
Teriakan Tania membuat Devan terhipnotis beberapa detik dan ketiika menyadari yang ada di hadapan mereka kini adalah sosok Vampire yang sangat mengerikan dengan runcing gigi yang sangat menakutkan.
"Lari.....!!! Seru Devan yang langsung menyambar tangan Tania untuk di bawahnya berlari.
Devan dan Tania yang tidak tau arah mereka berlari kecang dengan arah tak menentu kemana, sementara Dodi yang melihat itu berteriak histeris melihat gadis yang di cintainya sedang di kejar Vampire.
"Tania ...!!!aku akan melindungi mu!"seru Dodi.
Belum juga melangkah dua meter Dodi sudah terjatuh karena celana kakinya tersangkut benda runcing seperti paku sedikit besar yang tertancap di atas permukaan tanah setinggi kurang lebih sepuluh senti meter.
"Sial, kenapa bisa terjatuh sih, aku kan harus menolong pacar ku."grutu Dodi kesal sambil tangannya berusaha melepaskan kain celana yang tersangkut, entah mengapa semakin Dodi berusaha melepaskan kain celana nya yang tersangkut Dodi justru semakin terjerembab ketika tangannya menyentuh benda runcing seperti paku yang berukuran sedikit besar sebesar pegangan pisau. Suatu hal yang aneh tiba-tiba saja tangan dan tubuh Dodi seakan lumpuh tak bisa dia gerakkan.
Dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan, Dodi yang memiliki keterbelakangan mental akhirnya menangis dengan kencang.
Devan dan Tania yang tidak mengerti jalan di buat binggung harus lari kemana, sedangkan Tania badannya sudah berkeringat dingin sangat terlihat jelas wajah ketakutan nya, melihat itu Devan tidak tega di tariknya Tania
masuk kedalam sebuah ruangan entah ruangan apa itu, Devan mengajak Tania untuk bersembunyi di bawah meja dan meminta Tania untuk menutup hidung nya.
"Lari kemana mereka?"Seru salah satu Vampire yang suaranya dapat di dengar oleh Tania dan Devan sehingga membuat Tania semakin ketakutan.
"Aku tadi melihat mereka berdua berlari ke arah sini tapi kenapa tidak ada?"
"Iya, adik! aku juga tidak mencium bau Manusia di sini, mungkin mereka berlari ke arah lain, ayo kita cari di sana."
Kedua Vampire itupun sepakat untuk pergi mencari di tempat lain.
Sementara Devan dan Tania bernafas lega mereka melepaskan tangannya yang tadi mereka gunakan untuk menutup hidung agar tidak bernafas.
"Kenapa kita berada di tempat seperti ini aku takut."Lirih Tania yang tiba-tiba air matanya lolos begitu saja.
Melihat Tania menangis hati Devan seperti di iris iris.
"Maafkan aku Tania, gara-gara aku kamu jadi ketakutan begini, aku menyesal tidak mendengar kan apa yang si Idiot itu katakan ternyata dia lebih memiliki insting dan ketajaman hati di bandingkan aku, sungguh aku minta maaf," ucap Devan parau hatinya sangat sedih dan tak tega melihat Tania ketakutan matanya yang teduh kini juga mulai berkaca-kaca, wajah tampan nya pun terlihat kusut tak pernah dia bayangkan bahwa dia akan bertemu mahkluk penghisap darah yang biasanya hanya ada di dalam film film horor dan novel novel horor.
"Kemana manusia itu lari, pasti mereka masih berada di sekitar sini."
"Kamu benar adik, aku juga berfikir begitu mereka tidak mungkin bisa jauh dari tempat ini."
"Tunggu aku mencium bau nya mereka ada di dalam ruangan itu, ayo kita kesana..?"
Ketika para Vampir hendak menuju ruangan di mana Tania dan Devan berada Dodi yang tanpa sengaja melihat semuanya berteriak dengan sangat keras sehingga mampu mengalihkan perhatian mereka.
"Woi.....!" Vampire jelek, aku.....di sini..!" teriak Dodi keras dia berharap Tania dan Devan bisa cepat keluar dari ruangan itu dan perhatian Vampire beralih padanya Dodi akan melakukan apapun demi Tania selamat.
Apa yang di pikirkan Dodi ternyata benar, kedua Vampire itu pun mulai melesat terbang mendekati sumber suaranya. Dodi yang sudah di puncak ketakutan menggigil dengan tubuh meringkuk dan bibir bergetar.
"Di mana suara itu, adik."
"Di sini, arahnya di sini."
"Tapi mana manusia nya?"
Jarak antara Dodi dan Vampire tinggal dua meter Dodi yang ketakutan sudah memejamkan matanya.
"Aku juga tidak tau, bau nya juga tidak ada..?"
"Hari ini kita di permainan para manusia itu."
"Tidak apa apa adik, yang penting kita akan bisa minum darah segar kembali, sejak Raja Sangkala melarang kepada kita bangsa Vampire menghisap darah manusia kita hidup makan dan minum tidak senikmat biasanya, tapi hari ini kita akan menikmati darah segar mereka dan Raja Sangkala tidak akan murka dan menghukum kita karena kita tidak berburu mereka tapi mereka yang datang sendiri.
"Ha .ha. .ha...benar kakak, tapi mana manusia itu kenapa tidak ada."
Dodi yang sudah lama memejamkan mata dan melihat tubuhnya masih utuh lehernya tidak ada bekas gigitan segera membuka mata.
"Apa aku sudah mati kenapa tidak terasa sakit sedikit pun, bukankah jika di gigit Vampire harus nya aku merasakan sakit.' Gumam Dodi yang kemudian membuka kedua matanya dan Dodi langsung menjerit histeris ketika melihat dua Vampire tak jauh dari tempat nya.
Jeritan Dodi yang begitu keras terdengar oleh kedua Vampire bergegas mereka mencari.
"Di mana sumber suara itu?"
"Tadi di sini kakak, tapi kenapa orang nya tidak ada,"
Dodi yang melihat para Vampir mendekat ke arahnya tapi tidak bicara apapun padanya membuat Dodi mengeryitkan dahinya.
"Kenapa mereka tidak melihat ku...?"Woi... Vampire jelek...!" Dodi melambai lambai kan tangannya dan kedua Vampire itupun tetap tak bergeming kini Dodi tau kedua Vampire itu tidak dapat melihatnya hati Dodi bersorak senang tangannya berjoget joget meski kakinya tetap sama tak bisa bergerak dari tempat itu, entah apa yang terjadi celana yang tersangkut pada benda runcing seperti paku telah membuat kakinya lumpuh mendadak.
"Aku, yakin mereka masih di ruangan itu aku akan kesana." ucap salah satu Vampire yang langsung berkelebat masuk ke dalam ruangan di mana ketika itu Devan dan Tania hendak melangkah pergi. Kehadiran Vampire yang tiba-tiba membuat Tania yang terkejut dan berteriak
"Aaaaaaaaaaa....!'
Teriakan Tania membuat Vampire langsung dapat menangkap tubuh Tania, kini Tania ada dalam cengkeraman Vampire dan Devan yang melihat itu segera melempar segala benda yang ada di dalam ruangan. Tania terus memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Vampire, akan tetapi tenaga nya tak seimbang dengan kekuatan Vampire.
"Woi.... lepaskan dia, tangkap aku kalau berani
Sang Vampire hanya tersenyum menunjukkan gigi giginya yang runcing. kemudian berkelebat pergi dengan membawa terbang tubuh Tania. Devan yang kesal berteriak dengan geram.
"Araaaaaagggghhhh....!!!
Devan berlari keluar berusaha mengejar arah larinya Vampire.