
Kegelisahan dan kegusaran dari Paman Patih lembu ireng setelah kepergian Pangeran Tatius membuat paman Patih lembu ireng ikut terbang melesat keluar Rumah mencari keberadaan pangeran Tatius.
Paman Patih Lembu Ireng sangat khawatir dan was-was dengan apa yang akan terjadi pada pangeran kesayangan nya dimana bisa dipastikan Pangeran Tatius pasti akan segera mengetahui jika Nona Tania masih hidup dan Nona Tania akan segera menikah dengan orang lain.
Dengan gerakan cepat seolah olah sedang terburu-buru Pangeran Paman patih lembu ireng segera pergi ke pemakaman Kekasih pangeran Tatius di mana sudah pangeran Tatius katakan jika dia ingin pergi ke makam ke kasihnya.
Sampai di tempat pemakaman Paman patih Lembu Ireng segera mengedarkan seluruh pandangannya, meskipun hari mulai gelap dan malampun mulai datang menyapa, paman Patih lembu ireng tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.
Karena pada umumnya para manusia banyak yang takut masuk area pemakaman Ketika hari sudah malam, alasan mereka macam macam ada yang takut karena mereka menyakini jika menjelang malam di area pemakaman suasana akan berubah menjadi angker dimana akan banyak hantu yang keluar dari dalam kubur.
Rasanya Paman patih lembu ireng ingin tertawa saja melihat kekonyolan dari keyakinan para manusia, mau ada hantu bagaimana mereka sudah pada mati dan orang mati tidak mungkin akan berubah menjadi hantu, jika ada kepercayaan seperti itu sudah bisa di pastikan orang itu sangat penakut.
Sudah sepuluh menit paman Patih lembu ireng berada di hamparan luas tempat pemakaman, wajahnya yang tadinya tegang memikirkan pangeran Tatius kini berubah menjadi binggung.
"Aku sudah berputar-putar di tempat ini tapi mengapa aku tidak melihat pangeran Tatius dan mengapa juga aku tidak menemukan nama Nona Tania di papan nisan yang ada di tempat ini, perasaan waktu itu Non Tania di makamkan di sini, tapi kenapa sekarang tidak ada, justru dari tadi aku seolah memutari makam ini, mungkin ini makam orang baru namanya melati lalu di mana makam Non Tania dan di mana Pangeran Tatius kenapa aku tidak melihat nya apakah dia sudah pergi dari tempat ini," paman Patih Lembu Ireng menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Cinta memang benar-benar memusingkan, beruntung aku tidak mau mengenal cinta jadi aku tidak terlalu pusing memikirkan."desis Paman Patih lembu ireng dalam hati.
***
Sementara jauh dari perkotaan Sang Nenek juga ikut gusar karena tusuk konde nya sampai malam datang belum juga menggeluarkan cahaya.
"Ini tidak bisa di biarkan aku harus cepat membuat tusuk konde ini menyala agar Tania tidak bisa berubah pikiran dan aku tidak mungkin melakukan semua nya di dalam Rumah aku harus pergi."
Dengan membawa kotak berisi tusuk konde sang Nenek keluar Rumah dan memutari pintu belakang di halaman belakang yang cukup luas dengan sinar lampu yang cukup terang, sang Nenek mulai mencari tempat yang cocok yang bisa di gunakan untuk menyalakan kembali tusuk konde yang hampir satu hari satu malam tak bersinar.
Duduk bersila dengan beberapa lilin yang mulai di nyalakan, sang Nenek meletakkan tusuk konde tepat berada di tengah lingkaran lilin yang menyala.
Dengan merafalkan matra dan menyalurkan kekuatan tenaga dalam nya sang Nenek mulai melakukan sesuatu yang biasa orang katakan seperti sulap di mana dengan kekuatan mistiknya tusuk konde itupun perlahan-lahan mulai terangkat Naik, menggikuti gerakan tangan dari Sang Nenek.
Kekuatan mistis yang cukup besar dimana udara yang berhembus dingin mulai Teresa hangat semua terjadi karena perpaduan antara tusuk konde dan lilin yang mulai membesar apinya dengan membentuk seperti lingkaran.
Tusuk konde yang berputar-putar semakin lama semakin cepat dan api lilin yang menggelilingi mulai meredukan sinar cahaya nya yang mana tusuk konde itu lah kini yang mulai mengeluarkan sinar.
Senyum kepuasan mengembang dari bibir sang Nenek.
"Tinggal sedikit lagi semua akan sempurna."merasa yakin akan berhasil dengan santai sang Nenek menunggu semua api lilin itu teserap masuk ke dalam tusuk konde yang masih berputar putar.
"Wuuuuuuzz.....!" tiba-tiba sebuah angin kencang datang meniup semua lilin dan membuat tusuk konde yang berputar-putar menjadi kacau arah putaran nya, tusuk konde menggikuti arah angin yang menerpa nya.
"Ha-ha-ha, Rupanya kau masih berusaha ikut campur dengan urusan anak muda Nenek tua."
Mendengar ada yang bicara dan memanggil nya dengan sebutan Nenek tua, secara gerakan refleks Sang Nenek menoleh ke sumber suara.
"Kau...! mau apa kau kesini kakek tua."
"Hahaha, apa seperti itu sikap yang baik dalam menyambut kedatangan suami."
"Ciiih, sejak kapan kau menjadi suamiku, kau tidak pernah menemaniku jadi kau bukan suamiku.'
"Baiklah, tidak masalah tapi setidaknya kau tidak perlu ikut campur urusan cinta anak muda dan ini, kau main curang dengan memberikan guna-guna pada gadis itu, hebat kau lebih membanggakan cucu angkatmu dari pada cucu kandungmu."
"itu bukan urusan mu,"
"itu urusan ku jika kau masih mau berbuat curang maka akulah yang akan menghalangi mu."
"Pok....pok....pok...!"
Sang Nenek bertepuk tangan Mendengar perkataan laki-laki tua paruh baya yang ada di depannya.
"Kau mau menantang ku."
"Tidak ! tapi jika kau tidak menggurungkan Niatmu maka dengan senang hati aku akan melawan mu, kita berperang."
"Hahaha, jangan mentang mentang kau seorang Raja Vampire kau bisa mengertak ku, ayo, kita lihat sampai di mana kemampuan mu ."
"Wah, cukup berani juga kamu, kenapa kita tidak berdamai saja buang niat buruk mu itu biarkan cinta mereka berjalan sebagaimana mestinya."
"Itu, maumu, keinginan semua mahkluk Vampire itu sama menikahi para manusia dan membawa mereka ke istana yang mengerikan disana dan kehidupan manusia mau tidak mau harus mereka tinggal kan, sangat egois dan aku tidak akan membiarkan dia menjadi bagian dari kalian, tidak akan."
"Hei.... kenapa kau yang marah-marah, itu kan urusan mereka jangan kau ikut campur dan keadaan mu dan aku jangan kau samakan dengan mereka, kanu tidak sudih kubawa ke istana aku tidak memaksa aku membiarkan pilihan mu, lalu kenapa kau masih marah-marah."
"Sudah, jangan banyak bicara ayo ikuti aku dan kita lihat apakah kau mampu melawan ku."
Sang Nenek segera terbang melesat meninggalkan tempat itu yang kemudian diikuti kakek Raja Sangkala dari belakang dengan wajah sedikit kesal.