The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab148.KEBAKARAN



Suara benda keras yang jatuh di depan mobilnya yang di sangka sang pengemudi mobil adalah suara benda meteor yang mungkin jatuh dari langit.


"Apaan tuh...!"


Bergegas sang pengemudi mobil membuka pintu mobil dan turun, ketika melihat apa yang ada di depannya sang pengendara mobil pun Tertawa lebar.


"Ha...ha...ha..!"ternyata kau yang sedang latihan terjun bebas." seru laki-laki itu.


Sedangkan orang yang ada di depannya meringis menahan sakit sambil melotot geram.


"Kau, menertawakan ku?' sial aku di jatuhkan Vampire jelek itu bukannya nolongin malah justru ngetawain.


"Sini aku bantu berdiri."tawar sang pengemudi mobil dengan menggulurkantangannya.


Ketika kedua orang itu asik berbincang, pangeran Tatius menyelinap ke dalam mobil dan membukanya di sana terlihat Bibi Derbah sedang duduk dengan kedua tangan di borgol dengan serta Merta pangeran Tatius membuka borgol yang menggikat Bibi Derbah kemudian membawa Bibi Derbah ke luar mobil.


"Trimakasih, pangeran telah datang menolongku."


"Sama-sama Bibi, mari srkarang kita pergi."


Pangeran Tatius dan Bibi Derbah keluar dari dalam mobilnya, untuk sesaat pangeran Tatius menatap kedua orang yang masih bercengkrama karena aduan dari sang pengemudi mobil satunya. Tanpa sengaja tatapan matanya tertuju pada pangeran Tatius dan Bibi Derbah yang sedang keluar dari dalam mobil.


"Woi...!" mau kau bawa ke mana Vampire tawananku?'teriak salah satu pengemudi mobil yang membawa Bibi Derbah.


Pangeran Tatius tidak menjawab pertanyaan yang lontarkan sang pengemudi, dia terus berjalan bersama Bibi Derbah meninggalkan tempat itu.


"Berhenti...!" atau ku tembak kau?"Teriak sang pengemudi mobil sambil mengarahkan pistol nya ke arah pangeran Tatius dan Bibi Derbah.


Pangeran Tatius tidak bergeming mendengar teriakkan dan ancaman dari sang pengemudi dia terus berjalan yang kemudian langsung melesat terbang meninggalkan tempat itu.


"Woi.... jangan kabur?"


"Dor...!" Dor...!".Dor..!"


Berkali-kali sang pengemudi mobil menembakkan timah panasnya ke arah Pangeran Tatius dan Bibi Derbah akan tetapi semua itu gagal, hingga tubuh pangeran Tatius dan Bibi Derbah jauh tak terlihat.


"Sial..Tawanan kita lepas."


"Biarkan saja, aku sudah capek dan serasa mau sekarat di hajar Vampire jelek itu."


"Hah..!" yang benar saja masak Vampire itu menghajarmu, sama aku tidak tuh dia diam saja malah kabur."


"benar lah, masa aku bohong, sudahlah ayo kita pergi."


"Lalu bagaimana jika mereka bertanya di mana Vampire itu."


"Kita jawab saja kabur atau tidak ada Vampire yang di tangkap di desa itu dan semua itu berita hoax dan kita terkecoh oleh mereka."


"Ide bagus, ayo kita pergi."


Setelah memiliki alasan yang tepat mereka pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat dimana mereka bertugas.


Pangeran Tatius yang membawa Bibi Derbah terbang bersama nya sedikit terkejut ketika tanpa sengaja tangan putih Bibi Derbah tanpa sengaja menyentuh lengan kiri Pangeran Tatius.


"Darah ..!" pangeran, engkau terluka tanganmu berdarah, Berhenti dulu pangeran, kita harus mengobati lukamu dulu." seru Bibi Derbah panik.


"Ini hanya luka kecil Bibi tidak perlu panik begitu," ucap Pangeran Tatius sambil terkekeh, pangeran Tatius yang tak mengindahkan ucapannya membuat Bibi Derbah cemas dan khawatir.


"Pangeran berhenti, pokoknya aku mau kita berhenti."


"Hooop...!" Bibi Derbah dan pangeran Tatius mendaratkan kakinya secara bersamaan.


"Ayo, sini pangeran biar kulihat dan ku obati lukamu,"


Tanpa menolak pangeran Tatius langsung menggulurkan tangan kirinya yang terluka, dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan Bibi Derbah segera memeriksa tangan kiri Pangeran Tatius dan alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui apa yang membuat pangeran Tatius terluka.


"Pangeran, ini luka Karena tembakan dan pelurunya harus di keluarkan, pangeran duduk disini aku akan keluarkan pelurunya"


"Apa, kau bisa?'


"Jangan khawatir Pangeran, Ayah ku tabib istana dan aku putri nya, ini sangat mudah, pangeran tahan sedikit ya, pasti rasanya sedikit sakit."


"Iya, Bibi."


Bibi Derbah mulai melakukan pencabutan peluru dari dalam tangan kiri pangeran Tatius dengan menggunakan pisau kecil untuk menggeluarkan nya, pangeran Tatius mengerang sedikit ketika pisau kecil dan tajam itu mulai mengeluarkan anak peluru yang bersarang di lengan nya, tidak menunggu berapa lama peluru yang bersarang di lengan kiri pangeran Tatius pun bisa di keluarkan, setelah peluru kecil itu berhasil di keluarkan Bibi Derbah segera menggambil dedaunan yang kemudian di tumbuk dengan menggunakan batu hingga daun itu halus, daun yang sudah di tumbuk dengan halus kemudian dioleskan pada lengan kiri pangeran Tatius hal itu di lakukan agar darah berhenti mengalir kemudian di ikat dengan kain.


"Sudah, pangeran!"


"Trimakasih, sekarang Bibi boleh beristirahat, untuk sementara kita beristirahat di sini Nanti aku akan mencari kan penginapan untuk kita.


Mereka berdua berselonjor kaki sambil menatap ke perkampungan penduduk yang terlihat dari sana .


suasana mulai merangkak ke arah menjelang malam ketika terlihat dari jauh sebuah api membumbung tinggi berwarna kuning kemerahan.


"Kebakaran.... kebakaran..!'teriak salah satu warga penduduk desa itu.


Mendengar suara teriakan salah satu warga semua orang mulai berdatangan dan berusaha memadamkan api yang berkobar membakar satu rumah dari penduduk desa itu.


"Hizk....hizk ..tolong Nenek ku masih di dalam."seru salah satu anak laki-laki sambil menangis.


"Kebakaran nya besar sekali, bagaimana kita bisa menolong Nenek mu."


"Ayo, siram dengan air yang banyak."


Melihat tak ada satu warga desa pun yang berani masuk guna untuk menyelamatkan Neneknya, anak kecil itupun segera berlari dan ingin masuk sendiri, tapi apa yang di lakukan nya di halangi para warga sehingga sang anak kecil itupun cuma bisa menangis dan berteiak.


"Tidak, lepaskan aku...aku mau menolong Nenek ku..hizk...hizk " seru di anak kecil laki-laki yang masih sambil menangis.


"Maaf Le kita harus menunggu api nya berkurang baru bisa masuk."seru salah satu warga yang mencoba menenangkan si anak kecil laki-laki yang masih menangis histeris.


Sementara itu Bibi Derbah yang melihat api begitu besar membakar satu rumah warga merasa kasian, di lihatnya pangeran Tatius yang tertidur akibat ramuan obat yang dia berikan setelah mengeluarkan anak peluru dari dalam tubuh pangeran Tatius, untuk itu diam diam Bibi Derbah terbang melesat ke arah sumber api kebakaran dan tanpa menunggu apapun dia langsung masuk ke dalam kobaran api, guna mencari sosok Nenek yang sedang di tangis anak laki-laki kecil.


Tak lama kemudian Bibi Derbah keluar dengan mengendong tubuh sang Nenek kemudian dengan perlahan lahan meletakkan tubuh sang Nenek yang sudah lemas di atas tanah.


"Ini , Nenekmu." setelah mengguncapkan itu Bibi Derbah kembali terbang, akan tetapi sang anak kecil itu langsung berlari dan mengengam tangan Bibi Derbah.


"Trimakasih, sudah menolong nenekku dan aku minta maaf gara gara aku kakak di tangkap para warga.


"Bibi Derbah Tersenyum kemudian melepaskan genggaman tangan sang anak kecil.


"Tidak apa apa dan tidak perlu berterimakasih padaku"


Setelah mengucapkan itu Bibi Derbah langsung melesat terbang tinggi menghilang dari pandangan dan sang anak kecil masih berteriak dengan suara lantang.


"Trimakasih, kakak!"