
Putri Lin Ying sedikit tersentak kaget, ketika Pangeran tatius melepaskan genggaman tangannya dengan sedikit kasar yang kemudian pergi berlari masuk ke dalam mengejar bayangan Tania yang sempat terlihat mata Pangeran Tatius.
Sampai di dalam rumah Pangeran Tatius melihat Tania sedang duduk di ruang tamu dengan memegang satu benda pipih yang asing bagi Pangeran Tatius.
Perlahan-lahan Pangeran Tatius duduk di samping kekasihnya yang terlihat cuek dan tidak perduli dengan kehadiran Pangeran Tatius yang ada di sampingnya.
"Sayang...! tadi itu bukan aku yang ...
Belum sempat Pangeran Tatius menyelesaikan ucapannya Tania sudah memotong pembicaraan.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, jadi tidak perlu menjelaskan,"ucap Tania dingin.
Pangeran Tatius menelan ludahnya, menatap lekat lekat kekasih nya yang masih di rasa marah dan ngambek. Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Kau sedang apa sayang ..?" tanya Pangeran Tatius yang penasaran karena Tania tidak memperdulikan kehadiran nya dan asik melihat benda pipih sebesar telapak tangan.
"Tidak ada,"jawab Tania singkat.
lagi-lagi Pangeran Tatius harus mengelus dada melihat sikap dingin dari kekasihnya, perlahan-lahan Pangeran Tatius memberikan diri merebahkan dan menyandarkan kepalanya pada lengan halus gadis yang ada di sampingnya.
Merasa terganggu dan risih Tania menegur sikap Pangeran Tatius yang dirasa lebay dan kekanak-kanakan.
"Apaan sih, nyadar nyadar begini,mengaggu tau tidak."ucap Tania yang mana langsung membuat Pangeran Tatius mendelik seketika.
"Apa, sayang, mengaggu..!" apa aku tidak salah dengar jadi sekarang aku pengaggu begitu."Pangeran Tatius bangkit dari duduknya dan berpindah berjongkok tepat di hadapan Tania, menatap lekat lekat gadis yang sedang marah, super dingin dan cuek padanya." Kenapa diam tatap aku dan jawab pertanyaan ku."
"Aku lelah bertengkar, biarkan aku sendiri."punya Tania yang kini mulai sibuk memijit-mijit benda pipih yang Pangeran Tatius tidak mengerti benda apa itu.
Merasa kesal karena di abaikan dan di cuekin, Pangeran Tatius merampas benda pipih yang ada di tangan kekasihnya.
"Tatius ...!apa yang kau lakukan Kembali kan itu milik ku,"Teriak Tania kesal.
"Kenapa, apa benda ini lebih penting dari pada aku."
"Tentu saja itu penting, ayo kembali kan."
"Jika karena benda ini aku kamu cuekin, aku akan hancurkan benda ini,"
"Tatius, jangan!" itu milik ku;"
"Aku sudah tau itu milik mu, tapi aku tidak mau benda ini lebih kau perhatikan daripada aku."
"Tatius jangan aneh aneh deh, aku sudah menuruti apa yang kamu minta, kita sudah tidak putus meskipun hatiku sangat sakit dan malas sekarang kau mau hancurkan benda milik ku, maumu apa sih?" Tania berteiak dengan geram.
"Apa kau ingin tau apa mau ku?"
"Katakan, lalu pergi lah jangan ganggu aku."
Pangeran Tatius yang merasa gemas dengan sikap kekasih nya tiba-tiba terlintas rencana licik untuk membuat suasana di antara mereka agar tidak renggang.
"Baik, kau mau benda ini kan , coba ambil dan rampas dari tanganku kalau bisa dan jika berhasil aku akan menurut dengan semua permintaan mu kecuali kita putus, bagaimana?"
"Kau pikir aku anak kecil, ogah ambil saja tuh tapi awas kalau sampai pecah aku tidak akan memaafkan mu,"seru Tania yang kemudian berlari masuk ke dalam sebuah kamar di mana di dalam kamar itu terdapat Pak Guru Willi yang sedang sibuk juga dengan benda pipih nya.
Pangeran Tatius terbelalak kaget melihat sikap dari kekasihnya yang tidak pernah terlintas dari bayangannya, dia berfikir jika Tania akan dengan senang hati menerima tawaran nya, mereka berdua bisa berlari saling bekejaran kemudian memadu cinta, tapi yang terjadi justru diabaikan.
"Sial, rencana gagal, ini benda apaan sih,"Pangeran Tatius yang tidak mengerti benda yang ada di genggaman tangan nya dengan santai melempar lemparkan benda itu ke udara kemudian menangkap nya." Mungkin ini memang untuk di lempar lemparkan begini untuk mainan karena dia sedang kesal makanya mencari hiburan dengan melempar lemparkan benda ini, benda antik gak ada apa-apanya cuma hitam saja.
Ketika Pangeran Tatius asik bermain dengan melempar lemparkan benda pipih milik kekasihnya, Putri Lin Ying yang ingin masuk kedalam rumah menjadi bengong dan heran melihat tingkah Pangeran Tatius yang aneh dan lucu karena dia lagi asik melempar lemparkan benda pipih berwarna hitam.
Putri Lin Ying tersenyum miring melihat hal itu.
Aku buat benda itu hancur saja pasti Pangeran Tatius sikapnya lucu dan seru jika aku hancurkan benda itu, dan dia pasti akan berhenti bermain seperti anak kecil saja.
Ketika benda pipih terbang di udara diam diam putri Lin Ying mengeluarkan tusuk rambut nya yang tajam dan dengan cepat tusuk rambut itupun di terbang kan ke udara oleh putri Lin Ying mengarah pada benda pipih , tak aya lagi benda pipih sebesar telapak tangan berwarna hitam itu pun langsung hancur di udara tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan sehingga Pangeran Tatius tidak menyadari jika benda pipih nya telah hancur.
Putri Lin Ying tersenyum penuh kepuasan.
"Rasain tuh, hancur, salah sendiri bersikap sok jual mahal dihadapan ku." desis putri Lin Ying dalam hati yang mana diam diam pergi setelah menghancurkan.
Pada saat benda pipih yang terbang tiba saatnya jatuh kebumi dengan cekatan dan secepat kilat Pangeran Tatius menangkapnya, tangannya bergetar dan kedua bola, matanya membulat dengan sempurna ketika benda pipih di tangkap dalam keadaan sudah hancur.
"Hei .... kenapa bisa jadi begini, bagaimana ini." gumam Pangeran Tatius binggung, terlebih ingatan nya pada pesan Tania, jangan sampai benda pipih nya hancur.
Pangeran Tatius modar mandir dalam keresahan, sementara Tania yang masuk ke dalam kamar dimana di dalam kamar ada pak guru Wili yang sedang duduk dan sedang asik juga dengan benda pipih milik nya.
"Pak ..! pinjam ponsel nya aku mau telpon Devan."
"Di bawa Tatius, tauk mau buat apa dari pada ribut aku berikan."
"Ya, sudah pakai ini"
"Trimakasih, Pak aku pamit dulu '
"Rahasia kah telpon nya kok pakai pergi segala."
"Ngak sih, pak! tapi ngak enak lah ngobrol di depan Bapak."
"Ya, sudah cepat telpon sana, Nanti kalau pacar kamu kesini dia melarang kamu telpon lagi.'
"Iya , Pak! trimakasih."
Tania segera berlari mencari tempat yang aman dari gangguan siapapun, rasaanya sudah rindu dan kangen dengan teman lamanya di mana selama ini Tania selalu didampingi temannya.
Pak guru Wili Kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, angannya melayang tinggi berfikir keras bagaimana bisa melepaskan Tania dari jeratan cinta Vampire yang mana hal itu benar benar tidak boleh dibiarkan, bagaimana pun juga Tania dan Tatius adalah dua insan yang berbeda alam.
Memang tak bisa di pungkiri dan tak diragukan Pangeran Vampire yang bernama Tatius itu sosok Vampire yang baik hati, akan tetapi tidak lah rela jika Murid yang juga gadis dimana masih sangat dia cintai harus jatuh kedalam pelukan laki-laki Vampir.
"Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Tania, Vampire itu memang memiliki wajah yang rupawan dimana siapapun yang memandang pasti akan jatuh hati padanya tapi masalah nya laki-laki itu bukan manusia tapi Vampir, aku harus secepatnya membawa Tania pergi dari tempat ini sebelum Vampire itu membawa Tania masuk ke dalam kerajaan istana nya yang pasti nya Tania akan selamanya berada di alam ini dan kurasa ini saat yang tepat dimana hubungan mereka lagi renggang, aku harus bisa memisahkan mereka secepat nya."
"Hei....! Wili bangun cepat."
Pak guru Wili yang ketika itu lagi melamun dengan memejamkan mata tersentak kaget mendengar sapaan dari Pangeran Tatius.
""Kau, mau apa memanggil ku, brisik tauk, aku mau istirahat."
"Tania, mana?
"Hadew. .Nih Vampire bener bener kelewat cinta apa ya, belum ada satu jam sudah mencari, gimana bisa memisahkan mereka berdua," gumam Pak guru Wili dalam hati.
Melihat pak guru Wili di tanya diam saja Pangeran Tatius Kembali bertanya untuk yang kedua kalinya.
"Di mana, Tania!"
"Brisik, ngapain sih malam malam mencari Tania, biarkan dia beristirahat jangan kau cari dia kamu beristirahat juga sana."
"Aku ada perlu, aku mau bilang benda miliknya hancur, aku tidak menghancurkan nya, dia hancur sendiri."
"Apa? hancur, coba lihat!Pak guru Wili dengan cepat merampas benda pipih yang ada di tangan Pangeran Tatius.
"Gawat, Tania bisa marah padamu itu namanya ponsel, gunanya untuk menghubungi orang yang jauh dari kita, kenapa bisa sampai hancur begini kau apakan sih,"
"Tidak, ada! apa benar Tania akan marah jika benda ini hancur."
"Tentu saja benar,kalau tidak percaya sana pergi dan buktikan sendiri."
"Wil...jangan menakut nakuti ku dong."
Pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Ini benar, jadi kamu bersiap siaplah untuk dapat amarahnya."
"Wil...benda begini ini cari dimana sih, aku akan mencari untuk mengantikan nya."
Pak guru Wili mengelengkan kepalanya.
"Kau mau menggati nya?"
"Iya."
"Sini ku kasih tau, benda begini ini adalah cuma di toko bangsa manusia yang ada di kota kota dan harganya sangat mahal dan kau bilang mau mengantinya, apa kamu bisa pergi dan bilang beli pada orang yang ada di toko Bangsa manusia, jangan aneh aneh deh, sudah trima saja nasibmu, Tania bakal marah besar itu."seru pak guru Wili menggingat kan.
Mendengar perkataan dari pak guru Wili Pangeran Tatius bergidik juga masalah kemarin saja belum kelar marah dan ngambek nya sekarang mau di tambah lagi, tidak... tidak Pangeran Tatius tidak bisa tinggal diam, dia tidak mau jika harus mendapatkan amarah dan di cuekin lagi.
"Kalau begitu, jaga Tania aku titip dia sebentar, aku akan mencari pengganti benda pipih ini."
Pak guru Wili mengeryitkan dahinya mendengar perkataan dari pangeran Tatius.
"Kau yakin akan pergi ke alam manusia untuk mencari benda pipih ini, kau jangan main main disana banyak penjaga dan polisi, bisa bisa kamu di tangkap dan dijadikan tawanan lalu di taruh di museum untuk bahan tontonan."
"Aku tidak takut, aku lebih takut jika Tania sangat marah padaku, sudah aku pergi dulu jangan bilang Tania."
Setelah mengucapkan itu pangeran Tatius segera melesat terbang tinggi meninggalkan tempat di mana pak guru Wili dan Tania berada .