
Sang Ayah menatap lekat lekat wajah dari pak guru Wili.
"Maaf, pak!"kalau boleh saya tau, apakah pak guru Wili dan Tania sudah melakukan itu,"
Pak guru Wili yang mendengar pertanyaan dan perkataan dari Ayah Tania sedikit terkejut pasalnya tidak pernah pak guru Wili bayangkan jika, dirinya yang berprofesi sebagai seorang guru di anggap telah mampu melakukan perbuatan asusila kepada anak didiknya, dengan tentang dan senyum yang menawan pak guru Wili memberikan jawaban kepada Ayahnya Tania.
"Maaf, pak!" pertanyaan bapak saya kira sangat berlebihan, tapi tidak menjadi masalah jika bapak ingin tau, saya dan Tania belum resmi pacaran jadi kami belum pernah saling bersama, saya melamar Tania untuk meminta ijin kepada bapak agar mau merestui hubungan kami jika seandainya Tania mau menerima saya sebagai kekasihnya."
"Oh, jadi, kalian belum resmi pacaran?"
"Belum, pak!"
"Syukurlah, kalau begitu, aku hanya khawatir Tania berbadan dua, aku tidak mau peristiwa pahit yang di alami Almarhum ibundanya terulang kembali kepada nya,"
"Apa, maksud dari ucapan bapak?"
"Kisah cerita nya sangat misterius dan sampai saat inipun aku tidak mengetahui aku hanya tau ibunya Tania dulu menderita."
"Bapak, terlihat sedih, bapak yang sabar ya,"
Ayah Tania tersenyum simpul.
"Tentu, pak guru Wili, saya akan sangat sabar jika saya tidak sabar tentu Tania tidak akan sebesar ini,"ucap Ayah Tania yabg yang tiba-tiba matanya meredup sayu memancarkan kesedihan.
"Bapak, orang yang hebat bisa membesar kan Tania seorang diri," ucap pak guru Wili agar wajah sedih Ayah Tania hilang.
Lagi-lagi Ayah Tania tersenyum, tapi senyum yang di berikan senyum yang sangat terpaksa dan terlihat masam.
"Ada banyak sekali rahasia yang aku sendiri tidak tau tentang Tania, tapi sudahlah aku sebagai Ayah Tania cukup memberikan kebebasan kepada putriku, apa yang dia suka dan dia tidak suka, jadi seandainya Tania juga menyukai pak guru Wili, dengan senang hati saya akan merestui,"
Mendengar ucapan dari Ayah Tania pak guru Wili merasa lega kini tinggal menyakinkan hati Tania agar mau menjadi pacarnya.
******
Para pengawal istana dari kerajaan Sangkala telah sampai kembali ke kerajaan, kehadiran mereka langsung di sambut Raja Sangkala.
Wajah Raja Sangkala terlihat heran karena tak di lihatnya putri kesayangannya ikut ada di sana.
"Mana putri Shima?" kenapa aku tidak melihatnya," teriak Raja Sangkala.
"Maaf, Raja!" Tuan putri Shima tidak bisa kami bawa karena beliau tidak ada di istana."
"Apakah, Raja Awang Awang Vampire yang bicara begitu,"
"Bukan, Raja, tapi, Ratu yang ada di istana Awang Awang Vampire,"
"Kalau bukan, Raja sendiri yang bicara, kenapa kau dengar kan, ini sudah pasti ulah dari Ratu Derbah istri kedua Raja Awang Awang Vampire, benar benar keterlaluan, baiklah aku sendiri yang akan menjemput Putriku untuk datang ke sini, para pengawal, malam ini juga siapakah para pengawal, aku akan pergi ke kerajaan Awang Awang Vampire sekarang juga,'
"Sudah, turuti saja apa yang aku perintahkan.
" Ba baik Raja,"
Segera para pengawal menyiapkan beberapa prajurit untuk di bawah ke kerajaan Awang Awang Vampire untuk menemani perjalanan Raja Sangkala.
******
Patih Ramboka yang telah siap dengan rencananya telah sampai dan di depan Puri tempat tinggal Ratu Shima, sebuah puri yang sangat megah dan berbeda dengan puri yang di miliki Ratu Derbah.
"Raja Awang Awang Vampire, betul betul membeda bedakan, masak Puri Ratu shima lebih megah dari Puri Ratu Derbah,Gumam patih Ramboka, yang wajahnya terus mengamati setiap inci dari arsitektur bangunan puri Yang di miliki Ratu Shima. Dengan hati-hati dan perlahan lahan patih Ramboka mendekati Puri itu dan memanggil beberapa pengawal yang berjaga di depan Puri itu.
"Hai..!" ke sini kau?" berbegas salah satu pengawal istana kerajaan datang menghampiri.
"patih memanggilku,"
"Ya, kesini lah,"
"Ada, apa, Patih memanggilku,"
"Apakah, Ratu Shima ada di dalam?"
"Tentu patih, Ratu ada di dalam istana,"
"Kalau begitu, tolong berikan kertas surat ini kepada beliau,"
"Baiklah, akan aku berikan sekarang,"
"Bagus, aku pergi dulu,"
Bergegas patih Ramboka meninggal kan Puri istana Ratu Shima, sementara prajurit pengawal Ratu Shima masuk ke dalam puri.
"Ampun, Ratu!" ada titipan pesan dari patih Ramboka,"
"Patih Ramboka?" kepercayaan Ratu Derbah, untuk apa dia menggirimku pesan,"
" Hamba tidak tau Ratu,"
"Baiklah, trimakasih, kamu boleh pergi,"
Ratu Shima merasa Aneh dan penasaran kenapa tiba-tiba Ratu Derbah memberikan surat pesan padanya, dengan rasa yang penuh dengan tanda tanya di bukanya kertas surat yang di berikan pengawal kepadanya.
isi surat...!"
Ratu Shima, jika engkau tidak keberatan, aku ingin bertemu dengan Ratu Shima, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dan aku ingin hanya kita berdua tidak ada orang lain, jadi jangan membawa para pengawal istana untuk menemani Ratu Shima menemuiku dan jangan sampai Raja tau akan hal ini, tapi jika Ratu Shima keberatan boleh tidak datang menemuiku, aku tunggu empat jam dari sekarang, ingat, jangan membawa sispapun, pergilah ke taman belakang dan carilah tanda berwarna merah di sana akan selalu kau temukan petunjuk Kemana Ratu Shima harus menemuiku, jika Ratu Shima takut lebih baik tidak datang.