
Malam semakin merangkak dan pagipun datang menyapa, Bibi Derbah yang sudah terbangun segera menghampiri pangeran Tatius di ruang tamu, tapi ketika langkah kakinya sudah sampai di ruang tamu Bibi Derbah sedikit terkejut di saat dirinya tak mendapati pangeran Tatius di sana, wajah cantiknya mulai gusar, dengan langkah cepat Bibi Derbah berlari keluar dan barulah Bibi Derbah bernafas lega, orang yang di carinya berada di luar bersama dengan para pembajak, segan dan masih kesal dengan ulah salah satu dari sang pembajak Bibi Derbah memilih kembali masuk ke dalam rumah, sayup sayup terdengar suara pangeran Tatius sedang berbincang dengan anak buah sang pembajak.
"Aku, berharap sekali kalian bisa membantuku ."
"Baik, kami akan coba,"
Ke empat anak buah sang pembajak pun mulai bersiap siap dan kini pangeran Tatius mendekati sang Boss pembajak dan mulai melepaskan tali yang menggikat nya.
"Aku tidak menggaggu apapun kegiatan mu tapi aku berharap kamu mau bekerja sama dengan ku, aku membutuhkan tenaga dari anak buah mu tujuan ku ke sini hanya ingin mencari mutiara hijau."
"Aku tidak keberatan selama mereka mau dan tidak merasa di paksa." ucap Boss pembajak.
"Baiklah, trimakasih atas ijinnya." Setelah mengucapkan itu pangeran Tatius melangkah pergi meninggalkan tempat di mana Boss pembajak dan anak buahnya berada, pangeran Tatius masuk ke dalam rumah dan menemui Bibi Derbah.
Setelah masuk terlihat lah seorang wanita cantik paruh baya sedang duduk termenung sendirian, pangeran Tatius Tersenyum kemudian berjalan mendekati nya.
"Bibi masih takut."
Wanita itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah bicara dengan anak buah sang pembajak dan mereka mau membantu menyelam mencari tau apakah di lautan ini ada mutiara hijau atau tidak, apa Bibi mau bersabar menunggu di sini bersama mereka yang telah membuat Bibi hina untuk sementara waktu, jika Bibi keberatan kita akan pergi dan melupakan semua itu.
"Tidak, apa-apa pangeran aku mau menunggu disini, bukankah tujuan kita kesini memang hanya untuk mencari mutiara hijau yang di buang Raja dan untuk sesuatu hal yang menimpaku itu kan cuma rintangan kecilnya saja yang penting aku tidak apa-apa dan masih baik-baik saja.'
"Trimakasih, Bibi sangat pengertian, Oh, ya tunggu sebentar di sini, aku akan menangkap ikan untuk makan kita dan juga aku akan menangkap kan ikan untuk mereka yang di luar sana pasti mereka juga lapar."
"Jangan lama-lama ninggalin aku pangeran aku, sedikit takut."ucap Bibi Derbah dengan tatapan mata sendu.
Pangeran Tatius menoleh ke arah Bibi Derbah sebelum kemudian tersenyum dan mengagguk.
Apa yang di khawatir kan dan di cemaskan Bibi Derbah membuat Pangeran Tatius berjalan keluar mendekati beberapa anak buah sang pembajak yang berada di tempat itu.
"Aku akan pergi menangkap ikan untuk makan kita semua di sini dan ku harap kalian bisa menjaga sikap dan berlaku sopan pada Bibi ku, karena jika tidak dan kalian berlaku buruk padanya maka aku akan memusnahkan kalian semua, apa kalian mengerti?'
"Tenang, saja kami tidak akan mengaggu Bibimu, cepatlah pergi dan bawa ikan yang banyak untuk kami, agar kami mempunyai tenaga untuk bisa melakukan penyelaman hari ini."
"Baik, aku percaya pada kalian, aku pergi dulu."
"Hoooop...!" tubuh Pangeran Tatius melesat terbang ke tengah lautan, para anak buah sang pembajak menatap penuh dengan kekaguman mereka tidak menyangka jika mahkluk Vampire yang mereka temui adalah mahkluk Vampire yang sangat istimewa di mana dia bisa bicara dan juga bisa bela diri dengan sangat bagus bahkan mampu menggalahkan mereka berlima, ini suatu hal yang sangat luar biasa terlebih seandainya di masukkan dalam mosium untuk pameran pasti lah akan menjadi pohon uang yang sangat menguntungkan, tapi sayangnya semua harus dia pendam dan abaikan karena mahkluk Vampire akan bisa membuat hidup nya tamat juga seandainya berani macam macam.
Boss Vampire mengusap wajahnya dengan kasar, pikiran nya yang bermimpi ingin menjadi kaya mendadak karena Vampire ajaib itu kini Pupus sudah, dirinya sudah kalah dirinya sebagai Boss tak mampu menggalahkan dan mengatasi satu Vampire saja bahkan kali ini mereka akan makan dengan bantuan Vampire juga dengan perasaan kesal di tendang nya satu tong kosong yang ada di depannya, hingga suara bunyi tong kosong itu menggejutkan ke empat anak buah nya.
"Ada apa Boss?" kenapa Boss melempar tong ini,"teriak salah satu anak buah sang pembajak.
"Kita bagaikan orang bodoh sekarang, masak kita kalah dengan mahkluk Vampire itu."
"Enak saja aku harus tunduk padanya, ini kan kesempatan selagi Vampire itu tak ada di sini ayo, kita main main dengan Vampire perempuan itu, setelah itu kita bawa kabur kita serahkan dan gadaikan di musium biar jadi tontonan para penggunjung."
"Jangan, Boss kami tidak berani lagi pula kita sudah berjanji tidak akan berbuat buruk pada wanita itu,"
"Halah janji kita abaikan saja ini orangnya kan tidak ada jadi ini kesempatan kita."
"Tidak, Boss, aku tidak berani, aku sudah melihat kekuatan nya aku takut Boss lagi pula Vampire itu seperti nya tidak jahat buktinya dia juga mau menolong salah satu teman kita yang terkena peluru Boss."
"Kamu itu memang Bodoh di baikki sedikit saja sudah pada bertekuk lutut , kalian tidak mau biar ku lakukan sendiri."
"Jangan, Boss!"
Sang Boss pembajak tak lagi menghiraukan teriakan anak buahnya, mata hatinya sudah gelap keinginan nya untuk bisa menjadi kaya mendadak sudah mencapai ubun untuk otaknya sehingga dia tak lagi memikirkan, apa yang akan di lakukan nya itu salah atau benar, yang ada dalam hatinya cuma satu kaya mendadak.
Dengan langkah sedikit terburu-buru sang Boss pembajak pun berjalan menuju Ruang di mana di dalam Rumah itu ada Bibi Derbah yang sedang menunggu kedatangan pangeran Tatius dengan sangat cemas, perasaan hati nya jika boleh jujur masih diliputi rasa takut dan was-was.
Pintu yang tertutup perlahan-lahan di buka dari luar, Bibi Derbah yang ketika itu sedang duduk duduk terkesiap kaget melihat kedatangan sang Boss pembajak, dengan cepat Bibi Derbah berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau apa?"seru Bibi Derbah ketakutan.
Sementara Sang Boss pembajak Tersenyum smrik dengan sangat santai sang Boss pembajak duduk di depan Bibi Derbah.
"Tolong ambilkan aku minum, aku kehausan."
Dengan sedikit takut dan kaki bergetar Bibi Derbah pun melangkah menggambilkan minum.
"Ini," Ucap Bibi Derbah seraya meletakkan minuman nya di atas meja di depan sang Boss pembajak.
Tatapan mata sang Boss pembajak yang menatapnya dari atas sampai ke bawah membuat bulu kuduk Bibi Derbah merinding karena sangat jelas terlihat disana ada tatapan yang beda dan mengerikan seolah-olah sedang menelanjangi nya, Bibi Derbah menunduk kan kepala dan beringsut mundur menjauh.
Sang Boss pembajak Tersenyum miring melihat ketakutan dari Bibi Derbah kemudian melangkah mendekati Bibi Derbah yang wajahnya kini menjadi pucat, dengan senyum menyeringai sang Boss pembajak bicara.
"Aku pergi dulu." serunya kemudian melangkah menuju pintu dan ketika pintu di buka dengan lebar...
"Bruuugh...!" tiga orang anak buah sang pembajak langsung jatuh tersungkur di tanah saling menin dih itu karena mereka bertiga berdiri di depan pintu dengan badan dan telinga menempel sehingga membuat mereka jatuh bersamaan ketika pintu di buka. Sang Boss mengeryitkan dahinya melihat kelakuan anak buahnya yang super bodoh.
"Kalian menggintipku?"
"He...he....he...maaf Boss kami takut Boss berbuat macam-macam jadi untuk jaga jaga kami berdiri di depan pintu.
"Buuuuugh....!"buuuuugh...!"Buuuuugh!!" sebuah pukulan kecil mendarat di kepala ketiika anak buah sang pembajak.
"Kau pikir aku bodoh apa?" akan bertindak gegabah."ucap sang Boss pembajak yang kemudian melangkah keluar yang kemudian di ikuti oleh ketiga anak buahnya.