
Bibi Derbah tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menitikkan air mata atas apa yang sedang terjadi pada Nasib nya, kali ini Bibi Derbah tak yakin bisa selamat, terlebih pangeran Tatius tak ada di sampingnya entah di mana dia dan mungkin inilah akhir dari perjalanan hidupnya, dia akan mati di tangan para warga kampung yang tak berperasaan,Bibi Derbah di perlakukan seperti hewan.
Tubuhnya yang masih terjerat jaring jala di seret dan di dorong dengan keras oleh para warga untuk mencapai sebuah tempat yang di namakan balai desa. Di sana sudah tersedia sebuah kerangkeng dari besi tanpa kasian beberapa laki-laki bertubuh tinggi besar dengan sangat keras mendorong tubuh Bibi Derbah untuk masuk ke dalam kerangkeng besi, hanya sekali dorong tubuh Bibi Derbah sudah masuk ke dalam kerangkeng besi.
Mereka segera mengunci krangkeng besi dengan gembok.
"Bapak...Bapak...dan Ibu...ibu... sekalian sambil kita menunggu keputusan dari Bapak kepala desa, Vampire ini mau kita apakan, Bapak...Bapak...dan Ibu...Ibu.... boleh melihat lihat dan berfoto ria dengan mahkluk langkah dari dunia lain, yang punya sosmed boleh di upload siapa tau viral dan itu akan membawa nama baik desa kita dan kita bisa di kenal di seluruh pelosok dunia dan tidak usah khawatir Vampire ini tidak bisa melukai kita karena dia ada di dalam kerangkeng besi, cuma saran saya jangan terlalu dekat yang mana bisa membuat kuku panjang Vampire bisa menyerang kita, apa Bapak dan ibu mengerti?"
Serentak para warga mengatakan mengerti dan orang itupun sudah masuk ke dalam guna melakukan rapat penting bersama beberapa orang seperti sesepuh desa, guna membahas prihal tertangkapnya seorang Vampire.
Sementara di tempat yang tak jauh dari desa itu pangeran Tatius sudah mendapatkan apa yang dia cari, baju dengan bermotif manusia dan cadar serta topi, sehingga dirinya tak lagi terlihat seperti Vampire.
Pangeran Tatius berjalan menyusuri desa dengan hati yang bertanya tanya pasalnya desa itu terlihat legam dan sepi bagaikan kuburan, tak terlihat sedikit pun manusia yang lalu lalang di jalan.
"Aneh..ini desa kenapa sepi begini, nah kebetulan tuh ada bapak tani yang baru pulang dari ladang lebih baik aku tanya saja." Bergegas Pangeran Tatius menghampiri sang bapak.
"Maaf, pak, kalau Boleh saya tau Kenapa desa ini sepi sekali, tak terlihat satu pun warga desanya.
"Oh, mereka semua lagi ada di balai desa , Nak!"
"Oh di balai desa lagi ada acara, begitu, ya pak?"
"Acara, sih tidak ada cuma dengar dengar mereka berkumpul lagi melihat Vampire yang baru saja mereka tangkap."
"Deg...!"
Hati pangeran Tatius tiba-tiba bergetar dia teringat telah meninggal kan Bibi Derbah wanita yang memiliki nama mirip dengan nama Ibu Ratu Derbah Ibu dari pangeran Yervan.
"Apa?"menangkap Vampire, di sini balai desa nya di mana pak?"tanya pangeran Tatius sedikit panik.
"Di sana, Nak, kamu lurus saja ngak usah belok belok, nanti ada pos kampling baru belok kiri nah ada tempat yang sangat luas itulah Balai desa tempat nya terbuka."
"Baik, trimakasih pak, kalau begitu saya permisi dulu."
Pangeran Tatius segera memutar tubuh hendak pergi.
"Tunggu, apa kamu mau juga melihat Vampire di sana kah Nak?'
"Iya, saya juga ingin melihat Vampire, pak!"
"Ya, sudah hati-hati, aku mau pulang dulu mandi ini baru dari sawah kotor semua badan bapak, nanti bapak juga akan menyusul, Bapak juga ingin lihat Vampire."
Setelah Bapak tani itu melangkah pergi pangeran Tatius segera melesat terbang menuju arah balai desa.
Aku harus cepat sampai di sana pasti yang mereka tangkap Bibi Derbah dan pastilah Bibi Derbah sekarang lagi ketakutan, tenanglah Bik aku akan datang.
"Hoooop...!"
Pangeran Tatius sedikit kesulitan melihat Bibi Derbah pasalnya terlalu banyak warga desa yang bergerumbul di sana menggelilingi tempat di mana Bibi Derbah di tawan.
"Banyak sekali warganya, aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan, kasian sekali Bibi Derbah."Gumam pangeran Tatius yang memilih bertenger di atas pohon yang ada di sekitar tempat itu.
Di tengah hiruk pikuk nya suasana Tampak dari dalam ruangan tertutup keluar seorang laki-laki tinggi besar wajahnya sedikit berwibawa, beberapa warga yang melihat nya langsung memberikan salam mungkin dialah yang di namakan Kepala desa.
"Maaf , Bapak..bapak...mohon berikan kami jalan, setelah melakukan perundingan kami selaku kepala desa, di desa ini memutuskan untuk menyerahkan Vampire ini pada pihak pemerintah di mana Vampire ini akan di masukkan dalam museum binatang satwa yang mana akan terjamin keamanannya, dia tidak akan mengaggu kita lagi dan kira masih bisa melihat nya di museum dan saya selaku kepala desa di desa ini mengguncapkan banyak banyak trimakasih pada semua warga yang telah berhasil menangkap Vampire ini, ada hadiah kecil untuk lima orang yang paling berjasa dalam penangangkapan Vampire, masing masing mendapatkan kebutuhan pokok seperti beras sepuluh kilo dan uang tunai tiga ratus ribu rupiah hadiah boleh di ambil sendiri ke dalam kantor kami pada jam kerja, sekarang kita menunggu kedatangan mobil dari pihak pemerintah untuk membawa Vampire ini."
Setelah melakukan pidatonya Bapak kepala desa dan seluruh warga menunggu kedatangan mobil pembawa Vampire, lima belas menit kemudian datanglah berderet-deret mobil yang akan membawa Bibi Derbah.
Pangeran Tatius memperhatikan mereka dari jarak yang cukup jauh, menunggu kesempatan agar bisa menolong Bibi Derbah, pangeran Tatius tidak bisa melakukan penyerangan kepada beberapa warga mereka hanyalah orang orang yang tidak tau yang sesungguhnya tujuan mereka hanya ingin melindungi desanya.
Setelah sampai dan mobil sudah berhenti di depan turunlah beberapa orang berseragam kepolisian masuk di ketengah tengah kerumunan warga, melihat para polisi itu datang segera warga memberikan jalan, terlihat lah kini wajah Bibi Derbah yang sedang meringkuk di dalam jeruji besi keadaan nya begitu memprihatinkan.
"Sabar Bibi, aku pasti datang menolong mu, aku tidak akan membiarkan Bibi kenapa kenapa, bersabarlah kesempatan itu pasti tiba, aku tidak bisa melukai banyak warga yang tak berdosa.
ll
"Ayo, keluar...!" teriak salah satu polisi dengan garang.
Bagaikan orang pesakitan juga kedua tangan Bibi Derbah di rantai besi. Tanpa mampu memberikan perlawanan Bibi Derbah pun menggikuti langkah kaki polisi tersebut.
"Cepat...!" karena tidak sabar salah satu dari polisi itu menendang punggung Bibi Derbah hingga terhuyung. Pangeran Tatius yang melihat itu mengeram marah dengan tangan mencengkram kuat dahan pohon hingga kuku kuku panjang nya mengelupas kulit pohon dengan wajahnya yang juga memerah karena amarah.
"Tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu setelah ini, bersni berani sekali kau bersikap kasar pada Bibi Derbah." geram pangeran Tatius.
Setelah Bibi Derbah di masukkan ke dalam mobil tanpa menunggu lama mobil pun berjalan meninggalkan Balai desa, pangeran Tatius terus menggikuti laju mobil itu sampai meninggal kan kawasan desa, kini semua sudah sepi tak ada lagi kerumunan warga yang ada hanya tiga mobil kepolisian yang membawa Bibi Derbah.
Tidak mau lagi membuat Bibi Derbah menunggu dalam ketakutan kini pangeran Tatius segera melakukan serangan nya dengan melesat terbang dan berdiri tepat di depan mobil para polisi, kehadiran pangeran Tatius yang tiba-tiba sontak saja membuat si pengemudi mobil langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.
Hal itu membuat kedua mobil di belakang nya pun terpaksa menginjak rem mendadak.
"Woi....sialan loe,? kenapa berhenti mendadak?"
seru salah satu teman nya yang paling belakang.
"Ada orang gila di depan dia lagi mau cari mati rupanya,"Seru si pengemudi paling depan.
"Sudah tabrak saja," seru temannya yang dibelakang.
Mendengar ada ribut ribut Bibi Derbah pun melihat ke depan dan alangkah senangnya ketika tau siapa yang datang.
"Pangeran...!" kau datang aku yakin kamu akan menjagaku." lirih Bibi Derbah dalam hati wajahnya yang sedih kini mulai berbinar senang.