The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.28.HILANG KESABARAN.



"Masuk dan duduklah Tania, aku ingin bicara dengan mu,"


"Baik, Nek,"


Setelah mengambil kursi dan duduk Tania


menunggu, apa yang akan di bicarakan Nenek


kepadanya, dalam hati Tania berfikir apakah


kira kira Nenek Devan ini tau, kalau Tania


habis menggalami kejadian aneh di kamar


kecil tempat peralatan dapur di simpan.


Sang Nenek memperhatikan Tania dari


atas sampai bawah, tatapan sang Nenek


yang sangat Aneh, membuat Tania rikuh


dan jengah di perhatikan begitu.


"Apa, kamu, ingin menceritakan sesuatu,"


Tanya Nenek halus.


Tania mengeryitkan dahinya, pasalnya Tania


merasa aneh, bukankah tadi yang mau bicara


padanya itu sang nenek, mengapa sekarang


justru meminta aku yang bicara.


"Maaf, bukanya tadi Nenek yang mau bicara


dengan ku? kenapa sekarang justru Nenek


yang meminta ku bercerita,"


Sang Nenek tersenyum.


"Siapa tau, ada yang ingin kamu bicarakan atau


kamu tanyakan, sama Nenek,"


"Tidak ada Nek,"


"Tania...! Devan pernah bilang kamu itu


punya luka di tangan yang di perban, dan katanya tidak boleh di buka di sembarang


tempat, apa itu benar,"


"Oh, itu ! Benar Nek, ini perbannya,"


Tania dengan segera menunjukkan tangan


kirinya yang di balut dengan perban.


Sang Nenek memperhatikan dengan seksama


tangan kiri Tania.


"Apa, kamu ingat, kenapa tanganmu sampai


terluka,"


"Aku, tidak ingat, Nek !


"Apa boleh, aku buka perbannya disini,"


",Ayahku, melarang nya Nek, aku takut,"


"Jangan khawatir, luka perbanmu di buka


sudah tidak ada pengaruh nya , karena percuma di tutupi balutan perbannya sudah pernah terbuka,"


"Dari mana Nenek tau, kalau perbannya pernah


terbuka, sedangkan aku tidak pernah bercerita,"


"Itu, mudah sekali Tania, coba arahkan tanganmu pada cermin itu, dan lihatlah apa


kau temukan sesuatu yang aneh atau tidak,"


Tania berjalan mendekati cermin kecil yang


ada di atas meja, dan mengarahkan tangannya


kesana.


"Tidak ada apa apa Nek, ini biasa saja,"Ucap


Tania memberikan penjelasan.


"Tunggu, beberapa saat, Tania, lalu lihat kembali,"


Kembali Tania, mengarahkan Tangan nya kedepan cermin, yang ada di depannya,


kali ini Tania, melihat tangannya, yang ada di


dalam cermin dan yang tidak itu berbeda.


Tania mengusap usap matanya dengan punggung tangan kanannya.


"Apa, aku ngak salah lihat,"Gumam Tania dalam


hati.


"Nek...!apakah yang kulihat ini benar?Nek Kenapa Tangan ku yang di cermin dan yang


ini berbeda, mana yang benar Nek,"


"Apa, yang kamu lihat itu benar, di cermin


tanganmu tidak ada perbannya sedangkan


kamu masih memakai perban, itulah mengapa


Nenek bilang percuma, tanganmu ditutup dengan perban lagi,"


"Kenapa, bisa begitu, Nek ?"


"Itu, efek, dari tanganmu yang sudah pernah


di buka,"


"Ayah, bilang, jika luka perbanku terbuka berbahaya, apa itu benar Nek?


"Itu, benar, karena kamu cepat atau lambat


akan bertemu dengan takdirmu dan kita


tidak bisa memprediksi apakah itu akan


membawamu ke dalam bahagia ataukah justru


awal dari sebuah derita,"


misteri itu."


"Kamu, sudah dewasa, jadi kamupun berhak


tau alasannya, kenapa tangamu tertutup,


coba ingat ingat dulu kamu bertemu dengan


mahkluk apa?"


"Iiih... Nenek, kok bertanya nya serem begitu,"


"Melihat caranya, memberikan tanda kepadamu, itu sudah bisa di pastikan, dia menyukaimu dan dia berharap kelak bisa


bertemu dengan mu,"


"Nenek bicara nya jangan aneh aneh Tania jadi


takut,"


"Tidak perlu takut, seperti nya dia bukan


mahkluk jahat, tapi yang menghawatirkan di


sekeliling nya adalah mahkluk mahkluk jahat


yang bisa saja mengincarmu juga,"


"Trus, aku harus bagaimana ? aku tidak mau


bertemu dengan hal hal aneh, tadi saja waktu


aku mau mengambil piring aku sudah melihat


hal Neh di ruangan itu."


Sang Nenek yang mendengar cerita bahwa


Tania menemukan hal aneh di ruang tempat


dia menyimpan piring sangat terkejut.


"Apa, katamu! Hal aneh, hal aneh bagaimana?


Tania segera menceritakan semua kejadian yang dia Alami, mulai dari bingkai foto lukisan


yang memancarkan cahaya sampai pada


ketika Tania mematikan lampu, tiba tiba ada


cahaya terang yang menerangi ruangan itu.


Sang Nenek mendengar kan dengan seksama


sesekali mangut mangut.


"Pantas saja dulu dia berpesan jangan mematikan lampu,"Gumam Nenek lirih


"Nenek, bicara apa, aku tidak mendengar nya,"


"Bukan apa apa , Tania, sudahlah, kamu tidak


usah khawatir, berdoa saja, dia bukan


mahkluk jahat tapi mahkluk yang setia melindungimu, ayo kita hampiri Devan, kita


bantu Devan memanen Tomat dan cabe.


****


Karena sangat lama menunggu pangeran Yervan, mulai resah dia mulai mondar mandir


dari tempat duduknya, dimana dia disuruh


menunggu.


Akhirnya kesabaran nya hilang, dengan langkah


yang cepat kembali pangeran Yervan menemui


para pengawal penjaga pintu gerbang.


"Kenapa lama, sekali temanmu, memberi tau


pangeran Tatius,"


"Sudah, ku bilang anak muda pangeran Tatius


sangat sibuk, jadi kalau kamu tidak bisa


bersabar, kau boleh pergi,"


"Tidak, aku akan masuk dan mencari nya


sendiri,"


"Hey....!anak muda, jangan sembarangan bicara


kamu, berani beraninya mau masuk dan


mencari nya sendiri,"


"Betul, cepat kembali ketempat duduk mu, di sana,"


"Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"


"Adi, anak muda ini sudah sangat tidak sopan


ayo kita bereskan saja dia,"


"Ayo, kakak, aku juga sudah muak melihat


wajah kesombongan nya,"


Bergegas kedua pengawal itupun segera


menyerang, pangeran Yervan.begitu juga


Dengan pangeran Yervan dengan sigap dia pun memberikan perlawanan.


pertarungan yang cukup sengit dua lawan satu


namun karena ulah karugagan dari pangeran Yervan cukup bagus, tidak menunggu lama


kedua penggawal itu di buat, kewalahan


menghadapinya, ketika pangeran Yervan


hendak memberikan pukulan kepada para


pengawal yang sudah tidak berdaya dan jatuh


ketanah tiba tiba terdengar teriakan.


"Berhenti...!


Sontak saja pangeran Yervan menghentikan


serangannya yang hendak yang memukul dua orang pengawal itu.