The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.387.TERKEJUT



Part paling panjang dengan 4155 kata semoga di akhir cerita ini tidak mengecewakan, karena ini bab akhir. selamat membaca.


Sementara di luar ruang makan seorang gadis yang terkejut dengan tingkah Pangeran Tatius masih berdiri terpaku, dia benar-benar tidak mengetahui jika laki-laki yang tadi bersama nya bisa terbang.


Berkali-kali gadis itu mengusap kedua bola matanya, berharap apa yang dilihatnya nya hanyalah sekedar halusinasi dirinya, yang mana tidak akan mungkin ada orang yang bisa terbang di jaman sekarang.


"Apakah pemuda yang bersamaku itu benar-benar manusia atau sebenarnya dia hantu Tampan, Astaga kenapa Aku jadi merinding begini, Santi benar-benar kelewatan Aku di suruh mengantikan dirinya untuk menjadi pengiring wanita, ternyata disini banyak mistis nya, dia bisa terbang seperti angin, Oh my good, kenapa Aku lupa tidak membawa ponsel hpku Aku kan bisa memotretnya dan bisa memamerkan pada semua teman-teman ku dan membagikan nya di Tol tok, Aku bisa Viral seperti Farel itu, Haiss kenapa jadi ngelantur begini." Gumam gadis itu sambil tersenyum dalam hati.


Di sisi lain Pangeran Tatius yang keluar dari meja tempat berjajar buah yang terhidang dan hanya di halangi dengan kelambu mulai membuka kelambu dan hendak melangkah keluar terpaksa menghentikan langkah kakinya ketiika Devan sudah berdiri di hadapan nya.


"Tatius, apa yang kau lakukan disini."


"Ikut, Aku!"


Devan terkejut bukan kepalang ketika tiba-tiba Pangeran Tatius menarik tangannya dan membawanya pergi menjauh dari tempat itu.


"Hei, lepaskan kau mau apa, jangan macam-macam orang bisa curiga kau bukan manusia, jangan terbang," Ucap Devan melarang Pangeran Tatius membawa nya dengan terbang.


"Aku tidak perduli,"sinis Pangeran Tatius.


"Ini Tatius kenapa sih seperti orang lagi kerasukan setan saja, tapi bukankah Tatius juga setan kan dia bukan manusia ." gumam Devan dalam hati sambil terkekeh.


"Bruugh...Auuw...! tubuh Devan di lempar jatuh ketanah membuat Devan meringis.


"Kamu itu kenapa?'pelan sedikit dong kan sakit, dasar saudara tak berhati."


"Kembali kan Tania padaku,"Ucap Pangeran Tatius dengan tatapan mata yang tajam.


"Emang kamu pikir barang harus di kembalikan begitu, dengar jangan ganggu proses pernikahan kami, kamu kan jadi pengiringku jadi diam dan saksikan, jangan macam-macam."


"Van, Tania tidak mencintai mu apa kamu tega membuat hatinya sedih,"Pangeran Tatius mencoba mengontrol nada suara nya selembut mungkin untuk membuat hati Devan tergugah.


"Waktunya sudah mepet nih, cepat kamu ke ruangan tempat pengiring berkumpul, sebentar lagi ijab Kabul akan segera dilakukan."ucap Devan seraya melangkah pergi,"


"Hei, tunggu! jawab dulu permintaan ku?"Devan tidak menghiraukan ucapan Pangeran Tatius dia terus melangkah. Namun belum ada dua langkah Pangeran Tatius menahan tangan Devan, dan dengan gerakan cepat Pangeran Tatius menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan Devan.


"Aku mohon, lepaskan Tania, biarkan dia bebas memilih kamu tau dia mau menikah dengan mu itu hanya karena Tania mau membalas Budi bukan karena atas dasar cinta, jadi Aku mohon lepaskan Tania jangan paksa dia menikah dengan mu,"ucap Pangeran Tatius dengan suara lemah.


"Aku tidak perduli, sudahlah Aku tidak punya banyak waktu."Devan segera pergi meninggalkan Pangeran Tatius yang masih duduk dengan berlutut. Dengan tersenyum di bibir penuh dengan kemenangan Devan melangkah meninggalkan Pangeran Tatius.


"Rasain, bingung kan?"ledek Devan dalam hati.


Sementara Pangeran Tatius yang kesal bangkit berdiri dan menendang semua barang yang ada di depannya, kemudian kembali jatuh terduduk dengan mengacak rambutnya.


"Araaaaaagggghhhh, Aku harus bagaimana?"Dengan perasaan kesal Pangeran Tatius masuk ke dalam dimana di tempat itulah semua pengiring sudah berkumpul.


Wajah masam dan acak acakan terlihat jelas dari wajah Pangeran Tatius yang sedang kesal dan pada saat yang bersamaan seorang gadis juga hendak masuk kedalam ruangan yang sama.


"Kau, bukankah kau kekasih nya Tania"tanya gadis itu penuh selidik, yang mana membuat Pangeran Tatius menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sumber suara.


"Kamu, Aku lupa namamu, Aku hanya ingat kalau tidak salah bukan kah kamu kekasihnya Devan."


"Mantan Tatius Aku mantannya Devan, namaku Clara."


"Kenapa kau ada disini?'


"Kebetulan Aku diminta untuk menjadi pengiring jadi Aku terpaksa datang." ucap Clara berbohong meskipun alasannya datang bukan itu, Clara harus datang karena ancaman Devan yang takut kebusukkan nya terbongkar, Devan takut jika dirinya bicara pada semua orang tentang apa yang Devan lakukan padanya.


"Kalau begitu kita sama, ayo kita kesana sebelum Acara dimulai."Ajak pangeran Tatius pada Clara.


"Kamu, sudah move on dengan Tania kah,"


Pangeran Tatius tersenyum kecut.


"jangan membahas itu, ayo kita masuk agar kita tidak tertinggal dengan Acara nya."tanpa bertanya lagi Clara menggikuti langkah dari pangeran Tatius.


Di sebuah ruangan sudah berkumpul beberapa orang yang siap menggiringi mempelai, tapi sebelum itu ijab Kabul akan segera di laksanakan di ruangan tertutup, yang mana hanya akan di hadiri beberapa keluarga dan teman terdekat.


Tania menatap tajam kehadiran Pangeran Tatius dengan Clara yang ada di sampingnya, tatapan nya begitu menusuk membuat Pangeran Tatius diam dan menunduk kan kepala, begitu juga dengan Devan yang menatap tajam pada Clara membuat Clara semakin tidak nyaman hatinya begitu kesal karena tatapan Devan seolah mencurigai dirinya bicara pada Pangeran Tatius tentang Aibnya.


Clara mengerti Devan begitu takut dan khawatir jika pesta pernikahan dirinya dan Tania akan hancur, beberapa kali Clara meneguk ludahnya, membuang rasa sakit yang sangat, bagaimana dirinya harus berpura-pura baik-baik saja dan ihklas setelah apa yang dilakukan Devan padanya, dimana dia harus kehilangan mahkota kesucian dan harus menerima kenyataan jika Devan tidak memilih dirinya bahkan tidak berniat untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan nya, bahkan demi melindungi dan menyakinkan diri mengancam nya untuk datang agar Devan bisa mengawasi pergerakan dan segala tingkah laku Clara agar rahasia nya tetap terjaga dengan aman.


Devan tersenyum simpul ketika melihat Clara sudah datang dan menunduk kan kepala nya, mungkin Devan sudah bisa bernafas lega karena Clara tidak akan pernah membocorkan rahasia keburukan nya bahkan patuh dan taat akan segala perkataannya.


Sudah sangat jelas dan pasti apabila Tania sampai tau, jika Devan pernah merenggut kesucian Clara sudah barang tentu Tania tidak akan mau menjadi istri nya dan sudah pasti hal itu tidak di inginkan Devan.


"Tania, kau tunggu sebentar Aku akan ke dalam menemui, pak penghulu untuk bertanya kita masuk di menit ke berapa."


Meskipun merasa aneh dengan perkataan Devan yang sangat konyol mana ada pergi menemui pak penghulu sendiri dan bertanya tentang jam masuk memangnya sedang sekolah, tapi Tania memilih mengabaikan perasaan anehnya, Tania justru sibuk menatap Pangeran Tatius yang berdiri dengan sangat dekat dengan Clara, entah mengapa perasaan jeles dan cemburu masih ada, rasanya tidak rela jika mantan kekasihnya dekat dengan wanita lain, terlebih Clara yang juga memiliki wajah cukup cantik.


Tania menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Mengapa mereka bisa datang bersama apakah diantara mereka ada hubungan, Tatius juga mengenal Clara bisa jadi mereka menjalin hubungan, pantas saja diminta untuk bisa membuat Devan agar mengurungkan niatnya tidak menikah dengan nya Tatius tidak bisa ternyata ini, jawabannya Tatius menjalin hubungan dengan Clara, dasar laki-laki playboy, bukankah beberapa menit yang lalu Tatius bergandengan mesra dengan seorang gadis dan sekarang dengan Clara, benar-benar playboy mentang-mentang memiliki wajah tampan sok laris huuuf," Sungut Tania kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah lain muak dan kesal melihat kehadiran mereka berdua.


Pangeran Tatius yang memahami perasaan dari kekasihnya hanya mengusap kasar wajahnya, dia tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana, kekasihnya tidak mau jika diajak kabur semua harus dengan cara baik, sementara Devan tidak bisa di ajak bicara baik-baik, Pangeran Tatius merasa lelah akhir nya berserah saja.


"Apa yang akan terjadi terjadilah, bagiku asal kamu bahagia itu sudah cukup," keluh Pangeran Tatius dalam hati, pikiran nya benar-benar pusing.


Di tempat lain Devan memasuki tempat yang keseluruhannya tertutup kain berwarna putih selama sepuluh menit kemudian keluar bersama beberapa orang wanita paruh baya kembali menemui Tania dan para pengiringnya, dan ketiika Devan sudah sampai dia langsung menghampiri Tania.


"Kau sudah siap sayang, kita akan pergi sekarang, pak penghulu sudah menunggu kedatangan kita."


Bukannya langsung menjawab Tania justru menatap pada Pangeran Tatius yang kala itu juga menatapnya dengan tatapan mata sayu.


"Aku sudah siap, ayo..!"jawab Tania yang kemudian melangkah.


"Tunggu Nona?"maaf Nona harus memakai penutup kepala untuk keluar dari tempat ini menuju ke tempat pak penghulu."


"Kalau di tutup bagaimana Aku bisa jalan kesana?"


"Kan ada saya dan beberapa teman yang lain Nona."


"Baiklah, lakukan apa yang terbaik untuk semua nya."


Wanita paruh baya segera memberikan penutup kepala berwarna merah bagaikan pengantin dari cina yang sering ada di film.


Ternyata hal aneh tidak hanya di trima Tania sebagai mempelai wanita akan tetapi juga dirasakan oleh para pengiringnya, mereka juga di minta untuk datang dengan menggunakan penutup wajah.


Sempat protes dan tidak terima karena merasa Aneh dan sulit bagaimana seorang pengiring penunjuk jalan wajahnya juga ikut ditutup dan beberapa wanita paruh baya itupun menjelaskan dengan alasan yang tepat, dimana para pengiring tidak boleh dikenali oleh para undangan.


Akhirnya Clara, Pangeran Tatius dan dua orang lainnya seperti Reike sebagai penganti Santi teman Tania yang tidak bisa datang karena ada satu keperluan dan Dodi mereka berempat kesemuanya wajahnya ditutup dengan kain, untuk kedua mempelai Devan dan Tania mengunakan penutup berwarna merah sementara keempat pengiring, Clara, Pangeran Tatius, Dodi dan Rieke menggunakan penutup kepala berwarna putih sutra.


Tidak berapa lama ke empat pengiring dan kedua mempelai telah tiba di sebuah ruangan yang cukup luas dengan berdinding kain putih.


"Kita sudah sampai," seru salah satu wanita paruh baya yang membatu menjadi penunjuk jalan ketika wajah mereka ditutup kain.


"Apa penutup wajah ini, sudah bisa kami buka?" tanya Pangeran Tatius kesal karena dia merasa bagaikan orang buta yang tidak bisa melihat apapun, bukankah dia datang sebagai pengiring dan saksi pernikahan kekasihnya tapi yang terjadi justru tidak bisa melihat apa-apa.


"Bersabarlah, silahkan duduk dulu,"dengan perasaan kesal Pangeran Tatius Akhirnya menuruti apa yang di perintahkan wanita paruh baya.


Sejenak Pangeran Tatius merasakan suatu keanehan yang mana dia merasa kan sedang duduk sendirian tanpa siapapun di dekat nya, perasaan Aneh yang Pangeran Tatius rasakan dia tepis dan buang, Pangeran Tatius berfikir mungkin memang seperti itu adat pernikahan nya


Tak lama kemudian kembali terdengar suara wanita paruh baya sedang memerintahkan seseorang untuk duduk disampingnya dan yang membuat Pangeran Tatius heran, Pangeran Tatius mencium bau dari keberadaan seorang laki-laki disampingnya dan penciuman nya memberikan rasa jika Pangeran Tatius sedang duduk dekat bersama dengan Devan laki-laki yang sangat menjengkelkan hatinya.


"Apa wanita itu tidak salah orang, mengapa Devan yang duduk disampiku, ataukah penciuman ku yang salah." Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, merasa bingung dengan ada yang di rasakan nya.


Lagi-lagi suara wanita paruh baya Kembali terdengar, kali ini dia meminta pada para pengiring untuk berdiri di dekat Pangeran Tatius dan Devan.


Tak lama kemudian wanita paruh baya memerintahkan seorang untuk duduk di samping Devan dan dirinya. Pangeran Tatius merasakan detak jantung nya berdebar lebih kuat dan cepat, pasalnya dia mencium keberadaan Tania di samping nya.


"Apa aku bermimpi, apa penciuman ku tidak salah, ini pasti efek dari rasaku yang terlalu dalam sehingga dimana pun Aku merasa Tania selalu ada di sampingku," Pangeran Tatius menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar." Apa penutup wajah ini tidak bisa di buka sekarang,"tanya Pangeran Tatius dengan suara lantang.


"Hei, Vampire jelek, apa kamu sudah tidak bisa sabaran, diam sebentar dan ikuti perintahnya kenapa?"


"Kau, mengapa selalu meledek ku, Aku ini pengiring buat apa harus memakai penutup wajah, kamu pasti yang membuat Acara super aneh, jika bukan karena Tania yang meminta Aku tidak akan sudih berada disini."Sungut Pangeran Tatius kesal.


"Sssstttt...! jangan berisik, bersabarlah, Nanti kau juga akan tau."


Devan yang datang tanpa mengunakan penutup kepala segera bangkit dari duduknya dengan meraih tangan seseorang yang duduk di samping Pangeran Tatius, perasaan aneh karena mencium keberadaan Tania dan kini Indra penciuman nya tidak lagi mencium keberadaan Tania membuat Pangeran Tatius tidak sabar.


"Peduli dengan penutup wajah ini, Aku harus melihat dan menyaksikan Acara itu sendiri jadi aku tidak butuh penutup wajah ini, dengan perasaan kesal Pangeran Tatius membuka penutup kepala nya dan pada saat yang bersamaan lampu tiba-tiba padam, sehingga lagi-lagi Pangeran Tatius tidak bisa melihat keadaan sekeliling karena keadaan nya benar-benar gelap.


"Sial, apa-apaan ini, kenapa lampunya mati?"


"Ehem .!apa kau sudah siap untuk menikah?"


"Anda bertanya pada siapa, disini gelap pengantinnya entah ada dimana,"jawab pangeran Tatius asal


"Bukannya, kamu yang mau menikah."


"Bukan?"


"Jadi apa Aku salah orang, disini gelap belum menyala lampu nya, maaf jika salah."


Mendengar perkataan dari orang yang ada di depannya yang di yakini Pangeran Tatius adalah pasti pak penghulu, Pangeran Tatius tiba-tiba berpikir kenapa dia tidak menjawab iya saja bukankah ini akan menjadi peluang nya untuk bisa menggantikan Devan, setelah berpikir untuk beberapa saat tiba-tiba Pangeran Tatius bicara.


"Iya pak, saya pengantin nya, saya mempelai laki-laki nya," jawab Pangeran Tatius mantap, hatinya berbunga-bunga, dia akan mengantikan Devan dengan segera.


"Baiklah, Mari pegang tangan saya dan ikuti langkah saya, jangan lupa pakai Kembali penutup wajah anda karena saya mau mengajak Anda untuk menemui mempelai wanitanya."dengan perasaan senang Pangeran Tatius menuruti semua perkataan dari pak penghulu yang mana pada saat itu juga lampu sudah mulai menyala.


Namun ketika sampai di dalam sebuah ruangan kecil yang tidak terlalu besar dan ketika Pangeran Tatius di minta untuk membuka penutup wajahnya, jantung nya serasa hendak meloncat keluar akibat keterkejutan nya yang dalam.


Ternyata di dalam ruangan itu sudah ada Devan dan Tania serta ada juga Clara.


"Kemari dan duduk lah, sebentar lagi acara ijab Kabul akan segera di laksanakan."


Tania menatap wajah Pangeran Tatius dengan tatapan mata yang tajam sementara Pangeran Tatius menggelengkan kepalanya, sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


"Ayo, kita mulai pernikahan nya?"


"Maaf pak, saya bukan mempelainya."jawab Pangeran Tatius gugup.


"Saya, juga bukan kami ini cuma pengiringnya pak "jawab Clara.


"Sudah tidak usah sungkan, tadi sudah ada laporan jika kalian juga akan menikah disini, kalian bisa ikuti semua prosesnya tanpa harus mengeluarkan biaya, Karena biaya pernikahan akan di tanggung Nak Devan, bukankah begitu Nak Devan?"


" Benar Pak biaya proses untuk semuanya saya yang akan menanggung nya."


Pangeran Tatius mendelik dan mengepalkan kedua tangannya.


"Brengsek, kau pikir Aku semakin itu sehingga harus numpang untuk biaya pernikahan." geram Pangeran Tatius dalam hati."Tidak pak, itu tidak benar saya tidak mengajukan permohonan itu." jawab Pangeran Tatius panik pasalnya tatapan mata Tania yang sangat tajam seolah olah sedang mengintimidasi dirinya tak henti-henti menatapnya terlebih wajah cantik itu terlihat sangat marah padanya, demi keamanan dengan cepat Pangeran Tatius melangkah keluar akan tetapi dihalangi Devan.


"Kau mau kemana, sudah duduklah,"


"Lepaskan, Lo jangan macem-macem,"ancam Pangeran Tatius.


"Apaan, sih Yus, panik amat emangnya beneran Lo ngak mau nikah sama Tania?"


"Ngomong apaan sih Van, Aku tau kamu sedang mempermainkan ku, lebih baik Aku pulang saja untuk apa juga Aku disini,"


"Ya, sudah pulang saja Sono jangan salahkan Aku kalau terpaksa Aku menjadi kan Tania istri kedua,"


"Devan...! Pangeran Tatius mendelik seketika mendengar celotehan Devan." berani sekali kau...!" geram Pangeran Tatius sambil mengaggkat tangannya siap untuk menampar Devan akan tetapi dengan sigap Devan menangkap tangan Pangeran Tatius sambil tersenyum jenaka.


"Jangan pernah memukul ku."seru Devan yang kemudian melepaskan gengaman tangan nya dan melangkah mendekati Clara.


"Hei, kau ..


Belum juga selesai Pangeran Tatius berbicara tiba-tiba Devan sudah ngeloyor pergi mendekati Clara.


"Apakah kau bersedia menikah dengan ku?"


"Apa?"Clara yang tadi sudah dibuat bingung kini harus merasakan syok untuk yang kedua kali.


"Bersedia kah kamu menikah dengan ku?"


"Van, kamu bicara apa, Aku tidak mengerti,"Jawab Clara.


"Aku ingin memikahimu, apa kau mau?"


"Apa kau kini juga sedang mabuk?"


"Ta-tapi...! bagaimana dengan ...


"Tania... tentu saja dia juga akan menikah tapi bukan dengan ku,"


"Maksud mu?


"Tania akan menikah dengan kekasihnya."


"Kenapa kamu berubah pikiran apakah karena kau kasian padaku."


"Bisa jadi" jawab Devan dengan santai sambil tersenyum.


"Aku tidak mau kau nikahi hanya karena rasa kasisn."


"Oh, ya kalau kamu hamil bagaimana siapa yang akan jadi bapaknya."


"Devan, pelankan suaramu, mereka bisa mendengar nya Nanti."ucap Clara menggingat kan agar Devan bisa mengontrol ucapannya.


Mendengar larangan Clara bukannya Devan berhenti justru dia tertawa lebar sementara Tania yang juga di buat bingung melangkah mendekati Devan.


"Apa maksudnya semua ini Van?"


"Apakah kamu belum paham juga, sudah jelas Aku akan menikah dengan Clara dan kamu Aku kembalikan dengan Tatius."


"Van, kamu lagi bercanda, Aku tidak mengerti maksud mu."Tania bertanya dengan penuh kebingungan.


Pangeran Tatius yang kesal dan juga bingung ikut mendekati Devan.


"Jelaskan, maksud dari semua ini, kau mempermainkan Tania mau menjadikan nya istri kedua dasar laki-laki brengsek Aku hajar kau."


"Ssstt. brisik amat kalian itu, sekarang Aku mau tanya apakah kamu tidak mau menikah dengan kekasihmu?"


Bukannya menjawab Pangeran Tatius justru menatap wajah Tania, sementara Tania memilih membuang muka, rasanya malu dan kesal karena di permainkan Devan, dirinya bagaikan gadis yang tak berharga karena harus di lempar dan di sisihkan setelah tiada diminati.


Seolah memahami apa yang dirasakan Tania Devan meraih tangan Tania dan menyatukan dengan tangan Pangeran Tatius.


"Kalian saling mencintai jadi bersatulah, ini bukan keputusan gegabah yang aku ambil secara cepat, Aku sudah memikirkan jauh hari kalian saja yang tidak bisa memahami, Aku dan Clara sudah menjadi satu jika Aku tidak menikah dengan nya lalu Anak ku Nanti bagaimana?"


"Apa Anak, apakah kau dan Clara sudah.....


"Sttttt.... jangan keras-keras , memang sudah begitu, bagaimana apakah kalian tidak mau menikah juga bareng dengan Aku dan Clara."


"Jadi saat kau pamit pergi dengan membawakan sepiring makanan itu juga buat Clara."


"Tentu saja,"


"Tapi mengapa Clara tidak tau dan dia bilang dia datang hanya kamu suruh sebagai pengiring mempelai."


"Karena Aku ingin memberikan kejutan padanya sama seperti kamu Tania dan kau Tatius ini juga kejutan untuk mu, apakah kau masih tidak mau menikah?'


"Bodoh saja kalau Aku menolak nya tentu saja Aku siap dan mau." Ucap Pangeran Tatius dengan mata berbinar kemudian tangannya dengan cepat meraih tangan Tania dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.


"Kita menikah sayang."Ucap Pangeran Tatius dengan hati berbunga-bunga sambil mendarat man kecupan kecil di rambut kekasihnya, sedangkan Tania hanya diam terpaku tak menjawab atau merespon apapun.


Devan tersenyum bahagia dan pada detik itu juga Devan bertepuk tangan.


Pok ..pok...pok...!yang tak lama kemudian terdengar lah Suara bergemuruh bermunculan dari sudut sudut ruangan gelap.


"Hidup ... Pangeran Tatius...!


"Selamat untuk pernikahan nya..!


"Hidup Pangeran Tatius......


Suara mengagung-agungkan namanya membuat Pangeran Tatius terkesiap, terlebih melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan nya, begitu juga dengan Tania yang tak kalah terkejutnya, di tempat itu telah berdiri banyak prajurit kerajaan Awang Awang Vampire dan juga sang Raja Agung dari kerajaan Awang Awang Vampire.


Raja Prayudha Anatius praja pramusti Ayah dari pangeran Tatius, beserta ibunda Ratu Shima dan Ratu Derbah, kehadiran mereka di Bumi manusia membuat Pangeran Tatius menitikkan air mata, perasaan haru dan bahagia yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata.


"Bagaimana Pangeran, apakah kau masih bisa mengatakan kalau Aku tidak pernah menyayangi mu dan hanya menyayangi Devan."tanya Nenek Devan dengan bibir tersenyum.


"Nenek,"Lirih Pangeran Tatius yang kemudian menghambur dalam pelukan sang Nenek.


"Ini hadiah Nenek untuk mu sayang, smoga kamu bahagia."trimakasih Nek.


"Ayahanda Raja, ibu Ratu Shima, ibu Ratu Derbah trimakasih, atas restu dan kehadiran nya," setelah memberikan ciuman dan pelukan hangat pada keluarga, Pangeran Tatius menatap wajah Tania yang terlihat masih diam membisu.


"Sayang, sini ayo minta restu sama Raja dan Ibu Ratu," seru Pangeran Tatius dengan wajah berbinar senang.


"Tidak, Aku tidak bisa menerima pernikahan ini,"Ucap Tania seraya menyeka air matanya yang mulai luruh membasahi pipi.


"Deg...! pangeran Tatius menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis yang ada dihadapannya, dengan menggelengkan kepalanya Pangeran Tatius menatap wajah Tania dengan tatapan mata sayu.


"Sayang apa yang kau katakan?" tanya Pangeran Tatius dengan wajah panik dia tidak menyangka jika Tania menolak nya.


"Aku tidak bisa menikah, meskipun Aku mencintai mu, Aku tidak bisa melakukannya."ucap Tania dengan airmata yang terus mengalir di pipi.


"Kenapa, Apa salahku?"tanya Pangeran Tatius gusar hingga dia mengguncang tubuh kekasihnya.


"Maafkan Aku!"lirih Tania sambil melepaskan pelukan dari pangeran Tatius, kemudian melangkah pergi dengan gontai


Sementara semua yang tadinya bersorak gembira diam membisu, seolah ikut merasakan kepedihan hati Pangeran mereka, begitu juga dengan Raja dan Ratu semua diam membeku.


"Tunggu, kau tidak bisa melakukan ini padaku, katakan apa salahku?"


Tania tidak menghiraukan teriakan Pangeran Tatius dia terus melangkah.


"Berhenti Tania, katakan pada mereka apa alasan mu menolak Tatius,"tanya Devan lantang.


"Aku tidak bisa menikah tanpa ijin dan restu dari Ayahku, Ayah sangat tidak suka dengan Tatius."


"Sapa bilang Ayah tidak suka dengan Tatius?"tiba-tiba terdengar suara yang baru memasuki ruangan yang mana langsung membuat Tania menoleh ke sumber suara, terlihat lah dua orang laki-laki sedang memasuki ruangan.


"Ayah ..! dengan cepat Tania berlari dan menghambur kedalam pelukan sang Ayah, wajah yang tadinya bersedih dan khawatir kini mulai merasakan lega.


"Apakah Ayah ...


Belum selesai Tania bicara sang Ayah sudah menutup bibir putri nya dengan telunjuk jari tangan nya.


"Stttt....! jangan bicara lagi sana sungkem sama Bapak dan Ibu mertua kamu, Tatius bawa calon istri mu untuk meminta Restu Ayah dan Ibumu."


"Baik, Ayah ayo sayang kita meminta restu dari mereka."


"Suit....suit....! Pangeran Tatius menoleh ke sumber suara yang sepertinya sedang meledek dirinnya, dan ketika pandangan mata mereka bertemu.


"Paman Patih lembu ireng, kau juga tau Aku disini?"


"Tentu saja, selamat Pangeran"


"Trimakasih paman, jangan lupa kadoannya."


"Sip..!


Setelah meminta restu pada Semua orang tua wakil mempelai laki-laki dan perempuan, kini Pangeran Tatius dan Tania serta Devan dan Clara melakukan ritual saklar mengucap janji Setia di depan pak penghulu dengan disaksikan


para prajurit kerajaan Awang-awang Vampire dan beberapa keluarga terdekat.


"Bagaimana para saksi...


"Sah....!


"Sah.. ! suara sorak Sorai bahagia terdengar sangat riuh di dalam ruangan rahasia yang mana tidak diketahui para tamu undangan yang ada di sebelah, dimana Devan sengaja membuat dua tempat berbeda yang satu khusus untuk para undangan dari desanya dan satu khusus untuk tamu undangan dari kerajaan Awang Awang Vampire.


Setelah Acara mengikar janji usai Pangeran Tatius menatap sendu wajah istrinya.


"Sayang, kau tidak memberikan kecupan untuk ku,"


"Apaan, sih!


"Lho kita kan sudah sah jadi boleh dong Aku yang minta di ciuum dulu."


"Nih..,!


"Bugh...! sebuah buku mendarat dengan manis dan pelan di wajah Pangeran Tatius yang mana langsung di sambut gelak tawa para undangan yang ada.


"Yus, malang amat Nasib Lo, lihat nih Aku,"


"Cupp..! sebuah kecupan mendarat dengan manis di bibir Clara membuat Pangeran Tatius memalingkan wajahnya dan ketika melengos Tania menertawakan nya, merasa gemas jarena diledek Pangeran Tatius mengejar Tania.


"Awas, kau, suami minta ciuum, kok tidak boleh"teriak Pangeran Tatius yang mana langsung di sambut dengan gelak tawa dari para undangan yang dari kerajaan Awang Awang Vampire.


Dengan cekatan sang Nenek meraih tangan Pangeran Tatius yang berlari kecil mengejar Tania.


"Anak Nakal, itu di minta Nanti juga bisa cepat ganti baju kalian kita akan ke ruangan sebelah, mereka pasti sudah menunggu dan bagi yang mau ikut ke ruang sebelah gunakan pakaian manusia dan jaga sikap terutama jangan tersenyum karena hal itu akan menunjukkan gigi runcing kalian dan akan membuat para


manusia takut, apa kalian mengerti."


"Mengerti Ratu Agung.


"Cuih, Nenek peot itu, kok di panggil Ratu Agung."Cletuk Raja Sangkala.


"Kau, dasar Raja setan."


"Kek, Nek lebih baik kalian juga menikah lagi biar tidak ribut selalu."


"Tatius, awas kau ..!geram Raja Sangkala membuat semua yang hadir tertawa, sedangkan Pangeran Tatius segera berlari menuju ruang kecil untuk berganti.


Di dalam ruangan, Jantung Pangeran Tatius serasa hendak meloncat keluar ketika Tanpa sadar melihat sang istri sedang mengenakan baju ganti.


"Busyet, kau jangan menggodaku,"


"Siapa suruh kamu kemari, pergi sana.'


"Aku kan juga mau ganti baju,' tanpa bicara lagi Pangeran Tatius melepaskan kemeja atasnya hingga menampakkan tubuh sixpack nya membuat Tania memalingkan wajahnya.


"Sayang bantu Aku mengenakan baju yang ini, Aku tidak begitu paham."


"Tidak mau, pakai sendiri saja,"


"Astaga, di minta bantuin suami kok tidak mau, ayo sini kenapa mesti malu Bukankah semua ini juga akan jadi milikmu."goda Pangeran Tatius jahil.


"Apaan sih, ngak maulah pakai sendiri."


"Bener ngak mau,"


"Ngak,"


"Baik...!"dengan gerakan cepat Pangeran Tatius menarik tubuh Tania hingga jatuh kedalam pelukannya hingga membuat kedua mata mereka saling berpandangan untuk sesaat, Pangeran Tatius menangkup wajah cantik Tania dengan gerakan sedikit menunduk mendekati bibir ranum nan mengoda, ketiika bibir Pangeran Tatius hendak melummat bibir Tania dan ketika Tania memejamkan mata pasrah dengan apa yang akan diberikan suaminya tiba-tiba sebuah teriakan dari luar mengagetkan mereka.


"Tatius, Tania cepat keluar ini sudah siang.'


"Ah, sial, mengaggu saja keluh Pangeran Tatius yang tidak jadi dapat permen manis berlipstik merah sementara Tania bernapas lega karena tidak jadi kecolongan bibirnya, dengan tersenyum mengejek Tania keluar ruangan lebih dulu.


"Sayang, tunggu Aku."dengan terburu buru Pangeran Tatius mengenakan baju ganti pengantinnya.


**TAMAT**......


_'__________


____________


**Terimakasih sudah menjadi reader setia the Vampire Princes first love ,Author sangat bangga dan haru kk semua sudah menggikuti dari parit 1 hingga 387 dengan 400 ribu kata lebih


akhirnya kita sudah berada di penghujung cerita.


in syaAllah akan ada Season ke dua.


dan part tambahan sebagai bonus tidak ada yang bisa aku berikan sebagai ucapan terimakasih selain semoga Reader the Vampire Princes first love selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan di dunia dan diakhirat Amin


jika ada kesalahan baik yang Aku sengaja ataupun tidak saya mohon maaf sekali lagi trimakasih.😘😘😘😘🙏🙏🙏**