
"Kali ini kita dapat hukuman lagi,"
Keluh Tania.
"Ngak papa Tania, dah Nasib,"Jawab
Devan menghibur.
"Sebenarnya aku penasaran juga, dari
mana pak guru Wili tau kita ada
di kantin,"Ucap Tania sambil berfikir.
"Aku juga heran, kenapa bisa tau ya ?
aneh,"Timpal Devan kemudian.
"Pasti ada yang ngasih tau pak guru Wili,"
"Kamu benar Tania, pasti ada yang memberi
tau pak guru Wili."
"Kira kira siapa orang itu ,Yuk, kita cari tau,"Ajak Tania.
"Tapi, kita di suruh ke kantor tuh, kalau tidak
datang bisa dapat hukuman lagi kita,"
"Ya, sudah yuk, kita ke kantor dulu,"Ajak Tania kemudian.
bergegas Tania dan Devan melangkah pergi
ke kantor, Namun sebelum mereka sampai
di kantor, mereka melihat Dodi sedang
tersenyum ke arah mereka, Tania merasa
aneh di dekatnya Dodi.
"Dodi...!"kenapa kamu senyum senyum,"
"Lagi, seneng aku , Tania,"
"Senang, kenapa?"
"Akhirnya tuh laki laki tak tau malu ndekati
pacar orang akan di hukum lagi."
"Di hukum, siapa yang kamu maksud itu?"
Tanya Tania penasaran.
"Yang, lagi bersamamu?"Ucap Dodi cuek.
"Eh tunggu..!" kenapa loe bilang di hukum,
apa jangan jangan kamu tau, siapa yang
memberi tau pak guru Wili Kalau kami
ada di kantin?" Selidik Tania penasaran.
Dodi Tertawa kecil.
"Jelas, tau lah," Ucap Dodi mantap.
"Siapa?"Tanya Tania
"Aku lah,"Jawab Dodi mantap.
"Apa...? Kamu...!"
Astaga..Dodi....???"Untuk apa kamu begitu,
tau tidak, gara gara kamu aku dan Devan
pasti dapat hukuman lagi, tega amat kamu
jadi teman? Sungut Tania kesal.
"Aku tidak bermaksud membuat yayang Tania
di hukum, aku cuma mau memberikan pelajaran bagi dia, laki laki yang telah
merebut yayang Tania dariku,"Ucap Dodi
membela diri.
Dengan gemas Tania menjewer telinga Dodi.
"Sejak kapan aku jadi yayang kamu hah..?
Sembarangan saja yayang...yayang, aku
bukan pacar kamu jadi awas panggil
yayang...yayang lagi."Seru Tania tegas dan
keras, membuat Devan yang menunggu
jadi berjalan mendekati Tania dan Dodi.
"Ada apa? kenapa berteriak memarahi dia,"
Tanya Devan kalem.
Pasalnya Devan sangat tau Dodi salah satu
murid yang sedikit keterbelakangan mental.
Devan salah satu siswa yang bandel dan
terkenal kenakalannya untuk itu dia sering
mendapatkan peringatan keras dari beberapa
guru pendidiknya.
sampai pada suatu hari kenakalan Devan
tidak bisa di maafkan lagi, untuk itulah
Dia masuk di sekolah Tania, entah apa
yang membuat anak laki laki itu kini berubah
180 derajat, disini Devan jadi anak yang
tidak begitu bandel dan cukup rajin mengerjakan semua tugas tugas sekolah nya.
Keluarga Devan bisa di bilang keluarga yang
sangat tidak harmonis, semua sibuk dengan
urusan masing masing bahkan untuk
prestasi anak baik apa buruk pun keluarga
Devan tidak tau, bagi mereka kebutuhan
Devan untuk materi terpenuhi itu sudah
cukup, hal itulah yang membuat Devan
menjadi anak bandel belum lagi hubungan
antara Ayahnya dan neneknya itu sangat
aneh, seorang Anak pastilah sayang dan
selalu merindukan ibunya tapi ini tidak,
Devan tidak pernah melihat sang Ayah
dan Neneknya bercengkrama dalam keharmonisan keluarga, bahkan yang sering
Devan dengar makian kutukan dan hinaan
untuk sang Nenek nya.
Devan tidak tau apa yang menyebabkan
sang Ayah begitu membenci ibunya.
bahkan bisa di bilang sang Nenek seperti
di anggap sudah tidak ada.
Jangan kan saling bersilahturahmi
membicarakan namanya saja sang Ayah
sudah seperti orang yang kesetanan
marah tanpa alasan.
Meskipun sedikit ada rasa penasaran tapi
Devan belajar untuk tidak mau ikut
campur dalam urusan orang tua.
"Kamu, tau, ini..nih..! yang mengadukan
kita ada di kantin ke pak guru Wili," Jawab
Tania yang membuat lamunan Devan
ambyar.
"Apa..?Dia..!"Devan mengarahkan jari
telunjuknya ke arah Dodi.
Tania rnengagguk.
Tiba tiba Devan terkekeh.
Melihat Devan justru terkekeh Tania
mengerucutkan bibirnya,.
"Menyebalkan,"Ucap Tania kemudian memilih
berlalu pergi.
"Eh, Tunggu..!"
Dengan cepat Devan menjajari langkah
Tania.
"Jangan marah, aku kan cuma bercanda,"
Tania menghentikan langkahnya, netranya
menatap tajam ke arah Devan,.
Tania mengarahkan telunjuk jarinya ke arah
Devan.
"Awas, kalau berani menertawakan lagi,"
Ancam Tania.
"Duh, galaknya, aku kan cuma bercanda,"
Elak Devan membela diri.
Dengan memamerkan barisan giginya yang
putih Devan mengagkat dua jarinya ke
atas.
"Swer..!Aku berjanji tidak akan menggulangi,"
Ucap Devan tegas penuh dengan penyesalan.
"Ya, sudah, ayo cepat ke kantor, nanti pak
guru Wili tambah marah," Ajak Tania kepada
Devan.