
Merasa canggung seolah sedang bertemu dengan orang asing yang baru saja dikenalnya, membuat Tania diam dan memilih membuang muka.
Bukannya tidak bisa merasakan keanehan sikap dari Kekasihnya yang tiba-tiba berubah sangat dingin, Pangeran Tatius memilih diam dan menggalah meskipun semua itu serasa menyesakkan dada.
"Kenapa kemarin malam tidak mau bertemu dengan ku bahkan justru lari seolah aku ini hantu."tanya pangeran Tatius memecah keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.
" Lagi males saja."Pangeran Tatius mengeryitkan dahinya Ketika Mendengar jawaban yang kurang menyenangkan dari Kekasih nya, hingga membuat pangeran Tatius meneguk ludahnya kasar.
"Kau masih marah padaku."
"Marah untuk apa?"lagi-lagi sikap dingin yang diberikan Tania pada Pangeran Tatius.
Pangeran Tatius mengusap wajahnya kasar Mendengar perkataan Tania yang sedikit menyebalkan, ditanya baik-baik jawabannya begitu dingin bagaikan es dari kutub Utara sangat singkat dan sedikit, terlihat sekali jika sedang malas malasan untuk bicara.
Lagi-lagi Pangeran Tatius meneguk ludahnya kasar, Pangeran Tatius menarik napas panjang Dan menghembuskan nya dengan perlahan mencoba menetralkan hawa panas yang mulai sdikit naik kepermukaan kepalanya.
"Apa kamu lagi sakit gigi?"
Suatu pertanyaan yang tak pernah Tania sangka dan sukses membuat hatinya semakin kesal dan marah pada Pemuda yang ada di depannya.
Entah mengapa rasa marah dan kesal itu ada sedangkan dia tau kedatangan nya hanyalah untuk memberikan penjelasan dan mengakhiri sebuah hubungan, tapi yang terjadi justru marah dan kesal entah apa yang di inginkan hatinya yang jelas Pemuda Tampan yang ada di depannya sangatlah menjengkelkan.
Tania mencebik kesal mendengar pertanyaan pangeran Tatius yang disangka sangat aneh dan terkesan meledeknya.
"Apa maksud mu bertanya begitu, bukankah dari tadi aku sudah bicara lalu kenapa kau mengaggapku sakit gigi."
Pangeran tatius tidak langsung menjawab bibirnya justru tertawa lebar melihat mimik kesal dari kekasihnya, sabar dan harus sabar sikap kekasihnya dinilai lebih baik begini daripada harus menerima kenyataan kalau kekasihnya telah mati itu akan lebih menyediakan, mengingat hal itu aura panas dan perasaan kesal yang tadinya hendak meluap kini mulai reda dan membaik seperti sedia kala bahkan bibir pangeran Tatius kini justru mengulum senyum, menatap wajah cantik di depannya dengan penuh kerinduan.
Pangeran Tatius juga mulai mengatur nada bicaranya dengan sedikit lembut dan tenang.
"Apa kamu ngak sadar dengan apa yang kamu lakukan, aku tidak tau apa salahku, di tolong bukannya berterima kasih justru marah-marah di tambah lagi tuh judesnya dan dingin sikapnya, kita kan sudah lama tidak bertemu, apa kamu tidak merindukan ku, masa iya sih pertemuan kita awali dengan sikap yang begitu dingin kayak es batu harusnya kan romantis, aku sangat merindukanmu."cicit pangeran Tatius pada Tania dan sontak saja membuat kedua bola mata Kekasihnya membulat seketika.
"Preeet ...!
"Apaan tuh..!"tanya pangeran Tatius ingin tau.
"Suara kentut tapi dari mulut," sungut Tania kesal tapi dalam hati Tania juga mulai berfikir kenapa sikapnya begitu dingin dan terkesan marah apa yang sedang dia lakukan, bukankah tujuan nya bertemu dengan pemuda yang ada di depannya untuk menjelaskan dan memutuskan hubungan ngak lucu jika mau memutuskan justru marah-marah tak karuan."Gumam Tania dalam hati.
Melihat gadis didepannya justru diam pangeran Tatius menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Aku merindukan mu," lirih pangeran Tatius di dekat telinga Tania sambil mengecup lembut rambut hitam dan panjang kekasihnya.
Perbuatan pangeran Tatius yang diluar dugaan membuat Tania hampir spot Jantung pasalnya hampir saja dia berhenti bernapas, bagaikan aliran arus listrik yang tiba-tiba padam, Tania terdiam untuk sesaat, ada rasa senang dan bahagia tersendiri mrndengar perkataan Pemuda yang ada didepannya.
Namun sedetik kemudian Tania tersadar akan tujuan nya membuat dirinya mendorong keras tubuh kekar pangeran Tatius yang memeluknya.
Terkejut dengan sikap sang kekasih membuat Pangeran Tatius menatap tak percaya sambil mengeryitkan dahinya.
"Apa yang kau lakukan, ada apa ini kenapa kau jadi begini, apa salahku?" tanya pangeran Tatius kecewa dengan sikap kekasihnya yang sedikit aneh.
"Maaf, aku kesini mau membicarakan sesuatu padamu aku tidak mau kamu salah paham dan. .
"Cukup, sayang, aku tau aku bersalah kita bicarakan itu nanti saja sekarang ayo kita cari makan aku sangat lapar, kamu tau sehabis aku olahraga dan mandi aku langsung ke sini jadi aku belum sempat makan dan aku yakin kamu juga belum makan, di sana ada sungai aku akan menangkap ikan kemudian kita bakar pasti enak rasanya, ayo....!ajak pangeran Tatius yang langsung menggenggam tangan Tania tanpa peduli Tania akan memberontak dengan kecepatan kilat tangan itu berpindah melingkar di pinggang ramping Kekasih nya yang mana dalam hitungan detik langsung membawa Tania terbang.
"Tatius, jangan kurang ajar turunkan aku."
"Tunggu sebentar lagi kita sampai."
Tak lama kemudian pangeran Tatius mendaratkan kakinya di dekat aliran pinggir sungai.
"Sudah sampai, kamu takut ya aku ajak terbang Bukankah dulu sering ku ajak terbang masa masih takut," seru pangeran Tatius menggingatkan.
Tania hanya diam mendengar celotehan Pangeran Tatius.
"Aku bukannya takut terbang dengan ketinggian bersamamu tapi aku takut semakin mencintai mu dan itu sangat menyiksaku." keluh Tania dalam hati.
Melihat kekasih nya diam saja pangeran Tatius menyungingkan sebuah senyuman kemudian.
"Tunggu, disini sebentar aku ambil ikannya."secepat kilat pangeran Tatius Kembali terbang kali ini ketengah tengah sungai untuk menangkap ikan.
Tidak perlu menunggu waktu lama Pangeran Tatius sudah kembali dengan membawa beberapa ikan hasil tangkapan nya dan dengan cekatan langsung menggumpulkan beberapa ranting dan dengan menggesekkan dua batu menghasilkan percikan api yang kemudian dengan cepat Pangeran Tatius membakar ikan hasil tangkapan nya.
Tania menatap sayu wajah pemuda tampan yang sibuk sendiri menyiapkan makan untuk nya, diam diam bibirnya tersenyum.
"Aku sungguh beruntung memiliki kekasih seperti mu, Tatius, aku juga sangat mencintai mu dan aku akan selalu menggenang namamu di dalam hatiku, ini memang pahit dan sedih tapi inilah takdir kita kau dan aku tak kan bisa bersatu, aku harus membalas budi atas kebaikan orang yang telah menyelamatkan ku dan dengan bersikap dingin dan acuh padamu ku harap kau akan sakit hati dan membenciku sehingga kau akan mudah melupakan diriku dan hari ini adalah kebersamaan kita untuk yang terakhir kali." lirih Tania yang tak terasa buliran bening jatuh membasahi pipi nya yang halus.