
Di dalam kamar samar samar pak guru Wili mendengar suara ribut dari luar, pak guru Wili yang ketika itu sedang melihat TV segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu.
"Tadi aku seperti mendengar suara Tania."
perlahan-lahan pintu kamar di buka , pak guru Wili merasa kecewa lantaran tak melihat apapun, suasana luar kamar hening.
"Tidak ada apapun di sini, aku coba lihat Tania di dalam kamarnya, Ah, tidak usah besok saja ini sudah malam mungkin Tania sudah tidur."
Pak guru Wili melangkah kembali ke dalam kamar dan di rebahkan tubuhnya di atas ranjang berseprei putih, tapi entah kenapa pikiran dan perasaan nya serasa tidak tenang terlebih menggingat Tania selalu bilang takut dan bicara jika di dalam kamar yang pertama kali dirinya tunjukkan katanya horor.
Keselamatan Tania adalah tanggung jawab nya jika apa yang di katakan Tania benar maka dirinya akan sangat bersalah jika tidak mempercayai itu, pak guru Wili mulai bangkit dari tidurnya, menjadi seorang guru yang mampu mendidik dan membuat anak didiknya nyaman tenang dan bahagia sangat mudah maka dia harus mampu untuk menjaga dan menenangkan Tania yang mungkin kini resah dan ketakutan dan tidak ada salahnya kini dirinya mencoba melihat keadaan kamar yang di anggap Tania horor sebelum pergi menemui Tania.
Langkah kaki pak guru Wili yang tegap dengan suara yang berirama menyusuri lorong ruangan berliku, dalam hati pak guru Wili sempat mengumpat kesal, pasalnya ruangan model villa yang sangat berliku-liku memusingkan kepala nya.
"Ada ada saja kakek ini, kenapa pula membuat Villa berbentuk huruf S bikin pusing kepala masak hanya untuk mencapai satu kamar saja berbelok dan berliku, pantas saja Tania berfikir horor itu karena dia baru melihat model villa yang aneh."
Pak guru Wili menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan keras.
"Akhirnya sampai juga di kamar horor ini, aih kenapa aku juga ikut ikutan menggatakan kamar horor."perlahan-lahan pak guru Wili membuka pintu kamar yang tidak terkunci, pak guru Wili mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
"Di sini tidak ada yang mencurigakan, semua biasa saja horornya di mana?" atau Tania lagi berhalusinasi, wah gawat, jika apa yang terjadi pada Tania karena pikiran halusinasi nya itu artinya saat ini Tania lagi ketakutan dengan pikiran nya sendiri, aku harus cepat menemui Tania dia tidak boleh sendiri, aku harus selalu menemaninya.
Bergegas pak guru Wili keluar dari kamar dan berjalan dengan cepat menuju kamar Tania, tapi belum sampai pada ruangan itu, pak guru Wili dikejutkan dengan suara pintu depan ada yang membuka, karena penasaran dengan cepat pak guru Wili pergi ke arah pintu ruang tamu, terlihat lah sosok laki-laki paruh baya dengan topi di kepala dan sebuah senter lampu di tangan kanannya.
"Maaf, Den!" ku pikir tidak ada orang jadi saya datang untuk menghidupkan lampu."
"Oh, mang Surip!" iya ngak papa mang, maaf aku datang tidak memberi kabar terlebih dahulu."
"Ya, sudah Den saya permisi dulu, Den Wili datang sendirian kan?"
"Tidak, aku datang dengan temanku,"
"Oh, laki-laki juga Den,"tanya laki-laki paruh baya itu penasaran.
"Ya, mang Surip, masak saya datang dengan teman laki-laki tentu saja teman cewek lah mang,"
"Cewek..!"desis laki-laki paruh baya itu yang tiba-tiba wajahnya berubah aneh.
"Iya, kenapa mang surip seperti terkejut begitu."
"Tidak, apa apa Den, cuma saran mang surip jangan tinggalkan teman Den Wili sendirian, saya permisi dulu,"ucap laki-laki paruh baya itu seraya pergi.
"Oh, ya mang, pasti itu."
laki-laki paruh baya itu segera pergi dari vila langkah kakinya begitu cepat dan terlihat buru buru, pak guru Wili hanya menggelengkan kepalanya melihat itu sambil tersenyum.
"Pergi kok seperti orang habis melihat hantu saja, ah ya, aku harus cepat menemui Tania bisa gawat kalau halusinasi nya lebih parah Nanti dia nangis karena ketakutan."
Dengan sedikit berlari pak guru Wili menuju kamar Tania dengan tidak sabar pak guru Wili segera membuka kamar Tania.
"Tania..!" apa kamu sudah tidur?"
panggilan pak guru Wili dari depan pintu yang tidak menemukan jawaban membuat pak guru Wili cemas dan segera masuk, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Ranjang Tania masih rapi dan bersih dan lebih terkejut lagi dirinya ketika tak melihat Tania di dalam kamar itu, dengan perasaan yang mulai cemas pak guru Wili mencari Tania di semua sudut ruangan, hingga ke dalam kamar mandi, akan tetapi Tania tak juga dia temukan, pak guru Wili mulai panik.
"Tania...!"
Pak guru Wili mulai berlari kesana ke mari keluar masuk semua kamar yang ada di dalam villa itu, karena di seluruh ruangan tak di temukan, pak guru Wili mulai mencari keluar rumah dan ketika hendak mencari ke belakang villa Pak guru Wili dikejutkan dengan kehadiran pembantu vila yang selalu membersihkan tempat itu.
"Mang.. Surip,!" kenapa mang Surip ada di sini.'
"Den Wili juga kenapa ada di sini?"
Mang surip di tanya bukannya menjawab tapi dia juga justru bertanya dengan pertanyaan yang sama, tentu saja hal itu sedikit membuat Pak guru Wili kesal.
"Aku mencari temanku, dia tidak ada di dalam rumah." ucap pak guru Wili jujur.
"Mari Den, kita cari bersama?"
"Mang, Surip!" tunggu aku curiga kamu tau sesuatu, apakah kamu tau sejak tadi jika temanku pasti menggalami hal buruk," desak pak guru Wili pada mang surip agar dia mau bercerita.
"Den! bukan waktunya menjawab pertanyaan Den Will keselamatan Teman Den Wili itu lebih penting."
"Ok, baiklah ayo kita cari."
Pak guru Wili dan mang surip segera melakukan pencarian terhadap Tania, mereka menggelilingi seluruh sudut yang terdapat di tempat itu.
Tubuh Tania yang terasa ringan di bawah terbang sosok misterius bayangan hitam, dia dapat merasakan bahwa yang membawa dirinya bukan lah manusia, tapi mahkluk lain, Tania pernah merasakan di bawah terbang ketika pangeran Tatius menyelamatkan nya dan mengajaknya untuk melihat lihat keindahan alam dan rasanya sama tubuh nya terasa ringan, meskipun Tania merasa ketakutan tapi dia tetap berusaha untuk tenang, setidaknya ini bukan kali pertama Tania berhadapan dengan mahkluk lain.
"Bruuuuugggh...!"
"Aaaaaaaaaa...!"
Tania menjerit kecil ketika tiba-tiba tubuhnya di jatuhkan dengan sangat keras ke atas tanah, Tania meringis menahan sakit pada punggung dan Boko ngnya.
"Sial..!" ini mahkluk apa sih tak berprasaan sedikit pun, apa dia pikir tidak sakit apa habis di ajak terbang lalu di jatuhkan se enak dengkulnya, lagi pula tempat apa ini kenapa gelap sekali, aku tak bisa melihat apapun hanya remang remang, kepala ku bertambah pusing."
Dengan perlahan lahan dengan kedua tangan meraba raba jalan bagaikan orang buta Tania melangkah maju ke depan lalu kemudian Tania hendak berjalan kesamping tapi yang terjadi..
"Duuuuuggh..!"
"Auuuuwwwh!" benjut kepala ku kenapa di samping ku ada dinding?"Aku tidak tau jalan bagaimana ini?"
Samar samar Tania mendengar sebuah suara dan demi menggetahui siapa orang yang sedang ribut itu, Tania mendekati sumber suara dengan berjalan merangkak bagaikan katak, Tania tidak mau lagi kepalanya benjut karena terjadug, untuk itu demi keamanan Tania memilih berjalan dengan merangkak.
"Katakan, padaku... jika tidak, aku akan membunuh satu manusia di depan matamu kemudian menyiksamu,"
"Sudah aku bilang, aku tidak tau, aku tidak tau apa apa?"
"Bohong..!" trima ini
"plaaaaakkkk... sebuah tamparan keras mendarat sempurna di wajah wanita yang wajahnya tidak terlalu jelas, Tania menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya, agar dirinya tidak menjerit ketika melihat perbuatan kasar dari mahkluk yang ada di depannya sungguh perbuatan yang sangat tidak berprikemanusiaan, Tania tak sanggup lagi melihat sikap dan perilaku kejam orang yang ada di depannya.
"Aku harus bisa mencari jalan keluar dari tempat ini, sebelum orang itu mendekati ku bisa bisa aku pun mendapat kan siksaan yang sama."Keluh Tania dalam hati.
Perlahan-lahan Tania dengan sangat pelan beringsut mundur dan mencari cari jalan keluar dengan meraba raba tempat sekeliling,
Di saat Tania sibuk dengan meraba raba dari arah yang entah depan entah belakang entah samping kanan atau kiri terlihat seekor kucing sedang berdiri di sana, tatapan matanya yang tajam mengarah pada Tania, awalnya Tania jenggah dengan tatapan tajam mata kucing akan tetapi di balik itu mata kucing yang berwarna hijau kebiruan justru memberikan cahaya lampu sehingga ruangan itu sedikit terang dan Tania bisa melihat jalan dan hal itu dia gunakan untuk kabur.