
Malam semakin merangkak tinggi cahaya temaram lampu dan bulan yang terang tidak menghalangi pandangan, Raksasa dapat melihat musuh nya jatuh terkapar di tanah, Raksasa yang sudah di selimuti dengan dendam dan amarah tak sedikitpun memberikan kesempatan kepada lawan yang ada didepannya untuk mempersiapkan diri hingga kembali tangan Raksasa menyambar sembarang tiang yang ada di sekitar tempat itu dan di lemparkan nya ke arah pangeran Yervan dan putri Lin Ying, melihat balok tiang kayu besar dan panjang mengarah pada putra dan calon menantunya dengan sigap Raja Awang Awang Vampire sekuat tenaga terbang melesat dan menghadang di depannya karena tenaga Raja dan keadaan tubuhnya yang mulai lemah maka kekuatan nya pun berkurang sehingga untuk menahan balok tiang kayu panjang dengan kekuatan yang besar yang kini menghujam mengarah pada pangeran Yervan dan putri Lin Ying tak mampu dia tahan sehingga Raja lah yang terkena hantaman balok tiang yang panjang dengan tubuh kembali tersungkur di tanah.
Jeritan dan teriakan dari pangeran Yervan dan putri Lin Ying bagaikan paduan suara yang sedang berlomba menggiringi jatuhnya tubuh sang Raja. Melihat Sang Raja musuhnya telah terkapar tak berdaya Raksasa itu tertawa senang, sedangkan pangeran Yervan dan putri Lin Ying menangis dan menjerit.
Perlahan-lahan putri Lin Ying dan pangeran Yervan berusaha bangkit dan berniat mendekati Raja akan tetapi tubuhnya terasa tak memiliki tenaga, jangan kan untuk bangkit berdiri untuk menggerakkan salah satu anggota tubuhnya saja juga terasa sakit.
"Jika aku tidak berkorban, maka yang akan terjadi kami akan mati semua, apapun yang terjadi mereka harus selamat terlebih putri Lin Ying, dia tamu di krajaan ini, untuk itu keselamatan nya adalah tanggung jawab ku."Gumam sang Raja dalam hati.
Dengan susah payah Raja meraih tangan nya yang terjepit di bawah dada, di tatapnya lekat lekat cincin berbentuk ular naga, perlahan-lahan di lepaskan nya cincin itu dari jari tangan sang Raja, untuk beberapa saat ditatapnya lekat lekat cincin itu sebelum Raja melempar cincin itu ke udara seraya berkata.
"Aku membutuhkan bantuan mu lindungi dan jadilah perisai di sekitar putra dan menantuku."
"Wuuuuuusssssss.....! cincin berbentuk ular naga yang terlempar ke udara semakin lama semakin cepat berputar dan lama kelamaan cincin berbentuk ular naga membentuk suatu lingkaran putih dengan asap tebal, lingkaran itu terus berputar putar dengan kecepatan tinggi lingkaran itupun turun ke bawah sedikit demi sedikit awan tebal yang melingkar menghilang tanpa bekas.
Karena marah melihat sang Ayah terjatuh tak berdaya pangeran Yervan berteiak dengan keras.
"ayo, lawan aku!" hadapi aku akan ku musnahkan kau," seru pangeran Yervan yang langsung bangkit dan hendak mendekati Raksasa, tapi teriakan sang Raja menghentikan langkah nya.
"Jangan keluar dari tempat mu berdiri pangeran!"
"Tapi, kenapa Raja."
"Diamlah dan jangan bersikap bodoh."
Akhirnya pangeran Yervan menuruti perintah Raja, sedangkan Raksasa yang mendengar tantangan dari pangeran Yervan segera memberikan serangan akan tetapi kali ini Raksasa tidak bisa menyentuh batas di mana pangeran Yervan dan putri Lin Ying berada, merasa geram dengan kegagalan yang Raksasa alami Raksasa itu segera berpindah menyerang sang Raja dengan membabi buta, karena tidak ada kekuatan lagi Akhirnya Raja menjadi bulan bulanan serangan dari sang Raksasa.
Melihat Ayah nya babak belur pangeran Yervan berteriak histeris.
"Raja lari...!"
Serangan demi serangan tak mampu Raja hindari, para prajurit pengawal yang melihat itu serentak berbondong bondong menyerang Raksasa agar menghentikan serangannya pada sang Raja dan lagi lagi serangan Raksasa membuat para prajurit kocar kacir dan banyak yang tumbang.
Di kerajaan istana Sangkala Patih lembu ireng sedang berbincang-bincang dengan pangeran Tatius.
"Paman, bawa mereka ke asal negeri manusia melewati jalan Rahasia yang kakek tunjukkan, Ayah Tania pasti sudah sangat binggung dan katakan padanya aku akan menemuinya kelak di negri manusia."
"Baik, pangeran!"saya akan segera mengantar mereka semua."
"Jika pekerjaan mu selesai, paman pergilah ke kerajaan Awang Awang Vampire, aku ada disana entah kenapa perasaan ku tidak enak jadi aku tidak bisa menemani kepulangan mereka ke negri manusia."
"Baik pangeran, saya permisi dulu."
Dengan cepat patih lembu ireng terbang melesat ke tempat di mana Tania ,Devan , Dodi dan sang Nenek berkumpul, hari ini tanpa menunda waktu mereka semua akan di antar kan menuju Negri manusia melalui jalan Rahasia.
Pangeran Tatius yang hatinya sejak awal sudah merasa tidak tenang dengan sigap melesat terbang ke arah Timur di mana tujuan nya adalah kerajaan Awang Awang Vampire, tapi belum jauh pangeran Tatius terbang melesat dari belakang terlihat sebuah bayangan hitam yang menggikuti nya yang dalam beberapa detik kemudian dia melesat terbang dengan cepat menghadang tepat di hadapan pangeran Tatius.
"Kakek...!" kenapa Kakek ada di sini."
"Kau, mau kemana pangeran?"
"Tidak bisa, pangeran Tatius tidak boleh pergi ke sana."
"Tapi, kek, kenapa?"
"Ayah mu seorang laki-laki yang tidak bertanggungjawab, lihat, apa yang terjadi pada ibu mu , semua karena keteledoran Ayahmu."
"Tapi, kakek kenapa menyalahkan Ayah, bukankah apa yang terjadi pada ibu Ratu itu bukan kesalahan Ayah."
"Tidak boleh membantah kau tidak boleh pergi dari kerajaan ini pangeran."
"maaf, kakek ijinkan aku pergi.'
"Jika kau ingin pergi, maka hadapi dan kalahkan aku lebih dulu."
"Kakek, ini bicara apa? Kek, aku tau kakek sangat membenci Ayah Raja, tapi jangan seperti ini caranya."
"Terserah padamu pangeran, kau pilih menuruti apa kataku atau kau akan berhadapan dengan ku."
"Kek, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kakek, jadi pemisi aku pergi dulu."
Selesai mengucapkan itu pangeran Tatius melesat terbang menjauh, akan tetapi sang kakek entah apa yang ada di dalam pikiran nya yang terlihat dia sangat membenci Raja Awang Awang Vampire tanpa bicara melesatkan anak panah yang di arahkan pada Pangeran Tatius.
Insting dan pendengaran yang tajam yang dimilki pangeran Tatius mampu merasakan adanya benda yang melesat di belakang nya mengarah padanya dengan cepat pangeran Tatius memutar tubuh dengan mengibaskan jubah hitamnya sehingga anak panah yang melesat ke arah tubuhnya bisa dengan cepat dia tangkis.
Raja Sangkala tidak menyangka jika cucunya memiliki Indra insting dan pendengaran yang tajam yang mampu merasakan apapun yang ada di sekitarnya, meskipun diam diam ada rasa bangga melihat kemampuan yang luar biasa dari sang cucu, Raja Sangkala tetap menunjukkan sikap ketidak bersahabatan dia tetap kekeh melarang pangeran Tatius pergi ke istana Awang Awang Vampire.
Kali ini Raja Sangkala akan menguji kehebatan dari pangeran Tatius dengan memberikan serangan lainnya. Pangeran Tatius yang merasa waktunya sempit dan tidak banyak karena perasaan hatinya yang cukup kuat memilih, memberikan serangan balik yang tak kan dapat dengan mudah di hindari oleh sang Raja Sangkala bahkan tidak pernah Raja Sangkala duga.
"Maafkan aku, kakek!"terpaksa kulakukan ini, aku tau Kakek bisa melepaskan dan melawan jeratan ilmu kekuatan yang aku berikan, tapi pada saat kakek sudah bisa melepaskan nya aku sudah berada jauh dan sudah berada di kerajaan istana Awang Awang Vampire." lirih pangeran Tatius dalam hati.
Pangeran Tatius mundur beberapa langkah kemudian menaruh kedua tangan nya di depan dada dan beberapa detik kemudian kedua tangan pangeran Tatius di angkat tinggi tinggi ke atas.
"Perisai tujuh bintang kurung Raja Sangkala dengan tujuh lapis kunci, hiyaaaaa.....!" tubuh pangeran Tatius melesat ke atas dan berputar putar di udara dengan sangat cepat kemudian kedua tangan nya di arahkan pada Raja Sangkala.
"Hiyaaaaaaaa....!"Duaaaaaarrrr....!" bunyi suara Petit di langit yang kemudian memperlihatkan awan putih mengulug tinggi mengitari dan mengelilingi Raja Sangkala untuk beberapa saat yang kemudian awan putih itu pun lenyap.
Raja Sangkala yang tak menyangka pangeran Tatius akan berani melakukan serangan balasan tidak sempat menghindar dari serangan pangeran Tatius, bahkan untuk bisa keluar dari Kungkungan ilmu pangeran Tatius Raja Sangkala terpaksa harus menggeluarkan kekuatan tenaga dalam nya.
Untuk beberapa saat lamanya Raja Sangkala menggumpulkan kekuatan tenaga dalam nya dengan kekuatan itu Raja Sangkala membuka perisai tujuh bintang milik pangeran Tatius.
Suara tembakan seperti petir bersahut sahutan menandakan perisai tujuh bintang milik pangeran Tatius telah terlepas, setelah Raja Sangkala terlepas dari Kungkungan perisai tujuh bintang milik pangeran Tatius, beliau sangat geram dan marah ketika tak lagi mendapati pangeran Tatius ada di sana.
"Pangeran Tatius..!" kau benar benar cucu tidak tau diri, berani beraninya kau melawan larangan kskekmu hah, lihat saja jika kau kembali hukuman apa yang akan ku berikan padamu dasar anak nakal Araaaaaagggghhhh....!!!
Raja Sangkala melampiaskan kekesalannya dengan merobohkan semua pohon yang ada di sekitar tempat itu.