The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.12 SEBUAH RAHASIA.



Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan


dimana, bisa bersantai dari tugas dan bermacam macam materi pelajaran di sekolah.


Rasa pusing setiap hari harus, membuka dan bergelut dengan materi pelajaran terutama, mata pelajaran dari pak wili.


Pelajaran Matematika yang sangat membosankan, beruntung yang menjadi gurunya orang yang tampan dan ramah,


sehingga kebosanan itu bisa sedikit berkurang.


Pada hari minggu.


Banyak para pemuda pemudi baik dari anak anak maupun tua bahkan remaja, melewati setiap paginya dengan berolah raga ada yang cuma berjoging ada juga yang bersepeda.


. Tania memilih hari paginya dengan, menyiram bunga bunga di taman.


bunga bunga yang sudah mulai bermekaran dan beraneka warna serta dari jenis yang berbeda membuat nya tak bosan untuk selalu memandang.


Ketika Tania asik dan sibuk dengan menyiram


bunga bunga di taman.


Terdengar suara motor berhenti di halaman Rumahnya.


Sejenak Tania menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke sumber suara motor.


Di lihatnya Devan turun dari motornya.


Tania kembali melanjutkan menyiram bunga bunga yang masih belum mendapatkan bagaian Air.


" Pagi, Tania...!


"Pagi juga " Tumben pagi pagi kesini,


Ada perlu apa ?"


" Ada, tamu datang bukannya di suruh masuk, di buatkan minum kek, ini malah langsung di tanya mau apa ?"


" Bikin sang tamu down saja.


"Kamu sih, bukan tamu tiap hari kesini ngaggu orang saja.


"Serius...! Keluar yuk sebentar saja !"


"Mau kemana ?"


"Ke Mall, atau ketaman kota.


"Aku ingin jalan jalan, bosan di rumah terus.


"Nih..!" bawa ember bantuin siram bunga, nanti ku antar.


"Ya....Masak ada timbal balik sih !"


"Itu bukan hanya harus, tapi wajib.


"Mau minta di bantu harus bisa juga membantu"


"Nih lanjutan, aku pergi mandi dulu.


" Baiklah, cepat mandinya ya...?


ngak pakai lama.


Tania tidak menjawab, dia hanya menunjukkan jempol jarinya sebagai tanda setuju.


Tidak berapa lama Tania sudah keluar dengan baju yang simpel, celana panjang dan kaos putih dengan berlapis jaket levis panjang.


" Wah..., cepat sekali sudah siap rupanya."


" Ok, yuk kita berangkat !"


Tania duduk di belakang dengan di bonceng


Devan, semula mereka berencana ke Mall dan toko,tapi ternyata Devan menggajak Tania pergi kepantai.


" Lho..!kok ke pantai sih ?"


" Katanya ke Mall,...?" Gagal deh shoping nya.


" Tenang, nanti kalau ada waktu aku ajak shoping juga.


Tania tertawa.


Ha ha ha ha ha..!


" Bilang saja loe,lagi garing.


"Apaan tuh..?"


"Garing, itu artinya kantong kering !


Serentak bagaikan paduan suara dengan nada


Mayor, Tania dan Devan tertawa.


Setelah menepikan motornya, Mereka berdua


ada di sekitar pantai.


Tania dan Devan memilih duduk di sana.


" Tania,,,!"


"Ya..!


"Main air yuk..!"


"Ngak maulah males, dingin air nya.


" Gak papa..,.., sebentar saja!"


Tania mengelengkan kepala nya, tapi Devan tetap memaksa, akhirnya Devan menarik


tangan Tania.


" Ayo...!"


"Jangan, di tarik tarik tangan ku, aku nggak mau !


" Cuma sebentar"


Devan terus menarik sampai pada saat, baju Levis lengan panjang Tania tersingkap ke atas


mata Devan teruju pada sebuah perban kasa berwarna coklat.


" Tanganmu kenapa...?"


" Ucap Devan khawatir.


Dengan buru buru Tania menurunkan kembali jaket Levis yang tersingkap ke atas.


" Ngak kenapa napa kok."


" Jangan di tutup coba lihat sebentar."


"Jangan..!"


"Kenapa, tidak boleh ku lihat ?"


" Kapan, kamu terluka nya ?"


"Ayo kita duduk saja.


" Aku tidak tahu kalau kamu sakit, maafkan aku ya..?"


Tania tertawa melihat Devan khawatir padanya.


"ini..! luka lama jadi tidak ada yang perlu kamu khawatir kan.


" Maksud kamu apa...?"


"Sudahlah, jangan di bahas pulang yuk !"


"Kenapa, kamu menghindari menjawab pertanyaan ku ?"


"Karena ini sangat berbahaya bagi kehidupan ku !"


"Aku, semakin tidak paham maksud mu ?"


"Ayolah, jelaskan padaku!"


"Aku tidak terlalu mengerti juga, cuma Nasehat


Ayah ku aku tidak boleh membuka perban luka


di tanganku di alam terbuka, terlebih saat muncul bulan purnama.


"Kok aneh begitu..!"


"Memangnya luka di tanganmu luka apaan ?"


"Aku sendiri tidak tau ?"


"Kok bisa tidak tau ?"


"Apa tidak pernah kau ganti ?"


"Ayah,menyuruhku mematikan lampu saat


perban ku mau ku ganti.


"jadi aku tidak melihat luka apa yang ada di tangan ku.


Devan mangut mangut, tanda mengerti namun


sejujurnya, Devan penasaran dengan luka yang ada di tangan Tania.


Timbullah keinginan ingin mengetahui dengan diam diam apa yang tersembunyi di balik


luka tangan Tania.


Dengan Diam diam Devan merencanakan sesuatu.