
"Masuk dan duduklah Tania, aku ingin bicara dengan mu,"
"Baik, Nek,"
Setelah mengambil kursi dan duduk Tania
menunggu, apa yang akan di bicarakan Nenek
kepadanya, dalam hati Tania berfikir apakah
kira kira Nenek Devan ini tau, kalau Tania
habis menggalami kejadian aneh di kamar
kecil tempat peralatan dapur di simpan.
Sang Nenek memperhatikan Tania dari
atas sampai bawah, tatapan sang Nenek
yang sangat Aneh, membuat Tania rikuh
dan jengah di perhatikan begitu.
"Apa, kamu, ingin menceritakan sesuatu,"
Tanya Nenek halus.
Tania mengeryitkan dahinya, pasalnya Tania
merasa aneh, bukankah tadi yang mau bicara
padanya itu sang nenek, mengapa sekarang
justru meminta aku yang bicara.
"Maaf, bukanya tadi Nenek yang mau bicara
dengan ku? kenapa sekarang justru Nenek
yang meminta ku bercerita,"
Sang Nenek tersenyum.
"Siapa tau, ada yang ingin kamu bicarakan atau
kamu tanyakan, sama Nenek,"
"Tidak ada Nek,"
"Tania...! Devan pernah bilang kamu itu
punya luka di tangan yang di perban, dan katanya tidak boleh di buka di sembarang
tempat, apa itu benar,"
"Oh, itu ! Benar Nek, ini perbannya,"
Tania dengan segera menunjukkan tangan
kirinya yang di balut dengan perban.
Sang Nenek memperhatikan dengan seksama
tangan kiri Tania.
"Apa, kamu ingat, kenapa tanganmu sampai
terluka,"
"Aku, tidak ingat, Nek !
"Apa boleh, aku buka perbannya disini,"
",Ayahku, melarang nya Nek, aku takut,"
"Jangan khawatir, luka perbanmu di buka
sudah tidak ada pengaruh nya , karena percuma di tutupi balutan perbannya sudah pernah terbuka,"
"Dari mana Nenek tau, kalau perbannya pernah
terbuka, sedangkan aku tidak pernah bercerita,"
"Itu, mudah sekali Tania, coba arahkan tanganmu pada cermin itu, dan lihatlah apa
kau temukan sesuatu yang aneh atau tidak,"
Tania berjalan mendekati cermin kecil yang
ada di atas meja, dan mengarahkan tangannya
kesana.
"Tidak ada apa apa Nek, ini biasa saja,"Ucap
Tania memberikan penjelasan.
"Tunggu, beberapa saat, Tania, lalu lihat kembali,"
Kembali Tania, mengarahkan Tangan nya kedepan cermin, yang ada di depannya,
kali ini Tania, melihat tangannya, yang ada di
dalam cermin dan yang tidak itu berbeda.
Tania mengusap usap matanya dengan punggung tangan kanannya.
"Apa, aku ngak salah lihat,"Gumam Tania dalam
hati.
"Nek...!apakah yang kulihat ini benar?Nek Kenapa Tangan ku yang di cermin dan yang
ini berbeda, mana yang benar Nek,"
"Apa, yang kamu lihat itu benar, di cermin
tanganmu tidak ada perbannya sedangkan
kamu masih memakai perban, itulah mengapa
Nenek bilang percuma, tanganmu ditutup dengan perban lagi,"
"Kenapa, bisa begitu, Nek ?"
"Itu, efek, dari tanganmu yang sudah pernah
di buka,"
"Ayah, bilang, jika luka perbanku terbuka berbahaya, apa itu benar Nek?
"Itu, benar, karena kamu cepat atau lambat
akan bertemu dengan takdirmu dan kita
tidak bisa memprediksi apakah itu akan
membawamu ke dalam bahagia ataukah justru
awal dari sebuah derita,"
misteri itu."
"Kamu, sudah dewasa, jadi kamupun berhak
tau alasannya, kenapa tangamu tertutup,
coba ingat ingat dulu kamu bertemu dengan
mahkluk apa?"
"Iiih... Nenek, kok bertanya nya serem begitu,"
"Melihat caranya, memberikan tanda kepadamu, itu sudah bisa di pastikan, dia menyukaimu dan dia berharap kelak bisa
bertemu dengan mu,"
"Nenek bicara nya jangan aneh aneh Tania jadi
takut,"
"Tidak perlu takut, seperti nya dia bukan
mahkluk jahat, tapi yang menghawatirkan di
sekeliling nya adalah mahkluk mahkluk jahat
yang bisa saja mengincarmu juga,"
"Trus, aku harus bagaimana ? aku tidak mau
bertemu dengan hal hal aneh, tadi saja waktu
aku mau mengambil piring aku sudah melihat
hal Neh di ruangan itu."
Sang Nenek yang mendengar cerita bahwa
Tania menemukan hal aneh di ruang tempat
dia menyimpan piring sangat terkejut.
"Apa, katamu! Hal aneh, hal aneh bagaimana?
Tania segera menceritakan semua kejadian yang dia Alami, mulai dari bingkai foto lukisan
yang memancarkan cahaya sampai pada
ketika Tania mematikan lampu, tiba tiba ada
cahaya terang yang menerangi ruangan itu.
Sang Nenek mendengar kan dengan seksama
sesekali mangut mangut.
"Pantas saja dulu dia berpesan jangan mematikan lampu,"Gumam Nenek lirih
"Nenek, bicara apa, aku tidak mendengar nya,"
"Bukan apa apa , Tania, sudahlah, kamu tidak
usah khawatir, berdoa saja, dia bukan
mahkluk jahat tapi mahkluk yang setia melindungimu, ayo kita hampiri Devan, kita
bantu Devan memanen Tomat dan cabe.
****
Karena sangat lama menunggu pangeran Yervan, mulai resah dia mulai mondar mandir
dari tempat duduknya, dimana dia disuruh
menunggu.
Akhirnya kesabaran nya hilang, dengan langkah
yang cepat kembali pangeran Yervan menemui
para pengawal penjaga pintu gerbang.
"Kenapa lama, sekali temanmu, memberi tau
pangeran Tatius,"
"Sudah, ku bilang anak muda pangeran Tatius
sangat sibuk, jadi kalau kamu tidak bisa
bersabar, kau boleh pergi,"
"Tidak, aku akan masuk dan mencari nya
sendiri,"
"Hey....!anak muda, jangan sembarangan bicara
kamu, berani beraninya mau masuk dan
mencari nya sendiri,"
"Betul, cepat kembali ketempat duduk mu, di sana,"
"Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"
"Adi, anak muda ini sudah sangat tidak sopan
ayo kita bereskan saja dia,"
"Ayo, kakak, aku juga sudah muak melihat
wajah kesombongan nya,"
Bergegas kedua pengawal itupun segera
menyerang, pangeran Yervan.begitu juga
Dengan pangeran Yervan dengan sigap dia pun memberikan perlawanan.
pertarungan yang cukup sengit dua lawan satu
namun karena ulah karugagan dari pangeran Yervan cukup bagus, tidak menunggu lama
kedua penggawal itu di buat, kewalahan
menghadapinya, ketika pangeran Yervan
hendak memberikan pukulan kepada para
pengawal yang sudah tidak berdaya dan jatuh
ketanah tiba tiba terdengar teriakan.
"Berhenti...!
Sontak saja pangeran Yervan menghentikan
serangannya yang hendak yang memukul dua orang pengawal itu.