengedor pintu?"
"Kamu tidak apa-apa Nak," tanya sang Ayah panik.
Tania Tertawa kecil.
"Memangnya Tania kenapa ?"
Sang Ayah memperhatikan wajah putrinya dengan seksama.
"Apa kau habis menangis Nak?"
Lagi-lagi Tania tertawa.
"Ayah ini ada-ada saja, Tania kan habis mandi kenapa di tuduh habis nangis."
Ayah Tania Tersenyum kecut, dia tau jika putrinya berusaha bersikap baik-baik saja meskipun sesungguhnya hatinya Mungkin Kimi sedang terluka.
"Kita makan Nak!"
Tania mengaggukkan kepala menggikuti langkah sang Ayah menuju Ruang makan.
Tania mengeryitkan dahinya ketika dirinya menutup jendela dan melihat di luar masih sangat gelap mencekam wajah nya tiba-tiba murung.
Sambil menatap luar jendela yang gelap Tania mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa suasana begitu menakutkan, Tatius ada dimana apa dia sudah berada di Rumah atau masih berada di luar Rumah, bagaimana jika Tatius masih di luar Rumah sedang kan di luar begitu gelap, smoga Tatius sudah berada di Rumah dan bersantai, tapi jika melihat kepergian nya dengan marah aku khawatir dia masih diluar bagaimana jika benar ada diluar, bukankah ini akan sangat berbahaya, Tatius kamu cepet pulang kau tau aku begitu resah dan menghawatirkan mu." gumam Tania dalam hati.
"Kenapa masih berdiri disitu Nak ayo sini makan."
Tania mengagguk kemudian dengan hati-hati menutup jendela, setelah beres Tania duduk di depan sang Ayah dan mulai menikmati makan malam meskipun di dalam hati Tania sibuk memikirkan Pangeran Tatius.
Mengingat dan memikirkan Pangeran Tatius membuat Tania sulit menelan makanannya.
"Ayah aku ke kamar dulu rasaanya sudah kenyang."ucap Tania Meminta izin pada sang Ayah.
Dengan senyum tersungging di bibir sang Ayah mengagguk, kemudian dengan perlahan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Kasian sekali kau Nak, kau sangat mencintai pemuda Vampire itu dan aku juga yakin Vampire itu pasti kini juga lagi bersedih, selama bertahun-tahun dia menunggu mu ternyata semua harus berakhir dengan perpisahan, maafkan Ayahmu ini yang tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada mu."lirih sang Ayah dalam hati.
***
Paman patih lembu ireng yang berusaha keras mencari Pangeran Tatius akhir nya bisa melihat Pangeran dan menemukan pangeran Tatius di atas ketinggian gunung.
Dengan cepat paman patih lembu ireng terbang melesat ke arah Pangeran Tatius, bibir Paman Patih lembu ireng Tersenyum ketika dirinya sudah bisa menginjakkan kakinya diatas gunung.
"Pangeran Tatius..!"seru paman patih lembu ireng memanggil namanya.
"Paman...! jawab pangeran Tatius dan ketika pangeran Tatius hendak melangkah mendekati paman patih lembu ireng tiba-tiba sebuah tendangan tepat mengenai dada pangeran Tatius.
"Wuuuuuuzz...!
"Aaaaaah....! teriak Pangeran Tatius yang mulai jatuh tersungkur.
"Pangeran....!" paman Patih lembu ireng berteriak histeris melihat pangeran kesayangan nya jatuh tersungkur akibat sebuah pukulan maha dahsyat yang tiba-tiba datang dari arah atas langit.
Tampaklah segerombolan mahkluk Asing yang datang dari langit berwarna putih dan bersayap menendang tubuh Pangeran Tatius yang mana di samping gerombolan itu tampak sosok makhluk tinggi besar yang juga bersayap seperti nya dia adalah pimpinan dari beberapa mahkluk Asing yang datang dari luar angkasa.
Paman Patih Lembu Ireng terkesiap melihat pemandangan yang ada di depannya, dia tidak percaya jika Pangeran Tatius menjadi bulan bulanan mahkluk Asing yang entah mengapa tiba-tiba menyerangnya.
Seolah mati seluruh kekuatan yang dimiliki Pangeran Tatius tidak berguna untuk melawan mahkluk Asing yang begitu kuat, sehingga beberapa kali Pangeran Tatius jatuh tersungkur di buatnya sambil meringis menahan sakit.
Tak tega melihat keadaan Pangeran Tatius dengan cepat paman Patih lembu ireng berusaha membantu akan tetapi sungguh aneh dan di luar perkiraan, serangan dari paman patih lembu ireng juga sia-sia bahkan dengan tawa mengema yang mampu menggoyang gunung yang kala itu di pihaknya bagaikan ada gempa.
"Kalian mahkluk Bumi yang sudah membuat kekacauan istana langit untuk itu kalian harus segera kami bawa dan penjara kan, penjaga langit satu dan dua cepat ikat dan kurung mereka..!"
"Siap...! perintah siap kami kerjakan."
Bergegas mahkluk langit langsung mengeluarkan kekuatan yang mana tiba-tiba muncullah besi berbentuk seperti menara dan sekali tiup tubuh Pangeran Tatius dan paman patih lembu ireng terangkat melayang. mendekati menara petir berlapis besi.
Pada saat tubuh Pangeran Tatius dan paman patih lembu ireng sudah semakin dekat pada detik yang bersamaan sebuah kain hitam nan panjang melilit tubuh keduanya, sehingga tubuh Pangeran Tatius dan Paman patih lembu ireng tidak bisa masuk kedalam besi menara petir yang di ciptakan Raja langit.
Merasa geram karena ada yang berani mencampuri urusan nya, Panglima besar pimpinan Mahkluk Asing yang muncul dari langit melempar kan sebuah batu hitam yang terbuat dari besi berbentuk lingkaran batu, dengan cepat benda keras itu terlempar mengenai tubuh Raja Sangkala suara erangan kesakitan lolos dari bibir Raja Sangkala akan tetapi dia tetap tidak menyerah kain hitam jubah panjang miliknya tetap di gunakan untuk melilit tubuh pangeran Tatius dan paman Patih lembu ireng sehingga lolos dari incaran menara besi yang bisa mengurung Mereka selama nya.
"Bedebah, mengapa kau ikut campur."
"Maafkan aku, sebagai pemilik asli keris pusaka yang telah membuat kekacauan jagat raya, aku minta bebaskan mereka dari hukuman kalian, aku yabg akan bertanggungjawab atas semua kekacauan ini, aku berjanji dalam satu hari satu malam keadaan akan Normal seperti biasanya."
"Tapi Raja langit Sudah memberikan perintah dan kami tidak berani membantah nya."
"Kalau begitu biar aku yang datang Meminta langsung kepada Raja langit dan kalian cukup hanya mengantarku."
"Baiklah, ayo...!
Bergegas mahkluk Asing luar angkasa segera menyambar tubuh Raja Sangkala, teriakan kepanikan dari Sang Nenek, Pangeran Tatius dan Patih Lembu Ireng tak dihiraukan nya.
"Maafkan, aku Kek, semua gara-gara aku !" keluh Pangeran Tatius menyesal, dia tidak menyangka jika kakek tercinta nya akan mencari dirinnya, bahkan demi dirinya bisa bahagia sang kakek selalu menuruti dan memberikan yang terbaik untuk nya termasuk mempercayakan keris yang pernah menjadi rebutan pada masa nya.
Pangeran Tatius menyesali kebodohannya air matanya luruh, meskipun paman Patih lembu ireng menghibur nya akan tetapi rasa bersalah tetap ada, Pangeran Tatius tidak tau apakah sang kakek bisa di kembalikan dan di ijinkan ke Bumi lagi ataukah tidak.
Sang Nenek yang pada waktu itu sangat kesal dan entah mengapa membenci tiba-tiba hatinya luluh dengan pengorbanan sang Kakek yang sangat menyayangi nya, raut wajahnya kini tak lagi menunjukkan kemarahan dia kini justru sangat terharu.
"Sudahlah Tatius menanggis tidak akan menyelesaikan masalah ayo kita pulang, kau ikut Nenek kita akan mencari jalan keluar nya bersama sama."
"Tapi Nek, apakah itu bisa dan aku tidak bisa ikut dengan Nenek, karena aku juga sudah memiliki tempat di tempat ini,"
"Baiklah untuk sementara aku yang akan tinggal bersama mu, ayo cepat kita pergi sebelum ada kemarahan dari Raja langit yang bisa dengan cepat mengurung kita semua."
Bergegas Pangeran Tatius, Paman patih lembu ireng dan sang Nenek pergi dari tempat itu.