The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.286 EGOIS



Melihat Ratu Derbah masuk ke dalam untuk menggambil peralatan guna membersihkan lantai Ratu Shima menyunggingkan sebuah senyuman.


"Rasain, tuh!


Raja yang sedari tadi memperhatikan Istri pertamanya Tersenyum smrik.


"Apa, Ratu senang, aku juga sudah memberikan hukuman pada Ratu Derbah."


Ratu Shima yang tidak menyangka jika pergerakan nya masih dalam penggawasan suaminya, dengan cepat bangkit dari jongkok nya yang mana sudah ada satu tumpuk pecahan gelas yang di pungut dan di letakkan pada Tong sampah. Tatapan nya begitu tajam dan sinis sementara Raja menatapnya dengan sendu dan dengan tatapan mata penuh rindu.


"Biasa saja! ucapnya yang mana Ratu Shima langsung melangkah pergi. Raja hanya mengeryitkan dahinya dan menggelengkan kepalanya ketika Ratu Shima pergi.


Di dapur belakang Ratu Derbah yang hendak mengambil peralatan pel terpaksa berhenti ketika melihat seorang pelayan sedang mempersiapkan makan malam.


"Bik, tunggu,!


"Iya, Ratu!


"Mau kau bawa kemana makanan itu."


"Oh, ini! Raja meminta untuk membawa kan ke Rumah belakang.'


"Istana utama bagian belakang apa ada orang nya, atau Raja yang sedang ada disana."


"Saya, tidak tau Ratu! saya hanya di tugaskan membawa makan siang ini kesana."


"Baiklah, tapi sebelum itu persiapkan untuk makan ku aku sangat lapar."


"Baik, saya akan membawa kan makanan ke ruang makan "


"Tidak, tidak perlu kau bawa kesana aku mau makan disini, cepat persiapkan untuk ku."


"Apa Ratu Derbah serius mau makan di dapur."


"Banyak tanya amat sih, iya lah aku mau makan di sini cepat."


"Ba-baik Ratu!


Dengan cepat pelayan istana segera mempersiapkan makan siang untuk Ratu Derbah."


"Ratu, silahkan di makan."


Tanpa menjawab Ratu Derbah segera meraih makanan yang ada di atas meja dan dengan segera melahap nya.


Bibik pelayan istana yang melihat pergerakan dari Ratu Derbah yang makan dengan sangat lahap dan cepat membuat Bibik pelayan menjadi penasaran.


"Ratu, pelan pelan makannya dan kenapa tumben Ratu Derbah mau makan di dapur, kenapa tidak makan di dalam ruang makan saja biar bisa makan bersama Raja."


Satu pertanyaan yang sangat menyinggung hati Ratu Derbah hingga membuat Ratu Derbah emosi, dengan kasar Ratu Derbah memukul kan satu ujung sendok di atas piring sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras, tak aya lagi membuat Bibik pelayan istana ketakutan.


"Diam..! kau...!


"Ting.....! suara keras pukulan sendok Ratu Derbah yang mana langsung membuat wajah sang pelayan pucat.


"Maaf, Ratu!


"Pergi, cepat!"


"Ba-baik, Ratu!


Dengan terburu-buru Pelayan istana pun segera pergi dari tempat itu.


Setelah Kepergian sang Pelayan Ratu Derbah Kembali menikmati makan siangnya tapi belum sampai Ratu Derbah menyuapkan makanan kedalam mulutnya tiba-tiba sebuah suara menghentikan gerakan tangan nya.


"Ternyata kau sedang makan disini, patas saja lama."


Ratu Derbah yang hafal betul suara itu dengan cepat menghentikan makannya dan langsung berdiri sambil menoleh ke sumber suara.


"Ra-raja, kau...!Ma-mau apa kesini?'


"Kenapa, kaget begitu aku suamimu bukan hantu,"


Dengan senyum yang sangat di paksakan Ratu Derbah Tersenyum, meskipun sejujurnya hatinya sedang was-was dan khawatir.


"Apa, Raja juga mau makan di sini kalau mau biar ku siapkan."


"Tidak," sahut Raja dingin.


Ratu Derbah mencoba bersikap tenang dan kembali melanjutkan makannya.


"Siapa, yang mengijinkan mu makan hah."


"Ra,-raja aku sangat lapar ijinkan aku makan dulu."


"Tidak bisa,cepat kau bersihkan Ruangan di depan."


."Baik, tapi biarkan aku mrngisi energi dalam perutku dulu agar aku punya tenaga untuk membersihkan nya."


"Tidak, bisa, cepat lakukan sekarang atau aku seret kau."


"Ja-jangan, baik aku pergi sekarang."


Dengan cepat Ratu Derbah bangkit dari duduknya dan dengan terburu-buru keluar sambil membawa peralatan untuk membersihkan lantai.


Sementara Raja yang juga hendak keluar dari dapur terpaksa berhenti ketika melihat Bibik pelayan dapur dari luar.


"Kau, dari mana Bik."


"Raja..! saya baru dari rumah belakang istana utama bukankah Raja berpesan untuk memberikan gadis yang ada di sana makan."


"O, iya, aku lupa, apakah ada yang melihat mu kesana atau ada yang tau jika kamu pergi kesana?"


"Ada, Raja!


"Siapa?"


"Ratu Derbah, tadi sempat bertanya dan saya lupa menjawab nya, Ampuni saya Raja, saya khilaf."ucap Bibik pelayan dengan wajah menunduk.


Raja menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, sebenarnya Hatinya sedikit kesal tapi melihat pelayan itu ketakutan Raja mencoba untuk memahami.


"Baiklah, sekarang cepat siapkan makan siang untuk kami bawa ke ruang makan aku dan kedua Ratu ku akan makan di sana."


"Baik, Raja!"


Bergegas Bibik pelayan mempersiapkan makan.


Raja berjalan kembali ke ruang makan menunggu dengan sabar kedua istrinya selesai bekerja dan menemaninya makan siang.


Ratu Shima yang sudah menyelesaikan pekerjaan nya dan berada di ruang makan karena perintah Raja, memilih tidak banyak bicara hatinya yang masih kesal memilih untuk diam dan mendiamkan Raja.


Begitu juga dengan Raja karena pikiran nya yang sedikit binggung dan resah Raja tidak ada niatan untuk merayu atau menghibur Ratu Shima, hal itu membuat Ratu Shima semakin kesal.


Raja yang resah berjalan mondar-mandir dari samping kanan ke kiri kemudian balik lagi sambil sesekali menggusap wajahnya dengan kasar.


"Aku, yang kesal dia yang binggung dasar Raja tak punya perasaan." desis Ratu Shima kesal karena dia berfikir jika Raja akan merayu dan membujuknya serta minta maaf padanya, tapi yang terjadi justru dirinya di acuhkan, merasa gengsi dan jaga harga diri membuat Ratu Shima memilih diam dan juga acuh padanya.


Berkali-kali Raja menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, seolah olah sedang ada beban berat dalam hatinya.


"Kenapa, Tatius belum kembali apakah di sana masih ada kesibukan, tumben bisa tenang pergi jauh dari gadis itu, daripada aku penasaran dan resah begini tidak ada salahnya jika aku hubungi panglima ke satu di sana."


Hubungan jarak jauh hanya dengan menggunakan alat seperti perekam suara. Setelah mengucapkan sesuatu dan menekan tombol sinyal dengan cepat kabar dari sang Raja sampai pada panglima ke satu yang sedang ada di lereng gunung bukit Merbabu dan Kembali sinyal penghubung pun menyala.


"Bagaimana?"


"Maaf, Raja! pangeran Tatius sudah pulang sejak kemarin sore."


"Apa? sudah pulang? dia tidak ada disini."


"Raja jangan bercanda, pangeran Tatius sudah benar benar pulang dan seharusnya sudah sampai."


"Aku tidak sedang bercanda panglima ke satu, pangeran Tatius memang tidak ads di istana."


"Raja, jangan membuat kami takut."


"Aku, berkata yang benar Pangeran Tatius memang tidak ada di istana , apa kau yakin dia sudah pulang ,"


"Benar, Raja!


"Lalu, di mana sekarang pangeran Tatius."


"Saya, tidak tau tapi saya khawatir terjadi sesuatu pada Pangeran."


Ratu Shima yang mendengar nama putranya di perbincangkan mencoba menurunkan egonya dan mendekati Raja.


"Ada apa? ada apa dengan pangeran Tatius putraku."


"Tidak ada, sudah ayo kita makan biarkan Ratu Derbah Nanti makannya menyusul."


Dengan perasaan tidak menentu dan penuh dengan tanda tanya akhirnya Ratu Shima menurut ajakan dari Raja untuk makan malam.


****


Di tempat lain panglima ke satu setelah sambungan di matikan Raja, langsung menarik tangan Panglima ke dua.


"Gawat....!gawat..!"


"Gawat kenapa?"


"Pangeran Tatius Belum pulang jangan jangan beliau terjebak di hutan jalan pintas itu."


"Benarkah, apa kau yakin."


"Tentu saja,"


"Lalu bagaimana ini,apa yang harus kita lakukan."


"Aku, tidak tau!"apa kau punya ide."


"Belum, tapi aku punya rencana?"


"Rencana? rencana apa itu."


"Ikut, aku."


Dengan cepat panglima ke satu menggikuti langkah kaki dari panglima ke dua.