
Melihat Laki-laki bangsa manusia di bawa pergi orang misterius, pangeran Tatius berlari terbang mengejarnya sambil memberikan serangan. Tatapan mata tajam laki-laki misterius yang tidak suka melihat pangeran Tatius yang masih mengejarnya terpaksa laki-laki memberikan serangan dengan memukul kan tongkatnya.
"Buuuuuugh...!" bunyi tongkat yang mengenai punggung pangeran Tatius.
Orang misterius menghentikan langkah terbangnya dan mendarat dengan manis di atas tanah, pangeran Tatius menatap heran kepada laki-laki Bangsa Manusia yang terlihat tidak memiliki tenaga karena wajahnya terlihat sangat lemas dan sedikit pucat, padahal pangeran Tatius belum berhasil melukai hanya beberapa tendangan dan pukulan saja yang singgah di tubuh laki-laki bangsa manusia dan hal itu seharusnya tak membuat dirinya seperti orang pingsan, seharusnya laki-laki bangsa manusia baik baik saja, tapi mengapa yang terlihat di depan mata laki-laki bangsa manusia seperti mayat hidup yang tak berdaya.
Belum selesai keheranan yang di rasakan pangeran Tatius, orang misterius itu sudah memberikan serangan tenaga dalam yang luar biasa kuat nya di mana hanya dengan sekali hentakan tongkatnya mampu menimbulkan bunyi petasan yang dahsyat seperti bom yang mana dapat menimbulkan api kemudian mengepulkan asap berwarna putih sehingga untuk sesaat pangeran Tatius tidak bisa melihat apa-apa selain asap putih di depannya dan ketika asap itu hilang bayangan orang misterius dan laki-laki bangsa manusia sudah tidak terlihat lagi dalam kebingungan nya pangeran Tatius hendak berlari terbang mencari akan tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar teriakkan dari patih lembu ireng.
"Pangeran..!" kau tidak apa-apa?tanya Patih lembu ireng cemas.
"Aku baik-baik saja paman, bagaimana putri Lin Ying apakah dia sudah berada di tempat yang aman."
"Sudah, pangeran, hei.... lihat lengan pangeran terluka mari saya obati "
Pangeran Tatius tertawa kecil melihat kecemasan dari Patih lembu ireng.
"ha..ha .ha...ini luka kecil tidak apa-apa jangan terlalu di khawatir kan."
"Pangeran mana laki-laki bangsa manusia tadi apakah dia telah kabur melarikan diri?"
"Tidak, dia tidak melarikan diri tapi dia di bawa lari orang misterius."
"Pasti itu, temannya atau guru nya atau...
Belum selesai Patih lembu ireng meneruskan kalimatnya pangeran Tatius sudah menjawab lebih dulu.
"Atau kajeknya." seru nya sambil tertawa.
"Ya, pangeran benar kakek nya juga bisa, serunya sambil tertawa, pangeran ayo kita pulang."
"Tunggu..!"
"Ada apa lagi pangeran,?"
"Aku mau melihat gadis yang tertidur di atas lempeng batu, kalau paman mau ikut ayo...!"
Patih lembu ireng dan pangeran Tatius segera masuk melihat ke dalam goa yang mana akibat dari pertarungan nya dengan laki-laki bangsa manusia membuat nya harus keluar goa.
"Di mana pangeran?"
"Di sini, paman !"tapi kenapa sekarang tidak ada, siapa yang membawanya apa jangan jangan orang misterius tadi."
"Apakah bajunya berwarna putih pangeran?"
"Iya, benar paman! bagaimana paman bisa tau?"
"Sudah ku duga "
"Ada apa paman?"
"Dia, juga mengecohku, menyuruhku lewat lorong goa dari belakang dan pangeran tau di sana ada banyak ular berbisa mungkin orang itu berfikir aku akan mundur dan takut dia belum tau patih lembu ireng seorang patih yang cerdas dari kerajaan Sangkala akan mengunakan otak untuk bisa melewati ular itu tanpa harus membuang buang tenaga."
"Apa yang paman lakukan untuk mengusir ular ular itu."
"Aku buatkan api unggun dari daun kering dan apinya yang besar memerangi seluruh goa membuat ular ular itu menyingkir dengan sendirinya."
"Wah, ide paman bagus juga, sekarang ayo kita kembali saja."
"Pangeran tidak mencari gadis itu lagi?"
"Tidak, usah biarkan saja mereka pergi yang penting sudah tidak mengaggu lagi."
"Baiklah, mari pangeran."
Secepat kilat Pangeran Tatius dan patih lembu ireng melesat terbang menuju tempat di mana putri Lin Ying di tinggalkan.
Di belahan dunia lain tampak seorang Nenek yang baru datang dari pasar merasa kebingungan ketika mendapati rumahnya kosong.
"Kemana Devan dan teman temannya pergi, apa mereka sudah pulang?" jika sudah pulang kenapa Tas Tania dan Devan masih ada di sini, ini benar benar aneh tidak biasanya datang kesini pergi tanpa pamit."Gumam sang Nenek.
Sang Nenek menghela nafas panjang dan duduk memikirkan kemana Devan dan teman-teman nya pergi ketika sang Nenek hendak mengambil Air minum di dapur yang arahnya melewati ruangan yang pernah di larang untuk di masuki, mata sang Nenek melotot tak percaya ketika melihat pintu sedikit terbuka itu artinya ada yang membuka pintu itu, dengan perasaan was-was dan jatung yang tiba-tiba bergetar hebat sang Nenek akhirnya membuka pintu perlahan-lahan.
Dalam hatinya berharap dan berdoa smoga dugaannya salah, smoga cucunya tidak terperangkap dalam jalan Rahasia menuju istana kerajaan Sangkala.
Ketika pintu sudah terbuka sang Nenek langsung menuju lukisan istana kerajaan Sangkala betapa terkejutnya dia ketika mengetahui letak lukisan pun sudah berubah menjadi terbalik.
"Jangan jangan dugaan ku benar, anak anak terjebak di jalan Rahasia menuju istana kerajaan Sangkala, sekarang apa yang harus aku lakukan, pasti mereka dalam keadaan ketakutan dan bahaya, harus kah aku datang ke sana, harus kah aku kembali bertemu dengan nya, sesuatu yang tidak pernah ku inginkan haruskah hari ini terjadi, tapi demi keselamatan anak anak apa yang aku benci dan apa yang sudah terkubur puluhan tahun lamanya kini akan terbuka lagi, demi anak anak aku akan datang."
Perlahan-lahan sang Nenek membuka kotak mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang berwarna kuning keemasan dan mengenakannya, kemudian dia melangkah mendekati lukisan maut yang menghilangkan cucu dan kedua temannya. Perlahan-lahan di sentuh nya lukisan itu.
"Aku.. datang!" lirihnya dan dalam hitungan detik lukisan bergerak dengan cepat seperti putaran gangsing dan seperti alat penyedot debu tubuh sang Nenek pun masuk kedalam nya.