The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.331.TERKEJUT



Terasa lega dan bahagia setelah sampai di depan rumah sang Nenek meskipun harus dengan perjuangan agar bisa membuat hati sang Nenek luluh dan mau membantu nya, sejak awal Sengaja Devan tidak berterus terang dan jujur jika yang mau dia mintakan tolong adalah Tania di mana sejak awal Devan selalu di larang dan di minta untuk menjauhi Tania semua karena Sang Nenek tau jika Tania hanya mencintai Tatius yang juga cucu dari Neneknya. Pahit dan getir jika seorang Nenek lebih mendukung satu cucunya di bandingkan dengan dirinya, Devan sadar Tatius lebih pantas di bela dari pada dirinya yang cuma cucu berasal dari anak Kakaknya sang Nenek, tentulah Tatius yang lebih di perhatikan dan di bela karena Tatius putra dari putrinya sang Nenek. Kenyataan yang sangat pahit tapi mau bagaimana lagi Devan tidak akan memaksa Nenek nya untuk lebih mendukung dirinnya.


Flash Black off


Sang Nenek menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, menepuk lembut pundak Devan.


"Semua sudah terlewati kini semua baik-baik saja kamu tidak perlu lagi menghawatirkan Tania, kau boleh menemuinya, boleh menunggu sampai dia sadar."


"Trimakasih, Nek! lirih Devan sambil bangkit kemudian memeluk lembut Neneknya."


Pelukan Devan yang tulus dan lembut membuat hati sang Nenek trenyuh hatinya ikut merasakan betapa pedihnya memendam sebuah cinta, Entah mengapa pengorbanan Devan kali ini membuat hatinya begitu sedih dan sangat merasa bersalah karena dialah yang meminta Devan untuk tidak mendekati Tania untuk menjauhi Tania, sekarang masih pantaskah dia melarang Devan untuk mencintai dan mendekati Tania setelah pengorbanan yang dia lakukan.


Terkadang Sang Nenek merasa sedih dan iba mengapa kedua cucunya sama-sama mencintai orang yang sama. Apakah adil jika melarang Devan untuk mengejar mimpi dan cintanya, selama ini dia selalu meminta Devan untuk menjauhi tapi kali ini tidak.


"Aku berjanji kali ini kau juga akan memiliki hak untuk mendapatkan cintamu aku tidak akan menghalanginya lagi dan mungkin sudah saatnya aku membantu menyatukan cinta Devan pada Tania." gumam sang Nenek dalam hati.


Devan yang di ijinkan untuk bisa melihat Tania segera pergi ke rumah bangunan yang ada di belakang dengan terburu-buru Devan membuka pintu dengan menempatkan tangan nya pada garis tiga warna dengan menahan nafas beberapa detik, maka terbukalah pintu bangunan Rumah itu.


Bergegas Devan masuk ke dalam kamar di mana Tania sedang terbaring, senyum kebahagiaan terpancar dari wajah tampannya.


"Aku akan menunggu mu sadar, cepatlah sadar Tania aku sudah tidak sabar ingin mendengar suaramu."lirih Devan sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi.


Hampir satu jam lamanya Devan duduk di kursi yang ada di dekat kamar Tania, Devan tak merasa jenuh bahkan tak berniat sedikit pun untuk pergi dari tempat itu, ditatapnya wajah cantik Tania yang ada di depannya dengan senyum tersungging di bibir.


"Kau benar-benar cantik, hatimu juga cantik kau sangat peduli dengan Dodi si pemuda idiot itu hingga kau rela mengorbankan nyawamu demi dirinya, andai saja ada sedikit saja cintamu untuk ku aku pasti akan sangat bahagia, aku ingin merasakan di cintai sedikit saja oleh mu, seperti kau mencintai Tatius tapi semua itu mimpi, menggingat ku saja belum tentu kau ingat, kau lebih ingat pada Dodi dari pada aku, apa kau tau aku sudah berusaha mencintai Clara dan aku sudah berusaha melupakan mu tapi sampai detik ini aku tidak bisa, kau sudah menggikat hatiku, andai saja kau bisa kumiliki aku pasti akan sangat bahagia." Devan bermonolog sendiri.


Wajahnya tengadah menatap langit langit kamar yang ada di mana sesekali Devan mengusap kasar wajahnya. Ada keresahan dan juga ada keinginan yang mungkin tak kan pernah jadi nyata.


Lagi-lagi Devan menatap wajah Tania dengan sedikit ragu tangan Devan mengelus pipi putih bersih Tania yang sedang terpejam.


Tiba-tiba Devan menarik tangannya, jangkung nya bergerak Naik turun seiring ketika Devan menelan ludahnya dengan kasar seakan air liur nya mau jatuh.


"Kau benar-benar membuat ku gila, jika boleh berharap dan meminta jangan cintai Tatius tapi cintai aku saja Ah mimpi," seru Devan dalam hati sambil mengacak rambutnya seolah sedang frustasi.


Dua jam sudah berlalu akan tetapi Tania Belum juga sadar.


Dengan kecepatan tinggi Pangeran Tatius terbang melesat ke tempat pemakaman, paman Patih lembu ireng yang selalu setia menggikuti nya menatap heran pada Pangeran Tatius yang terlihat begitu tergesa-gesa ke arah pemakaman.


"Pangeran mau apa kita ke sini?"


"Paman, aku sudah melakukan dua kali untuk memperkuat Indra penciuman ku dan aku tidak menc*ium sedikit pun Aroma dari tubuh Tania, aku khawatir yang di kuburkan Ayah ini bukan jasad Tania."


"Ah, masak sih pangeran, kayaknya ngak mungkin deh pihak rumah sakit berbohong mereka adalah orang orang yang mendapat kan amanah, mungkin Pangeran salah menilai."


Pangeran Tatius menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, bibirnya tersenyum kecut.


"Mungkin paman benar tapi aku masih sangat penasaran, aku sangat hafal dengan Aroma Tania dan sekarang aku mau mencoba sekali lagi dan jika kali ini hasil yang ku dapat sama aku tidak akan menunggu lagi aku akan bongkar kubur ini."


"Terserah Pangeran saja saya selalu siap mendukung." jawab Patih lembu ireng sambil mendudukkan dirinya diatas bebatuan yang ada di sekitar tempat itu.


Sedangkan Pangeran Tatius segera melakukan persiapan untuk mempertajam Indra penciuman nya.


Hening untuk beberapa saat hingga pangeran Tatius menyelesaikan ritual nya. Paman patih lembu ireng menatap heran pada wajah Tampan Pangeran Tatius yang terlihat sangat muram dan sendu.


"Bagaimana pangeran, apakah kali ini pangeran bisa mencium keberadaan Nona Tania."


Pangeran Tatius menggeleng kan kepalanya dengan lemah.


"Paman aku mau membongkar kubur ini sekarang juga, aku sangat penasaran kenapa aku tidak bisa mencium Aroma keberadaan nya."


"Aku, akan selalu mendukung pangeran jadi lakukan apa yang ingin pangeran Tatius lakukan aku yakin apa yang akan pangeran lakuk, itulah yang terbaik."


Pangeran Tatius Tersenyum tipis kemudian dengan berdiri menyatukan kedua telapak tangan di depan dada dan sedetik kemudian pangeran Tatius menghentakkan kakinya di atas tanah maka berhembus lah dengan kencang angin yang mana membuat tanah berhamburan terlebih tanah tempat Tania di makamkan.


Tapi tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan keras yang membuat Pangeran Tatius menghentikan kegiatan nya.


"Tatius ...! apa yang kau lakukan ?"teriak seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah Ayah dari Tania.


Pangeran Tatius menelan ludahnya dengan kasar, bibirnya seolah tercekat ketika hendak menjawab seruan dari Ayah Tania, pangeran Tatius sangat begitu terkejut yang mana Ayah Tania tiba-tiba muncul di hadapannya.