
Matahari belum muncul dari ufuk timur
udara yang berhembus, menghadirkan
rasa dingin tidak membuat, pangeran Tatius
malas untuk bangun. Semua telah ia
persiapkan untuk kebutuhan dalam perjalanan.
Kini pangeran Tatius tinggal menunggu
kehadiran dari pengawal istana, patih lembu
ireng, yang akan menemani perjalanan nya.
Tidak ada yang tau jika sesungguhnya
tujuan pangeran Tatius memilih pergi
lebih awal tanpa membawa banyak
pengawal bukan hanya untuk menggikuti
sayembara, yang akan di adakan Raja Barat
Daya, namun ada rencana tersembunyi yang
hanya dia sendiri yang tau apa tujuannya.
Pangeran Tatius sangat yakin meskipun
dia pergi dengan patih lembu ireng dia
yakin patih lembu ireng tidak akan menghalagi
tujuannya.
Dengan sabar, pangeran Tatius menunggu
kehadiran sang kakek dan patih lembu
ireng, di balai istana kerajaan di mana
patih lembu ireng lah yang akan menemani
perjalanan nya.
Tanpa pangeran Tatius sadari, rasa
penasaran dan pertanyaan dari sang
kakek yang semalam tidak pangeran
Tatius jawab, sang kakek pun memiliki
rencana sendiri terhadapnya.
Ketika sang kakek melihat pangeran Tatius
sudah duduk menunggu di balai istana
sang kakek Tersenyum simpul melihat nya.
"Kau tidak akan bisa bermain rahasia dengan
kakekmu ini pangeran Tatius, kita lihat
apakah pangeran akan memberikan jawaban
ataukah tidak.
Dengan langkah tegap, sang kakek
mendekati tempat dimana pangeran Tatius
menunggu, melihat kehadiran sang kakek
dengan cepat pangeran Tatius memberikan
ucapan salam.
"Selamat pagi kakek !"Sapa pangeran Tatius
sopan.
"Selamat pagi juga pangeran, rupanya
pangeran sudah siap berangkat."
"Iya, kakek, lebih cepat kurasa lebih baik,
oh, ya, mana patih lembu ireng kakek !"
Kenapa dia belum muncul,"
"Sabarlah pangeran, waktu masih begitu
pagi biarkan patih lembu Ireng bersiap
siap dulu,"
"Baiklah kakek, saya akan menunggu
dengan sabar disini," ucap pangeran Tatius
dengan tersenyum.
"Pangeran, mau kah Pangeran menolong
kakek Sebentar saja,"
"Tentu saja, apa yang bisa kulakukan untuk
kakek,"Tanya pangeran Tatius penasaran.
"Ambilkan, keris kakek yang ada di dinding
kamar kakek, sekalian,air minum juga
kakek sedikit haus,"
"Baiklah kek, tunggu sebentar aku akan
ambilkan."
Bergegas pangeran Tatius menuju kamar
kakek, setelah mengambil keris yang ada di dinding, kemudian pangeran Tatius mengambil
air untuk sang kakek, tidak menunggu
berapa lama pangeran Tatius sudah kembali
ke balai istana kerajaan dengan membawa
keris dan air, ketika pangeran Tatius hendak
menyerahkan air dan keris kepada sang
kakek, ternyata sang kakek sudah lebih
dulu datang mendekat dan menghampiri.
"Mana airnya, pangeran ?"
"Kerisnya pangeran taruh di situ saja," Ucap
sang kakek sambil mengambil air dari
gengaman tangan pangeran Tatius.
Namun ketika air itu sudah berada digenggaman tangan sang kakek tiba tiba
airnya tumpah dan membasahi lengan
tangan pangeran Tatius.
"Maaf, pangeran kakek tidak sengaja baju
pangeran jadi basah," Ucap sang kakek
berpura pura merasa bersalah padahal
sesungguhnya inilah rencananya agar
dapat melihat dengan jelas luka tangan
dari pangeran Tatius.
Dengan cepat sebelum pangeran Tatius
menyadari ini adalah bagian dari rencananya
cepat cepat sang kakek, melipat ke atas
kain lengan panjang penutup tangan
pangeran Tatius.
"Wah tanganmu basah pangeran, maaf
kakek tidak sengaja ," Ucap sang kakek
sambil melipat lengan baju pangeran
Tatius keatas. Maka dengan seketika
sang kakek bisa melihat dengan jelas
goresan luka yang ada di tangan pangeran Tatius.
"Ini bukan luka, tapi sengaja di lukai, ukiran
nya sangat rapi sehingga membentuk sebuah
nama, huruf pertama T, A...,
Ketika sang kakek hendak membaca ukiran
nama itu, tiba tiba pangeran Tatius menyadari
sehinga dengan cepat buru buru pangeran
Tatius menurunkan lengan tangannya.
"Ah, tidak apa apa,"
"Pangeran Tatius, itu tulisan apa yang ada
di pergelangan tanganmu,"
"Bukan apa apa kek, sekedar coretan kecil
saja,"
"Mengapa pangeran Tatius berbohong pada
kakek, apakah kakek tidak pantas mengetahui
ini semua."
"Bukan begitu kek, ini tidak penting,"
"Pangeran Tatius, kakek tidak mau memaksa
pangeran untuk bicara jujur, tapi setidaknya
janganlah pangeran Tatius menyembunyikan
sesuatu dari kakek, percayalah kakek
mampu menjaga rahasia itu,"
"Apa kakek tidak kecewa seandainya cucu
kakek menyukai anak manusia,"
"Apa..?"Menyukai anak manusia, kamu
jangan main main pangeran !"Seru kakek
yang seketika wajahnya berubah menjadi
merah dan tatapan matanya sangat tajam.
Pangeran Tatius hanya menundukkan
kepala tanpa bicara apa apa.
"Sejak kapan pangeran berfikiran begitu,
buang dan cepat hilangkan rasa itu
pangeran, jika sampai Ayah mu Raja
Awang Awang Vampire tau kau pasti
akan di bunuh.
"Kakek..!Dimana salahnya mencintai, bukan
kah ini hal yang wajar."
"Pangeran, kita ini hidup dalam dunia alam
yang berbeda jadi tidak lah pantas kita
menjalin hubungan dengan anak manusia."
"Aku tidak perduli Kakek, aku akan berjuang
demi cintaku, aku hanya mau tolong kakek
dukung aku,"
"Terserah padamu Pangeran aku cuma bisa
mengatakan pilihanmu akan membahayakan
dirimu dan juga gadis mu Sebelum semua
terlambat hentikan semua nya."
"Tidak, kakek, apapun yang terjadi aku akan siap menghadapi nya sekalipun aku harus
hancur pada akhirnya."Ucap pangeran Tatius
menyakinkan.