
Dua puluh menit kemudian, ritual mandi yang
dilakukan Tania sudah selesai.
Karena perjalanan kerumah Nenek Devan sangat jauh dan hanya menggunakan motor
sudah pasti akan badan dan rambut Tania kotor untuk itu Tania, mandi sekalian mencuci rambutnya yang panjang, setelah merasakan semua beres Tania segera keluar dan kembali menemui pak guru Wili.
Melihat Tania keluar dari kamarnya, pak guru Wili tertegun sesaat, ketika netranya melihat
rambut basah Tania dengan dengan balutan baju piyama.
"Busyet.... Cantik amat nih anak, bikin ngak fokus saja,"Gumam pak guru Wili dalam hati yang buru buru menundukkan kepalanya, Netra nya tak sanggup menatap Tania yang telah mampu mencuri hatinya.
"Pak, ayo makan, Ayah sudah masak untuk makan malam, setelah itu Pak guru Wili cepat pulang,"Seru Tania.
Pak guru Wili yang tadinya menunduk kan kepala pura pura sibuk dengan buku Buku nya dengan cepat menengadakan kepala mendengar ucapan Tania.
"Apa, kamu mengusirku!"Tanya pak guru Wili.
"Ini, kan sudah malam pak, jadi tidak baik ada seorang laki laki di rumah orang dosa bukan Muhrim,"Ucap Tania sok ceramah.
"Malam, apa aku ngak salah dengar bukannya sekarang baru pukul 5,30, setauku malam itu kalau sudah di atas pukul 9.00 lagi pula aku datang bukan untuk makan tapi, ini.. !"Pak guru
Wili segera menggangkat buku dan di taruhnya di atas meja dengan sedikit keras sehingga menimbulkan bunyi.
Membuat Tania memicingkan matanya.
"Pak...!" ini rumah, bukan sekolah ngapain pak guru Wili memintaku menggerjakkannya, Tania ngak mau," Ucap Tania kesal.
"Hey, mau tidak mau kamu harus menggerjakkannya, siapa suruh kamu kabur dari sekolah tidak menggikuti pelajaran ku, atau aku kurangi Nilaimu Bagaimana?"
"Ya, ampun pak !" Kenapa sih pakai acara mengancam segala,"Keluh Tania dengan bibir
di mancungkan kedepan.
Pak guru Wili semakin gemas saja melihat gadis di depannya, kalau lagi ngambek tambah cantik saja, kalau bukan karena imannya yang kuat sudah di cubit habis tu bibir.
"Biar, kamu ngak seenaknya, mempermainkan mata pelajaran dari ku,"Ucap pak guru Wili dingin.
"Terserah pak guru Wili, mau makan malam disini apa tidak aku sudah lapar, kalau mau, ayo sini, Kalau ngak mau sudah duduk manis tunggu disana," Ucap Tania datar.
Pak guru Wili yang sesungguhnya cuma ingin berlama lama dengan gadis pujaan hatinya akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri meja makan di mana Tania sudah ada disana.
Di tariknya kursi yang terbuat dari bambu rotan Pak guru Wili memilih duduk di depan Tania.
"Kenapa masih bengong, ayo makan, tuh ambil apa yang pak guru Wili suka," Ucap Tania sambil menyodorkan piring kosong kepadanya.
"Kenapa tidak kamu ambilkan saja,"
"lho, aku mana tau pak guru Wili suka makan apa?"
"Apa saja,"Ucap pak guru Wili dengan senyum mengembang di bibir.
"Sini,"Tania mengambil piring yang di pegang pak guru Wili, dengan cepat di isikan semua yang ada di atas meja, ada tempe goreng tahu goreng sayur asam kacang panjang dan ikan.
"Pakai sambal tidak?"Tanya Tania ke pada pak guru Wili,"
"Sedikit, saja,"
"Nih, ayo makan,"Tania menggulurkan piring kepada pak guru Wili, ketika Tania menggulurkan piring, Netra pak guru Wili tak sengaja menatap tangan Tania yang tidak lagi di balut dengan perban.
"Tania, Kenapa tanganmu tidak kau balut perban lagi ?"
"Oh, ini... !" Tania menyingkap piyama panjang nya ke atas sehingga memperlihatkan tangan yang putih bersih tanpa balutan perban disana, pak guru Wili yang melihat Tania menyingkap
baju lengan panjang piyamanya menelan ludah dengan kasar.
"Iya, jawab," Pak guru Wili sekenanya.
Beberapa saat lamanya suasana di meja makan hening, meskipun sekedar sayur asam pak guru Wili sangat lahap dan menikmati nya.
"Apa, setiap hari, Ayahmu yang masak?"
Tanya pak guru Wili memecah keheningan malam.
Dengan mulut penuh Tania hanya mengagguk.
"Lalu, di rumah apa pekerjaan mu, Bukankah masak itu tugas wanita?"
"Ayah tidak pernah nmengajariku, jadi aku tidak bisa masak,"Ucap Tania cuek.
"Itu, tidak baik Tania, kamu harus bisa masak buat Ayahmu, kasian beliau bekerja keras apa kamu tidak mau membuat Ayahmu senang,"
"Mau, sih, tapi sispa yang akan mengajariku,"
"Aku, mau mengajarimu,"
"Apa...! seorang guru matematika mau ngajarin aku masak?" Ha ....ha..ha... memangnya bisa?"Tanya Tania meremehkan.
"Jangan, menertawakan, kalau cuma masak, aku juga jagonya," Ucap Pak guru Wili PD.
"Oh, ya, katanya mau cerita, kenapa tangamu tidak lagi kau tutup dengan perban!aku sudah selesai makan jadi sekarang ceritakan,"Pinta pak guru Will menggingatkan.
Setelah membersihkan meja dan mencuci piring yang di gunakan untuk makan, Tania mendekati pak guru Wili, tanpa basa basi Tania meraih tangan pak guru Wili dan menariknya berdiri kemudian menggajaknya berjalan menuju cermin yang ada di ruang tamu.
Pak guru Wili yang tidak menyangka tangannya di genggam Tania dengan tiba tiba membuat irama jatungnya berdetak sangat kencang, debaran debaran aneh bermunculan, gejolak rasa yang tiba-tiba membuatnya seolah olah melayang layang di angkasa.
"Ini, baru peganggan tangan dengan orang yang kita suka, sudah seperti ini rasanya, apalagi jika sampai bibirku menyentuh bibirnya," Gumam pak guru Wili dalam hati yang tiba-tiba menutup
mulut nya sendiri karena telah berfikir yang tidak tidak.
Tania yang sudah sampai di depan cermin tertegun melihat gambar wajah pak guru Wili yang tiba tiba menutup mulut nya.
"Pak, kenapa mulutnya di tutup begitu? Ucap Tania seraya tertawa.
"pasti, habis makan ikan tadi, mulut nya bau ya..!"Celetuk Tania seraya tertawa sambil melepaskan gengaman tangan nya.
Pak guru Wili tak bisa bicara apa apa karena tidak mungkin bilang kalau dia habis berfikir yang sedikit mesum, habisnya kecantikan Tania benar benar membuat nya klepek klepek.
Sehingga Pak guru Wili cuma mengagguk saja, sebagai tanda jawaban.
"Habis ini, pak guru Wili, ke kamar mandi gosok gigi aku punya sikat gigi baru, biar ngak di tutup begitu mulutnya,' Ucap Tania seraya tertawa.
"Iya,"Jawab pak guru Wili sambil nyengir kuda.
"Lihat kecermin pak, perhatikan, nanti Pak guru Wili akan melihat keanehan nya," Ucap Tania menjelaskan.
cermin berukuran tinggi yang mampu memperlihatkan seluruh gambar, membuat pak guru wili betul betul gugup tak karuan di buatnya, pasalnya dia berdiri persis di belakang Tania, irama jantung nya kembali bernyanyi, perasaan nya kembali melayang layang, untuk mengontrol irama jantung yang sangat tidak normal pak guru Wili memilih memejamkan mata.
Melihat sosok guru di belakangnya dari cermin justru memejamkan mata, membuat Tania kesal, dengan gerakan refleks Tania berbalik
badan sehingga kini wajah mereka bukan lagi saling membelakangi tapi sudah berhadapan.
"Pak..! katanya ingin tau kenapa perban luka di tangan sekarang tidak ku balut lagi? ini kok malah jadi menutup mata, gimana sih pak,"
Ucap Tania sambil membuka tangan pak guru Wili yang dalam mode menutup mata.
Merasakan tangan Tania menyetuh tangannya pak guru Wili semakin kesulitan mengatur ritma irama jantung nya.
"Sudah..sudah..!'kamu jangan dekat dekat, sedikit menjauh sana, kamu dan tangan mu juga bau itu," Ucap Pak guru Wili menutupi gejolak hati yang sesungguhnya.
Tania hanya bisa membulatkan kedua bola matanya melihat sikap aneh dari pak guru Wili, dengan keras Tania menghentakkan kakinya ke lantai sebagai tanda rasa kesalnya.
" Dasar guru aneh, katanya ingin tau, eh di kasih tau malah menutup mata, di tegur malah marah dasar, guru aneh,"Gumam Tania dalam hati.