
Dengan senyum mengembang di bibir pak guru Wili mendekati Putri Lin Ying yang sedang pingsan, dengan hati-hati Pak Guru Wili mengaggkat tubuh Putri Lin Ying dan membaringkan nya di Ranjang ruang tamu, kemudian dengan sangat hati-hati pula Pak guru Wili menggangkat dan menyingkap lengan panjang yang menutupi tangan dari Putri Lin Ying, setelah semua selesai Pak guru Wili menggeluarkan kotak yang di dalamnya terdapat peralatan seperti alat suntik yang biasa di gunakan untuk menyuntik pasien yang sedang sakit.
Setelah semua siap dengan perlahan lahan Pak Guru Wili mulai memberikan suntikan pada Putri Lin Ying yang sedang pingsan.
"Maafkan aku, semua terpaksa ku lakukan, bagaimana pun juga kamu adalah mahkluk Vampire, di mana pada fase tertentu akan menghisap darah manusia, jika dalam keadaan terdesak karena haus. Dengan cara menyuntikkan obat ini dalam tahap tertentu kamu tidak akan lagi merasa haus akan darah karena obat ini mengandung cairan yang akan mampu membuat tubuh mu selalu segar dan tidak mudah haus, sehingga aku bisa tenang jika membawa mu ke tempat tempat umum di mana kamu tidak akan berulah dengan mencari mangsa." desis pak guru Wili dalam hati.
Pak guru Wili kembali menyimpan semua peralatan nya ketiika semua di rasa sudah selesai kemudian duduk di ruang tamu menunggu putri Lin Ying sadar dari pingsan nya.
Di tempat yang berbeda Pangeran Tatius yang sudah dekat dengan pintu gerbang yang mana ada beberapa penjaga Vampire yang membuat Tania dan teman temannya ketakutan.
"Yus ...!" lo maju masuk dulu sana kita nunggu di sini saja." ucap Devan memberikan saran membuat Pangeran Tatius menatap tajam ke arah nya.
"Lo tuh cowok kok penakut.'
"Issshh.....bukan penakut kami kan tamu masak tamu pergi duluan, sudah sana Lo masuk dulu gue,Clara dan Tania untuk sementara menunggu di sini , kalian setuju dengan saran ku kan? tanya Devan pada Tania dan Clara yang keduanya mengagguk tanda setuju.
"Tuh,lihat mereka pada stuju, sana Lo pergi dulu, kalau bisa usir tuh mahkluk Vampire jangan ada yang berkeliaran di sekitar sini kami pusing melihat nya.
Clara tertawa mendengar Celoteh Devan yang bagaikan sepur lewat , trus saja bicara tanpa henti sedangkan hatinya pasti merasakan takut yang amat sangat.
"Sudah, jangan banyak omong bilang saja Lo takut," Mendengar Clara bicara begitu Devan segera melotot ke arahnya.
"Sudah....sudah! ribut ribut saja dari tadi, Tatius kamu masuk dulu saja, kami beneran takut Nih," ucap Tania pada pengeras Tatius.
"Sayang....kan ada aku apa yang harus di takutkan mereka tidak akan berani macam macam selama aku bersama mu."ucap pangeran Tatius mencoba untuk menyakinkan.
"Aku tau tapi rasanya ngeri melihat mereka."selak Tania.
Pangeran Tatius melotot seketika mendengar perkataan Tania.
"Sayang...coba ulangi takut, Kalau takut kenapa mau jadi pacar ku dan apa kamu tau sebentar lagi aku akan bawa kamu menemui Ayah dan Ibu ku, agar hubungan kita segera di resmikan."ucap Pangeran Tatius sambil tersenyum, Sementara Tania mengeryitkan dahinya dan menatap tajam pada Pangeran Tatius.
"Serius mau bawa aku ke sana aduh, jangan aku belum siap."tolak Tania
"Ngak mau aku ngak mau pasti menggeraikan."
"Tidak mau, lalu apa selamanya kita akan bermain petak umpet dengan hubungan kita, atau jangan jangan kamu tidak serius mencintai ku,"
"Tatius .. Ngomong apa sih! Sungut Tania kesal.
Pangeran Tatius mendekat kan wajahnya lebih dekat pada Tania seraya berbisik.
"Kali ini aku meminta Bukti dari cintamu, berjuang lah bersama ku jangan biarkan aku sendiri yang memperjuangkan nya, itu pun kalau kamu benar benar cinta kepadaku, baiklah sekarang aku pergi mengusir mereka para penjaga yang bikin kalian semua takut." dengan cepat pangeran Tatius terbang melesat menuju pintu gerbang dan dalam hitungan menit para penjaga Vampire pun meninggalkan tempat itu.
"Mereka sudah pergi ayo kita masuk." seru pangeran Tatius dari pintu gerbang yang mana langsung membuat Clara, Devan dan Tania langsung melangkah masuk ke dalam.
Setelah melewati pintu gerbang, terlihatlah hamparan keindahan dari kerajaan istana Sangkala yang mana semua sangat bernilai seni yang sangat tinggi, hal itu membuat Clara yang baru pertama kali melihat indahnya kerajaan Sangkala terheran heran.
Para Vampire sang penjaga setelah men dapatkan pesan dan perintah dari pangeran Tatius segera melangkah pergi tidak menampakkan diri, tapi sesungguhnya para pengawal Vampire itu tidak benar benar pergi mereka pada bersembunyi di balik pintu yang mana sikap mereka sama halnya dengan manusia yang sedang kepo, mereka pada berdesak desakan ingin melihat calon istri sang pangeran.
"Mana....yang mana calon istri dari Pangeran Tatius," tanya salah satu Vampire yang ada di sana pada temannya.
"Yang kanan, apa pangeran Tatius sudah bilang yang kanan? tanya salah satu Vampire yang juga penasaran.
"Tidak...!"
"Lalu kenapa kau bilang yang kanan,"komplin Vampire satunya lagi sambil memukul pelan kepala temannya.
Vampire itu pun terkekeh.
"Cuma menebak,"
*Huuuuff...kirain benar.
"Nah aku tau Sekarang, itu. !yang dekat dengan pangeran Tatius pasti nya."
"Kamu benar pasti dia, tapi menurut ku tidak cocok karena tuh yang berjalan berdampingan dengan cowok tuh, yang lebih cantik."
"Benar juga sih, tapi kalau pangeran Tatius cintanya sama gadis yang itu ya kita cuma bisa bilang selamat begitu,"
"Kau benar," yang kemudian para Vampire itupun Tertawa lebar.
"Pasti kerajaan ini akan segera ada pesta,"
"Itu sudah jelas, aku juga sudah lama tidak berpesta aku sudah tidak sabar." seru Vampire yang lainnya.
Clara yang benar benar terkesima dengan keindahan kerajaan Sangkala yang mana rasa takut nya sudah hilang langsung berjalan di samping Pangeran Tatius sambil tak henti hentinya bertanya, sementara Tania dan Devan berjalan di belakang sambil tersenyum simpul melihat tingkah Clara yang sangat menggemaskan.
Saat saat seperti itulah yang selalu di tunggu tunggu Devan, bisa berduaan dan dekat dengan Tania meskipun hanya beberapa saat saja, kerinduan yang lama terpendam akhirnya Devan luapkan dengan memberanikan diri melingkar kan tangannya pada leher Tania dan berjalan dengan mesra yang mana Pangeran Tatius tidak akan menggetahui karena dia lagi sibuk menjelaskan segala hal yang di tanyakan Clara padanya.
Tania sendiri tidak keberatan dengan ulah Devan yang sudah sejak dulu konyol.
"Tania..!'
"hmmmm, ada apa?"
"kamu jalan nya pelan pelan saja kasian tuh Clara Nanti ngak enak jika kita terlalu dekat dia kan lagi mau bertanya tanya jadi kita jalan nya santai saja."pinta Devan yang berniat Ingin berjalan berduaan lebih lama dengan Tania.
Tania menghentikan langkah kakinya dan memukul pelan kepala Devan.
"Idih....modus bilang saja aku mau dekat gitu sok ngak enak segala."Cibir Tania yang merasa gemas dengan sikap sahabat nya.
"Ha. ha. .ha...emang modus, tapi kamu mau kan di modusin,' tanya Devan balik.
"Mau saja, kamu kan temanku, dan sudah ku anggap kakak ku malah tapi aku ngak tanggungjawab jika Tatius marah padamu." ujar Tania menjelaskan.
"Tenang, kali ini Tatius tidak akan tau, dia kan sibuk di tanya tanya sama Clara."ucap Devan meyakinkan.
"Dasar modus... pokoknya kalau Tatius marah urus sendiri,"
"Beres." ucap Devan sambil memindahkan tangan nya yang tadinya melingkar di leher kini melingkar di pinggang ramping milik Tania, Devan tersenyum bahagia meskipun kebahagiaan yang akan dia rasakan hanya sesaat.