
Berkali-kali Tania menarik napas lega setelah mampu membuat Pangeran Yasza pergi dari dalam kamar nya. Wajahnya yang pucat kini kembali normal seperti sedia kala.
Merasa tenggorokan nya kering Tania mengambil air yang sudah tersedia di atas meja dengan cepat di teguk nya Air itu.
"Glegek....!
Glegek.....!
Glegek....!"
Setelah merasa cukup segar Tania berjalan menuju jendela yang ada di dalam kamarnya, jendela panjang yang mana bisa membuat kita melihat seluruh keindahan yang ada di luar.
Tania Tersenyum senang melihat keindahan bunga bunga yang tumbuh di luar jendela nya, mata indahnya mulai menyapu seluruh sudut halaman luas di bawah jendela nya. Ketika lagi asik menikmati udara segar yang lewat melalui jendela dan memandang aneka tanaman yang sedang tumbuh dan bermekaran di sekitar halaman itu, Tania tersentak kaget ketika kedua bola matanya melihat sosok pemuda tampan yang sudah sedikit berumur sedang terikat di bawah tiang dengan sangat mengenaskan.
"Raja ..! kenapa mereka menbawa Raja ke situ dan mau apa mereka."
Sayup sayup Tania mendengar sebuah perintah yang sangat dia kenali suaranya.
"Cambuk dia sebanyak lima puluh kali."
"Baik, Pangeran!
Mendengar perkataan dan perintah dari Pangeran yasza pemilik kerajaan Ambarwata, Wajah cantik Tania langsung berubah menjadi pucat terlebih ketika tatapan mata Tania beradu dengan mata tajam Pangeran Yasza yang seperti nya sengaja menatapnya sambil melempar kan senyuman miring kepadanya.
"Cetaaaaaaarrr... !
"Aaakh. ..!
Satu bunyi pukulan cambuk yang sangat keras membuat Tania langsung menutup kedua bola mata dan telinga nya wajahnya mulai menggigil ketakutan tapi apalah daya dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apakah aku juga akan mati di sini, Ayah maafkan anakmu yang tidak mendengar kan Nasehat mu, Ayah mungkin Tania tidak akan bisa lagi bertemu dengan Ayah, Tania dibutakan cinta sehingga lebih memilih menggikuti Kekasih yang ternyata akan begini Nasib ku, Ayah maafkan anakmu,"
Tania terisak sambil menutup kedua bola matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Mengapa kau menutup wajahmu, apa kau takut...!
Sebuah suara yang terdengar begitu dekat dan tiba-tiba sudah berada di belakang tubunya membuat Tania langsung membuka mata dan ketika mengetahui siapa yang sudah berdiri dengan sangat dekat di belakang nya kedua bola mata Tania langsung membulat seketika.
"Kau..... Bagaimana kau bisa berada di sini dan bukankah tadi aku sudah mengunci kamar ini."tanya Tania gugup dan merasa bodoh.
"Aku itu pemilik kerajaan ini jadi semua kunci kamar aku punya, kenapa kau terkejut lihat...di luar pemandangan begitu indah bukan."
"Tolong lepaskan Raja, jangan cambuk dia aku mohon lepaskan dan jangan cambuk lagi.
"Boleh, tapi dengan satu syarat."
"A-apa syaratnya."
"Kau harus menikah dengan ku ."
"Ti-tidak, berikan aku syarat yang lain jangan yang ini sungguh aku tidak bisa "
Pangeran Yasza menatap tajam manik mata indah Tania dengan intens.
"Kenapa? kenapa tidak bisa."
"A-aku sudah punya kekasih."
"Hahahaha.... lupakan saja kekasih mu, toh aku juga tidak buruk bukan dan jika kau punya kekasih, laki-laki macam apa Kekasih mu itu dia tidak ada di samping mu dia juga tidak datang menolong dirimu, apa yang bisa kau bangga kan dari laki-laki seperti dia dan seperti nya kekasihmu itu tidak begitu mencintai dirimu buktinya kini kau di sini, dia ada di mana kau tidak tau kan jadi lupakan saja Kekasihmu itu dan menikahlah denganku aku akan lebih mencintai dan akan membahagiakan mu percaya lah."
Tania Tersenyum miring mendengar semua celoteh dan ucapan dari laki-laki yang ada di depannya.
"Aku tidak perduli kekasihku mencintai aku atau tidak yang pasti jawabanku akan tetap sama aku tidak mau menikah denganmu laki-laki kejam dan tidak berperasaan, cepat lepaskan Raja, jangan kau jadi pengecut jika kau tidak menyandra diriku sudah pasti kau tidak akan pernah mengalami kemenangan, jadi apa juga yang bisa di bangga kan dari laki-laki pengecut seperti mu."
"Kau....!"
Wajah Pangeran Yasza berubah menjadi merah padam dan dalam kekesalan hatinya dari dalam kamar Pangeran Yasza berteriak dengan lantang.
"Cambuk yang keras...! dan tambah lagi menjadi seratus kali cambukan."
Para Prajurit kerajaan Ambarwata yang mendengar perintah dari pangeran Yasza segera melakukan apa yang di perintahkan.
"Siap, Pangeran!
Cambuk yang menghujam tubuh Raja semakin keras dan cepat.
"Kau gila , hentikan aku mohon jangan cambuk lagi."
Pangeran Yasza Tertawa dengan sangat keras sementara Tania semakin menggigil ketakutan dirinya benar-benar takut dan kasian melihat tubuh putih Raja yang kini penuh dengan luka cambukan, Sesekali terlihat Raja memejamkan matanya sambil meringis berusaha dengan keras agar tidak berteriak kesakitan.
Tania menatap tak tega wajah laki-laki yang telah rela mengorbankan dirinya agar kehormatan dirinya terjaga lalu sekarang apakah dirinya hanya akan diam saja melihat Raja di siksa.
Dengan derai air mata Tania menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di hadapan laki-laki muda yang ada di depannya.
"Tuan....! Tolong hentikan Raja bisa mati, aku mau menjadi pelayan mu, aku bisa membantu pekerjaan apapun di sini tapi tolong Ampuni Raja dan jangan Cambuk lagi Raja bisa mati." mohon Tania dengan berurai Air mata.
"Kau menawarkan dirimu menjadi pelayan, boleh juga menjadi pelayanku selama 24 jam, apa kau siap?'
Tania melongo dia tau 24 jam itu artinya tidak ada waktu untuk nya beristirahat dan bisa di bayangkan betapa capek dan lelahnya dirinya Nanti.
"Tuan ..bisa nego dikit ya...?
"Nego...?"Apa itu Nego....!"
"Nego itu sebangsa keringanan, kalau 24 jam non stop aku juga bisa mati karena kecapekan Tuan, berikan aku waktu sedikit saja untuk beristirahat setidaknya dua jam."
"Apa? istirahat dua jam tidak bisa kamu harus selalu berada di sisi ku, tapi baiklah Nego sedikit untuk kamu tiga puluh menit dalam 24 jam itu berlaku untuk dua kali saat mandi saja."
"Tuan itu terlalu sedikit dan aku bisa.....
"Cukup...! kau mau melakukan atau Raja kesayangan mu itu pingsan dengan perlahan lahan Karena Cambuk seratus kali ku"
"Ja-jangan, Ba-baik lah aku mau."
"Bagus...! prajurit hentikan mencambuk nya."
"Siap, Pangeran!"
"Ikut, aku akan aku tunjukkan apa saja pekerjaan mu,"
Dengan langkah kaki yang sedikit bergetar Tania menggikuti langkah dari Pangeran yasza.
Tubuh Raja terkulai lemas dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat meskipun samar samar Raja masih bisa melihat Pangeran Yasza pergi dengan membawa Tania, entah apa yang di janjikan Tania sehingga Pangeran Yasza menyuruh para pengawal untuk berhenti mencambuk nya dan akan di bawa kemanakah Tania, Raja semakin gusar membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Tania, sedangkan dia tidak mampu berbuat apa-apa.