
Dengan perasaan tak menentu pangeran Tatius mempercepat terbangnya hati yang tadinya sakit dan kecewa berubah menjadi cemas dan khawatir, kecepatan terbang yang cukup tinggi membuat pangeran Tatius cepat sampai pada tempat yang di tuju. Rumah sakit Sehat Sentosa, awalnya pangeran Tatius ingin menemui Tania lewat pintu depan akan tetapi niat itu dia urungkan ketika melihat Ayah Tania berada di depan pintu kamar Tania dengan seorang wanita yang mungkin saja dia itu teman dari Ayah Tania.
Mereka terlihat sedang sibuk dan larut dalam perbincangan, pangeran Tatius kemudian melesat terbang ke atap langit langit kamar rumah sakit dan memilih masuk melalui jalan atas, ketika pangeran Tatius sudah berada di atas atap kamar Tania, perlahan-lahan pangeran Tatius masuk melalui celah langit-langit yang ada di dalam kamar itu. rasa tidak sabar dan ingin segera bertemu Sang kekasih Pangeran Tatius berniat hendak Segera melompat turun, lagi lagi niatnya dia urungkan ketika melihat ke bawah terlihat lah Pak guru Wili sedang duduk di samping Tania yang terbaring pingsan.
Pangeran Tatius menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat pak guru Wili menggengam erat tangan Tania ada rasa sakit dan kesal yang tiba-tiba hadir mengusik hatinya.
Pangeran Tatius mengusap wajahnya dengan kasar, sangat tidak nyaman melihat pemandangan yang terpampang di depan mata tapi mau bagaimana lagi pangeran Tatius tak memiliki hak apapun untuk melarang, karena dia bukan siapa siapanya Tania, karena Tania tak pernah memperkenalkan dirinya sebagai kekasih nya.
Beberapa kali pangeran Tatius mengusap wajahnya dengan kasar karena keresahan yang sedang melanda dirinya ketika harus tetap sabar menunggu dan menyaksikan sang kekasih dekat dengan orang lain.
Pak guru Wili yang juga memiliki kemampuan untuk dapat mencium keberadaan mahkluk lain di dalam kamar itu segera melepaskan tangan Tania.
"Mahkluk itu ada di sini!" gumam pak guru Wili dalam hati. pak guru Wili mengedarkan seluruh pandangan nya keseluruh ruangan sementara pangeran Tatius yang dapat menyadari jika Keberadaan nya dapat di ketahui pak guru Wili segera melesat terbang menjauh dari tempat itu, untuk menghindari dan mengecoh pak guru Wili agar dia berkeyakinan salah pada keyakinan nya dan benar saja pak guru Wili menggeleng kan kepalanya sendiri dan berkata.
"Mungkin keyakinan ku salah, buktinya tidak ada apapun disini, Tania cepatlah sadar kamu kenapa tiba-tiba pingsan begini, sadarlah aku sedih melihat mu begini." desis pak guru Wili.
Ayah Tania yang tadinya berada di luar langsung masuk ke dalam bersama dengan seorang wanita yang tadi berbincang dengan nya.
"Bagaimana nak wili? apakah Tania sudah sadar?" tanya sang Ayah pada pak guru Wili.
pak guru Wili menggeleng kan kepalanya.
"Belum, Ayah!" Tania belum sadar juga.
"Kenapa pingsan bisa begitu lama ya dan kenapa di bangunkan itu susah." sang Ayah menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Tak lama kemudian masuklah seorang Dokter ke dalam kamar Tania.
"Maaf apakah saya bisa bicara empat mata pada salah satu keluarga pasien."
"Oh, bisa!"
"Mari ikut ke ruangan saya,"ajak sang Dokter yang langsung di Jawab dengan anggukan oleh Ayah Tania dan kemudian Ayah Tania langsung menggikuti langkah, dari Dokter yang ada di depannya, ada rasa was was yang tiba-tiba menyelinap ke dalam dirinya.
"Silahkan duduk."
Setelah masuk ke dalam ruangan pribadi sang Dokter pun mempersilahkan duduk Ayah Tania.
"Begini Pak, putri Bapak sebenarnya sudah sadar sejak lama ketika dia di bawah masuk ke dalam rumah sakit ini akan tetapi dia menggalami pingsan lagi, saya mau tanya apakah dulu pernah putri Bapak menggalami seperti saat ini,"
"Oh,pernah tapi itu ketika putri saya masih kecil dan hal itu karena otaknya bekerja keras hanya memikirkan satu hal."
"Coba di perjelas, biar saya bisa menyimpulkan."
"Dulu, saat putri saya masih kecil dia pernah di ejek beberapa temannya karena dia tidak memiliki seorang ibu dan ingin sekali putri saya itu ingin punya ibu, sedangkan saya tidak Ingin menikah, untuk itu saya mencoba menenangkan dia dengan tidak terlalu memikirkan ibunya selalu."
"Nah, sekarang saya ingin tanya karena maaf awal di bawah ke sini Putri bapak menggunakan baju pengantin, pertanyaan saya apakah putri Bapak benar benar ingin menikah."
Deg...
Satu pertanyaan yang hampir membuat jantung Pak Arman Berhenti mendadak. Pak Arman langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bapak ...,Baik baik saja?" tanya Dokter yang ada di depannya karena melihat perubahan raut wajah dari lelaki yang di ajak bicara.
"Iya, saya baik baik saja lalu bagaimana dan benar Dok, pernikahan dan Acara pertunangan ini sesungguhnya bukan keinginan dari putri saya tapi dari saya tapi saya melakukan demi kebahagiaan dan kebaikkan dari putri saya ," ucap pak Arman membela diri yang sebenarnya pak Arman melakukan semua karena tidak ingin putri nya memiliki hubungan spesial dengan mahkluk lain.
Dokter itupun manggut manggut, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Baik, trimakasih Dok, saya permisi dulu."Ayah Tania bangkit dari duduknya dan melangkah ke luar menuju kamar tempat Tania Putri nya di rawat.
"Maaf, Pak guru Wili, bisakah kita bicara berdua di luar, bisa di warung makan yang ada di dekat sini ada yang ingin saya bicarakan tapi saya tau pak guru Wili pasti lapar karena dari tadi belum makan kan?"
"Baik, Ayah!" mari."ucap pak guru Wili menerima ajakan dari Ayah Tania.
Ketika pak guru Wili pergi dari tempat itu tampak sosok bayangan hitam yang bertengger di atas atap langit langit kamar yang ada di rumah sakit bernafas dengan lega.
"Akhirnya pergi juga itu, orang."desis pangeran Tatius yang kemudian melesat terbang turun ke arah Ranjang di mana Tania di rawat.
"Hai, Nona!" apa kamu mau tidur terus, bangun apakah kamu tidak ingin bertemu dengan ku, katanya cinta padaku mana buktinya aku datang kamu cuekin begini,"seru pangeran Tatius yang berusaha membangunkan Tania yang lagi pingsan.
Awalnya tidak ada respon sama sekali dari Tania dan tidak juga ada tanda-tanda bahwa Tania akan sadar hal itu membuat pangeran Tatius sedih dan mulai putus asa karena semua yang dia lakukan sia sia Tania tetap tidur dan tidak mendengar nya.
Pangeran Tatius yang mulai putus asa merebahkan kepalanya di dekat sang kekasih dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Bangunlah Tuan putri hatiku aku sangat merindukanmu."lirih pangeran Tatius sambil memejamkan matanya.
Tidak menunggu lama tangan Tania mulai bergerak tapi pergerakan tangan dari Tania tidak di lihat dan diketahui pangeran Tatius karena pangeran Tatius telah tertidur di samping Tania.
"Tatius... benarkah ini kamu, kamu masih disini menemaniku, Tatius maafkan aku." lirih Tania sambil membelai lembut rambut sang kekasih.
Merasa ada yang menyentuh dirinya, pangeran Tatius segera membuka mata dan terlihat lah oleh nya wajah cantik yang lagi menangis dengan membelai rambut nya , tangan pangeran Tatius mulai meraih tangan Tania.
"Hei ..!" kenapa menangis." ucap Pangeran Tatius dengan meletakkan kedua tangan Tania agar menangkup wajahnya, dengan senyum tersungging di bibir sedangkan tangan pangeran Tatius mengusap lembut air mata yang menetes di pipi halus Tania.
"Tentu saja aku masih di sini, untuk mu."
"Kau... tidak membenciku."
Pangeran Tatius melepaskan tangan Tania yang menangkup wajahnya dia bangkit berdiri.
"Aku sangat menbencimu karena kau menyakiti hatiku tapi aku juga sangat mencintai mu, mana bisa aku lihat dan mendengar gadis ku sakit aku tidak datang, sudah pasti aku datang Tania...!"
Pangeran Tatius kembali berjongkok di tepi ranjang dengan tatapan mata sayu dan dengan suara yang berat.
"Tania, ikut lah dengan ku, jadi lah pendamping hidup ku, aku tidak bisa jika hidup tanpa melihat mu, tak bisa kubayangkan bagaimana kehidupan ku jika kau tak lagi di samping ku, menikahlah dengan ku,"Pinta pangeran Tatius pada Tania.
"Tatius...aku mau sangat mau, karena aku juga sangat mencintai mu tapi....aku tidak bisa menyakiti hati Ayah ku, maafkan aku mungkin cinta kita tak bisa di satukan dalam ikatan suci tapi percayalah aku sangat ....sangat mencintai mu."
"Ijinkan aku. memintamu pada Ayahmu aku akan meminta dengan baik baik."
"Jangan sudah pasti ayah akan menolaknya."
Pangeran Tatius tersenyum, berikan kepercayaan padaku aku akan buat Ayahmu menerima ku,"
"Baiklah satu kesempatan, aku ijinkan kau bicara dengan Ayah tapi berjanji lah jangan menggunakan Ancaman beliau orang yang paling ku sayang sebelum kamu."
Pangeran Tatius mengagguk kemudian bangkit berdiri dan ikut tidur di samping Tania.
"Kok tidur..!
"Enak tidur dekat pacar, apalagi kalau sudah sah.. pasti lebih enak lagi," ucap pangeran Tatius sambil memainkan matanya sebagai tanda mengoda membuat Tania mendelik dan mencubit kecil perut sang kekasih hingga menimbulkan suara jeritan kecil dari sang pangeran Vampire.