
Langkah cepat sang Boss sang pembajak yang di ikuti oleh ketiga para anak buah nya berhenti di luar ruangan terbuka, dengan duduk di atas tikar ala kadarnya. Wajah datar sang Boss menatap jauh ke lautan, yang mana mata tajam nya mengerjap tak percaya dengan apa yang di lihat nya, mata tajam itu melihat sosok Pangeran Tatius yang sedang berjalan diatas air tanpa tengelam dengan membawa kaleng di tangan nya, seperti nya kaleng itu di gunakan untuk tempat ikan.
"Cepat sekali dia kembali untung tadi aku tidak berbuat gegabah." Desisnya dalam hati.
"Boss, lagi lihat apaan sih? tanya salah satu anak buah sang pembajak ingin tau.
Karena tidak mendapat kan jawaban sang anak buah pun menggikuti arah mata sang Boss yang memandang ke laut dan....
"Waoooo ....keren ini baru keren baru kali ini aku melihat mahkluk Vampire bisa berjalan di atas atas air tanpa tengelam." seru salah satu anak buah sang pembajak.
"Diam , jangan memuji terus."
Tak menunggu lama Pangeran Tatius sudah berada di depan mereka.
"Ini, ikannya silahkan, di panggang."
Setelah meletakkan kaleng berisi ikan pangeran Tatius pergi meninggalkan mereka dan berjalan ke dalam rumah untuk menemui Bibi Derbah, ketiika Pangeran Tatius membuka pintu Bibi Derbah tampak terkejut dan panik secara gerakan refleks Bibi Derbah beringsut mundur menjauh.
"Hai Bibi ada apa dengan mu, kenapa kamu terlihat ketakutan."
"Ah, Pangeran aku sungguh takut ku kira mereka yang datang.'
"Apa mereka menyakiti Bibi?"
"Tidak," ucap Bibi Derbah berbohong."
"Tunggu di sini aku akan ambilkan ikan bakar."
"Baik, pangeran!"
Bergegas Pangeran Tatius menggambil kan ikan bakar untuk Bibi Derbah.
Dua hari sudah setelah terjadinya peristiwa mendebarkan di Vila kini Tania bisa kembali bernafas lega dengan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Tania sudah siap dengan baju abu abu nya, ya, hari ini Tania harus kembali menggikuti pelajaran yang ada di sekolah dan seperti biasanya Tania berangkat dengan Devan dan Dodi yang selalu setia menggikuti kemanapun Tania pergi.
"Ke kantin yuk, laper,"ajak Devan pada Tania yang langsung di trima tanpa penolakan, pasalnya Tania berangkat ke sekolah tidak sarapan pagi hal itu karena sang Ayah yang sibuk dan sudah pergi meninggalkan nya sendiri jadi meskipun sudah di siapkan tanpa Ayah' yang menemani Tania males jadi bagi Tania ajakan Devan sesuatu yang sangat menguntungkan karena dirinya dalam keadaan lapar.
Saking Asiknya menikmati makan bersama Devan, Tania lupa jika bel masuk sudah berbunyi, mereka berdua masih asik bercanda sambil menikmati makan pagi.
"Aku mau ajak kamu jalan jalan ke pantai mau tidak?"
"Kapan?"
"Pulang sekolah saja, bagaimana?"
"Wah... jangan nanti Ayah binggung mencari lagi, gimana kalau setelah pulang sekolah aku minta ijin dulu pada Ayah."tanya Tania meminta pendapat.
"Boleh,"
"Makanan ini biar aku yang traktir,"
"Wah trimakasih sekali nih, pagi pagi aku sudah dapat rejeki, kamu lagi banyak uang apa ya?" tanya Tania penasaran.
"Ngak juga, tapi untuk kamu duitku banyak lah," Ucap Devan sambil tertawa lebar ingin rasanya selalu dekat dan menghabiskan waktu bersama dengan gadis yang ada di depannya ini, akan tetapi Devan juga ingin tau bagaimana perjodohan yang dilakukan Ayah Tania apakah Tania menerima atau tidak dan hal itu membuat Devan bertekad untuk mendengar sendiri dari bibir Tania, karena hal itulah Devan sengaja mengajak Tania untuk pergi ke pantai.
"Tania, kok terasa sepi ya, tumben ngak ada anak anak yang nongkrong di sini,"
"iya, tumben banget deh, pukul berapa sih sekarang?"
Dengan gerak refleks Devan melihat ke pergelangan tangannya yang memakai Arloji.
"Masih pagi, nih! baru juga pukul 6.30 kita masih punya banyak waktu untuk bersantai di sini dan si idiot Dodi tumben dia ngak ikut ngagguin kita jadi serasa nyaman deh."ucap Devan sambil tersenyum lebar, di selonjoran kannya kedua kakinya di atas bangku kantin yang sepi sambil terus menatap wajah Tania yang sudah memporak-porandakan hatinya semenjak pertama kali bertemu.
Tania sedikit merasa jengah dan canggung di tatap Devan dengan senyum di bibir sensual nya, Devan memiliki bibir yang sensual menurut Tania itu karena Bibir Devan sedikit tebal beda dengan bibir Tatius yang tipis namun bergigi runcing.
"Oops....!" kenapa lagi-lagi memikirkan Tatius sudah benar benar ngak waras aku." keluh Tania dalam hati.
"Van..!"
"Hemmm!"
"Aduh kenapa jawabannya begitu amat sih bikin hati gak karuan aja." Gumam Tania dalam hati.
"Sekarang sudah pukul berapa masuk yuk"
"Sebentar!"
Devan segera melirik pada pergelangan tangannya di mana di tangan kanannya Devan menggunakan Arloji.
"Pukul enam tiga puluh."
Dengan cepat Devan memeriksa kembali Arloji yang ada di pergelangan tangan kanannya dan.....
"Astaga... Tania! jam Arloji ku mati."
"Apa?" mati..!" itu artinya sekarang sudah siang coba lihat di dinding mbok Yem." seru Tania terkejut hingga dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Dengan cepat pula Devan berlari ke tempat mbok Yem yang sedang duduk santai menunggu dagangan nya.
"Mbok Yem!' pukul berapa?'
""Baru pukul delapan, masih pagi anak anak belum pada istirahat jadilah masih sepi." jawab mbok Yem kalem.
Dengan cepat Devan menghampiri Tania yang masih berdiri menunggu.
"Gawat, Tania!" sudah pukul delapan kita terlambat hampir satu jam."
"Apa?pukul delapan, ayo cepat kita masuk kelas sekarang waktunya pak guru Wili kita bisa kena hukuman lagi Nanti."
"Ayo...!"
Dengan langkah cepat sedikit berlari Tania dan Devan melangkah menuju ruang kelas nya, dengan tangan sedikit bergetar melihat pintu kelas tertutup Tania mencoba memberikan diri untuk menggetuk nya.
"Tok.. Tok..Tok..!
"Masuk..!" suara lantang dari dalam yang menyuruh mereka untuk masuk. Dengan sedikit ragu dan hati tak menentu Tania dan Devan membuka pintu.
"Maaf, pak !"terlambat."ucap Tania sedangkan wajah dari pak guru Wili mulai berubah, Tatapan matanya begitu tajam dalam manik hitam pak guru Wili ada Amarah yang tersembunyi di sana, membuat Tania menunduk kan kepalanya.
"Cepat duduk dan kerjakan sehabis bel istirahat berbunyi kalian temui aku di ruangan ku.'
"Baik, pak!"
Pelajaran dari pak guru Wili berlangsung dengan sangat hikmat hingga bel istirahat pun berbunyi. Seperti yang di perintahkan pak guru Wili Devan dan Tania masuk ke dalam ruangan pribadi pak guru Wili.
Di ruang pribadi itulah Tania da Devan sedang menunggu perintah hukuman dari guru Wili.
"Kenapa kalian bisa datang terlambat masuk ke dalam kelas?" tanya pak guru Wili dengan suara yang keras.
"Kami...!"
"Kenapa?" cepat jawab, aku melihat kalian sudah datang dari pagi lalu kenapa masuk kelas bisa terlambat, apa kalian pacaran?'tanya pak guru Wili dengan suara yang keras sangat terlihat jelas ada kemarahan di sana.
"Bapak, jangan nuduh sembarangan, kamu tidak...
"Aku tidak suka mendengar apapun alasan kalian, untuk mu Devan jangan menggikuti pelajaran ku selama satu Minggu aku scores kalian begitu juga dengan mu Tania itu hukuman untuk kalian."
"Tapi, pak! kami bisa tertinggal jauh, apa tidak ada hukuman lainnya."
"Aku guru di sini bukan kamu, jadi ikuti semua perintah ku, srkarang kau boleh keluar tapi untuk kamu Tania tunggu di dini."
Devan segera keluar ruangan Pak guru Wili, kini tinggallah Tania dan pak guru Wili dalam satu ruangan, Tania tak mampu menatap wajah di depannya, tatapan mata pak guru Wili sungguh menakutkan, sangat terlihat jelas ada api kemarahan di sana.
"Mengapa?" mengapa kau lakukan itu Tania, kenapa kamu tidak bisa menjaga hati dan perasaan orang, kamu itu calon istriku, Kenapa masih bertingkah, mengapa kamu masih memberikan harapan pada Devan, apa kau juga menyukainya?'Tanya pak guru Wili dengan suara yang keras.
"Bapak, ini bicara apa sih?' kami terlambat karena makan di kantin, bukan pacaran dan kami tidak tau jika jam Arloji Devan mati."ucap Tania sengit tak mau di tuduh tuduh.
"Oh, ya!"
Pak guru Wili melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum miring dan berjalan mendekati Tania yang masih berdiri dengan wajah menunduk, ketiika pak guru Wili sudah dekat dengan jarak yang hanya beberapa sentimeter saja pak guru Wili berucap sambil berbisik sehingga nafas hangat pak guru Wili dapat dirasakan Tania.
"Jangan cari cari alasan itu sudah basi ."
"Ya, ampun Pak!" kenapa sih ngak percaya, Bapak boleh tanya sama mbok Yem deh."ucap Tania seraya beringsut mundur dari jarak yang begitu dekat dengan pak guru Wili.
Mendengar perkataan Tania pak guru Wili Tersenyum miring.
"Alasan...!"kita bahas lagi masalah ini di rumah sekarang pergilah dan ingat tunggu aku nanti kita pulang bareng."
"Tapi, pak!" ini di sekolah Nanti di lihat anak anak yang lain bagaimana, aku tidak mau, aku pulang sendiri saja."pinta Tania memohon.
"Perduli, biarkan saja mereka tau, jika kamu menolak aku akan menambah secores untuk Devan dua Minggu lagi."
"Ja-jangan, pak! baiklah aku akan menunggu Bapak.
"good, gril!" ucap Pak guru Wili seraya mengacak rambut Tania.
"Sekarang kamu boleh pergi.'
Dengan langkah gontai Tania keluar dari ruangan Pak guru Wili, Sementara pak guru Wili Tersenyum penuh kemenangan.