
Dodi yang di seret menjauh dari Tubuh Tania pun hanya bisa pasrah pasalnya tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan dua bodyguard bayangan raga pangeran Tatius dan Devan keduanya benar benar bagaikan bodyguard bayaran terkenal milik Ceo,sangat kasar dan bringas, sekilas Dodi bergidik ngeri melihat aksi brutal mereka.
"Lepaskan.,..!" aku bisa mundur sendiri jangan di tarik tarik sakit tau....?"Sungut Dodi kesal.
"Hei...!" idiot ngapain loe cari kesempatan mencium Tania hah?"
"Emangnya, Kenapa Dev?" ngak boleh Tania saja ngak nolak kok situ yang sewot salah minum obat apa ya."
"Kauuu....!"
"Devan...!"
Tangan Devan sudah mengepal dan siap di tinjukan ke wajah Dodi tapi teriakan Tania membuat Devan berhenti memukulnya.
"Sudah hentikan kalian ngributin apa sih?"
"Tania..!" bagaimana keadaan mu mana yang sakit?" tanya Devan cemas sambil berlari mendekati Tania dan menggengam erat tangan Tania, pangeran Tatius yang melihat Devan menggengam tangan Tania membalikkan badannya serasa tidak nyaman melihat Devan mengengam erat tangan gadis yang di cintai nya, tapi apalah daya jika Tania tidak menolak apakah pantas dirinya harus berbuat dan bersikap kasar pada Devan, tentu hal itu tidak benar dan bukanlah sikap pangeran Tatius yang suka bermain kasar meskipun serasa ada duri yang menusuk ke dalam jantung nya. Pangeran Tatius tetap berusaha tenang meskipun hatinya merasa kan sakit yang tiba-tiba sesekali pangeran Tatius melirik ke arah Devan dan Tania terlihat sangat romantis tapi ketika mata tajam Pangeran Tatius melihat Devan mengangkat tangan Tania yang ada dalam genggaman nya dan hendak mencium punggung tangan itu, pangeran Tatius merasa sudah tidak tahan pangeran Tatius diam-diam memilih melangkah menjauh pergi. Tapi belum ada tiga langkah suara Tania memanggilnya.
"Tatius...!"
Dengan serta Merta pangeran Tatius menghentikan langkah kakinya dan menoleh dengan bahasa isyarat mata Tania meminta pangeran Tatius untuk mendekat. Tatapan mata pangeran Tatius teetuju pada Devan hingga membuat nya ragu untuk melangkah mendekat, rupanya Tania memahami itu.
"Devan!" bisakah kamu tinggal kan kami sebentar saja."
Devan menatap Tania tak percaya.
"Tolong, sebentar saja aku mau berterima kasih padanya."
"Baiklah."
Dengan langkah malas Devan melangkah keluar kamar bersama Dodi tapi ketika tubuhnya berhadapan dengan tubuh pangeran Tatius Devan langsung menabrak bahu pangeran Tatius dengan kasar membuat pangeran Tatius kesal dan hampir tersulut emosi kalau tidak suara panggilan Tania yang menghentikan nya.
"Tatius kemarilah...!"
Pangeran Tatius segera mendekat dan duduk di depan Ranjang Tania yang sudah tersedia bangku panjang sebagai tempat duduk ketika menjaga Tania dari dekat. Berada sangat dekat dengan Tania membuat irama jantung pangeran Tatius berdebar sangat cepat entah mengapa tiba-tiba merasa gugup, terlebih tanpa rasa takut Tania meraih tangan pangeran Tatius, serasa jantung mau lepas tak bisa di bayangkan rasanya senang tapi serasa nerfes.
"Trimakasih, sudah menyelamatkan ku." ucap Tania lirih.
Entah mengapa pula lidah Pangeran Tatius serasa susah untuk di ajak bicara hingga hanya anggukan kepala yang bisa dia lakukan,rasa gugupnya tak sama ketika Tania tidur dan pangeran Tatius mencuri dengan mengecupnya diam diam irama jantung nya tak separah ini, sungguh ini sangat parah terlebih Tatapan mata Tania yang teetuju padanya jantung serasa mau meloncat saja
"Hei...!" kenapa diam apa yang kamu pikirkan apa kamu lagi memikirkan gadis yang melukai ku."
"Ti-tidak."
"Lalu, kenapa diam.'
"Gadis mana yang kamu maksud aku tidak tau dan bukankah kau pingsan ketika itu."
"Iya, aku pingsan tapi aku sempat mendengar apa yang gadis itu ucapkan padamu seperti nya dia sangat menyukai mu."
Pangeran Tatius mendelik mendengar ucapan Tania.
"Kamu ngomong apa sih?"sudah kamu istirahat saja ngak enak Devan dari tadi ngintip terus.' elak pangeran Tatius merasa tidak suka Tania membahas gadis yang telah melukai nya.
"Apakah kami bisa pergi dari tempat ini, aku pasti di cari Ayah kasian dia tidak tau."
"Kesehatan kamu belum pulih benar bersabar ya,"
"Woi....!" sudah belum Acara berterimakasih nya" seru Devan dari luar. membuat Tania dan pangeran Tatius saling berpandangan kemudian sama sama Tersenyum.
"Masuklah sudah selesai..!"seru Pangeran Tatius yang langsung mendapat kan tatapan tajam dari Tania membuat pangeran Tatius tersenyum smrik, jujur berdua sangat senang tapi hati yang gugup bahkan seakan sulit bicara membuat Pangeran Tatius memilih memanggil Devan agar rasa gugupnya berkurang khawatir juga jika Tania sampai tau apa yang ada di dalam hatinya, kalau di trima sih bagus kalau di tolak bisa bisa ngak bisa ngobrol bersama itu yang pangeran Tatius tidak sangup.
Mendengar teriakkan Pangeran Tatius Devan dan Dodi segera menghambur masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Raja Awang Awang Vampire baru saja menyelesaikan ritual mandinya ketika keluar sudah berdiri sosok tubuh putranya yang sudah sedari tadi menunggunya.
"Pangeran Yervan, apa yang kau lakukan di sini?"
"Apa Raja sudah hilang ingatan, urusan kita belum selesai kan." ucap pangeran Yervan kasar.
"Aku, tau urusan kita belum selesai tapi setidaknya kau mandi dulu pangeran, badanmu sangat bau."
"Tapi aku mau segera selesai urusan kita Raja!"
"Terserah kamu, sekarang katakan apa yang kau mau?"
"Bertanggungjawab atas luka yang ibu Ratu derita, Raja harus mengobati nya sendiri."
"Apa? kau menyuruhku mengobati nya tidak aku tidak mau,"
"Kalau begitu aku akan paksa Raja."
"Ha..ha .ha memaksaku....kau pikir kau bisa mengalahkan ku anak kemarin sore."
Pangeran Yervan tersenyum miring mendengar Ledekan Ayah nya.
"Apakah untuk menggalahkan mu selalu harus pakai kekerasan tidak juga kan? sekarang jawab mau mdngobati luka ibu Ratu atau tidak."
"Sekali ku jawab tidak maka selamanya juga tidak."
"Baik!" kita lihat Raja kau akan tunduk perintah ku atau tidak."
Dengan tenang pangeran Yervan bertepuk tangan sejurus kemudian muncul lah dua orang dayang gadis yang masih muda dan cantik mereka berdua segera mendekati sang Raja.
"Hei berhenti kalian mau apa mendekati ku?"
Kedua gadis itu sejenak saling bertatapan tapi sejurus kemudian mereka berdua sama sama merobek baju nya, membuat sang Raja membelalakkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Kalian gila,mau apa kalian." tanya Raja panik.
"Tolong...tolong...Raja mau memperkosa kami,"
Tolong...tolong...!
"Hei ..hei.. berhenti jangan memfitnah ku.'
"Sekarang jawab Raja menuruti perintah mu atau mereka akan berteriak kencang dan nama Raja hancur bagaimana?"
Karena merasa terdesak dengan ancaman pangeran Yervan sang Raja menerima Ajakan pangeran Yervan. Dengan terpaksa akhirnya Raja menggikuti apa yang pangeran Yervan minta.
"Kurang ajar..!" dia memakai cara licik untuk menjebak ku, lihat saja nanti akan aku buat kau
membayar semua perbuatan mu ini kepadaku."Gumam sang Raja bertekad dalam hati.