The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.41. 180 DERAJAT



"Kali ini kita dapat hukuman lagi,"


Keluh Tania.


"Ngak papa Tania, dah Nasib,"Jawab


Devan menghibur.


"Sebenarnya aku penasaran juga, dari


mana pak guru Wili tau kita ada


di kantin,"Ucap Tania sambil berfikir.


"Aku juga heran, kenapa bisa tau ya ?


aneh,"Timpal Devan kemudian.


"Pasti ada yang ngasih tau pak guru Wili,"


"Kamu benar Tania, pasti ada yang memberi


tau pak guru Wili."


"Kira kira siapa orang itu ,Yuk, kita cari tau,"Ajak Tania.


"Tapi, kita di suruh ke kantor tuh, kalau tidak


datang bisa dapat hukuman lagi kita,"


"Ya, sudah yuk, kita ke kantor dulu,"Ajak Tania kemudian.


bergegas Tania dan Devan melangkah pergi


ke kantor, Namun sebelum mereka sampai


di kantor, mereka melihat Dodi sedang


tersenyum ke arah mereka, Tania merasa


aneh di dekatnya Dodi.


"Dodi...!"kenapa kamu senyum senyum,"


"Lagi, seneng aku , Tania,"


"Senang, kenapa?"


"Akhirnya tuh laki laki tak tau malu ndekati


pacar orang akan di hukum lagi."


"Di hukum, siapa yang kamu maksud itu?"


Tanya Tania penasaran.


"Yang, lagi bersamamu?"Ucap Dodi cuek.


"Eh tunggu..!" kenapa loe bilang di hukum,


apa jangan jangan kamu tau, siapa yang


memberi tau pak guru Wili Kalau kami


ada di kantin?" Selidik Tania penasaran.


Dodi Tertawa kecil.


"Jelas, tau lah," Ucap Dodi mantap.


"Siapa?"Tanya Tania


"Aku lah,"Jawab Dodi mantap.


"Apa...? Kamu...!"


Astaga..Dodi....???"Untuk apa kamu begitu,


tau tidak, gara gara kamu aku dan Devan


pasti dapat hukuman lagi, tega amat kamu


jadi teman? Sungut Tania kesal.


"Aku tidak bermaksud membuat yayang Tania


di hukum, aku cuma mau memberikan pelajaran bagi dia, laki laki yang telah


merebut yayang Tania dariku,"Ucap Dodi


membela diri.


Dengan gemas Tania menjewer telinga Dodi.


"Sejak kapan aku jadi yayang kamu hah..?


Sembarangan saja yayang...yayang, aku


bukan pacar kamu jadi awas panggil


yayang...yayang lagi."Seru Tania tegas dan


keras, membuat Devan yang menunggu


jadi berjalan mendekati Tania dan Dodi.


"Ada apa? kenapa berteriak memarahi dia,"


Tanya Devan kalem.


Pasalnya Devan sangat tau Dodi salah satu


murid yang sedikit keterbelakangan mental.


Devan salah satu siswa yang bandel dan


terkenal kenakalannya untuk itu dia sering


mendapatkan peringatan keras dari beberapa


guru pendidiknya.


sampai pada suatu hari kenakalan Devan


tidak bisa di maafkan lagi, untuk itulah


Dia masuk di sekolah Tania, entah apa


yang membuat anak laki laki itu kini berubah


180 derajat, disini Devan jadi anak yang


tidak begitu bandel dan cukup rajin mengerjakan semua tugas tugas sekolah nya.


Keluarga Devan bisa di bilang keluarga yang


sangat tidak harmonis, semua sibuk dengan


urusan masing masing bahkan untuk


prestasi anak baik apa buruk pun keluarga


Devan tidak tau, bagi mereka kebutuhan


Devan untuk materi terpenuhi itu sudah


cukup, hal itulah yang membuat Devan


menjadi anak bandel belum lagi hubungan


antara Ayahnya dan neneknya itu sangat


aneh, seorang Anak pastilah sayang dan


selalu merindukan ibunya tapi ini tidak,


Devan tidak pernah melihat sang Ayah


dan Neneknya bercengkrama dalam keharmonisan keluarga, bahkan yang sering


Devan dengar makian kutukan dan hinaan


untuk sang Nenek nya.


Devan tidak tau apa yang menyebabkan


sang Ayah begitu membenci ibunya.


bahkan bisa di bilang sang Nenek seperti


di anggap sudah tidak ada.


Jangan kan saling bersilahturahmi


membicarakan namanya saja sang Ayah


sudah seperti orang yang kesetanan


marah tanpa alasan.


Meskipun sedikit ada rasa penasaran tapi


Devan belajar untuk tidak mau ikut


campur dalam urusan orang tua.


"Kamu, tau, ini..nih..! yang mengadukan


kita ada di kantin ke pak guru Wili," Jawab


Tania yang membuat lamunan Devan


ambyar.


"Apa..?Dia..!"Devan mengarahkan jari


telunjuknya ke arah Dodi.


Tania rnengagguk.


Tiba tiba Devan terkekeh.


Melihat Devan justru terkekeh Tania


mengerucutkan bibirnya,.


"Menyebalkan,"Ucap Tania kemudian memilih


berlalu pergi.


"Eh, Tunggu..!"


Dengan cepat Devan menjajari langkah


Tania.


"Jangan marah, aku kan cuma bercanda,"


Tania menghentikan langkahnya, netranya


menatap tajam ke arah Devan,.


Tania mengarahkan telunjuk jarinya ke arah


Devan.


"Awas, kalau berani menertawakan lagi,"


Ancam Tania.


"Duh, galaknya, aku kan cuma bercanda,"


Elak Devan membela diri.


Dengan memamerkan barisan giginya yang


putih Devan mengagkat dua jarinya ke


atas.


"Swer..!Aku berjanji tidak akan menggulangi,"


Ucap Devan tegas penuh dengan penyesalan.


"Ya, sudah, ayo cepat ke kantor, nanti pak


guru Wili tambah marah," Ajak Tania kepada


Devan.