The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.364.BERTEMU.



Motor Devan melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang masih terlihat sunyi dan sepi, semua karena para warga yang ada di sekitar tempat itu masih berada di dalam Rumah masih sibuk untuk bersiap melakukan aktivitas kerja mereka.


"Bisa sedikit cepat tidak jalannya, ini terlalu lambat,"protes Tania pada Devan yang melajukan motornya dengan pelan.


"Mau ketemu siapa sih buru-buru amat seperti ngak sabaran saja, biarkan sajalah dia nunggu kita jalanya santai saja kita kan sedang pacaran."sahut Devan enteng.


"Haiss.... ngomong apaan sih, ngak bisalah kasian kalau dia nunggu nya lama."jawab Tania yang kemudian menutup mulut nya karena keceplosan."Aduh kenapa memiliki rasa kasian segala sih, harus nya ini tidak ada dan tidak boleh jika aku masih memiliki rasa kasian jangan-jangan aku masih cinta Araaaaaagggghhhh...bikin pusing saja." keluh Tania dalam hati yang mana membuat nya melamun.


Devan yang memperlihatkan gadis di belakang nya melalui kaca spion Tersenyum gemas melihat mimik lucu wajah dan bibir mengemaskan milik Tania, melihat hal itu Devan meneguk ludahnya.


"Aku belum pernah merasakan bibir nya pasti rasanya manis, huuff harus sabar nunggu sehabis Nikah tapi kelihatannya Tatius Mungkin pernah menikmati nya, masa bodoh lah yang pasti aku sekarang sudah lebih unggul darinya, karena sebentar lagi Tania akan menjadi milikku seutuhnya dan Tatius pasti akan syok jika mengetahui ini semua, aku jadi ingin melihat wajah kusut Vampire jelek itu, pasti menyenangkan, berapa kali dia membuat hatiku panas hanya karena perhatian nya yang berlebih pada Tania, aku juga heran kok ada Vampire posesif seperti dirinya dan aku yakin sampai detik ini Tatius pasti masih mencintai Tania, tapi rasain karena sekarang akulah pemenang nya karena sebentar lagi Tania akan menjadi milikku untuk selamanya tinggal beberapa hari lagi, aku harus bisa sabar setelah ini sambil sekolah aku juga akan mencari pekerjaan agar aku bisa membahagiakan Tania dengan hasil keringat ku sendiri, bukan dari papa dan mama yang selalu mengisi ATM ku," desis Devan dengan bibir Tersenyum.


Devan mulai mempercepat laju motor nya yang tak lama kemudian Tania berteriak dari belakang.


"Stop...stop....! Berhenti disini saja.


Devan kebingungan menghadapi gadis yang ada di belakang boncengan nya, tadi disuruh cepat, setelah cepat disuruh berhenti mendadak sungguh sifat wanita sulit di mengerti.


Tidak mau protes dan hanya bisa protes dalam hati Devan menuruti keinginan Kekasih nya yaitu berhenti mendadak.


"Di situ ada warung yang baru mau buka, kamu tadi pasti belum makan kan, jadi kamu tunggu saja aku disitu aku akan menemui nya sendiri."tutur Tania panjang lebar.


"Hei Tania, yang benar saja ini cerita nya aku tidak boleh ikut menemani kamu menemui orang itu begitu..!"


Dengan santai seolah tanpa beban dosa Tania mengagguk sambil mengembangkan senyum yang membuat Devan harus kembali meneguk ludahnya sendiri.


"Sungguh menggemaskan."lirih Devan dalam hati sambil menatap tajam tak percaya dengan keputusan Kekasih nya." lalu di mana kau menemuinya dan apa sudah dekat kok tidak mau diantar."


Tanpa bicara Tania menggangkat bahunya sebagai jawaban.


"Busyet....! kalau kamu saja tidak tau kenapa minta jalan sendiri, sudah aku antar sampai ketemu orang nya saja, lagi pula puasa satu hari ngak bakalan bikin aku mati, jadi tidak masalah aku tidak sarapan pagi."


"Tidak perlu, paling juga di sekitar tempat ini," mungkin juga dia sudah melihat ku pikir Tania dalam hati.


"Memangnya siapa yang ingin kamu temui itu?"tanya Devan penasaran.


"Apa Ayah tidak memberitahumu,"


"Tidak, aku lupa tidak bertanya."


Tania Tersenyum smrik sebelum melangkahkan kakinya.


"Kalau begitu kamu tidak usah tau aja, sudah pokoknya jangan ikuti aku tunggu disitu aku akan cepat kembali."


"Baiklah, tapi....


Devan tidak melanjutkan ucapannya wajahnya menatap sendu pada gadis yang ada di depannya.


"Tapi apa?"


"Kiss disini dulu boleh kan?" tanya Devan sambil nyengir.


Keinginan Devan yang spontan membuat wajah gadis didepannya langsung berubah menjadi merah.


"Tunggu kalau sudah Nikah."jawab Tania santai sambil melangkah menjauh meninggalkan Devan yang melongo.


"Astaga pelit amat sih, apa sama Tatius juga pelit begini, sungguh berbeda dengan Clara yang tiap ketemu langsung nyosor kayak bebek angsa, Menggingat itu entah mengapa Devan menjadi senyum senyum sendiri.


"Cinta benar-benar membuat orang bisa gila, tunggu setelah kau resmi dan halal menjadi milikku tidak akan aku beri ampun itu bibir akan aku habisin sampai puas." gumam Devan dalam hati sambil bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Mas.. ! sini, masuk jangan hanya berdiri disitu saja sambil tersenyum sendiri Nanti kesanbet lho," seru seorang wanita cantik yang sedang membersihkan dan membereskan tempat warung nya yang baru saja dia buka.


Mendengar sapaan dan teguran dari wanita yang ada di depannya Devan tersenyum nyengir ketahuan lagi menghalu tingkat dewa.


Perlahan-lahan Devan melangkah masuk ke dalam warung dan duduk di pojok jendela, sengaja Devan memilih duduk di pojok dekat jendela semua dia lakukan agar bisa melihat keluar agar bisa tau kalau sewaktu waktu Tania sudah datang.


"Mau pesan apa mas?"


"Kopi saja mbak sama gorengnya."


"Baik, mas tunggu sebentar, apa mas ganteng tidak mau makan."


"Masih pagi mbak, Nanti saja kalau calon istriku sudah datang."


"Cuih... sombong amat nih cowok, baru juga cuma di panggil mas ganteng sudah promo ada calon istri."sunggut sang wanita pelayan toko yang mana masih sangat muda.


Disisi lain Tania mulai kesal kakinya sudah berjalan hampir seratus meter dan sudah mulai terasa pegal Namun Tatius tak juga terlihat batang hidungnya.


"Dimana sih, Dia, ngak tau apa Kakiku sudah capek dan pegal," Tania terus berjalan Sambil bibirnya mengrutu tak karuan hingga tanpa dia sadari sebuah batu besar di depannya tertabrak kaki hingga membuat tubuhnya hampir terjungkal seandainya tidak ada satu tangan yang menarik nya.


"Aaaa...!teriak Tania ketika tubuhnya hendak jatuh terjungkal.


"Hooss....hoss....hoss!" suara deru napas Tania yang tersengal sengal Karena kaget."hampir saja aku nyungsep di tanah beruntung ada kayu yang bisa kubuat pegangan." ucap Tania bersyukur karena tidak jadi jatuh nyungsep di tanah.


"Enak saja aku di bilang kayu."


Mendengar ada suara di sampingnya dan Tania baru sadar ternyata dia tidak sedang berpegangan pada sebuah kayu melainkan pada sebuah Tangan kekar.


Bagaikan Melihat monster Tania langsung menarik tangannya dari genggaman tangan laki-laki yang bertubuh kekar.


Melihat sikap aneh gadis yang ada didepannya pemuda itu menaikkan satu alis tebalnya.


"Ada apa?"


"Ta-tatius..! kau Di-disini."


"Ya, iyalah aku disini kan kita sudah janji ketemuan disini, coba lihat kakimu seperti nya terluka itu,"tanya Pangeran Tatius yang langsung tubuhnya berjongkok hendak menyentuh kaki Tania.


Melihat pergerakan Tatius dengan cepat Tania beringsut mundur.


"Jangan sentuh kakiku."teriak Tania keras yang mana hampir membuat jantung pangeran Tatius lepas karena terkejut dengan sikap kekasih nya yang tiba-tiba aneh bagaikan orang asing.


Pangeran Tatius mengadakan wajahnya menatap tak percaya dengan sikap aneh Kekasihnya tapi tiba-tiba pangeran Tatius teringat sesuatu dimana tiba-tiba kekasihnya dulu pergi dengan diam-diam Ketika dia memeluk Putri lin Ying.


Pangeran Tatius meneguk ludahnya dengan kasar.


"Jangan jangan Tania masih marah padaku, buktinya sikapnya sekarang sangat aneh kemarin ketemu di dalam kamar dia lari keluar tanpa mau menyapa, jangankan menyapa melihatnya juga tidak mau dan sekarang mati-matian tidak mau dibantu padahal kakinya terlihat merah.


Perlahan-lahan Pangeran Tatius bangkit dari berjongkok nya dia berusaha memahami apa yang kekasih nya rasakan.


"Jika masih ngambek tidak baik memaksakan kehendak, Tania termasuk gadis yang keras kepala untuk itu aku harus sedikit bersabar menghadapi nya Nanti kalau marah dan ngambek nya sudah redah pasti kembali seperti semula dan yang harus aku lakukan saat ini membujuk dan merendahkan amarahnya." hibur Pangeran Tatius dalam hati meskipun di sudut hatinya yang paling dalam sangat sedih dan sesak rindu yang sudah sekian lama terpendam setelah bisa bertemu bukanya mendapatkan sambutan hangat dan manis tapi justru mendapat kan sikap yang dingin dan ketus.


Pangeran Tatius mengembangkan senyum termanis nya meskipun di sudut hatinya terasa luka dan kecewa ketika mereka bertemu.