
Lewat pantulan cahaya lampu yang terang, tubuh seorang gadis yang tertidur di ranjang mulai bergerak gerak, kedua bola matanya pun sedikit demi sedikit sudah mulai terbuka.
"Aku ada di mana, kenapa serasa lemas dan tak bertenaga tubuhku," sedikit bersusah payah sosok gadis itupun mulai bangkit untuk duduk tapi ketika netranya Melihat sosok pemuda yang sedang tertidur di samping nya, gadis itu mulai mengerjap-ngerjapkan mata sambil sesekali mengusap wajahnya dengan perlahan
"Bukankah ini Devan, ngapain dia tidur di sini dan sebenarnya aku berada di mana, kenapa ruangan ini begitu asing bagi ku."sosok gadis yang tak lain adalah Tania terus bermonolog sendiri, sambil berusaha turun perlahan-lahan dari Ranjang.
Mendengar dan merasa sesuatu di dekatnya bergerak gerak, Devan segera membuka ke dua bola matanya dan alangkah senangnya dia ketika mengetahui Tania sudah sadar.
"Tania, kau sudah sadar...?"
"Sadar, memangnya aku kenapa."
Devan tertawa renyah sangat terlihat jelas jika dirinya sedang bahagia.
"Bukan apa-apa lupakan saja aku salah omong, kamu mau apa bergerak bangun begitu."
"Tubuhku serasa lemas dan tak bertenaga, aku lapar."
"Oh, lapar ,, tunggu aku akan ambilkan tapi kamu mau makan apa?"
"Apa sajalah asal kenyang."
"Baik tunggu di sini ingat jangan turun ataupun banyak bergerak Nanti kamu sakit,"
"Hahaha, sok perhatian Lo, Van lagi modus ya?"
Devan tidak menjawab pertanyaan Tania tapi hatinya menjawab dan sangat senang.
"Aku tidak sedang modus tapi sedang berjuang siapa tau dapat merebut hatimu." lirih Devan dalam hati.
Setelah kepergian Devan Tania Tersenyum bahagia, meskipun Tania tidak tau apa yang ada di dalam pikirannya, Devan. Tidak menunggu lama Devan datang dengan membawa berbagai makanan yang mana makanan yang di bawa Devan membuat Tania sdikit tercengang, belum lagi tiba-tiba muncul sang Nenek yang sangat Tania kenal.
"Nenek..! kenapa kau ada di sini, sebenarnya aku ada di mana?'
"Kamu berada di rumah Nenek, masa lupa dengan rumah Nenek.
Sekali lagi Tania mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan yang ada di tempat itu dan lagi-lagi Tania mengeryitkan dahinya.
"Tapi kenapa aku merasa sangat asing?"Tania betul betul tidak bisa mengenali tempat yang kini dia tempati, nuansa serba putih tanpa satupun perabotan di dalam ruang kamar, hanya ada kursi, Ranjang dan meja.
"Ini karena kamu berada di Rumah ruang belakang, ayo katanya lapar sekarang kamu makan dulu."Ucap sang Nenek sambil meletakkan semua makanan di atas meja.
Tania menatap Devan dengan seribu pertanyaan yang mana tidak akan menemukan jawabannya karena Devan memalingkan muka seolah olah tidak melihat jika Tania sedang menatapnya, Walaupun sesungguhnya yang terjadi Devan sangat tau jika Tania ingin bertanya padanya mengapa dia sampai berada di tempat sang Nenek.
"Nek, apa tidak ada ikan?"Tania bertanya karena Tania sangat suka dengan segala jenis makanan laut, sementara kali ini sang Nenek hanya memberikan sayur bening bayam, telur ceplok, singkong rebus dan air putih.
"Tidak ada, kali ini kamu harus banyak makan sayur hijau agar kesehatan mu cepat pulih."jawab Nenek dengan santai, sementara Tania yang tidak terlalu menyukai sayur bayam menggigit bibirnya.
Meskipun tidak suka terpaksa Tania makan, Devan yang melihat Tania bermalas-malasan dengan makanannya, mengambil makanan yang ada di depan Tania, melihat kelakuan Devan Tania mengeryitkan dahinya.
"Kenapa kau ambil makananku."Tanya Tania dengan heran, makan yang baru tersuap tiga sendok sudah di ambil Devan.
"Aku suapin!"ucap Devan dengan Tersenyum santai.
"Tidak tidak, aku bukan anak kecil aku bisa makan sendiri, sini kembalikan."Tania mencoba meraih kembali piring makanannya.
"Emang, kenapa kalau aku yang menyuapi, ayo buka mulut nya makan,"
"Van, jangan bercanda kamu lagi kesambet apa kok tiba-tiba bersikap semanis itu."Tania benar-benar merasa aneh dengan sikap Devan yang tiba-tiba sok perhatian.
Devan Tersenyum nyengir.
"Sudah jangan banyak bertanya, ayo buka mulut nya."
Meskipun merasa aneh dengan terpaksa Tania membuka mulutnya.
"Begini amat sih, cuma sekedar mau menyuapin saja jantungku berdebar-debar."lirih Devan dalam hati.
"Buruan, lama amat jadi nyuapin tidak, ngak enak tuh di perhatikan Nenek."rengek Tania yang merasa jadi salting Ketika sang Nenek menatapnya dengan senyum.
"Iya-iya, nih., buka mulut nya Aa..."Dengan lembut Devan mulai menyuapi makan Tania, meskipun dengan jantung yang seakan mau lepas dari tempat nya.
Senyum tersungging di bibir sang Nenek membuat Tania benar-benar kurang nyaman dan salah tingkah.
"Van, kenapa sih Nenek senyum senyum begitu, aku kan jadi malu."
"Ngapain sama Nenek malu," lirih Devan yang masih sibuk menyuapi Tania.
"Cukup, Van aku sudah kenyang, aku tidak mau makan lagi,"
"Hmmmm, dikit lagi biar cepat pulih."
"Cepat, pulih, memangnya aku kenapa?"Tania menatap tajam pada Devan, dia ingin tau mengapa dirinya berada di Rumah Nenek dan mengapa, Devan mengatakan agar dia cepat pulih.
"Tidak ada apa-apa, sudahlah aku mau bawa sisa makanan mu ini ke dapur."Elak Devan seraya bergegas ke pergi meninggalkan Tania yang masih bertanya-tanya, pandangan mata Tania beralih pada sang Nenek yang sedari tadi diam dan hanya senyum senyum saja padanya.
Dengan perlahan lahan Tania berjalan mendekati tempat duduk sang Nenek.
"Nek, apa yang terjadi padaku, mengapa aku berada di Rumah Nenek."
"Beristirahat lah itu tidak penting untuk Nenek jawab, agar kau cepat sehat."Sang Nenek menepuk lembut pipi Tania sambil tersenyum ramah kemudian melangkah pergi.
Tanpa sadar angannya melayang pada sosok pemuda tampan yang selama ini selalu ada bersamanya, mengenang kembali saat saat di mana dirinya selalu menghabiskan waktu bersamanya. Teringat betapa bodoh nya dirinya hanya karena sedikit cemburu memilih pergi meninggalkan nya, kini dirinya harus jauh, harus menahan rindu yang entah perasaan rindu ini kapan bisa terobati nya.
Tania Tersenyum kecut menggingat semua itu, jika kini dan hari ini dirinnya tak lagi bisa bersama itu semua adalah kesalahan nya, karena selama bersama belum pernah sekalipun dia di kecewakan ataupun disakiti.
"Buk...! sebuah tepukan kecil mendarat di pundak Tania, membuat gadis itu sedikit terkejut hingga tanpa sadar mengucapkan satu nama.
"Tatius...!Seru Tania tanpa sadar dengan gerakan refleks menoleh ke belakang, di mana pandangan matanya bertemu dengan mata jernih milik Devan, Tania menelan ludahnya dengan kasar mana kala menyadari betapa dia telah salah sangka.
"Kau menggingat nya, apakah kau begitu merindukan nya hingga kau tidak ingat siapa yang tadi bersamamu,"ucap Devan dengan bibir bergetar ada secuil rasa kecewa yang tiba-tiba masuk ke dalam relung hatinya, rasaanya sangat sakit seperti ada beribu-ribu duri yang menancap di dalam dadanya.
Menyadari telah salah sebut nama buru-buru Tania menunjukkan senyum Pepsodent nya, khawatir pemuda yang ada di hadapannya tersinggung.
"Maaf, habis nya kamu ngagetin aku sih." Celoteh Tania sambil mengkrucutkan bibirnya.
Melihat wajah Tania dengan bibir dikerucutkan kedepan yang mana semakin membuat gemas Devan, dengan susah payah Devan meneguk liurnya, sambil mengusap kasar wajahnya.
"Astaga, gadis ini benar-benar kelewatan apa dia ngak tau sikapnya itu bikin tambah gemas saja," Grutu Devan dalam hati.
Tania yang tidak memahami apapun yang terjadi di dalam diri Devan merasa sedikit bersalah karena tiba-tiba Devan memalingkan muka sambil mengusap wajahnya dengan kasar, Tania berfikir Devan sedang tersinggung.
Tanpa menunggu nunggu lagi dengan gerakan cepat Tania memeluk Devan dari belakang.
"Maaf...! lirih Tania sambil memeluk tubuh Devan dengan tiba-tiba dari belakang, membuat jantung Devan seolah berhenti mendadak. Lagi-lagi Devan harus menelan ludahnya dengan kasar, jantung nya kini berdetak lebih cepat dari biasanya, hingga bibir Devan tak mampu berkata apa-apa.
Melihat Devan hanya diam, Tania segera membalikkan badan Devan agar menghadap nya. Lagi-lagi sikap Tania membuat Devan spot Jantung belum usai debaran hati dan jantung nya berlomba kini lagi-lagi Devan harus menatap wajah cantik Tania dari dekat.
"Oh, Tuhan ujian apalagi ini,"desis Devan dalam hati, wajah yang begitu dekat dengan bibir yang mengoda iman yang jaraknya juga sangat dekat hanya beberapa senti saja, ingin rasanya Devan melahap habis bibir itu, tapi otaknya masih waras dan tidak mungkin akan dia lakukan karena semua itu akan membuat Tania membencinya.
Dalam hati Devan merutuki Nasibnya yang malang dan iri pada saudara sepupunya yang mana Nasib nya lebih beruntung dari pada dirinya, saudara sepupunya yang justru memiliki darah Vampire lebih medapatkan cinta dan perhatian dari gadis yang ada di depannya dari pada Nasib dirinnya yang malang dimana hanya bisa memendam dan menyimpan segala rasa yang ada di dalam hatinya.
"Puuk...!puuk...! sebuah tepukan halus mendarat di pipi Devan yang masih diam. dengan satu alis terangkat ke atas Tania bertanya.
"Kenapa, kau diam saja aku sudah minta maaf, apa aku harus mengangkat satu kakiku agar kamu mau memaafkan dan tidak marah lagi padaku, baiklah akan aku lakukan."seru Tania yang kemudian mundur beberapa langkah Kemudian mengangkat satu kakinya.
Gemas dan ingin tertawa rasaanya melihat gadis yang di cintai nya berulah lucu dan menggemaskan bagaikan anak kecil.
"Sudah-sudah turunkan kakimu Nanti pingsan, bikin repot aku saja."seru Devan sambil menarik kursi dan kemudian mendudukkan bokongnya dengan santai.
Merasa lega dan senang karena Temannya tidak lagi marah dan ngambek padanya membuat Tania juga menggambil duduk di samping Devan.
"Van, ingin makan ikan kok ngak ada sih, padahal di kolam Nenek kan banyak, ambilin buat aku dong." rengek Tania manja, rasaanya, makan ngak bisa enak jika tanpa ikan oleh sebab itulah Tania masih merasa makanan yang di makannya Belum lengkap.
Devan Tersenyum smrik melihat rengekan Gadis di depannya benar-benar menggemaskan, ingin rasanya Devan mencubit pipi putih dan halus nya milik Tania, Tidak-tidak Devan tidak hanya ingin mencubit, kalau boleh sih, melahap habis bibir yang selalu terlihat mengenaskan.
"Apakah Tatius, pernah menikmati bibirnya Tania, duh kenapa aku jadi mikir begini, beruntung sekali sih, tuh Vampire jelek dapetin cintanya Tania, andai boleh ingin rasanya aku berdoa semoga Tatius itu mati saja, biar aku bisa memiliki Tania," Gumam Devan yang sibuk bermonolog sendiri dalam hati.
Melihat Devan hanya diam dan senyum-senyum sendiri dengan jahil Tania menyentil punggung tangan Devan.
"Hei,Van kenapa kau diam jawab dong."
"A-apa?"tanya Devan gragap.
"Ngelamun apaan sih di ajak ngobrol dari tadi ngak nyambung, pasti lagi mikirin Clara ya...makanya ajak juga Clara main ke Rumah Nenek biar kamu ngak melamun terus bosen aku melihat nya," tukas Tania yang kemudian berjalan Naik ke atas Ranjang.
Devan terkesiap melihat Tania yang tiba-tiba Naik ke atas Ranjang.
"Kau mau apa?"
"Pertanyaan bodoh, kalau aku Naik ke atas Ranjang berarti aku mau tidur, sudahlah kamu keluar sana aku mau bobo nih."dengus Tania sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Eh, Tania jangan tidur!" aku minta maaf kita ngobrol sebentar Yuh,"rayu Devan agar Tania tidak tidur.
"Ogahlah, malas, kamu keluar sana aku mau tidur," usir Tania pada Devan yang menatapnya dengan tatapan sendu, rasa rindu itu masih belum terobati masih ingin berlama-lama dengan gadis yang beberapa hari yang lalu hampir membuat hidupnya terasa hampa, di mana dirinnya merasa sangat ketakutan apabila nyawa gadis itu tidak bisa terselamatkan.
"Ini masih sore masak sudah mau tidur aku saja belum ngantuk, temani aku ngobrol, sebentar saja."pinta Devan pads Tania.
"Sudah kubilang aku malas, terserah kamu sajalah mau keluar apa tidak asal, jangan macam-macam." ancam Tania sambil memejamkan matanya."
Devan menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Masak tega kau biarkan aku sendiri di sini."
"Bodoh, aku ngantuk."Ucap Tania yang langsung memejamkan mata.
Tidak menunggu lama akhirnya Tania tertidur dengan pulas. Devan menatapnya dengan Tersenyum.
"Kau benar-benar membuat ku gila, aku mencintaimu Tania sangat mencintai mu, tapi sayangnya kamu tak pernah mau melihat betapa aku sangat mencintaimu," lirih Devan sambil membelai lembut anak rambut Tania yang sedikit menutupi wajahnya.
Tanpa sepengetahuan Devan sepasang mata terus mengamati dan Melihat segala gerak-gerik yang dilakukan Devan pada Tania.
Sosok wanita tua yang tak lain adalah Nenek Devan, dia begitu trenyuh melihat betapa perjuangan Devan untuk menyelamatkan dan kini tetap diam dan menyimpan segala perasaan hatinya.
"Apakah akan salah seandainya untuk kali ini dirinnya membantu Devan untuk mendapatkan cintanya." lirih Sang Nenek bermonolog sendiri yang kemudian pergi meninggalkan Devan yang masih setia menemani Tania meskipun gadis itu sudah tertidur pulas.
Di dalam ruangan yang cukup luas, di mana di dalam nya terdapat banya benda-benda antik dan mewah di sana, di mana semua benda-benda itu pemberian dari Kakeknya Tatius, Raja Sangkala.
Dengan penuh hati-hati tangan tua itu mulai membuka satu kotak kecil berwarna kuning keemasan yang mana didalam nya terdapat satu kalung berwarna putih, tidak terlalu mewah bentuknya sangat sederhana dan ukurannya juga tidak begitu besar bahkan terlihat sangat kecil. Perlahan-lahan Kalung itu diambilnya.
"Tidak ada salahnya memberikan kebahagiaan sedikit saja pada Devan agar cintanya pada Tania bisa bersambut, dengan kalung ini sedikit demi sedikit Tania akan melupakan Tatius dan akan lebih mencintai Devan, maafkan Nenekmu ini Pangeran Tatius, karena mendukung dan membantu Devan untuk merebut Tania darimu, Devan pantas mendapatkan nya karena dia telah berkorban dan berjuang untuk menyelamatkan Tania, jadi maafkan Nenekmu ini." Lirih sang Nenek dalam hati.