The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.151.PANIK



Pangeran Tatius yang melihat kepanikan dari Tania merasa iba, jujur di dalam relung hatinya yang paling dalam pangeran Tatius merasa sangat sedih di mana perjalanan cintanya harus selalu kucing kucingan dan sangat takut di ketahui orang,benar benar suatu keadaan yang sangat menyesakkan dada.


Di mana jika orang lain bisa dengan senang hati membanggakan sang kekasih, bisa bercengkrama sesuka hati dan menikmati indah dan harumnya bunga bunga cinta yang sedang tumbuh bermekaran tapi kehidupan cinta nya harus selalu was was dan ketakutan, khawatir ada yang tau, khawatir hubungan cinta mereka di pisahkan dengan paksa harus selalu diam diam dan sembuyi sembuyi.


Pangeran Tatius menelan ludahnya dengan kasar,menatap iba pada sang kekasih yang tiba-tiba berwajah pucat ketakutan jika sampai ada yang tau mereka lagi berduaan lagi-lagi pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


Nendapati wajah cantik di depannya berubah pucat karena ketakutan itu lebih sakit di bandingkan dengan luka yang dia alami, andaikan bisa dan andaikan mampu merubah takdir dirinya tak mau terlahir menjadi seorang Vampire yang mana semua menjadi penghalang dan jurang pemisah cintanya. Pangeran Tatius Tersenyum getir dan mengacak rambutnya sendiri, ada sensasi kesal pada dirinya sendiri yang tiba-tiba hadir mengusik alam pikiran nya.


Tania mendelik tak percaya melihat pangeran Tatius yang masih berdiri di tempatnya tak bergeming, bahkan justru lagi asik mengacak acak rambutnya sendiri.


"Kenapa belum pergi?" cepat pergi?" seru Tania panik hal itu membuat pangeran Tatius tersadar dari lamunannya.


Pangeran Tatius melangkah mendekati Tania dan berusaha menyentuh wajah pucat di depannya dengan cinta, akan tetapi pergerakan tangan dari pangeran Tatius langsung di tepis Tania.


"Kau mau buat aku mati berdiri, cepat pergi?"teriak Tania tertahan dengan penuh penekanan.


Pangeran Tatius mengagguk,


"Jangan takut aku akan pergi, selamat tinggal sayang...!


"Sudah cepat pergi sana?"


"Ting Tong..!" Ting Tong..! Tania ..


"Tok ..Tok....Tok....!" terdengar suara panggilan dan ketukan dari luar dengan keras sangat terlihat jelas sang tamu sangat tidak sabar buktinya sudah menyalurkan bek rumah tapi belum puas juga akhirnya dia berteriak dari luar memanggil dan menggetuk pintu rumahnya.


"Cepat..!"ucap Tania penuh dengan penekanan.


"Iya, aku sembunyi di kamar saja ya..!"


"Eh jangan...kamu harus pulang."


"Ngak mau, aku masih kangen baru juga ketemu beberapa jam masak langsung di suru pergi sih?'


"Terserah...cepet sana pergi."


"Tania....!"kamu di dalam kan? Tsnia....!"


"iiiya.... sebentar, ini pasti guru reseh itu kalau Ayah tidak mungkin ketuk ketuk pintu dan berteriak-teriak begini."


Pandangan mata Tania kembali beralih pada pangeran Tatius bibir Tania mengktucut dan dahinya berkerut.


"Kenapa masih disitu, kalau belum pergi juga aku lepar dengan sendalku ini,"


"Idih galak, ya..ya...aku pergi...!"


"Hoooop....!" pangeran Tatius melesat terbang masuk ke dalam kamar dan Tania menarik nafas lega... perlahan lahan Tania membuka pintu terlihat lah sosok Tampan dari pak guru Wili dari balik pintu.


"Kok lama bukanya.'


"Lama apaan!" pak guru Wili saja yang ngak sabaran." jawab Tania santai.


Pak guru Wili manggut-manggut, pandangan matanya tertuju pada kursi yang letaknya tak beraturan kemudian berpindah ke arah kamar Tania.


Melihat guru di depannya bukannya duduk tapi seperti orang yang sedang mencari sesuatu Tania mulai was was.


"Mari pak duduk! tawar Tania mencoba mengalihkan perhatian Pak guru Wili yang sedang celingukan.


"Bapak mau ke mana?"


"Aku. mau lihat kamar anak gadis siapa tau berantakan dan aku harus menggajarimu agar tidak berantakan.


Tania Tersenyum sambil memegang tangan pak guru Wili.


"He...he...he....kalau soal itu jangan khawatir aku sudah tau kamarku bersih, pak guru Wili, ayo duduk saja, " seru Tania sambil memegang lengan dari pak guru Wili, hal itu membuat pak guru Wili mengeryitkan dahinya tak biasanya Tania mau pegang pegang tangan nya apalagi Tersenyum begitu, meskipun hal itu terlihat sangat terpaksa tapi cukup membuat hati pak guru Wili senang, karena Tania berani memegang tangan nya pak guru Wili pun tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk menyentuh pipi halus dan putih Tania dengan tangan kanan karena karena tangan kirinya sedang dalam genggaman Tania, sesuatu yang tak pernah Tania duga pak guru Wili nekad menyentuh dan membelai wajahnya, membuat wajah Tania seketika berubah menjadi merah merona.


Jatung Tania berdegup dengan kencang bukan karena terpesona dengan pak guru Wili tapi dengan rasa takut nya yang tiba-tiba datang, Tania khawatir apa yang dilakukan pak guru Wili dilihat Pangeran Tatius, khawatir sang kekasih jeles lalu pergi meninggalkan nya dan ngak mau datang lagi. Perlahan lahan Tania menepis tangan pak guru Wili.


"Bapak jangan kurang ajar," ucapnya seraya melepaskan genggamannya." duduklah aku akan buatkan minuman untuk Bapak."ucap Tania yang kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat pak guru Wili sendiri di ruang Tamu.


"Kali ini aku bisa menyentuh pipi halus nya, rasa nya membuat jantung ku berirama lebih kencang dan aku yakin sebentar lagi aku bisa mencicipi manis dari bibir nya, rasanya tidak sabar menunggu hari itu tiba."Gumam pak guru Wili dalam hati sambil tersenyum dan mendudukkan bokong nya pada kursi bambu yang terbuat dari rotan.


Sementara pangeran Tatius yang melihat pemandangan itu mengeram kesal tatapan matanya yang tajam menggarah pada pak guru Wili.


"Awas... jika kau berani macam macam dengan pacarku aku akan membunuh mu, Araaagh....!'Pangeran Tatius mencengkram dinding atas dengan kukunya yang panjang.


Pak guru Wili Tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Aku tau si bau busuk itu ada di rumah ini, aku bisa merasakan kehadiran nya dan pastilah dia juga tau dan melihat saat aku membelai pipi Tania, ini baru awal mula Nanti kau akan melihat bagaimana aku akan meyesap bibir manis Tania di depan matamu biar kamu tau, akulah yang akan memiliki gadis itu seutuhnya bukan kamu," Desis pak guru Wili sambil tersenyum penuh kemenangan.


Tania mengeryitkan dahinya ketika melihat pak guru Wili senyum senyum.


"Pak guru Wili kenapa? kesambet ya.... jangan senyum senyum sendiri entar di sangka orang yang itu biasa ada di jalan keluyuran, nih kopinya."


"Trimakasih, aku lagi seneng saja calon istri ku sudah mau pegang tangan ku dan sekarang mau membuat kan kopi untuk ku."


"Apaan, sih!" semua Tamu pasti aku perlakuan begitulah."ucap Tania menegaskan.


"Oh, ya!" aku lapar ayo kita makan di restoran."


"Ngak mau, aku sudah makan tuh lihat masih ada piringku."


"Iya, tapi sepertinya kamu ngak selera makan, buktinya tuh baru satu sendok mungkin yang kamu makan. sudahlah ayo aku akan bawa kamu ke restoran termahal dan pasti kamu suka," seru pak guru Wili menjelaskan.


Tanpa menunggu persetujuan dari Tania pak guru Wili langsung meraih tangan Tania mengengam dan membawanya keluar dari rumah itu.


Tak menyadari pak guru Wili berani nekad pegang pegang tangan nya Tania sedikit memberontak.


"Pak.!" lepaskan tanganku jangan pegang pegang aku bisa jalan sendiri."


"Ngak papa kalau perlu aku gendong masuk kedalam mobil kan kamu Calon istriku dan aku."


"iiih...norak banget sih, pak lepasin dong aku bukan anak kecil."


Tania berusaha melepaskan genggaman tangan pak guru Wili yang sangat kuat tapi usahnya sia sia, karena gagal akhirnya Tania menyerah membiarkan pak guru Wili menggrngam tangan nya dan tanpa sadar Tania membuang muka dan tanpa sengaja Tatapan matanya tertuju pada kamarnya dan terlihat lah tatapan tajam dari pangeran Tatius.


"Gawat dia melihat ku," keluh Tania dalam hati yang dengan serta menggigit tangan pak guru Wili."


"Auuuww....!"teriak pak guru Wili yang membuat spontanitas gengaman tangan nya terlepas.


"Aku, bisa jalan sendiri."ucap Tania yang kemudian melangkah mendahului langkah kaki pak guru Wili.